Untuk Apa Manusia Hidup

Bismillahirrahmanirrahim……

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang…

Image source:

Untuk apa manusia hidup?

Pertanyaan ini sering ditanyakan dalam diri, atau bertanya pada orang lain. Termasuk saya dulu juga bertanya dengan pertanyaan ini. Kemudian terbersit di dalam diri pemikiran waktu kecil dulu… kenapa harus lahir… kenapa harus hidup… mungkin akan lebih menyenangkan jika tidak pernah lahir 🙂 .

Baiklah… saya ingin berbagi mengenai konsep untuk apa manusia hidup yang terdiri dari:

  • Konsep yang disebut dengan Tuhan
  • Konsep lauh mahfuz… kitab Allah yang menyimpan segala kejadian kemungkinan kejadian
  • Fitrah (kemampuan dasar) manusia
  • Hak Allah sebagai Tuhan
  • Untuk apa manusia hidup….

Konsep yang disebut dengan Tuhan

Tuhan adalah satu zat yang menjadi alasan pertama kita sebagai manusia dalam melakukan aktifitas.

Maka apa yang disebut Tuhan itu bisa jadi adalah Tuhan sejati, atau Tuhan-tuhan palsu yang sering disebut dengan berhala. Tuhan sejati dalam agama Islam adalah Allah. Namun banyak sekali Tuhan-tuhan palsu seperti:

  • Uang
  • Rumah
  • Mobil
  • Gelar
  • Kehormatan
  • Keluarga
  • Kesenangan
  • dll

Sebagai contoh, jika kita bekerja dengan niat untuk mendapatkan uang… maka sesuangguhnya Tuhan kita adalah uang, atau kita pergi ke sekolah untuk mendapatkan gelar, maka sesungguhnya Tuhan kita adalah gelar. Jika misalnya kita tidur, dengan niat untuk taat pada Allah untuk menjaga kesehatan tubuh kita, untuk mendapatkan ridhoNya, sebagai alat penyokong dalam beribadah di dunia… maka tidur ini dapat bernilai ibadah. Disinilah apa yang disebutkan dengan segala amalan/perbuatan bergantung pada niatnya dalam hal penilaian Allah kepada amalan itu. Maka ketika Tuhan kita adalah Allah… maka semua perbuatan akan kita niatkan untuk taat padaNya, untuk mendapat ridhoNya… sehingga Allah akan berkenan kepada kita sebagai hambaNya. Maka semua amalan yang diniatkan untuk taat kepada Allah dan untuk ridho Allah… inilah yang disebut bernilai ibadah.

Di dalam Al Qur’an disebutkan mengenai manusia-manusia yang berakal, dan ada pula disebutkan bahwa manusia yang tidak berakal maka akan seperti hewan ternak atau binatang buas, atau disebutkan pula… bahwa iman adalah hanya untuk orang-orang yang menggunakan akalnya untuk berpikir. Sebenarnya maknanya tidak hanya tentang manusia bisa berpikir…. jika hanya berpikir mengenai mencari makan, tidur, menyayangi anak, dan lain sebagainya yang bersifat insting maka sebenarnya hewan pun memilikinya. Lalu apa yang dimaksud akal untuk berpikir ini… adalah akal yang mengenal Tuhan sejatinya yaitu Allah. Maka manusia yang mengenal Allah di dalam qolbunya akan dipenuhi iman sehingga perilakunya pun akan berikhtiar taat kepada Allah… tidak aneh-aneh seperti hewan.

 

Konsep Lauh Mahfuzh

Di dalam Al Qur’an disebutkan ada sebuah kita Allah yang disebut sebagai lauh mahfuz. Lauh mahfuzh adalah sebuah kitab yang dipegang Allah tentang pengaturan hidup manusia dan alam semesta. Saat Allah membuat ciptaanNya, maka semua kemungkinan kejadian dari setiap makhluk atau apapun ciptaan Allah tertulis dalam lauh mahfuzh. Seperti apakah lauh mahfuzh, kurang lebih seperti gambar berikut:

lauhword

Misalkan akhir dari dunia adalah kiamat, maka sebenarnya ada banyak waktu kiamat itu sendiri di dalam lauh mahfuzh, hanya saja yang terjadi adalah berdasarkan kondisi dari kejadian yang dipilih oleh manusia yang ada di bumi. Setiap makhluk atau ciptaan Allah memiliki jalur lauh mahfuzhnya sendiri seperti pada gambar berikut:

lauhword2

Setiap lauh mahfuzh manusia adalah bagian dari lauh mahfuzh bumi ini. Contoh lauh mahfuzh manusia adalah seperti gambar berikut:

lauhself

Saat manusia lahir, maka semua pilihan kejadian yang dialami sudah tertulis di lauh mahfuzh. Banyak pilihan jalan, bahkan bisa banyak pilihan bagaimana kematian kita akan terjadi. Semuanya sudah digariskan. Tugas manusia adalah memilih jalan yang terbaik. Pemilihan jalan yang terbaik bisa dilakukan dengan hikmah, yaitu ilmu dan kebijaksaanaan (kombinasi keduanya). Setiap manusia selalu memiliki jalan yang terbaik untuk dipilih, namun jalan yang buruk juga banyak. Ketika manusia mampu berserah diri pada Allah, percaya akan segala pilihan Allah, taat pada Allah, maka Allah akan menunjukkan jalan terbaik yang bisa dilalui manusia. Namun jika manusia terlalu yakin pada kekuatannya sendiri maka bisa jadi manusia memilih jalan yang buruk dan memilih akhir yang buruk. (Tentu saja lauh mahfuzh yang asli lebih banyak dan kompleks cabangnya… gambar di atas hanya ilustrasi, bayangkan betapa besar penyimpanan lauh mahfuzh Allah ini….Allahu Akbar)

mari merenungkan makna “Tidak ada daya upaya selain Allah saja (laa haula walla quwwata illa billah)”

Allah sayang pada manusia, dalam Al Qur’an hampir semua surat diawali dengan bismillahirrahmanrrahim (dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang) kecuali surat At Taubah. Maka Allah ingin manusia mengenal Allah sebagai Maha Pengasih dan Maha Penyayang dibandingkan dengan yang lainnya. Maka dengan kasih sayang Allah, manusia diberi Al Qur’an sebagai petunjuk, diminta untuk sabar, untuk syukur, untuk ikhtiar yang tidak melampaui batas, untuk memahami posisinya sebagai hamba… agar tidak tersesat, sehat fisik dan jiwa, dan berakhir dengan baik (khusnul khotimah) sehingga memiliki kans sebagai penghuni surga karena penghuni surga adalah orang-orang yang taat dan tidak merusak. Maka uji cobanya adalah bumi, maka perusak hal di bumi kemungkinan besar tidak akan menjadi ahli surga.

Allah tidak pernah ingin manusia sakit, Allah tidak pernah ingin manusia buruk, Allah tidak pernah ingin manusia rusak, dan Allah tidak pernah ingin manusia berakhir buruk sedari awal. Hal-hal buruk bisa jadi adalah hasil dari pilihan jalan oleh manusia sendiri yang tidak taat pada Allah. Sehingga membuat badannya menjadi rusak dan sakit. Di Al Qur’an disebutkan berkali-kali, bahwa apa yang dilakukan manusia akan kembali kepada dirinya sendiri… yaitu kejadian buruk karena pilihan yang kurang baik. Karena ketidaktaatan. Dalam Al Qur’an disebutkan, bahwa ujian diberikan pada orang yang beriman, dimana beriman adalah yakin Allah sebagai Tuhannya dengan menjadikan ridho Allah adalah alasan pertama dari setiap perilaku. Sedangkan bagi orang-orang yang kurang iman maka hal buruk adalah akibat dari pilihan manusia di kejadian sebelumnya… bayaran dari setiap perbuatan. Bayaran dari setiap perbuatan dalam proses tobat, akan mampu menghapuskan daftar hukuman dosa yang pernah kita lakukan jika Allah berkenan. Maka jangan pernah menyalahkan ini adalah takdir Allah… padahal itu adalah akibat dari pilihan kita sebelumnya…. takdir Allah berlaku ketika kita sudah benar-benar berusaha yang terbaik untuk ridho Allah.

Maka dari itu, manusia tidak dapat membuat kejadian, tugas manusia hanya memilih jalan yang baik. Allah membuat lauh mahfuzh sudah disesuaikan dengan kemampuan manusia, maka hal ini sesuai dengan janji Allah bahwa semuanya tak mungkin diluar kemampuan manusia. Maka jika di dalam lauh mahfuzh tidak ada tertera menjadi pengusaha, maka tidak akan pernah bisa jadi pengusaha. Makna Allah mengubah nasib suatu kaum jika kaum itu mau berusaha adalah dengan cara menunjukkan jalan yang baik di mata Allah dari lauh mahfuzh. Maka semua yang terjadi ada dibawah kendali Allah, semua kemungkinan kejadian.

 

Fitrah (kemampuan dasar) Manusia

Manusia dilahirkan secara fitrah adalah mengenal Tuhannya, oleh karena itu bayi lahir dalam kondisi berserah diri, tanpa kemampuan apapun. Fitrah manusia adalah baik, namun banyak hal pendidikan di masa kecil akan membuatnya tetap lurus atau menyimpang dari fitrah itu. Ini adalah makna dari salah satu hadist yang menyebutkan bahwa:

Setiap anak terlahir fitrah, orang tuanyalah yang membuatnya menjadi beragama nasrani, yahudi, dan majusi.

