Cinta, Kasih Sayang, Kewibawaan, Kepercayaan Adalah Alat Pendidikan, Tanpa Kekerasan

Membaca kisah ibu Een, lulusan UPI yang menginspirasi, bisa dilihat disini

http://news.liputan6.com/read/606837/kuliah-umum-bu-een-kita-harus-tegar-apapun-bentuknya

Liputan6.com, Bandung : Een Sukaesih, guru penderita rheumatoid arthritis yang sudah pernah divonis mati, memberikan kuliah umum di hadapan civitas akademika Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) –dulu IKIP Bandung–, tempat Een pernah menuntut ilmu. Di dalam gedung yang berisi civitas akademika UPI Bandung itu tertegun dan meneteskan air mata.

Een, peraih Special Awards dalam ajang Liputan 6 Award itu sambil terbaring di atas kasur, berbaju batik dan dilengkapi kipas angin, memberikan kuliah umum di ruangan besar gedung UPI, Bandung, Jawa Barat, Jumat (7/6/2013).

Een memberikan banyak pesan kepada para dosen, mahasiswa, beserta seluruh peserta yang hadir di ruangan ini. Een berpesan bahwa di setiap kesulitan, selalu ada kemudahan. Tidak mudah menyerah, apalagi putus asa meski tak jarang menemui rasa lelah dan jenuh. “Allah berfirman, janganlah kita berputus asa atas rahmat Allah,” ujar Een.

Setiap kata demi kata dijawab dengan tangisan air mata peserta yang hadir. Rektor, guru besar, mahasiswa, alumni, semua berbaur menyaksikan kuliah umum wanita yang bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 5 Juni di Kantor Presiden, Jakarta Pusat ini.

“Kita dituntut untuk selalu tegar menghadapi kenyataan, apapun bentuknya,” jelas Een. Satu hal yang ditegaskan wanita lulusan IKIP Bandung jurusan Psikologi Pendidikan dan Guru ini, bahwa dasar ilmu pendidikan hanya satu kalimat singkat.

“Yakni kasih sayang dan rasa peduli dengan sesama. Mudah-mudahan ini dapat menjadi inspirasi buat semuanya bahwa dengan cinta dan kasih sayang, yang merupakan alat pendidikan selain kewibawaan dan kepercayaan, pendidikan di Indonesia insya Allah di masa yang akan datang akan lebih maju dari masa sekarang,” tutup Een. (Ism/Mut)

Semangatnya sungguh…

Jadi ingat sebuah kutipan:

Cara belajar yang paling baik adalah mengajar dan menulis. Cara mengajar paling baik itu memberi contoh, dengan melakukan. Melakukan paling baik itu dengan cinta. Kalau kita melakukan segala sesuatu dengan cinta, itu baik. Jadi kalau kita berbuat baik ke setiap orang, maka pasti kita tidak akan pernah rugi. Saya pengagum The Beatles, all you need is love. Cinta itu sharing, caring, giving, dan forgiving. — Widjajono Partowidagdo

Bakti kami untuk Tuhan…. bangsa…. Merdeka.

Iklan

Manusia Makhluk Pembelajar

Entahlah…. dulu tiba-tiba saja kepikiran pengen mengajar di UPI, karena saya dulu mikirnya di UPI pencetak guru, dan ingin sekali mencoba menanamkan karakter pada para guru. Saya pernah membaca bahwa karakter adalah mampu membedakan yang benar dan salah walau mendapat tekanan dari luar maupun godaan dari dalam. Sehingga asumsi saya karakter harus berdasarkan pada manual hidup yang biasa disebut dengan kitab suci. Lalu juga saya sangat tertarik untuk mengajar pemrograman. Mungkin karena banyak sekali melihat orang di luar mengaku bisa memprogram tapi sebenarnya yang mereka lakukan adalah searching aplikasi di internet siap pakai, seperti joomla atau cms lainnya. Padahal bagi saya programmer adalah pembuat program, bukan searcher (pencari program), modifier (memodifikasi program orang), ataupun user (pengguna program orang). Jadi benar-benar bisa memahami logika untuk membuat program dengan baik.

