Cara Menaklukan IELTS: Langkah demi Langkah, Jatuh Bangun, Otodidak, Berguru, Apapun

Bismillahirrahmanirrahim….

IELTS (International English Language Testing System) adalah tes bahasa Inggris yang sering dijadikan syarat bagi universitas luar negeri dalam penerimaan menjadi mahasiswa disana (untuk mahasiswa internasional) selain TOEFL (Test of English as Foreign Language) IBT (bukan PTESOL (Profiency Test of English to Speakers of Other Language) atau Latihan TOEFL yang biasanya ada di universitas-universitas Indonesia yang terkadang soalnya pun bisa diulang, jika beruntung bisa dapat soal yang sama dari yang sudah dipelajari). Tes ini, terutama yang Academic Test, dilakukan untuk melihat kesiapan kandidat mahasiswa dalam hal bahasa agar bisa bertahan hidup dalam lingkungan akademik di luar negeri. IELTS memiliki skor yang disebut band dari 0 sampai 9. Rata-rata untuk mahasiswa kandidat sarjana diminta nilai IELTS band 6 dan untuk kandidat mahasiswa master (S2) atau PhD (S3) (bukan Pizza Hut Delivery πŸ˜€ tapi Doctor of Philosophy) dibutuhkan band 6.5 untuk ilmu science dan 7 untuk ilmu sosial dimana biasanya setiap modul tidak boleh dibawah 6.

Tes IELTS ini biaya registrasinya lumayan 1 kali gaji pokok PNS dosen golongan 3C πŸ˜€ yaitu $215 yang pada 2017 lalu jika dikonversi ke Rupiah adalah Rp. 2.800.000 dan pada 2018 ini menjadi Rp. 2.850.000 di British Council malah Rp. 2.900.000. Bayangkan kerja satu bulan, gaji pokoknya hanya untuk tes IELTS haha πŸ˜€ … Saya biasanya melakukan tes IELTS di IDP Bandung jalan Sulanjana No. 3 Bandung yang sudah pindah ke jalan Naripan No. 24A Bandung. Jadwal tes dapat dilihat di website IDP. Pertanyaan mengenai proses registrasi dapat datang langsung ke IDP atau telepon ke IDP. Hasil tes IELTS akan tampil secara online setelah 13 hari dari tanggal tes, dan sertifikatnya dapat diambil di IDP. Namun yang terakhir saya mengikuti tes di British Council Bandung yang tempat tesnya biasanya di hotel Aston Pasteur Bandung, daftarnya online, dan sertifikatnya dikirim ke rumah, biar pegawai IDP yang sudah bosan lihat saya, ga lihat saya lagi tes IELTS disana haha πŸ˜€ .

Tes IELTS terbagi menjadi 4 modul yaitu Listening, Reading, Writing, dan Speaking. Listening, Reading, dan Writing biasanya dilakukan dalam secara berurutan dalam satu waktu, sedangkan Speaking biasanya memiliki jadwal tersendiri. Berikut adalah deskripsi singkat dari masing-masing modul:

  • Listening (mendengarkan)
    • Listening dibagi menjadi 4 section dimana setiap section berisi 10 pertanyaan dan biasanya dikerjakan dalam waktu 30 menit. Jadi total pertanyaan ada 40 pertanyaan. Setiap section memiliki sebuah rekaman yang diperdengarkan hanya sekali. Rekaman itu biasanya berisi:
      • Section I: Percakapan dua orang untuk mengisi data pendaftaran. Biasanya di bagian ini yang menantang adalah penyebutan angka (jika kita tidak biasa dengan penyebutan angka dalam bahasa Inggris, misalnya harga atau nomor telepon) dan spelling dari nama atau kota juga tidak mudah jika kita tidak biasa menggunakan huruf dalam bahasa Inggris (misalnya penyebutah etch untuk H, i untuk E, e untuk A, dan ai untuk I, ini bisa terbalik-balik jika tidak biasa). Biasanya rekaman diberikan waktu jedah untuk menjawab sebagian soal, misalnya dari 1-5 dan dari 6-10. Sebelum rekaman dimulai biasanya ada waktu 30 detik untuk kita membaca soal.
      • Section II: Biasanya berisi seseorang yang menerangkan sesuatu. Biasanya rekaman diberikan waktu jedah untuk menjawab sebagian soal, misalnya dari 11-13 dan dari 14-20. Sebelum rekaman dimulai biasanya ada waktu 30 detik untuk kita membaca soal. Hal yang menantang dari section ini adalah fokus kita, kita bisa kehilangan fokus mendengarkan karena hanya ada satu orang yang berbicara panjang.
      • Section III: Biasanya berisi percakapan 2-4 orang yang berbeda, dan kita hanya bisa membedakan siapa saja mereka dari intonasi dan jenis suara. Biasanya rekaman diberikan waktu jedah untuk menjawab sebagian soal, misalnya dari 21-22 dan dari 23-30. Sebelum rekaman dimulai biasanya ada waktu 30 detik untuk kita membaca soal. Hal yang menantang dari bagian ini adalah mengingat siapa saja yang bicara, karena pertanyaan yang muncul seringnya adalah siapa mengatakan tentang apa.
      • Section IV: Biasanya berisi seorang pembicara yang bercerita panjang lebar tentang suatu topik. Bagian ini, tidak ada jedah dalam mengerjakan soal, biasanya langsung dari soal nomor 31 hingga 40. Jedah ada di awal rekaman yaitu 1 menit untuk membaca soal. Hal yang menantang dari bagian ini adalah fokus seperti pada bagian II dan tidak ada jedah di tengah yang membuat kita harus lebih fokus dalam waktu yang lebih panjang.
    • Pengisian jawaban jika pertanyaan kebetulan adalah isian maka harus sesuai ketentuan, misalnya tidak boleh lebih dari 2 kata, dan kata harus sama persis, misalnya jika jawabannya adalah “BOOKS” dan kita jawab “BOOK” maka dianggap salah. Misalnya jika jawabannya “BOOK” dan kita jawab “THE BOOK” sedangkan perintahnya hanya satu kata, maka dianggap salah. Misalnya jika harusnya jawabannya adalah “John Miller” dan kita jawab “john miller” maka akan dianggap salah karena itu nama orang yang huruf kapital memiliki posisi di depan. Maka dari itu untuk lebih aman, saya lebih suka pakai huruf kapital semua biar tidak kena jadi salah karena salah huruf besar atau kecil. Soal juga tidak sama persis dengan rekaman, ini disebut parafrase atau menggunakan sinonim misalnya: di rekaman “the flower was cultivated by farmer” maka pertanyaannya bisa “who was do nursery to the flower?”
    • Ukuran band dari Listening ini bergantung jawaban benar yang bisa kita kerjakan. Untuk mendapatkan band 7 paling tidak hanya boleh salah 2 buah soal dalam setiap section. Berikut ukuran band dari modul Listening:
  • Reading (Membaca)
    • Reading biasanya terdiri dari 3 bagian (section) setiap bagian biasanya ada bacaan yang terdiri dari 800-1200-an kata yang dijadikan bekal untuk menjawab sekitar 15 soal tiap bagian, jadi dalam 60 menit kita harus membaca sekitar 3000 kata dan menjawab 40 pertanyaan. Waktu pengerjaan Reading keseluruhan adalah 60 menit. Jadi kita harus pandai-pandai untuk mengatur waktu yaitu sekitar 20 menit untuk satu bagian.
    • Reading juga banyak parafrase seperti pada Listening yang saya tulis di atas.
    • Berikut ukuran band dari modul Reading:

IELTS Reading Band Score (https://www.ivisaworld.com/ielts/)

  • Writing (Menulis)
    • Writing dibagi menjadi 2 bagian yaitu Task 1 dan Task 2. Keduanya harus diselesaikan dalam waktu 60 menit.
      • Task I: Kita harus membuat tulisan yang baik mengenai deskripsi data di dalam beberapa jenis diagram. Tulisannya tidak asal nulis angka-angka yang ada di diagram πŸ˜€ ….. tapi menuliskan apa bagian menarik yang perlu diangkat dari diagram yang ada dan menuliskan perbandingan satu dengan yang lain sehingga tulisan memberikan informasi yang baik dan menarik. Dalam Task I ini kita harus menulis minimal 150 kata dan bobot penilaian dari Task I adalah 33%.
      • Task II: Kita harus membuat tulisan mengenai topik yang diberikan di soal. Ini juga menulisnya tidak sembarangan πŸ˜€ …. harus sesuai topik, harus membuat susunan paragraf yang baik, dan harus menyatakan realitas atau fakta, bukan perasaan πŸ˜€ (no baper). Dalam bagian ini bobot penilaian adalah 67% dan minimal harus menulis 250 kata. Berikut adalah gambar pembagian waktu dan penilaian dari Writing.