Maka apa yang terjadi saat masa pendidikan inilah yang membuat manusia menyimpang dari fitrahnya. Maka dari itu, sebenarnya Islam sangat mengutamakan pendidikan anak di dalam keluarga tentang Islam. Setiap manusia memiliki sifat fitrah, dan manusia dikatakan melampaui batas jika manusia melawan fitrah itu. Allah berfirman dalam banyak ayat tentang manusia-manusia yang disebut melampaui batas, batas yang dimaksud disini adalah batas fitrah. Karena jika manusia melampaui batas, maka itu akan merusak dirinya sendiri. Contoh, manusia tidak pernah diberi keahlian untuk mengendalikan hati/respon orang lain, namun manusia sering menjadi marah ketika respon orang lain tidak seperti yang diinginkan… ini salah satu contoh melampaui batas, karena tidak ada kemampuan dasar mengendalikan hati/respon orang lain, marah akan merusak jiwa dan tubuh manusia itu sendiri, terlalu banyak marah akan merusak tubuh dan membuatnya sakit. Maka fitrah manusia adalah berharap hanya pada Allah semata, muamalah (berurusan dengan manusia) dilakukan dengan baik adalah bagian dari bentuk ketaatan kita kepada Allah. Manusia akan menjadi stres dan rusak ketika melampaui batas fitrah… terutama jika mengambil hak Allah, mengambil hak Allah adalah salah satu hal yang menyatakan bahwa manusia ingin menjadi Tuhan, dan ketidaktaatan pada Allah adalah salah satu bentuk bahwa manusia merasa lebih pandai dari Allah…

 

Hak Allah sebagai Tuhan

Di dalam Al Qur’an disebutkan, bahwa hak Allah adalah:

  • Pembagian rejeki pada manusia
  • Masa depan
  • Jodoh
  • Kelahiran
  • Kematian
  • Hasil kejadian dari yang diusahakan manusia
  • Penilaian terhadap dosa dan pahala
  • Menghujamkan iman/hidayah

Tugas manusia adalah:

  • Taat pada Allah
  • Sabar (terus berikhtiar yang terbaik yang diketahui untuk ridho Allah, tanpa memikirkan hasilnya)
  • Syukur
  • Ikhtiar
  • Mencari ridho Allah
  • Berdoa untuk ridho Allah, bukan untuk mengatur Allah dengan apa yang kita inginkan, Allah sudah sangat pandai, tidak perlu kita mengaturNya.
  • Berprasangkan baik kepada Allah, bahwa semua pendidikan di dunia adalah untuk hikmah (ilmu dan kebijaksanaan)
  • Mencari setiap hikmah dari setiap kejadian

 

Status FB Darwis Tere Liye

Status FB Darwis Tere Liye

 

Maka tidak perlulah kita sebagai manusia menjadi iri akan rejeki orang lain, karena Allah yang Maha Pandai sudah mengaturnya dengan baik, tidak perlulah kita khawatir dengan masa depan, karena jika kita taat dan sabar, Allah sudah janji di dalam Al Qur’an akan selalu bersama manusia, maka akan selalu diberi yang terbaik. Tidak perlu manusia mengambil bagian pada hak Allah, karena Allah jauh lebih pandai dari manusia. Tidak perlu melampaui batas.

 

Untuk Apa Manusia Hidup

Manusia hidup, adalah untuk taat pada Allah, karena hanya dengan taat, beriman kepada Allah lah manusia menjadi jiwa yang tenang, jiwa-jiwa yang tidak melampaui batas. Inilah makna dari salah satu ayat Al Qur’an:

Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.

Taat pada Allah terdiri dari taat secara fisik dan taat secara hati. Dimana ketaatan fisik akan mengakibatkan kesehatan fisik, dan taat secara hati akan menyehatkan jiwa, jauh dari penyakit hati, sehingga menjadi jiwa-jiwa manusia yang tenang, ahli surga. Setiap manusia memiliki skenario hidupnya dalam lauh mahfuzh, dan manusia yang berhasil adalah manusia yang mampu mengambil hikmah dari setiap kejadian, sehingga memahami apa misi hidupnya yang diinginkan Allah dari hambaNya.

Istiqomah itu proses, perlu waktu, pelan-pelan, sedikit demi sedikit. Tobat adalah mekanisme dari terhujamnya iman sedikit demi sedikit yang diawali dengan hidayah, dan hidayah adalah hak Allah…. dan orang yang sudah terlalu banyak dosa maka qolbunya sebagai jendela dengan Allah telah tertutupi iblis, maka bukan dengan menghakimi, namun membimbing… dengan kebaikan, agar dapat kembali menemukan jalan masuknya iman ke dalam qolbu sehingga Allah berkenan memberinya hidayah, dan kembali ke jalanNya.

 

Sekian apa yang ingin saya bagi, semoga ada manfaatnya. Aamiin YRA.

 

Sumber:

  • Al Qur’an dan tafsirnya
  • Guru-guru saya
  • Buku-buku yang ada dikamar saya 😀
  • Pengalaman spiritual saya

P1090589

 

Iklan

Sinkronisasi Qolbu

Bismillahirrahmanirrahim…. Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Setelah beberapa lama saya mempelajari tasawuf, sekarang saya mulai berani mengajarkannya ke beberapa orang yang memang ingin memperbaiki diri berawal dari kondisi jiwanya. Karena segala hal yang kurang baik dan melemahkan manusia dalam menghadapi kehidupan, adalah kondisi jiwanya. Maka perlu untuk diperbaiki kondisi jiwanya. Saya melakukannya melalui Whatsapp, sehingga mengenai waktu lebih fleksibel.

Tasawuf adalah ilmu untuk menjernihkan jiwa. Jika hasilnya ternyata jauh dari jiwa yang jernih, berarti ada yang kurang benar dengan proses belajar yang dilakukan (entah kurang sabar lalu lompat tahapan atau belum mampu membersihkan jiwa itu sendiri). Jiwa yang jernih adalah jiwa yang sehat dan tidak berpenyakit hati.

 

Ada beberapa langkah untuk memahami tasawuf.. yang jelas dibutuhkan kesabaran dan istiqomah (berpegang teguh pada tauhid yang berkelanjutan), dan sangat perlu berlatih kepekaan untuk merasakan jiwa kita. Karena yang kembali kepada Allah nanti adalah jiwa kita, maka kenal jiwa kita sendiri sangat penting untuk bisa memperbaikinya. Jiwa tidak dapat dilihat dengan mata secara fisik. Namun menggunakan rasa di dalam hati/qolbu. Apa yang sebenarnya kita rasakan sebelum meneguhkan diri dalam melakukan sesuatu… itulah niat. Dan niat inilah penentu segala nilai perbuatan kita. “Segala perbuatan bergantung niatnya”. Mengapa harus qolbu… karena Allah hanya bisa kita yakini dengan Qolbu. Bagaimana kita yakin dan kenal Allah yang tidak bisa kita lihat dengan mata fisik. Karena Allah itu diyakini di dalam qolbu. Qolbu adalah jendela kita dengan Allah. Semakin kita taat pada Allah, jendela itu akan jernih, namun semakin kita melanggar Allah jendela itu akan buram.

Lalu bagaimana kita mengenali jiwa kita. Langkah pertama adalah… mendengar dengan qolbu .. I mean no ngeyel 😀 terhadap kebaikan. Misal contoh-contoh penyakit hati berikut yang butuh dikenali dan diperbaiki agar menjadi baik:
1. Sombong
Ini paling sering menjangkiti manusia, awal dari banyak penyakit hati adalah kesombongan. Bahkan iblis yang sudah beribadah ratusan tahun harus tergelincir pada sombong. Apakah sombong itu? Sombong adalah rasa merasa lebih tinggi dibanding yang lain, implementasi sombong ada beberapa sebagai berikut:
merasa paling benar dari orang lain, sehingga merasa diri berhak memaksa orang lain untuk mengikutinya, cara-cara yang dilakukan biasanya mengancam dan merendahkan.
Ini dilakukan karena manusia kurang memahami bahwa yang Hak dan Berhak menilai pahala dan dosa seseorang hanya Allah…. makna dari Wallahu ‘alam, kebenaran hanya milik Allah, manusia hanya media Allah… namun hidayah itu sepenuhnya hak Allah.
iri, iri timbul karena merasa Allah tidak adil (padahal Allah maha adil dan pandai dengan ilmuNya untuk memberikan rejeki pada hamba-hambaNya tanpa pernah tertukar), diri merasa lebih pantas untuk mendapatkan apa yang diberikan Allah kepada orang lain, merendahkan ilmu Allah dalam membagikan rejeki… naudzubillah..
marah karena nafsu amarah, dimana merasa lebih tinggi dari orang lain sehingga merasa berhak untuk marah pada orang lain.
ujub, dimana merasa bahwa semua kemampuan dari diri sendiri… apa yang didapat dari diri sendiri… tanpa ada Allah yang memberi.
takabur, merasa diri harus dihormati lebih dari orang lain, karena merasa lebih tinggi, lebih benar, lebih baik. Maka orang yang tawadhu tidak akan mudah melabeli saudara sesama muslim, namun lebih pada membimbing jika dipercaya Allah sebagai media hidayahNya. Orang yang tawadhu tidak akan mudah menilai orang lain sesat atau menyimpang. Karena yang berhak menilai hanya Allah, kebenaran hanya milik Allah.
2. Riya
Riya adalah melakukan perbuatan dengan niat selain Allah. Misalnya bekerja untuk mencari uang… bukan untuk mendapatkan rahmat Allah. Beribadah karena ingin dianggap alim, atau bersedekah karena ada keinginan agar dikabulkan Allah. Prinsip memberi apapun itu adalah memberi untuk rahmat Allah. Jadi memberi ya memberi saja, tanpa menghitung-hitung berapa rahmat yang akan kita dapat, atau bagaimana respon orang lain. Ketika kita memberi namun kita marah karena respon yang diberi tidak baik, maka niat kita masih ada memberi untuk respon orang lain, bukan untuk rahmat Allah. Karena memberi yang diniatkan untuk rahmat Allah.. ya memberi saja, apapun responnya tidak akan mengecewakan kita, karena tujuan kita bukan respon makhluk.
3. Takut, gelisah… hal ini disebabkan kurangnya keyakinan kita kepada Allah di dalam qolbu. Kita sedang kurang percaya pada Allah bahwa Allah akan selalu memberikan yang terbaik bagi hambaNya berdasarkan ilmuNya… tidak yakin akan ilmu Allah berarti sedang menganggap Allah kita tidak pandai.
4. Kurang sabar dan kurang syukur… kurang menyakini janji Allah bahwa Allah akan selalu berasama orang-orang sabar dan menambah rejeki orang-orang yang bersyukur, karena kurang percaya berarti otomatis sedang menganggap Allah pengingkar janjiNya.
5. Keinginan yang mengatur Allah… ini biasanya diucapkan dengan banyak doa… ya Allah berilah aku ini, itu dan lain-lain, atau ya Allah balaslah orang itu… (pekerjaan Allah tidak hanya membalas orang.. namun lebih pada pengasih dan penyayang… itu makna bismillahirrahmanirrahim yang selalu mengawali surat Al Qur’an kecuali At Taubah) …. Allah itu sudah pandai tidak perlulah diatur-atur… biarkan Allah menilai, itu hak Allah… doa itu tidak hanya meminta, curhat pada Allah, pengakuan pada Allah, itu juga doa… doa adalah komunikasi kita pada Allah untuk berserah diri