Pada awalnya tidak mudah, karena banyak tentangan yang menganggap saya terlalu tinggi standarnya dalam mengajar, padahal saya melihat dan menargetkan standar minimal dasar logika pemrograman. Banyak sekali hujatan mahasiswa yang saya terima, dan banyak hal membuat saya marah pada diri dan keluarlah banyak kesombongan karena marah. Pernah dengan seseorang berkata “percuma Bu, mereka (mahasiswa program ilmu komputer UPI) tidak bisa diajarin logika pemrograman” karena saya menemukan ketika pertama kali mengajar algoritma dan pemrograman 2 para mahasiswa bahkan tidak mampu berpikir logika pemrograman dengan baik. Dan mungkin yang membuat saya shock adalah banyaknya mahasiswa yang berpikir instan dengan menyontek dan waktu itu jumlahnya tidak sedikit……….. it’s hurt me so much actually.

Waktu demi waktu berlalu…. sampai pernah juga dimaki mahasiswa lewat FB…. but you know…. all that things make me learn bahwa kesombongan dan kemarahan hanya akan menyakiti banyak orang. Dan membuat saya belajar bahwa hanya keikhlasanlah yang membawa kebaikan. Belajar untuk menjadi orang behind the scene dengan ikhlas.

Saat ini saya mengajar pemrograman di non kependidikan ilmu komputer UPI. Dulu pernah mengajar di program studi pendidikan ilmu komputer UPI, tapi setelah itu diminta untuk mengajar nondik. Kependidikan mencetak guru, sedangkan non kependidikan mencetak engineer. Mungkin tidak sesuai cita-cita saya sebelumnya, tapi memberikan modal skill untuk siapa saja itu menyenangkan, agar mereka bisa memperbaiki hidup mereka.

Sekarang ini saya mulai melihat prestasi mahasiswa saya, UPI menang lomba robot nasional juara ke dua untuk kategori robot soccer, and you know who’s hold the programming for the robot…. that’s my students :). Tiga orang yang menjadi programmer pada tim robot UPI adalah mahasiswa yang pernah saya didik (Ruly Anggriawan, Indar Bismoko (keduanya pendidikan ilmu komputer UPI angkatan 2008), dan Noer Bany Yusuf (pendidikan ilmu komputer angkatan 2009)) beritanya ada disini.

Lalu Ilmu komputer UPI juga memperoleh peringkat 6 pada lomba data mining internasional dan tim itu adalah mahasiswa-mahasiswa yang pernah saya didik programming-nya yang membuat engine untuk data mining (Rizky Riadhy, Tiara Freddy Andika, Widianto Gilang, Imam F. N. (mahasiswa Ilmu Komputer angkatan 2009)) beritanya ada disini…….

Mungkin tidak ada yang tahu kalau mereka adalah mahasiswa-mahasiswa saya karena yang dikenal adalah dosen pembimbing mereka di lomba-lomba itu, tapi saya sangat bangga menjadi dosen behind the scene yang ikut andil dalam membangun fondasi pemrograman mereka, dan skill itu mereka gunakan untuk berbagai lomba :). Dulu mereka tidak terlalu berani mengikuti lomba, tapi sekarang berani……….. itu membanggakan bagi seorang dosen seperti saya :).

Menyalahartikan Rasa Sayang

 

Ada sebuah perkataan, bahwa orang yang paling kita sayangi terkadang adalah orang yang paling sering kita marahi. Saya pernah berbicara dengan teman jurusan psikologi unpad waktu saya mahasiswa dulu, saya bercerita beberapa hal mengenai Ibu saya yang saat SMA sering saya membatahnya :(. Saat itu saya bilang saya benci ibu saya, tapi teman saya itu berkata “Ros, kamu tahu tidak, dari semua ceritamu sebenarnya orang yang paling kamu sayangi di dunia ini adalah ibumu”. Saya merenung saat itu dan mulai menangis, iya saya sangat menyayangi ibu saya, bahkan saat itu saya berjuang keras di ITB dengan semua keterbatasan biaya karena saya tahu Ibu saya sudah berjuang keras demi saya. Masya Allah………(Makanya saya ingin jadi dosen yang benar, karena saya tahu orang tua setiap mahasiswa berusaha keras menyekolahkan anaknya :)).