 

  • Berikut adalah ukuran penilaian Writing:

 

IELTS Band Score Writing Task 2

  • Speaking (Berbicara)
    • Speaking dilakukan dengan mekanisme berbicara dengan penutur asing (native speaker) yang menjadi examiner secara tatap muka tiap peserta, jadi di ruangan itu biasanya hanya ada seorang peserta tes dan examiner.
    • Speaking dilakukan dalam 3 sesi diantaranya:
      • Sesi 1: Biasanya pertanyaan pengenalan, tentang nama, keluarga, kota lahir, kebiasaan, dll
      • Sesi 2: Kita diberikan topik dengan 4 pertanyaan mengenai topik itu yang dituliskan pada kartu, kemudian kita diberi waktu 1 menit untuk menuliskan apa yang akan kita bahas sebagai jawaban, dan setelah itu ya kita ngoceh tanpa interupsi selama sekitar 2 menit.
      • Sesi 3: Diskusi dengan examiner dengan topik yang dipilih oleh examiner.
    • Dalam speaking, grammar itu penting, pronounciation itu penting, jadi kalau pertanyaannya past tense ya jawabnya past tense, kalau cerita masa lalu ya pakai past tense, ya begitulah πŸ˜€ .
    • Berikut adalah penilaian dalam speaking:

IELST Band Score Speaking

 

Pengalaman

IELTS ini bukanlah hal mudah bagi saya karena memang diantara kemampuan potensial akademik saya, paling rendah adalah kemampuan verbal. Tes Potensial Akademik (TPA) itu nilainya dari jangkauan 200-800 dan dari ketiga penilaian (verbal = bahasa, numerikal = angka, figural = gambar), nilai saya paling kecil di verbal, itulah mengapa belajar bahasa untuk saya itu bukanlah hal yang mudah.

Hasil TPA

Dari tulisan ini saya ingin berbagi pengalaman saya tes IELTS… berapa kalikah?…. haha… 8 kali saudara-saudara πŸ˜€ …. wah habis banyak dong ya…. saya mikirnya kalau uang sudah tidak di tangan saya, berarti sudah bukan hak saya lagi hihi πŸ˜€ …. dan Tuhan Maha Pandai mengatur rejeki… tidak usah khawatir.

Berikut pengalaman saya yang mungkin bisa dijadikan ukuran jika ada yang akan mengambil tes IELTS sehingga mungkin bisa lebih sedikit tes dan lebih berhasil dengan tidak mengulangi kesalahan saya πŸ™‚ :

  • Tes I: Sabtu, 18 Maret 2017 (IDP Bandung)

    • Persiapan yang saya lakukan sebelumnya adalah:
      • Tes PTESOL di UPI dengan skor 560 pada 18 Maret 2016.
      • Mengikuti program workshop gratis IELTS di UPI selama 5 hari dari jam 8-15 dari 15 Agustus – 19 Agustus 2016, disinilah saya mengenal bagaimana mekanisme tes IELTS untuk pertama kalinya. Dari uji coba di workshop ini nilai saya adalah:
        • Listening: 6.5
        • Reading: 5
        • Writing: 5.5
        • Speaking: 5.5
        • Overall Band: 5.5
      • Mengikuti IDP IELTS Preparation untuk 9 hari dengan biaya Rp. 2.400.000 dari tanggal 6-16 Maret 2017.
    • Hal yang saya rasakah di tes pertama ini adalah:
      • Listening
        • Saya merasa tidak bisa mendengar secara jelas setiap kata di dalam rekaman, sehingga hanya bisa mendengar sekitar 40-60% saja dari rekaman.
        • Saya tidak terbiasa dengan sebutan angka dan huruf dalam bahasa Inggris, sehingga ketika ada pertanyaan menuliskannya saya harus berpikir untuk mengkonversi rekaman menjadi bahasa Indonesia di otak saya baru saya bisa tulis, namun ini membuat saya kehilangan waktu fokus mendengarkan, karena rekaman terus berjalan. Hasilnya banyak yang saya rasa saya tertinggal.
      • Reading
        • Banyak kata yang saya tidak tahu artinya sehingga tidak memahami maksud bacaan, hanya bisa memahami bacaan 40-50% saja.
        • Tidak banyak tahu sinonim kata jadi ketika pertanyaan diparafrase, saya tidak mengerti.
        • Kemampuan memahami bacaan saya sangat lambat dan waktu terus berjalan.
      • Writing
        • Di task 1 saya hanya menulis angka-angka tanpa diolah dan dianalisis hal menariknya, grammar dan vocabulary seadanya. Menulis 150 kata bagi saya sulit.
        • Di task 2 saya hanya menulis yang saya pikirkan seadanya, yang penting bisa sampai 250 kata, dan ini tidak mudah, karena harus memikirkan ide tulisan beserta kata-kata yang akan ditulis.
      • Speaking
        • Grammar saya acak kadut, hampir semua menggunakan present tense.
        • Beberapa kali saya berhenti bicara karena berpikir, apa bahasa inggris dari kata yang ingin saya ucapkan.
        • Saya terbata-bata karena nervous sekali.
    • Hasil dari tes pertama saya ini adalah:

Hasil Tes IELTS I

Hasil ini belum memenuhi syarat, sehingga saya mencoba melakukan tes lagi di bulan berikutnya.