dan lain sebagainya yang tidak bisa saya tuliskan satu persatu… beberapa poin di atas hanya sebagai contoh.

Jika ada yang beralasan, tasawuf di jaman Rasulullah tidak ada, tasawuf itu hanya penamaan ilmu. Pada dasarnya diambil dari pemaknaan Al Qur’an dan Sunnah Rasul. Dahulu Rasulullah dan sahabat juga menerapkan penjernihan jiwa untuk memahami makna Al Qur’an. Setelah beberapa waktu kemudian, ilmu ini digali dan diberi nama tasawuf. Seperti halnya ilmu astronomi, di jaman sangat lampau… sudah ada orang yang belajar tentang angkasa, melihat rasi bintang untuk menentukan arah… namun belum diberi nama ilmunya, maka ketika digali ilmu itu diberi nama astronomi. Jika ada yang beralasan tasawuf menyimpang, itu karena yang dilihat oknum-nya yang kurang mampu bersabar dan istiqomah menjalani tahapannya. Seperti halnya orang Islam yang melakukan kezaliman, itu oknum karena kurangnya kemampuan memahami hakikat Islam itu sendiri. Atau misalnya orang yang belajar tasawuf itu tidak peduli dunia… itu karena belum memahami bahwa salah satu yang dipelajari dalam tasawuf adalah bahwa dunia adalah ladang akhirat… bukan meninggalkan dunia. Seperti makna ayat berikut:

Surah Al ‘Ankabuut 43
وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ (43)
Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.(QS. 29:43)
Demikianlah Allah mengumpamakan sesuatu perumpamaan bagi manusia. Hanya orang berakallah yang dapat memikirkan perumpamaan tersebut. Sengaja Allah mengambil laba-laba sebagai perumpamaan, karena itu barangkali yang mudah bagi mereka untuk memahaminya. Selain dari itu, juga dimaksudkan untuk menerangkan segala keraguan mereka selama ini. Bagi orang yang selalu menggunakan hati dan pikirannya dan bagi ahli-ahli ilmu pengetahuan, pastilah dapat memahami perumpamaan seperti tersebut dan akan semakin banyak mengetahui rahasia-rahasia Allah yang terkandung dalam ayat-ayat-Nya. Diriwayatkan dari Jabir bahwa Rasulullah pernah berkata:

العالم من عقل عن الله تعالى وعمل بطاعته واجتنب سخطه
Artinya:
Orang yang berilmu itu ialah orang yang selalu memikirkan Allah (dengan memperhatikan makhluk) yang diciptakan Allah, kemudian beramal dalam rangka taat kepada-Nya serta menjauhi segala kemarahan-Nya.

(Sumber Tafsir Depag)

Tahapan belajar tasawuf itu butuh proses, diantaranya adalah:
1. Mengenali rasa dalam jiwa kita, ini biasanya butuh pembimbing. Hati-hati dengan pembimbing yang kurang paham.
2. Menjernihkan jiwa minimal bisa berhusnuzon dan berniat baik. Apa itu husnuzon? indikasinya adalah kita dapat mengambil hikmah dari setiap kejadian walau itu tidak menyenangkan, kita selalu berusaha berpikir baiknya apa dari setiap kejadian. Niat baik berarti apapun yang terjadi niat kita akan tetap baik… tidak jadi marah ketika respon tidak sesuai yang kita harapkan.
3. Membaca terjemahan atau tafsir Al Qur’an dengan memaknai. Bisa dengan bimbingan guru yang paham untuk membantu memaknai. Tidak boleh lompat… pahami pelan-pelan dan tidak boleh tidak sabar untuk segera membaca buku-buku tasawuf. Pemahaman adalah hidayah Allah… maka bacalah kitab Allah dengan mengharap rahmatNya, tidak dengan tergesa-gesa… atau yang kita dapat hanyalah tulisan-tulisan belaka tanpa makna.
4. Membaca buku tasawuf dasar, misalnya Ringkasan Ihya Ulumuddin karya Imam Al Ghazali.

Buku Ringkasan Ihya Ulumuddin Karya Imam Al Ghazali

Buku Ringkasan Ihya Ulumuddin Karya Imam Al Ghazali

5. Baru terus berjalan untuk memperdalam…

Di dalam setiap proses di atas… maka sebisa mungkin lakukan dengan ikhlas dan melakukan ibadah wajib dan sunnah. Ibadah sunnah yang dianjurkan adalah sholat tahajjud di sepertiga malam terakhir, puasa, berkumpul dengan orang-orang soleh, dan dzikir di setiap kita mengingat Allah (makna dzikir adalah mengingat Allah di dalam qolbu bagaimana pun cara kita).

Ada beberapa cara siswa belajar diantaranya:
1. Siswa yang lebih senang mendengar dan meneladani guru dan tidak suka membaca sumber literatur… siswa ini akan menjadi benar jika gurunya benar… namun akan menjadi salah…. jika gurunya salah.
2. Siswa yang lebih senang membaca literatur dan guru adalah sebagai pencerah atau pelurus pemahaman…
3. Siswa yang lebih senang mendengar terlebih dahulu dari guru kemudian membaca literatur sebagai pelurus pemahaman…
4. Siswa yang tidak suka mendengarkan guru… tidak suka membaca literatur… hanya menyukai apa yang sesuai dengan dirinya… ini potensi untuk menjadi cerahnya biasanya kecil karena ego/nafsu/keinginan lebih dominan.

Konsep dasar dari tasawuf adalah melakukan sikronisasi antara lisan dan qolbu. Lisan itu untuk berkomunikasi dengan manusia, sedangkan qolbu untuk berkomunikasi dengan Allah. Karena yang meyakini Allah itu qolbu. Berikut beberapa gambar yang menjelaskan bagaimana konsep niat yang lurus dan niat yang miring (sinkronisasi antara yang dikomunikasikan ke Allah dan yang keluar).

 

Niat yang sinkron antara keluaran dan qolbu

Niat yang sinkron antara keluaran dan qolbu

Makna syahadat yang pertama, bahwa segala perbuatan dilakukan karena Allah ta’ala, sinkronisasi antara niat qolbu dan keluaran karena Allah ta’ala.

 

Niat yang miring, akan menghasilkan keluaran yang miring

Niat yang miring, akan menghasilkan keluaran yang miring

 

Niat yang miring, akan menghasilkan keluaran yang miring

Niat yang miring, akan menghasilkan keluaran yang miring

Islam itu menenangkan, jika belum mampu menenangkan berarti belum terlalu paham hakikat dari Islam itu sendiri. Mana mungkin Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang membuat Islam yang mengancam, penuh teror, dan sombong. Makna Islam adalah berserah diri kepada Allah… maka orang yang berserah diri kepada Allah akan jauh dari melakukan perbuatan-perbuatan yang bukan karena Allah. Inilah makna, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (Qs. ar-Ra’du: 28).

Maka jika ada yang ingin mencoba mencari ketenangan jiwa dengan menjernihkan jiwa dan butuh bantuan sekedarnya, silakan japri saja 🙂 (asal mahram dengan saya). Gratis. Dan perlu diperhatikan adalah saya hanya mencoba membantu, hanya media Allah jika saya dipercaya Allah.. hal terpenting yang dibutuhkan adalah hidayah Allah.. maka tetap niatnya fokus pada hidayah Allah. Saya mempelajari tasawuf tanpa aliran tarekat selama hampir 3 tahun. Jika ada salahnya itu dari saya, jika ada benarnya itu pasti dari Allah 🙂 .

Sumber: Buku-buku yang sudah pernah saya baca 🙂 .

IMG_20150527_113438

Wanita-wanita “Perkasa” Bukan di Mata Manusia

Bismillahirrahmanirrahim.