Lalu saya kemarin cerita dengan suami saya, Pak mahasiswa itu banyak yang menganggap saya “tega” dengan standar saya (padahal tidak ada 50% standar saat saya mahasiswa dulu). Padahal saya ingin yang terbaik buat mereka biar mereka jadi orang yang mampu hidup dengan baik dan berguna bagi orang lain. Lalu suami saya berkata, “itu sudah biasa, orang sering menyalahartikan rasa sayang, misalnya saya marah ke kamu, pasti kamu menganggap saya menyebalkan, padahal saya marah ke kamu karena saya perduli dan sayang”. Saya merenung………

Iya, karena Allah sayang pada Nabi Muhammad, Nabi diajari banyak hal (Hidup Nabi sangat susah, bukannya enak ongkang-ongkang). Ternyata menyampaikan rasa sayang itu terkadang tidak dimengerti orang yang disayangi……

Saya harus mencoba mengerti ini dan bersabar karena saya yakin dengan yang saya rasakan, saya sayang mahasiswa saya, dan menghormati perjuangan orang tua mereka menyekolahkan mereka. Jadi harusnya saya tidak meminta dimengerti, tapi harusnya saya bersabar. Amin.

Jadi ingat sama Bu Inge, ternyata Bu Inge sayang sama saya :D. Dulu saya juga tidak suka Bu Inge, tapi sekarang Bu Inge menjadi dosen yang paling saya ingat. Maaf dan Terima kasih Bu. (Bu Inge adalah dosen Algoritma dan Pemrograman saya waktu saya tidak lulus mata kuliah ini, rasanya saat itu hidup saya hanya berisi Algoritma, di jalan, di kamar, bahkan di WC :D).

Algoritma dan Pemrograman atau Sintaks dan Pemrograman?

Representasi Array dalam logika manusia

Mengajar algoritma dan pemrograman bukan perkara mudah. Butuh kesabaran tingkat tinggi, karena inti dari mata kuliah ini adalah algoritma (logika solusi dari permasalahan yang diberikan), makanya nama kuliahnya “Algoritma dan Pemrograman”. Mata kuliah ini memang menjadi “momok’ buat mahasiswa yang mengambil jurusan komputer (saya dulu aja pertama tidak lulus, dapat E :D). Bahkan awalnya saya tidak paham “makanan” apa ini, komputer aja waktu itu baru belajar. Untungnya pas ambil yang kedua akhirnya saya bisa “ngeh” juga :D.

Nah karena butuh kesabaran ini, banyak dosen-dosen yang mengajar mata kuliah ini menjadi turun idealisnya karena kurang sabar dan mungkin semakin sedikit waktu untuk konsentrasi mengajar mata kuliah ini. Atau mungkin karena mata kuliah “momok” sebenarnya banyak dosen yang memang tidak paham konsepnya waktu mereka kuliah (pake sistem trial and error). Akhirnya kejadiannya banyak terjadi adalah membungkus kuliah “sintaks dan pemrograman” dalam nama “algoritma dan pemrograman” karena tentu saja tidak ada mata kuliah “sintaks dan pemrograman”. Berikut bedanya soal pada “sintaks dan pemrograman” dengan “algoritma dan pemrograman”

pada “sintaks dan pemrograman”

Apakah program di bawah ini benar? Mana yang salah? Jelaskan!

……….

for(a=0;a >= 12; a++{

……………………….