  • Tes II: Kamis, 20 April 2017 (IDP Bandung)

    • Persiapan yang saya lakukan sebelumnya adalah:
      • Belajar otodidak saja dari buku, internet, dan latihan yang saya tahu namun dengan beban lebih karena kegagalan tes yang pertama, rasanya berat di pundak dan kepala, ditambah juga masih harus tetap mengajar, mengerjakan penelitian, mengoreksi ujian dan lain-lain.
    • Hal yang saya rasakah di tes kedua ini adalah:
      • Listening
        • Saya merasa tidak bisa mendengar secara jelas setiap kata di dalam rekaman, sehingga hanya bisa mendengar sekitar 40-60% saja dari rekaman. Masih sama dengan kondisi tes pertama.
        • Saya tidak terbiasa dengan sebutan angka dan huruf dalam bahasa Inggris, sehingga ketika ada pertanyaan menuliskannya saya harus berpikir untuk mengkonversi rekaman menjadi bahasa Indonesia di otak saya baru saya bisa tulis, namun ini membuat saya kehilangan waktu fokus mendengarkan, karena rekaman terus berjalan. Hasilnya banyak yang saya rasa saya tertinggal. Masih sama dengan kondisi tes pertama.
      • Reading
        • Banyak kata yang saya tidak tahu artinya sehingga tidak memahami maksud bacaan, hanya bisa memahami bacaan 40-50% saja. Masih sama dengan kondisi tes pertama.
        • Tidak banyak tahu sinonim kata jadi ketika pertanyaan diparafrase, saya tidak mengerti. Masih sama dengan kondisi tes pertama.
        • Kemampuan memahami bacaan saya sangat lambat dan waktu terus berjalan. Masih sama dengan kondisi tes pertama.
      • Writing
        • Di task 1 saya hanya menulis angka-angka tanpa diolah dan dianalisis hal menariknya, grammar dan vocabulary seadanya. Menulis 150 kata bagi saya sulit. Masih sama dengan kondisi tes pertama.
        • Di task 2 saya hanya menulis yang saya pikirkan seadanya, yang penting bisa sampai 250 kata, dan ini tidak mudah, karena harus memikirkan ide tulisan beserta kata-kata yang akan ditulis. Masih sama dengan kondisi tes pertama.
      • Speaking
        • Grammar saya acak kadut, tapi sudah mulai belajar menggunakan past tense.
        • Beberapa kali saya berhenti bicara karena berpikir, apa bahasa inggris dari kata yang ingin saya ucapkan namun lebih berkurang dari tes pertama.
        • Saya terbata-bata karena nervous.
  • Hasil dari tes kedua saya ini adalah:

Hasil tes IELTS 2

Hasil ini belum memenuhi syarat, sehingga saya mencoba melakukan tes lagi di bulan berikutnya.

  • Tes III: Sabtu, 13 Mei 2017 (IDP Bandung)