Terkadang dalam hidup kita, banyak hal tidak berjalan dengan yang kita harapkan… tapi disitulah seninya apakah kita akan menjadi hamba yang kembali kepada Allah… atau menjauh… ya pada intinya disitu adalah menguji kekuatan kita dalam hal trust Allah..

image source dari FB Dr. Bilal Philips

image source dari FB Dr. Bilal Philips

Seringkali wanita dipandang sebagai makhluk yang lebih lemah… cepat kesurupan… cepat stres… dkk hehe, mungkin karena wanita sering main perasaan (biasanya wanita programmer logikanya lebih main dibanding perasaan hehe 😀 )… Nah, maka mari kita tilik dulu… siapa wanitanya… karena Allah banyak juga memberikan contoh dari ciptaanNya berupa wanita-wanita yang cerdas secara akhlak. Di dalam Al Qur’an disebutkan… bahwa kecerdasan sebenarnya dimiliki oleh orang-orang yang mampu mengenal Allah, bukan hanya kenal namanya saja, tapi mampu memahaminya di dalam qolbu…. jadi orang yang benar-benar kenal Allah biasanya perbuatannya juga tidak sering dzalim….dimana dzalim adalah melakukan perbuatan melanggar hak orang lain dengan alasan yang tidak jelas. Tidak jelas disini adalah ketika seseorang memutuskan melanggar hak orang lain berdasarkan keinginan… bukan berdasarkan kebutuhan. Kebutuhan disini maksudnya kebutuhan hakiki sebagai manusia. Sering bukan manusia memutuskan sesuatu karena keinginan… bukan kebutuhan… maka mari belajar lagi untuk mengetahui apa sebenarnya kebutuhan hakiki kita sebagai manusia 🙂 . Di dalam Al Qur’an pun, lebih sedikit dibahas tentang contoh wanita-wanita “perkasa” di mata Allah… dibandingkan Laki-laki perkasa di mata Allah 😀 … itu mungkin karena wanita perkasa di mata Allah lebih jarang hehe 😀 , karena menurut hadist… mayoritas penghuni neraka adalah wanita…

Nah, terus tulisan ini mau bahas apa sih sebenarnya.. ya mau bahas wanita “perkasa” bukan di mata manusia (sesuai judulnya 😀 ). Berikut wanita-wanita perkasa dari segi akhlak yang pernah dicontohkan:

1. Asiyah
Asiyah ini adalah wanita yang menyembah Allah di jaman Nabi Musa. Asiyah adalah istri dari Fir’aun yang membesarkan Nabi Musa. Wanita ini tidak berputus asa pada rahmat Allah walaupun bersuamikan Fir’aun yang saat itu mengaku dirinya sebagai Tuhan. Keyakinannya kepada Allah membawa kemuliaan bagi dirinya. Bahkan ada sebuah cerita bahwa Asiyah pada akhirnya dibunuh oleh Fir’aun… suaminya sendiri….

2. Maryam
Maryam seorang wanita yang taat beribadah dan berasal dari keluarga yang baik. Maryam adalah seorang wanita yang sangat menjaga kesuciannya. Nah namun, tiba-tiba dia dipilih Allah untuk ditiupkan ruh ke dalam rahimnya… yaitu Nabi Isa. Bahkan dalam Al Qur’an surat Maryam ayat 23, menceritakan bahwa Maryam meminta kepada Allah untuk mati saja dan dilupakan… karena begitu beratnya “anugrah” yang diberikan Allah kepadaNya. Ya bayangkan saja… wanita baik… lalu tiba-tiba hamil tanpa suami… apa kata orang… tapi Tuhan dari Maryam bukanlah orang 🙂 … Maka ketaatannya kepada Allah menguatkannya untuk ignore kata orang 😀

3. Khadijah
Khadijah adalah wanita di jaman Rasulullah Muhammad SAW yang berasal dari keturunan yang baik. Namun Khadijah menerima skenario hidup dari Allah bahwa beliau harus menikah 3 kali dalam hidupnya. Suami pertamanya meninggal dunia. Kemudian beliau menikah lagi yang berakhir dengan perceraian. Kemudian untuk ketiga kalinya, beliau dipilih oleh Allah untuk mendampingi Rasulullah. Keyakinannya dalam mendampingi Rasulullah membuatnya menjadi wanita mulia di mata Allah.

4. Fatimah
Fatimah ini anak dari Rasulullah Muhammad SAW dan Khadijah. Fatimah seorang perempuan yang rela hidup sederhana bersama suaminya. Anak yang berbakti kepada orang tua. Dan keyakinanya kepada Allah juga membuatnya mulia… termasuk ketika beliau mencintai Ali bin Abi Thalib karena Allah…

5. Aisyah
Aisyah adalah salah satu istri Rasulullah yang sangat senang belajar… Aisyah wanita yang cerdas. Bahkan saat masa Rasulullah sudah wafat… Aisyah juga pernah maju ke medan perang.

6. Ummul Mukminin (Istri-istri Rasulullah)
Mungkin belum banyak yang tahu, bahwa Rasulullah sebenarnya mencukupkan nafkah setiap harinya hanya sehari saja bagi istri-istrinya yang memiliki keyakinan besar kepada Allah. Karena keyakinan akan janji Allah bahwa Allah akan mencukupkan kebutuhan hambaNya yang bertakwa (Kebutuhan hakiki, bukan keinginan 🙂 ).

7. Lalu ada lagi beberapa wanita yang pernah ikut berperang di jaman Rasulullah (saya lupa namanya 😀 )

8. Rabia’ah Al Adawiyah
Rabi’ah adalah salah satu wanita sufi. Karena kecintaannya kepada Allah, Rabi’ah mengabdikan hidupnya untuk mencintai Allah.

Jadi sebenarnya wanita juga bisa perkasa di mata Allah 🙂 . Jika ada benarnya itu milik Allah, jika ada salahnya maka itu dari saya. Semoga bermanfaat untuk tidak pantang menyerah menjadi wanita yang perkasa di mata Allah 🙂 …. and ya… ignore the negative people 😀 . Namun jika Allah memberi kita jiwa yang kuat atau waktu berlatih menjadi jiwa yang kuat, kita akan mampu memanfaatkan negative people sebagai ladang muhasabah (introspeksi diri 🙂 ).

sumber gambar dari internet

sumber gambar dari internet

Islam itu bermakna berserah diri kepada Allah…

Iman itu bermakna ridho kepada semua yang diberikan Allah kepada kita…

Tugas kita hanya berusaha dengan semangat menjalani untuk mengabdi dan beribadah kepada Allah…. itulah makna Laa Illa ha illallah… tiada Tuhan selain Allah.

(Dari berbagai sumber)

Mencari Ketenangan Batin…

Bismillahirrahmanirrahim.

Apa sebenarnya yang dicari manusia di dunia ini. Apapun itu yang jelas semuanya pasti ingin yang namanya ketenangan batin. Akhirnya banyak yang mencari cara bagaimana bisa mendapatkan ketenangan batin itu tadi 😀 (anggap saja “nge-fly” karena ketenangan 😀 ). Sebenarnya kan ketika orang nge-fly karena obat-obatan itu untuk mengeluarkan sebuah hormon agar diri bisa tenang dan bahagia. Dan hormon itu sama dengan yang bisa dikeluarkan manusia jika dekat dengan Tuhannya :).

Hal yang dibutuhkan untuk bisa “nge-fly” yang baik dan benar adalah dengan mempelajari dan mencari tahu untuk apa manusia diciptakan Allah dan menjadi hidup di dunia ini. Karena itulah fitrah atau dasarnya untuk mengetahui apa yang mampu membahagiakan secara hakiki. Cara lainnya pasti hanya sementara saja…. Kalau tidak percaya.. bisa kita lihat salah satu wajah ulama sufi ini… begitu tenang bukan :).

Dari pengalaman saya… saya mendapatkan banyak ilmu dari mempelajari ilmu tasawuf, terutama dari tulisan-tulisan Imam Al Ghazali. Tulisan beliau terasa tenang dan lebih mudah dipahami. Caranya tidak memaksa… namun menjelaskan tahapan-tahapan untuk mempelajari ilmu ini. Tentu saja ada dasar untuk mempelajari tasawuf. Yaitu Al Qur’an dan kisah Rasulullah Nabi Muhammad SAW.

Awalnya saya mencoba mempelajari filsafat… namun ternyata filsafat kurang mampu menjelaskan banyak hal yang saya alami dan saya rasakan. Hingga sampai saya membaca buku Imam Al Ghazali yang menjawab banyak pertanyaan saya :). Entahlah.. saya merasa banyak menemukan ketenangan batin dari belajar ilmu ini walau dalam kondisi apapun. Sungguh hal yang menenangkan adalah mendekat pada Allah, Zat yang tidak akan pernah ingkar janji dan Maha Besar…..

(mata seorang sufi biasanya redup dan tenang, seperti jendela kerendahan hatinya kepada Allah)

Ada beberapa tahap untuk memahami ilmu tasawuf agar tidak memahaminya secara ekstrim, karena sungguh ilmu ini bukan ilmu untuk melupakan dunia, bukan ilmu untuk ekstrim dan saklek dengan rasa merasa benar, namun ilmu tasawuf adalah ilmu untuk mengetahui siapa diri kita secara hakiki dan untuk apa kita hidup. Ilmu untuk mengendalikan diri dalam kehidupan dunia dan agar dapat kembali kepada Allah nantinya dengan tersenyum 🙂 (Itulah kenapa para mujahid yang benar-benar, meninggal dengan tersenyum). Tasawuf adalah ilmu untuk mengenal Allah. Berikut tahapan yang biasanya dijalani dari orang-orang yang tidak dari kecil tumbuh dengan pemahaman tasawuf 🙂 :

  1. Biasanya ada kejenuhan dan kebosanan dengan semua yang ada didunia ini, semua terasa tidak sebegitu berharganya.
  2. Biasanya ada ketidaknyamanan pada penyakit hati yang ada pada diri. Misalnya tidak nyaman dengan marah, tidak nyaman dengan membenci, atau tidak nyaman dengan sakit hati, dan hidup terasa tidak teratur. Sehingga merasa ingin membuang semua itu karena hanya menyakiti diri sendiri.
  3. Berlatih untuk membuang segala penyakit hati dengan terus memohon kepada Allah.. meluruskan niat baik dan berprasangka baik pada banyak hal yang terjadi. Penyakit hati diantaranya adalah marah, benci, sakit hati, dendam, iri, merasa benar sendiri (padahal kebenaran hanya milik Allah), merendahkan orang lain (marah adalah salah satu bentuk kesombongan merendahkan orang lain sehingga kita merasa berhak untuk marah, kecuali marah yang memang diijinkan, menghina orang lain juga bentuk merendahkan orang lain)… sesungguhnya sedikit saja kita merendahkan orang lain kita sudah masuk pada perangkap yang dinamakan dengan sombong.
  4. Dengan niat baik dan berprasangka baik (termasuk berprasangka baik terhadap Allah dengan ijinNya pada semua yang terjadi) kita coba memahami Al Qur’an, maknanya… ayat per ayat (terkadang dalam sehari mungkin kita hanya akan mampu mencoba memahami maksud dari 1-5 ayat 🙂 ). Dan sesungguhnya memang benar… Al Qur’an tidak akan mampu dipahami orang-orang yang kadar penyakit hatinya tergolong di atas ambang batas 😀 ….selain hanya berupa kalimat atau tulisan-tulisan yang ditelan mentah-mentah :).
  5. Dengan bekal pemahaman Al Qur’an pada poin 4, maka mulai untuk mengenal Rasulullah Muhammad SAW dengan banyak membaca kisah-kisah beliau. Ketika kita tahu kisah-kisah beliau… kita akan menjadi mencintai beliau.
  6. Berbekal 5 poin di atas… barulah kita coba untuk membaca literatur tentang tasawuf… dan kita akan mampu menelaah maknanya.