}

pada “Algoritma dan Pemrograman”

Buatlah program yang mencari banyaknya suku kata “ka” di dalam array of string yang diisi dengan masukan dari user!

Jika dapat mengerjakan soal pertama tapi yang kedua tidak, berarti mata kuliahnya harusnya “Sintaks dan Pemrograman”, jika bisa mengerjakan soal kedua berarti sudah benar mata kuliahnya “Algoritma dan Pemrograman”

Dengan mengikuti mata kuliah “Sintaks dan Pemrograman” maka kemampuan hanya terbatas pada membaca kode program orang lalu memodifikasi (modifier), mencari kode program sesuai kebutuhan di mbah google (searcher), atau memakai program buatan orang lain (user), atau menggabung-gabungkan program orang lain menjadi satu program (mixer).

Dengan mengikuti mata kuliah “Algoritma dan Pemrograman” maka kemampuanmya adalah membuat program dengan logika algoritma (programmer). Jadi silakan ingin menjadi apa sebenarnya? :D.

(Informatika ITB lebih menitik beratkan pada logika pembuatan algoritma ini, bukan hanya pada sintaks)

Sedihnya Jadi Dosen

Pernah saya menulis indahnya jadi dosen, sekarang gilirannya saya menulis sedihnya jadi dosen :D. Hal tersedih yang harus dilakukan seorang dosen adalah tidak meluluskan mahasiswanya karena nilai mahasiswa tidak mencukupi untuk lulus.

Banyak sekali masalah yang dialami mahasiswa sehingga beberapa dari mereka memilih menyerah terhadap mata kuliah dan memilih mengulang. Sebagai dosen saya merasa punya tanggung jawab besar terhadap Tuhan, orang tua mahasiswa, dan mahasiswa itu sendiri. Saya tidak akan meluluskan seorang mahasiswa yang memang tidak mampu atau belum mampu atau layak untuk lulus pada mata kuliah yang saya ajar. Karena jika saya meluluskan yang belum layak, maka bagaimana tanggung jawab saya, saya tidak berani mempertanggungjawabkan itu. Maka kalau memang mahasiswa belum layak lulus, saya tidak akan meluluskannya.

Paradigma beratnya menjadi dosen yang sering tidak dipahami banyak dosen yang merasa mengajar adalah profesi adalah dosa jariyah seorang dosen. Jika seorang dosen salah mengajarkan sesuatu ke mahasiswa atau meluluskan mahasiswa yang belum mampu, lalu misal saja 5 orang mahasiswa kita itu jadi dosen lagi, lalu dia mengajarkan yang salah lagi ke mahasiswanya dan seterusnya, maka alhasil akan jadi dosa jariyah kan?

Saya seorang dosen yang lebih banyak mengajar pemrograman yang notabene dianggap momok bagi mahasiswa-mahasiswa di bidang komputer. Dan bagi saya memang tidak mudah mengajar pemrograman, sering juga putus asa karena susah sekali memberi pengertian kepada mahasiswa bahwa mereka harus rajin latihan untuk bisa menguasai pemrograman. Tapi tetap saja sering mereka malas latihan, bahkan tidak jarang saya mengajak mereka “ayo ke lab saya, belajar privat dengan saya”, tapi tetap saja.

Sssst, mereka lagi serius coding

Saya menempatkan diri sebagai dosen yang berusaha menjadi teman mahasiswa. Tapi ternyata hal ini sering juga membuat saya susah gara-gara mereka mungkin terlalu menganggap saya teman, misalnya sms lebih dari jam 9 malam, atau bahkan memohon-mohon untuk diluluskan padahal dirinya tidak ikut UAS, atau ada yang nyuruh-nyuruh saya untuk mengirimkan soal perbaikan ujian gara-gara ketua kelasnya masih di luar kota (soal perbaikan saya kirim ke ketua kelas). Kadang sebagai dosen saya juga jengkel dengan tingkah laku yang seringnya kurang beretika. Tapi mau bagaimana lagi itulah mahasiswa. Kadang saya juga menegur jika saya sudah sangat terganggu. Belum lagi budaya mencontek tugas (sudah diberi kesempatan tugas perbaikan, mengumpulkan pekerjaan yang sama dengan beda nama), saya sangat tidak menolelir mencontek dengan alasan apapun. Sudah banyak koruptor di negara ini, saya tidak mau menambah lagi orang yang menghalalkan segala cara.