Islam itu tidak saklek… Islam itu sangat arif… Islam itu suka damai… dan manusia yang kenal Allah akan mencintai Allah dan mampu melakukan perbuatan karena Allah. Bagaimana kita mengatakan perbuatan kita karena Allah jika kita tidak kenal Allah kita dan sifat-sifatNya.

Ada buku bagus untuk belajar tasawuf jika tidak punya cukup waktu untuk membaca :D, berikut bukunya (sekitar 500-an halaman):

Buku Ringkasan Ihya Ulumuddin Karya Imam Al Ghazali

Buku Ringkasan Ihya Ulumuddin Karya Imam Al Ghazali

Namun membacanya setelah tahapan-tahapan 5 poin di atas dilalui, agar tidak menjadi ekstrim :). Terus terang, tanpa pemahaman Al Qur’an dan latihan membersihkan jiwa dari penyakit hati, maka ilmu dalam buku inipun akan kurang mampu diserap selain hanya sebuah tulisan-tulisan saja. Tentu saja butuh waktu untuk proses belajar dan berlatih….. tahunan 😀 … but keep istiqomah…. semangat…. 🙂

Semakin dekat dengan Allah, maka kita akan banyak mengalami hal amazing yang tidak kita alami sebelumnya :). Trust me… it works. Saya hanya ingin berbagi pengalaman dengan harapan akan semakin banyak manusia yang mengenal Allah. Dan dapat menjadi umat yang kembali kepada Allah dengan tersenyum, termasuk saya. Aamiin YRA.

Jika ada salahnya itu dari saya, jika ada benarnya itu dari Allah SWT.

image source: dari status seseorang di FB :D (maaf lupa tepatnya)

image source: dari status seseorang di FB 😀 (maaf lupa tepatnya)

“Be merciful to others and you will receive Mercy. Forgive others and Allah will forgive you.” – Prophet Muhammad

Allah itu sangat baik… seburuk apapun kita di masa lalu.. jangan pernah putus asa dengan rahmatNya untuk bertobat… and everything gonna be ok :).

Aku Sudah Tidak Takut

 

Tuhanku Allah
Aku sudah tidak takut
Aku tahu aku bisa
Aku tahu denganMu aku bisa

Tuhanku Allah
Aku sudah tidak takut
Aku sudah tidak bisa disakiti
Aku sudah tidak takut disakiti
Karena bagiku tidak ada rasa sakit
Melainkan kasih sayangMu padaku

Tuhanku Allah
Aku sudah tidak takut
Tanpa rasa duniawi
Dan hanya menuju padaMu
Aku tahu
Aku akan terbebas dari semua belenggu
Dan semua tidak berarti

Tuhanku Allah
Terima kasih

Kesepian….Penyebab Jiwa Tidak pada Tempatnya

Bismillah…. Allahu Akbar….
Saya mendapat ilmu baru hari ini… bahwa masalah yang mendasari manusia bersedih dengan banyak hal diawali dengan yang namanya perasaan kesepian yang dirasakan di dalam jiwa.

Maka dari itu, film, drama, sinetron, lagu tentang percintaan kepada manusia bisa laris :D… karena mindset obat dari kesepian adalah kasih… namun kasih dengan sesuatu yang tampak awalnya dianggap sebagai penyelesaian.

Itulah sebabnya banyak para jomblo merasa bagaimana gitu… karena mereka berpikir bahwa memiliki pasangan adalah solusi dari kesepian yang mereka rasakan.

Ada lagi yang disebut media sosial banyak digunakan untuk tempat curhat, mengeluh, dan menceritakan perasaan hati… karena pemikiran bahwa mengeluarkan uneg-uneg adalah obat dari kesepian karena merasa bahwa dirinya merasakan itu semua sendirian. Media sosial sebenarnya lebih baik manfaatnya kalau digunakan untuk berbagi ilmu, dakwah, atau pun mengumumkan sesuatu…

Orang mengejar uang dan harta yang bukan dengan niat ibadah… biasanya juga untuk agar banyak orang mendekat untuk teman, pasangan, atau pelayanan terhadap dirinya… untuk apa… agar dirinya merasa senang… senang dari apa… senang dari merasa tidak sendirian…

Atau misalnya banyak anak muda yang bermain game… sampai kecanduan game… untuk apa? untuk menyenangkan diri mereka dari perasaan kesepian… karena di dalam game mereka bisa mencurahkan diri mereka apa adanya… tanpa takut akan ditolak, dicemooh, atau lainnya.

Kenapa orang kesepian sering merasa dirinya kosong, tidak berarti, dan bahkan ada yang terpikir untuk bunuh diri… karena perasaan bahwa dirinya sendirian…

Orang bisa membunuh atau menyakiti orang lain, demi mengambil sesuatu yang dipikirnya tidak akan membuatnya kesepian… dan tidak merasa sendirian…

Orang bisa berbuat akibat dari kemarahan… karena marah pada orang lain yang telah mengambil sesuatu yang dianggapnya membuat dirinya tidak merasa sepi… dan tidak sendirian

Maka sering penyebab jiwa tidak pada posisinya adalah kesepian…merasa sendiri…

Sahabat… Allah mendesain manusia sebagai makhluk sosial… sudah itu desainnya…
Jika kita melawannya… maka jiwa kita tidak akan berada pada posisinya…

Semua penyelesaian yang saya sebutkan di atas… adalah penyelesaian rasa sepi dan sendiri yang semu… karena semua itu bisa hilang begitu saja dan memiliki durasi waktu yang tidak panjang… lalu kita akan ada saatnya merasa kesepian lagi… atau bahkan kita tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan hakiki sebagai jiwa yang didesain Allah…

Lalu apa obat hakiki dari perasaan kesepian yang membuat jiwa kita tidak pada posisinya…

Kembali kepada Allah… karena kepada Allah lah kita akan pulang… kasih Allah adalah hakiki.
Allah mengatakan… obat kesepian adalah syukur, sabar, sholat, silahturahmi, sedekah, yang pada intinya adalah bermanfaat untuk orang lain… dengan orientasi ibadah…

Allah yang mendesain kita, Allah tahu apa yang membuat kita berbahagia… maka memahami aturan Allah… adalah cara untuk tidak merasa kesepian dan sendirian…

Mari kita kembali kepadaNya, taat kepadaNya, karena Allah yang mendesain kita, maka Allah sangat tahu desain yang telah dibuatnya… tidak taat kepadaNya hanya akan membuat kita kosong, jenuh, putus asa, karena ketidakpahaman kita…

Tabir kita mendekat kepada Allah adalah hal-hal yang kita buat sendiri… mulai dari kesombongan, kebencian, egois, ketakutan masa depan, iri dengki, prasangka buruk, dan hal-hal tidak baik yang kita simpan didalam hati… selama tabir itu tidak kita buang, maka akan selalu ada tabir antara jiwa kita dengan Allah…

Allah tidak pernah menjauhi manusia… semua hal tidak baik di dalam hati itulah yang membuat kita memiliki tabir dengan Allah.

Maka jika memiliki anak… didiklah mereka untuk tidak merasakan kesepian.. dengan obat yang hakiki di dalam jiwa mereka… semoga saya juga bisa. Aamiin Ya Robbal Alamiin.
Semua ini dari pembelajaran panjang saya, pengalaman saya, dan sedikit ilmu yang saya pelajari. Jika ada salahnya itu karena sedikitnya ilmu saya. Jika ada benarnya itu semua dari Allah… saya hanyalah media Allah untuk berbagi dan bermanfaat untuk sesama manusia… wallahu a’lam.

Donor Darah… Be Brave

Bismillah…

Minggu kemarin tepatnya hari Kamis 11 September 2014 saya memberanikan diri untuk melakukan donor darah yang baru pertama kali saya lakukan dalam hidup saya hehe :D. Awalnya saya ingin mendonor darah pada hari senin. Namun ternyata acara yang katanya mulai pukul 08.00 baru selesai pembukaan pukul 09.30 dan pada jam itu saya mesti mengajar… maka menunggu 1.5 jam menjadi sia-sia. Namun disini saya berpikir bahwa Allah tidak mengijinkan saya untuk donor darah pada hari itu. Donor darah ini adalah bagian dari acara KSR UPI berkerjasama dengan PMI.

Pada hari kamis diadakan lagi di fakultas yang dekat dengan gedung saya. Saya niatkan untuk benar-benar donor darah, karena hari itu saya sedang tidak ada kelas. Saya ke tempat donor pukul 09.30 an karena takutnya pembukaan lagi hehe :D. Pada hari ini saya juga sedang puasa sunnah hari Kamis. Pas periksa darah ditanya… sudah sarapan… saya bilang sudah (sarapan sebelum subuh, alias sahur :D)…. Karena hari-hari yang ada donor darahnya hanya hari senin, kamis, dan selasa… sedangkan selasa saya mengajar dari jam 07.00-12.00. Kegiatan donor darahnya hanya sampai pukul 12.00.

Setelah menunggu antrian sedikit lama hehe… saya akhirnya masuk juga ke bus donor darah. Banyak orang takut ditusuk jarumnya… kalau takut jangan melihat pas ditusuk… lepaskan saja… pasrahkan saja. Pas diambil darahnya sih saya gak papa :D… sambil nonton TV yang ada dengan program sinetron “kurang bermutu”. Nah giliran kabelnya dah dijepit dan dipotong. Mulailah sebuah fase yang kurang saya prediksi. Tiba-tiba hampir semua pandangan saya terang…. dan dokter/perawat di sebelah saya berkata untuk saya tidak tidur agar tidak pingsan. Saya dengar dia meminta air gula hangat ke petugas untuk saya. Saya bilang… saya puasa… lalu bingunglah dia. Saya bilang “tidak apa-apa insya Allah, saya hanya butuh sebentar untuk istirahat”. Disini mulailah sebuah perasaan yang saya rasakan. Saya berdzikir untuk tetap sadar…. saya percaya Allah akan selalu bersama orang yang berniat baik. Disini saya mulai mengalami perasaan ingat kematian…. dan merasa belum banyak hal baik yang saya lakukan… beberapa kali terasa hampir pingsan saya.

Namun tak lama, sekitar 10 menit saya merasa memiliki kekuatan. Pandangan saya sudah tidak begitu kabur. Alhamdulillah, saya meminta ijin dokter untuk turun dari bus donor. Sampai dibawah kembali pandangan saya terang lagi. Saya duduk bersandar di kursi sambil terus berdzikir… dan kembali ada perasaan mengingat mati…. saya sedikit bersedih… merasa belum banyak hal baik yang saya lakukan. Sampai akhirnya setelah beberapa saat saya kuat untuk berjalan ke gedung saya. Dan tidak mengalami pandangan kabur lagi. Kemudian melayani beberapa mahasiswa yang bimbingan dan kemudian pulang naik motor. Alhamdulillah masih hidup. Namun ternyata butuh beberapa waktu untuk memiliki stamina baik kembali. Karena hari selasa ketika mengajar… saya masih merasakan gejala darah rendah :D. Ya obatnya… makan banyak dan istirahat….

Dari pengalaman ini saya masih ingin donor darah lagi dan lagi…. namun untuk mendatang akan saya persiapkan lebih baik. Mungkin dengan sedang tidak berpuasa saat donor darah. Saya ingin merasakan lagi perasaan mengingat mati… sehingga dapat berpikir untuk terus berbuat baik yang saya bisa lakukan…

Mari berbuat baik… mari berani donor darah :).

—————————————————————————————-

Update 12 Mei 2015

Hari ini donor darah kedua saya setelah waktu-waktu sebelumnya tidak sinkron 😀 . Ternyata jika sedang sehat dan ceria serta tidak sedang puasa, setelah donor darah rasanya baik-baik saja 😀 … langsung bisa jalan kemana-mana 🙂 . Sepertinya ketika donor darah pertama saya yang hampir pingsan karena saya sedang puasa 🙂 . Yuk terus donor darah 😀 .

Jika Merasa Kurang Bahagia…

Bismillah. Jika Anda merasa kurang bahagia… sebenarnya bukan bersenang-senang obatnya :). Namun bersedekahlah dengan niat baik yang dibersihkan. Bersedekah itu bisa dalam bentuk:

1. Ilmu
2. Waktu
3. Harta

atau perbuatan baik atau menyenangkan hati orang lain dan semua itu termasuk ibadah. Hal paling sederhana adalah tersenyumlah… trust me it works :D….
Dengan ilmu kita bisa memberikan wawasan kepada orang lain. Pengajaran dapat bersifat lembut untuk orang-orang yang berhati lembut, namun juga dapat bersifat tegas untuk orang-orang yang keras hatinya. Beda tegas dan egois adalah terletak pada niatnya…tegas memiliki aturan yang jelas dengan ilmu di dalam agama (memang memahami dalam lingkup hakikat) sedangkan egois lebih pada emosi dan keinginan untuk menang apapun caranya, tentu saja menang di mata manusia. Karena kemenangan sebenarnya juga dijelaskan Allah di dalam surat Al Fath. Maka sebenarnya ada pengertian apa yang disebut dengan kemenangan… tentu saja di jalan Allah.

Sahabat… jika obat kita menjadi bahagia adalah masih bersenang-senang maka segala yang kita miliki biasanya akan hilang dengan sia-sia… coba saja dirasakan ketika misalnya uang yang kita keluarkan untuk bersenang-senang lebih besar dibanding bersedekah… maka uang-uang itu akan menguap begitu saja… (pengalaman pribadi 🙂 ).

Bersenang-senang yang saya maksud disini adalah segala hal diluar yang kita butuhkan… karena sering kita terjebak membedakan antara keinginan dan kebutuhan :).

Allah sudah menjanjikan rejeki yang banyak untuk kita dengan bersedekah. Rejeki bisa berupa kesehatan, kebaikan pemikiran, kemudahan menjalani hidup, rasa syukur, rasa ikhlas… dan lain sebagainya. Allah maha kaya… dan Allah bukanlah pembohong… kita tidak mungkin menyembah pembohong bukan :).

Rasa syukur dan Ikhlas yang hakiki itu hanya bisa didapat karena Allah memberikannya kepada manusia. Dengan kedua rasa itu maka manusia akan berbahagia. Memiliki rasa merasa cukup dan tidak takut apapun karena yakin Allah akan mencukupi. Sehingga kita akan bahagia dengan kondisi apapun… walau tidak memiliki hal-hal yang distandarkan manusia lain.

Hakikat rasa syukur bukan bersyukur karena sedang melihat orang lain lebih menderita, dan bersyukur bukan kita yang kena penderitaan… namun rasa yang diberikan Allah dimana ketika kita melihat orang yang lebih kurang beruntung kita introspeksi sudahkah hari ini kita bersyukur… tipis bukan bedanya :D…. ketika kita memiliki rasa syukur, indikatornya adalah… bahkan untuk hal-hal kecil setiap harinya kita bisa mengucap Alhamdulillah setiap hari… misalnya pagi hari bisa BAB betapa nikmatnya :)… bayangkan kalau kita tidak diberikan kemampuan BAB oleh Allah :D…. Yang ini saya juga masih naik turun hiihihiiihiii… tapi ingin terus berusaha “menaklukan” rasa syukur secara hakikat ini :).

 

Inti dari kehidupan adalah penerimaan diri kepada keputusan Allah. Karena keputusan Allah bukan masalah kita mau atau tidak mau, tapi terima aja atau terima banget hehe :D. Itulah yang disebut ikhlas… rasa penerimaan diri kepada keputusan Allah. Allah tidak mungkin memberikan keburukan kepada manusia kecuali hikmah. Rasa ini hanya bisa diberikan Allah kepada manusia untuk manusia yang dekat dengan Allah. Maka jika orang yang sudah menguasai banget rasa ikhlas ini… tidak ada bedanya musibah atau rejeki di mata manusia… semuanya adalah hikmah dari Allah (indikatornya adalah selalu dapat melihat sisi baik dari semua yang terjadi dan mampu mempelajarinya). Yang ini saya masih belum bisa banget hehe :D… masih labil dan alay mempelajarinya hehe :D… kadang bisa kadang alay :D… ampunkan hamba ya Allah… namun hamba akan terus belajar dan mencoba :). Insya Allah.

Nah, siapakah yang berhak menilai niat kita… tentu saja Allah… tugas kita hanya belajar belajar dan belajar terus untuk memiliki niat baik yang sebersih mungkin. Karena jika niat kita kurang bersih… bisa jadi tips ini jadi tidak berlaku hehe 😀 (pengalaman pribadi juga :D)

Sekedar share sedikit pengalaman pribadi saya 😀 dan apa yang masih saya pelajari… masih sedikit ilmu saya. Jika ada manfaatnya itu dari Allah, jika ada salahnya itu karena keterbatasan ilmu saya. Mari terus belajar dan memperbaiki diri :).

Membedakan Niat Memberi dan Niat Meminta…

Bismillah…

Kepikiran nulis karena beberapa hari ini adalah beberapa orang yang nanya lewat media sosial Facebook tentang beberapa permasalahan. Jadinya ingin membahas inti dari niat kita di dalam tulisan ini :D.

Ini dapat dijadikan dasar mengapa lebih dianjurkan untuk memberi dibanding meminta. Niat memberi adalah niat untuk memberikan sesuatu, mulai dari yang terlihat, sampai yang dirasakan… dan dalam niat memberi ya kita memberi saja, tanpa meminta balasan, tanpa target, dan tanpa beban… sesuatu yang sudah kita berikan tidak akan kita minta kembali bukan maka kita lupakan saja karena sesuatu yang sudah diberikan ya diberikan saja….

Niat meminta adalah ada beberapa hal yang terlibat, meminta berarti kita sedang butuh, kita sedang ada beban, atau kita sedang ada target untuk didapat….