Saya selalu mengatakan pada mahasiswa saya, “Hidup adalah pilihan”, jika memilih untuk tidak menjadi lulus dengan kurang latihan dan belajar maka jangan memohon-mohon pada saya untuk diluluskan dengan alasan apapun, karena saya tidak akan meluluskan.

Jadi mahasiswaku jika kalian merasa saya sakiti, saya meminta maaf, karena saya tidak pernah dengan sengaja melakukannya, semua demi kebaikan dan tanggung jawab saya terhadap Tuhan. Semoga kalian mengerti. Amin.

Tantangan Mengajar Algoritma dan Pemrograman

Saat ini saya sedang mengajar algoritma dan pemrograman di UPI Bandung (I’m not paid for this (ternyata pas tanggal 10 Des 09, dikasih uang lelah, alhamdulillah, lumayanlah 😀 buat tambah-tambah), ajang aktulisasi diri, karena aku terlalu idealis :D). Pertama, mengapa saya memilih mata kuliah algoritma dan pemrograman, karena menurut saya, saya dulu kesulitan memahami Algoritma dan pemrograman, sehingga saya penasaran, bisakan saya mengajar Alpro?

Saya sering membayangkan kalau saya adalah seorang panglima perang yang harus menaikkan moral pasukan agar dapat diajak perang (kayak game aja :D), jadi saya merasa memiliki kewajiban untuk membuat pasukan saya berhasil.

Minggu-minggu pertama mengajar alpro diwarnai dengan shok di diri saya, karena ternyata pasukan saya tidak mempunyai moral, senjata, dan kemampuan perang yang cukup  alias kacau (padahal saya sudah mengajar Alpro II, the last Alpro). Sebagai panglima perang saya sering bingung memikirkan strategi perang bagaimana caranya pasukan saya bisa memiliki kemampuan logika membuat kode program.

Diberikan tugas – gagal, karena malah menjadi beban buat mereka, hasilnya malah banyak yang tidak kerja sendiri
Diberikan praktikum – gagal, karena komputer lab. tidak mencukupi untuk per mahasiswa sehingga ketika praktikum kelompokan, kadang hanya satu yang kerja
Diberikan materi di kelas – gagal, pasukan sering bengong dengan pikiran di kepala mereka kalau Algoritma dan pemrograman itu susah, kadang yang merasa jelas diterangkan hanya beberapa orang saja (kelas saya cukup besar karena 2 kelas digabung 46 orang) (Ketidak PD-an awal dari ketidaksuksesan)

Akhirnya cara yang menurut saya paling ampuh adalah Quis setiap di kelas, dan pembahasan di saat praktikum dengan mencoba mengajari “menyetir” kode program satu-satu bagi yang ketinggalan. Dan setelah itu baru dijelaskan secara umum ke yang lain. Jadi saya tawarkan “siapa yang mau menyetir di depan” (“menyetir” maksudnya mereka mengerjakan kode program dengan saya pandu secara privat di depan). (Saat praktikum kelas dibagi 2, jadi tidak terlalu banyak pasukan yang harus ditangani)

Progresnya lumayan, yang diajarin “menyetir” dapat sedikit mengasah logikanya dan mencoba sendiri bagaimana caranya membuat kode program. (Tidak ada cara untuk bisa menyetir dengan benar selain belajar menyetir sendiri)

Saya jadi mengerti, bagaimana rasanya jadi dosen Alpro. Ternyata susah :D. Butuh kesabaran ekstra tinggi :D. (Jadi keinget dosen Alpro-ku dulu :D, maaf Bu saya lemot 😀 dan kurang sabar, karena saya baru tahu kalau kunci belajar algoritma dan pemrograman adalah sabar)

Teriakan Programmer Lagi Debugging

aaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!

aaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!