Nah bagaimana cara mendeteksinya, misalnya

– kita memberikan maaf kita pada manusia lain namun kita masih berpikiran balasan agar orang yang dimaafkan berubah sesuai keingginan kita… maka sebenarnya kita sedang meminta… bukan memberi… kita meminta orang lain berubah untuk kita tukar dengan maaf kita :)… maka jika apa yang kita minta tidak kita dapat, kita akan kecewa…
– kita memberikan pengertian kita kepada orang lain, namun berharap orang lain juga mengerti kita, ini berarti kita tidak benar-benar dalam kondisi memberi 😀
– kita memberikan sesuatu ke orang lain berharap orang lain balik memberi, atau berterima kasih sebagai penghargaan… berarti disini ada niat meminta penghargaan :).

Dalam meminta… jika beban tidak dibantu diringankan atau apa yang diminta tidak didapat atau target tidak tercapai… maka kita akan menjadi kecewa atau sedih…

Berbeda dengan memberi… ketika kita memberi… maka apa yang sudah kita berikan tidak akan kita minta kembali… jadi ya diberikan saja, dilepaskan saja, tidak ada beban, tidak ada target… apapun hasil atau tanggapan dari apa yang kita beri… karena apa yang sudah kita berikan bukan lagi milik kita 🙂

Maka jika kita merasa memberikan sesuatu namun ada rasa kecewa atau sedih karena tanggapan atau hasil yang didapat… mungkin sebenarnya kita sedang tidak memberi… namun meminta… mulai dari meminta dihargai… meminta dianggap baik… meminta bla bla bla :D…

Niat memberi akan membawa kebahagiaan dan ketenangan jiwa…. sedangkan meminta dapat menimbulkan kekecewaan ataupun kesedihan jika yang diminta tidak didapat…

Maka dari itu dianjurkan untuk memberi dibandingkan meminta… karena memberi jauh lebih bermanfaat untuk jiwa kita :). Itulah kenapa orang yang suka memberi lebih bahagia dibanding orang yang suka meminta :).

Apakah tidak boleh meminta…. tentu saja boleh :D… namun kita sudah tahu bukan konsekuensi dari meminta :D… ya mesti ditanggung :D.. hehe

Banyak hal awalnya tidak mudah, namun sesuatu menjadi mudah karena terbiasa, maka biasakanlah 🙂 agar menjadi mudah.

Mari banyak memberi… mulai banyak memberi doa baik, banyak memberi prasangka baik, banyak memberi kasih… dan lain sebagainya :).

Semoga bermanfaat… jika ada benarnya itu dari Allah, jika ada salahnya itu dari saya karena keterbatasan ilmu saya.

Berbuat Salah…

Bismillah…
Ingin berbagi tentang pengalaman saya dulu dan sekarang dari berbagai kesalahan yang saya lakukan :).

Manusia berbuat kesalahan biasanya karena:
1. sombong dimana sombong adalah ada sedikit saja rasa merendahkan orang lain, maka ilmu sebaik apapun tidak akan dapat diserap.. ya biasanya akhirnya jadi sotoy 😀 (sok tahu)
2. tidak memahami ilmunya namun sudah dihadapkan pada permasalahan yang akhirnya berbuat kesalahan untuk dijadikan pelajaran kedepan

Sebenarnya kesalahan itu dapat disyukuri sahabat. Karena berbuat kesalahan adalah sebuah fase dari bertobat. Tanpa berbuat kesalahan kita mungkin tidak akan masuk dalam fase tobat :). Fase dalam bertobat adalah:
1. Berbuat kesalahan
2. Sadar bahwa yang diperbuat adalah kesalahan
3. Tobat yang berarti tidak akan melakukannya lagi

ms6

Dari setiap proses di atas biasanya ada jeda waktu prosesnya… tidak langsung bim salabim :D. Waktu setiap orang tidak sama, ada yang sebentar, ada yang lama. Biasanya kalau sudah pada tahap fase 3 maka kita akan menjadi tertawa pada kesalahan kita karena sadar betapa tidak pahamnya kita, atau bahkan menangis karena penyesalan yang dalam, ini biasanya kalau kita melakukan dosa besar dan bertobat nasuhan (sungguh-sungguh). Kedua hal itu adalah indikasi awal kita sudah tahu itu salah…

Memang hal yang terbaik adalah belajar memahami ilmunya dan belajar dari pengalaman orang lain sehingga mencegah dari berbuat kesalahan. Namun terkadang ada manusia-manusia yang baru mengerti ketika sudah terjadi risikonya. Allah menciptakan kita semua berbeda untuk saling belajar bukan :). Dan terkadang manusia sedang tidak dalam kondisi terbaiknya :).

ms3

Ketika ada orang yang terjatuh dalam kesalahan datang kepada kita, maka hal yang baik adalah membersihkan niat kita untuk menuntunnya ke jalan yang lebih baik. Jika terbesit saja kita merendahkan dia atau bahkan memarahinya, maka yang terjadi… dia tidak dapat memasuki fase selanjutnya dalam pertobatan, kecuali Allah berkenan membolak-balikkan hatinya secara ekstrim… wallahu A’lam. Dari pengalaman saya dulu karena ketidakpahaman saya… yang terjadi biasanya adalah marah atau menyalahkan… jadi orang sudah merasa salah malah dimarahi atau disalahkan… keduanya benar-benar bukan tuntunan Islam sahabat :). Islam itu lembut namun tegas. Marah dan menyalahkan bukan hal lembut bukan? :). Tegas disini jika kita tahu aturan mainnya dan diajak melanggar aturan main Islam… maka harus dengan tegas menolak. Tegas bukan berarti keras, bahkan menolak pun tuntunannya baik-baik :). Allah menegur orang-orang kafir di dalam Al Qur’an pun bahasanya santun. Jadi jika bahasa kita tidak santun… tuntunan manakah yang kita acu? :D.

ms4

Memang ada orang yang akan menyalahkan atau bahkan menghina kita yang berbuat salah, namun semua perbuatan akan kembali pada yang melakukan (banyak ayat di Al Qur’an yang membahas ini). Orang yang menghina sedang membuat “hutang” perbuatannya sendiri, tidak perlu kita ikut membuat “hutang” bersamanya dengan menjadi marah :). Kasihanilah orang-orang yang sedang membuat “hutang”, karena hutang harus dibayar suatu hari nanti, entah di akhirat ataupun di dunia, dan diskonnya hanya satu yaitu ampunan Allah. Maka jangan patah semangat mencari diskon :D. Yuk yuk mari berburu diskon :D.

ms5

Kita bukan ahli penghitung dosa atau pahala orang lain bukan, kita juga bukan ahli untuk mengazab orang lain, sudah ada Allah, maka tidak perlu kita sotoy menjustifikasi orang lain ini itu. Dalam menciptakan manusia, pasti ada kelebihan yang diberikan Allah… kalau tidak percaya itu biasanya karena 2 hal, kita tidak mampu melihat kelebihan orang lain, atau kita tidak menghargai Allah yang menciptakan manusia.. (berani? saya tidak berani hehe :D..).. maka jika ada dari kita menghina secara fisik orang lain sebenarnya kita sedang menghina Zat yang menciptakannya 😀 (berani? saya tidak berani hehe :D…segera istigfar jika keceplosan). Dalam sebuah ayat di dalam Al Qur’an disebutkan bahwa kita tidak diijinkan mengolok-olok orang lain karena bisa jadi orang yang kita olok-olok itu lebih baik dari kita.

ms9

Di dalam Islam tidak ada satu orangpun yang diberi hak mutlak dan benar untuk menjustifikasi, karena kebenaran hanya milik Allah. Yang ada adalah berusaha menjadi benar… maka Islam adalah agama yang mengajak umatnya berpikir. Misalkan jika doa semua orang terzalimi itu dikabulkan semua… maka doa yang jelek-jelek akan dikabulkan juga :D… tentu saja ada pertimbangan Allah untuk mengabulkan dan tidak… kita tidak berhak sotoy bukan hehe :D. Atau misalnya jika doa semua orang tua dikabulkan, maka Nabi Ibrahim bisa jadi anak durhaka :D, tentu ada pertimbangan Allah bukan :D.

ms7

Bahkan seorang suami pun haknya tidak mutlak, ada pertimbangan Allah. Maka sebenarnya tidak ada satu manusiapun yang berhak sombong atas manusia yang lain, atau berhak menghina atas manusia yang lain… karena bahkan kita tidak memiliki hak mutlak :). Jika memahami Al Qur’an maka kita tidak akan menjadi sombong, menghina, atau memaksa. Tidak ada hak mutlak satu manusiapun di dunia ini untuk membuat sebuah justifikasi. Yang ada bukan memaksa tapi hidayah atau petunjuk. Maka jika kita menasihati orang lain, niatnya bukanlah memaksakan, namun mendoakan agar mendapatkan hidayah. Tidak perlu marah jika orang lain menolak nasihat kita, cukup doakanlah dia mendapat hidayah, kasihanilah dia.

Tidak mengapa kita berbuat dosa di depan, atau kita berbuat dosa di tengah, yang terpenting adalah akhirnya baik (khusnul khotimah). Namun tetap harus diingat bahwa kita tidak tahu usia kita sampai dimana :).

Masak Allah yang kita yakini sebagai Tuhan bohong? maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak percaya terhadap janji-janji Allah di dalam Al Qur’an…

Berikut adalah kisah-kisah Rasul dan Wanita-wanita terbaik di dalam Al Qur’an yang sebenarnya tidak sempurna di mata kita, namun Allah menganggapnya baik (Allah menceritakan kisah-kisah di dalam Al Qur’an agar manusia belajar, bahwa manusia itu tidak sempurna, namun berusaha untuk baik. Dan Allah tidak menuntut kesempurnaan manusia):

1. Nabi Nuh
Nabi Nuh ini adalah Nabi yang sangat sabar, selama 950 tahun, Beliau hanya mendapat pengikut yang sangat sedikit (hanya sebanyak kurang dari muatan 1 kapal). Kenapa Allah tidak bim salabim aja semua hati dijadikan baik, kan Allah mampu… karena Allah ingin mengajari kita makna bersabar untuk surgaNya… Nabi Nuh kurang berhasil mendidik anaknya yang mengikuti kaum kafir… Beliau tidak sempurna bukan :).