Dapet gambar dari internet tapi lupa sumbernya gak dicatet. Mungkin kayak gambar ini kali ya programmer yang lagi debugging sampai lebih dari sehari tetep gak tau salahnya dimana, aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Beasiswa ITB S1 (Termasuk Biaya Hidup)

Baru dapat info dari http://mulyantogoblog.wordpress.com/2009/03/17/beasiswa-kuliah-gratis-di-itb-termasuk-biaya-hidup dan http://www.itbuntuksemua.com/ tentang beasiswa ITB untuk S1 bagi calon-calon mahasiswa berkemampuan, tapi temasuk ekonomi lemah. Buruan kalau gak salah pendaftarannya cuman sampe 20 April 2009.

Jangan patah arang walau dana tak ada, asal ada kemauan banyak jalan menuju Roma. Bulatkan tekat dan kuatkan mental (tak mudah jadi ekonomi lemah di ITB (pengalaman pribadi :D), apalagi sekarang yang banyak mahasiswa USM (ujian khusus untuk orang berduit)). Jangan takut untuk maju adik-adik. Semua akan terasa lebih indah bila kita berjuang, lebih bersyukur. Semoga bermanfaat.

Sisi Positif Dosen Informatika ITB dari Masa ke Masa

sumber gambar unknown

sumber gambar unknown

Beberapa hari lalu nemu blog yang isinya komentar jujur mengenai dosen-dosen yang pernah mengajar kami di Informatika ITB. Di tulisan ini saya ingin sekali melihat sisi dosen dari sisi positifnya. Pengalaman saya menjadi dosen, ternyata dosen bukanlah profesi yang mudah:
1. Tanggung jawab seorang dosen kepada mahasiswa besar sekali, sekali salah menerangkan hal itu bisa jadi menjadi salah terus seumur hidup mahasiswanya yang bukan hanya seorang
2. Dosen harus tetap bisa mengajar dengan benar ketika stres berat, dan tetap menjaga emosi saat marah, tetap fokus saat jadi blank (susah sekali)
3. Dosen harus mengikuti ilmu-ilmu yang sedang in di bidangnya supaya ilmu yang nanti akan diajarkan tidak ketinggalan jaman

jadi pekerjaan dosen bagi saya bukanlah hal yang mudah. Berikut komentar saya untuk para dosen yang pernah mengajar saya di Informatika ITB dari sisi positifnya (mohon maaf jika ada kesalahan penulisan nama).

Bu Inge (Inggriani Liem)
Seorang yang disiplin dalam banyak hal, on time, konsisten dengan apa yang dikatakan dan diajarkan

Pak Riza Satria Perdana
Singkat kalau mengajar, “negotiable”

Bu Fazat
Gak lama ngajarnya jadi gak terlalu bisa ngasih pendapat 😀

Bu Cia (Tricya Widagdo)
Enak menerangkan kuliah, jelas, cantik :D, hafal nama-nama mahasiswa dan masalahnya

Bu Putri
Gaul

Pak Adi
Sabar, bisa diajak diskusi, “negotiable”

Pak Benhard
Wawasannya luaaaaaaasssssssss, mungkin hampir semua bidang IT Pak Ben tahu walau tidak detail

Pak Endro (Krisdanto Surendro)
Ilmu-ilmu yang diajarkan seringnya up-to-date, disiplin masalah waktu, ujiannya sering “take home”

Pak Mary Handoko
Lumayan tepat waktu

Bu Yani Widyani
Baik dan sabar

Pak Sukrisno Mardiyanto
Baik, “negotiable”, suka menyapa, ramah

Pak Iping Supriana Suwardi
Mengajari mahasiswa tidak omong kosong dengan membuat pembuktian aplikasi terlebih dahulu, mengajari mahasiswa membuat jurnal dengan format internasional

Bu Wanti (Sri Purwanti, Alm)
Sabar tapi tegas, kalau ditanya berusaha menjelaskan dengan pelan-pelan dan lebih detail, telaten

Bu Nur Ulfa Maulidevi (terkenal dengan singkatan namanya NUM)
Lumayan enak saat menerangkan, bisa diajak berdiskusi

Bu Masayu Leylia Khodra
Enak menerangkan kuliah, sering mengarahkan masalah struktural penulisan, bisa diajak berdiskusi

Pak Santika
Rajin, sering datang pagi-pagi, tepat janji

Pak Windy Gambetta
Humoris, gaul, “negotiable”, toleransinya tinggi

Bu Ayu
ramah

Bu Harlili
Dosen buaaaaaaaaaaaaaiiiiiiiiiiiikkkkkkkkkkk

Pak Rinaldi Munir
Menggunakan bahasa Indonesia baku, jelas jika menerangkan kuliah

Pak Rila Mandala
“negotiable”, sabar, baik

Pak Dwi Hendratmo Widyantoro
Riset based, tidak suka sesuatu yang asal-asalan, bisa diajak berdiskusi, tepat janji

Pak Oerip
sering nolong mahasiswa kasus, sering memperhatikan mahasiswa kasus

Bu Henny
Kalau didengarkan dengan seksama lumayan enak nerangin kuliah, bisa diajak berdiskusi, ramah

Pak Farid
Yang paling kuingat pandangannya mengenai “Orang Indonesia tidak perlu malu salah melafalkan Bahasa Inggris karena kita bukan orang Inggris”, sering memberikan pandangan-pandangan yang saat ini sering dianggap “gak jaman” untuk anak sekarang tapi sebenarnya pandangan itu baik

Bu Christine
Disiplin, enak ngajarnya jelas

Pak Awang (Afwarman Manaf)
“negotiable”, nyante, tidak menyulitkan mahasiswa

Dosen yang sekarang gak ada di IF tapi pernah mengajar saya

Pak Wikan
bisa diajak berdiskusi

Pak Elfan
Tok Cer kalo nerangin, jelas buanget, enak diajak diskusi

Mas Yudistira (IF 98)
Enak neranginnya

Mas Aji’ (Dwi Aji (IF 98))
Ngajarnya enak

Bu Mewati
Suabar, tok cer ngatasi anak putus asa gak bisa program

Pak Reza Ardriansah (IF 96)
Gaul

Pak Johannes
Skillfull

Bu Risna
Ngajarnya bentar jadi belum bisa ngasih komentar

Terima kasih Pak Bu sudah mengajar saya dan suami.

Tugas MisUseCase

Tugas IF5166 Keamanan Informasi Lanjut

23507024 – Rosa Ariani Sukamto

 

Banyak perangkat lunak dibuat tanpa memperhatikan kemungkinan serangan pihak-pihak yang tidak berhak. Oleh karena itu perlu diikuti sebuah alur pengembangan perangkat lunak yang aman yaitu Secure Software Development Life Cycle (SSDLC). Salah satu fase yang harus dijalani dari SSDLC adalah tahap pendefinisian kebutuhan perangkat lunak. Disini harus didefinisikan serangan-serangan apa yang mungkin dilakukan oleh orang-orang yang tidak berhak (misuser). Pendefinisian serangan sekaligus fungsi-fungsi yang dibutuhkan perangkat lunak dapat menggunakan misusecase.


Berikut adalah contoh misusecase untuk sebuah perangkat lunak yang mengakses basis data dan menampilkan isi data di dalam basis data.

 

misusecase

Keterangan:
use case warna putih : fungsi-fungsi yang dapat diakses user
use case warna merah : fungsi-fungsi untuk mendeteksi dan mencegah serangan-serangan misuser
use case warna hitam : serangan-serangan yang mungkin dilakukan misuser

By hariiniadalahhadiah Posted in School