2. Nabi Ibrahim
Nabi Ibrahim adalah sosok anak yang baik. Ayahnya seorang penyembah berhala. Namun Nabi Ibrahim tetap berkata lembut pada ayahnya dan mendoakannya untuk mendapat hidayah, walau Allah sudah mengatakan kepada Ibrahim bahwa doanya mungkin akan sia-sia. Kita dapat melihat disini, sama sekali tidak ada pemaksaan dalam nasihat, dan nasihat bisa berasal dari siapa saja, termasuk anak kita sendiri. Nabi Ibrahim juga pernah berbohong 3 kali dalam hidupnya. Beliau tidak sempurna bukan :).

3. Nabi Luth
Nabi Luth dikisahkan dihadapkan pada umat yang memiliki kelainan orientasi seks. Bahkan Beliau dihadapkan dengan istri yang juga memiliki kelainan orientasi itu. Beliau kurang berhasil mendidik istrinya bahkan sampai Allah mengazab umat Nabi Luth. Beliau tidak sempurna bukan :).

4. Nabi Sulaiman
Tahukan sahabat, bahwa Nabi Sulaiman pernah ditegur Allah dengan sakit karena melupakan ibadah dan terlalu asik dengan kudanya yang sangat Beliau sukai. Karena teguran itu, Nabi Sulaiman meminta Allah untuk mengambil saja kudanya, karena kuda itu membuatnya lupa. Beliau tidak sempurna bukan :).

5. Kisah Nabi Yunus
Setelah membaca Al Qur’an saya jadi tahu bahwa seorang Nabi Yunus adalah Nabi yang melarikan diri dari tanggung jawab pada awalnya :). Allah sudah mengatakan kepada Nabi Yunus bahwa dirinya adalah rasul dan wajib berdakwah kepada kaumnya. Namun di tengah dakwahnya itu, banyak sekali hinaan dan hujatan, bahkan ancaman. Hal ini membuat Nabi Yunus memutuskan untuk melarikan diri. Maka pergilah Beliau dari kaumnya dengan menggunakan kapal. Allah memasukkan kapal dalam badai itu hingga Nabi Yunus akhirnya masuk ke laut dan ditelan oleh ikan besar dan berada di dalam perut ikan. Di dalam perut ikan inilah Nabi Yunus sakit, dan akhirnya sakitnya menjadi bertambah parah. Akhirnya hal ini menjadikan Nabi Yunus sadar dan bertobat benar-benar kepada Allah untuk kembali berdakwah kepada kaumnya. Ketika Allah tahu bahwa Nabi Yunus bertobat dengan benar-benar. Maka Allah mengeluarkan Nabi Yunus dari perut ikan dan mengembalikannya ke kaumnya. Hal ini sesuai dengan salah satu ayat Al Qur’an (saya lupa tepatnya :D, maaf) namun maknanya adalah sesungguhnya kesenangan dari melarikan diri dari tanggung jawab itu hanya sesaat saja. Maka tidak ada alasan sebenarnya bagi kita untuk melarikan diri dari tanggung jawab. Nabi Yunus bukan orang yang sempurna bukan :).

6. Kisah Nabi Musa
Nabi Musa ini adalah seorang Nabi yang sangat cerdas. Karena kecerdasannya Beliau mencari Tuhannya karena begitu banyak pertanyaan di kepalanya untuk mencari siapa sebenarnya pencipta alam semesta 😀 (jadi kalau banyak pertanyaan tentang ketuhanan, biasanya kita adalah orang yang cerdas, teruslah mencari Allah). Dalam perjalanan hidup Nabi Musa dalam mencari Allah, Nabi Musa pernah membunuh orang, Beliau marah dan memukul orang, sehingga orang itu meninggal. Banyak hal menjadikan Nabi Musa dituntun Allah untuk belajar kesabaran bersama Nabi Khaidir. Di dalam pembelajaran Nabi Musa pada Nabi Khaidir, Nabi Musa diajarkan untuk tidak bertanya terlebih dahulu dengan apa yang dilakukan Nabi Khaidir sampai Nabi Khaidir sendiri menjelaskan hikmahnya. Namun Nabi Musa yang sangat cerdas memang hobi bertanya :D, sampai ada ayat dalam Al Qur’an, kalau tidak salah surat Al Kahf ayat 68, yang menyatakan bahwa kita tidak akan bisa sabar pada sesuatu jika kita tidak mengetahui maksudnya. Benar bukan maksud ayat ini :D…Manusia cenderung susah bersabar… padahal Allah sering memberikan hikmah dari apapun itu di belakang :D. Coba jika penasaran bisa dicari di situs lain kisah Nabi Musa ini, kalau saya ceritakan disini khawatir pembaca bosan membaca tulisan saya :D. Nabi Musa juga pernah ingin melihat Allah karena lelahnya dirinya diprotes umatnya setelah menyeberang laut merah. Namun langsung pingsan begitu diperlihatkan salah satu kebesaran Allah. Beliau tidak sempurna bukan :).

7. Kisah Nabi Yusuf
Nabi Yusuf pernah punya niat berzina dengan Zulaikha yang menggodanya, namun segera ditegur oleh Allah. Sebenarnya Allah sering menegur hamba-hambaNya yang disayangiNya, cuman seringnya kita tidak ngerti juga teguranNya :D, kalau Nabi Yusuf ditegur dikit langsung ngerti :D. Makanya peristiwa itu bisa dihindari Nabi Yusuf. Beliau tidak sempurna bukan :).

8. Kisah Nabi Muhammad
Nabi Muhammad beberapa kali ditegur Allah dengan turunnya ayat Al Qur’an karena salah mengambil keputusan. Beliau tidak sempurna bukan :).

9. Kisah Khadijah
Bunda Khadijah itu menikah 3 kali. Bercerai dengan suami pertamanya karena suaminya meninggal dunia, bercerai dengan suami keduanya, dan baru menikah dengan Nabi Muhammad. Beliau tidak sempurna bukan :).

10. Kisah Maryam
Dalam surat Maryam ayat 23 dikisahkan keputusasaan Maryam yang sedang mengandung Nabi Isa yang akan melahirkan di bawah pohon kurma….Maryam mengatakan bahwa dirinya lebih baik mati saja dan dilupakan, karena beban berat dirinya yang hamil tanpa suami. Bahkan seorang Maryam pun dapat berputus asa. Beliau tidak sempurna bukan :).

Satu lagi kisah pertobatan yang luar biasa dari sahabat Nabi Muhammad, yaitu Umar bin Khatab dimana Umar pernah beberapa kali ingin membunuh Nabi Muhammad, dan Umar juga pernah membunuh anak perempuannya yang masih bayi dengan menguburnya hidup-hidup. Namun Umar bisa menjadi salah satu sahabat terbaik Nabi Muhammad karena hidayah Allah (bukan paksaan). Allah saja menerima ketidaksempurnaan manusia, lalu kenapa kita tidak mampu menerima ketidaksempurnaan. Karena Allah tahu manusia tidak sempurna. Dan manusia dapat berubah dengan hidayah Allah. Namun hidayah ini bisa jadi turun karena kehendak Allah atau kita sebagai manusia harus menjemput hidayahNya dengan usaha.

ms8

Banyak ayat di Al Qur’an yang membahas tentang kelapangan Allah menerima tobat manusia, dimana tobat artinya sadar dan tidak melakukan perbuatan salah yang sama. Jika masih dilakukan maka sebenarnya kita belum benar-benar sadar bahwa itu salah (jadi sebenarnya kalau kita masih bilang “aku tahu itu salah, tapi…” itu berarti belum sadar :D, karena kalau sudah sadar tidak pake “tapi”). Harus terus berusaha untuk mencari hidayah (petunjuk) Allah. Allah mengampuni semua dosa kecuali syirik 🙂 (kalau tidak salah ini ada di surat An Nisa).

Untuk semua orang yang pernah saya berbuat salah karena kesombongan dan ketidakpahaman saya, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Terutama untuk orang yang saat ini kutitipkan kepada Allah untuk dijaga dan dilindungi. Aamiin.

Sama Allah itu bebas saja, bisa curhat, bisa minta banyak, bisa nangis gak jelas, bisa titip salam :D, bisa titip kangen dan rindu, karena Allah pemilik hati semua manusia, pasti bisa menyampaikan ke orang yang kita kasihi. Namun yang tidak boleh kita lakukan adalah… sesuatu yang tidak sopan dan dosa, seperti marah pada Allah, berprasangka buruk pada Allah… namun tetap ingatlah :D… jika sudah terlanjur, Allah itu maha pengampun semua dosa kecuali syirik :D… syirik pun kalau misalnya Allah mau mengampuni ya diampuni :D. Kan suka-suka Allah.

Mungkin ada yang tertarik membaca tulisan saya sebelumnya tentang memaafkan => https://hariiniadalahhadiah.wordpress.com/2014/07/13/forgiving-is-the-cure-for-our-soul/ bisa jadi pengobat juga untuk kesalahan yang kita lakukan ataupun kesalahan yang dilakukan orang lain.

Bahkan misalnya kita di tipu dengan barang yang kita beli… berusahalah untuk ikhlas, karena siapa tahu dengan keikhlasan uang yang dimakan penipu itu mengandung kehalalan dan mengalir di dalam darahnya untuk mendorongnya ke arah kebaikan Insya Allah. Jika penipu itu bertobat maka akan semakin banyak manfaat dari sisa hidup penipu itu.

Inilah sharing sekelumit pemikiran dan pengalaman saya yang terus mencari Allah. Jika ada salahnya itu dari saya, jika ada benarnya dan manfaatnya itu dari Allah.