      • Persiapan yang saya lakukan sebelumnya adalah:
        • Belajar otodidak saja dari buku, internet, dan latihan yang saya tahu namun dengan beban lebih karena kegagalan tes yang kedua, rasanya lebih berat di pundak dan kepala, ditambah juga masih harus tetap mengajar, mengerjakan penelitian, mengoreksi ujian dan lain-lain.
      • Hal yang saya rasakah di tes ketiga ini adalah:
        • Listening
          • Saya merasa tidak bisa mendengar secara jelas setiap kata di dalam rekaman, sehingga hanya bisa mendengar sekitar 40-60% saja dari rekaman. Masih sama dengan kondisi tes kedua.
          • Saya tidak terbiasa dengan sebutan angka dan huruf dalam bahasa Inggris, sehingga ketika ada pertanyaan menuliskannya saya harus berpikir untuk mengkonversi rekaman menjadi bahasa Indonesia di otak saya baru saya bisa tulis, namun ini membuat saya kehilangan waktu fokus mendengarkan, karena rekaman terus berjalan. Hasilnya banyak yang saya rasa saya tertinggal. Masih sama dengan kondisi tes kedua.
        • Reading
          • Banyak kata yang saya tidak tahu artinya sehingga tidak memahami maksud bacaan, hanya bisa memahami bacaan 40-50% saja. Masih sama dengan kondisi tes kedua.
          • Tidak banyak tahu sinonim kata jadi ketika pertanyaan diparafrase, saya tidak mengerti. Masih sama dengan kondisi tes kedua.
          • Kemampuan memahami bacaan saya sangat lambat dan waktu terus berjalan. Masih sama dengan kondisi tes kedua.
        • Writing
          • Di task 1 saya hanya menulis angka-angka tanpa diolah dan dianalisis hal menariknya, grammar dan vocabulary seadanya. Menulis 150 kata bagi saya sulit. Masih sama dengan kondisi tes kedua.
          • Di task 2 saya hanya menulis yang saya pikirkan seadanya, yang penting bisa sampai 250 kata, dan ini tidak mudah, karena harus memikirkan ide tulisan beserta kata-kata yang akan ditulis. Masih sama dengan kondisi tes kedua.
        • Speaking
          • Grammar saya mulai lebih baik.
          • Terus aja ngomong walau entah kemana, dan kata yang saya tidak tahu, saya jabarkan dengan kalimat.
    • Hasil dari tes ketiga saya ini adalah:

    Hasil IELTS 3

    Hasil ini belum memenuhi syarat, sehingga saya mencoba melakukan tes lagi di bulan berikutnya.

  • Tes IV: Sabtu, 8 Juli 2017 (IDP Bandung)

    • Persiapan yang saya lakukan sebelumnya adalah:
      • Belajar otodidak saja dari buku, internet, dan latihan yang saya tahu namun dengan beban lebih lebih lagi karena kegagalan tes yang ketiga, rasanya berat di pundak dan kepala, ditambah juga masih harus tetap mengajar, mengerjakan penelitian, mengoreksi ujian dan lain-lain.
      • Hal yang saya rasakah di tes keempat ini adalah:
        • Listening
          • Saya merasa tidak bisa mendengar secara jelas setiap kata di dalam rekaman, sehingga hanya bisa mendengar sekitar 40-60% saja dari rekaman. Masih sama dengan kondisi tes ketiga.
          • Saya tidak terbiasa dengan sebutan angka dan huruf dalam bahasa Inggris, sehingga ketika ada pertanyaan menuliskannya saya harus berpikir untuk mengkonversi rekaman menjadi bahasa Indonesia di otak saya baru saya bisa tulis, namun ini membuat saya kehilangan waktu fokus mendengarkan, karena rekaman terus berjalan. Hasilnya banyak yang saya rasa saya tertinggal. Masih sama dengan kondisi tes ketiga.
        • Reading
          • Banyak kata yang saya tidak tahu artinya sehingga tidak memahami maksud bacaan, hanya bisa memahami bacaan 40-50% saja. Masih sama dengan kondisi tes ketiga.
          • Tidak banyak tahu sinonim kata jadi ketika pertanyaan diparafrase, saya tidak mengerti. Masih sama dengan kondisi tes ketiga.
          • Kemampuan memahami bacaan saya sangat lambat dan waktu terus berjalan. Masih sama dengan kondisi tes ketiga.
        • Writing
          • Di task 1 saya hanya menulis angka-angka tanpa diolah dan dianalisis hal menariknya, grammar dan vocabulary seadanya. Menulis 150 kata bagi saya sulit. Masih sama dengan kondisi tes ketiga.
          • Di task 2 saya hanya menulis yang saya pikirkan seadanya, yang penting bisa sampai 250 kata, dan ini tidak mudah, karena harus memikirkan ide tulisan beserta kata-kata yang akan ditulis. Masih sama dengan kondisi tes ketiga.
        • Speaking
          • Grammar saya lebih baik dari tes ketiga.
          • Terus aja ngomong walau entah kemana, dan kata yang saya tidak tahu, saya jabarkan dengan kalimat.
    • Hasil dari tes keempat saya ini adalah:

Hasil IELTS 4

Hasil ini belum memenuhi syarat. Dan karena batas waktu pedaftaran beasiswa tidak terkejar, maka saya putuskan untuk berhenti tes di tahun ini dan berpikir butuh waktu untuk berlatih.

  • Tes V: Sabtu, 3 Februari 2018 (IDP Bandung)

    • Persiapan yang saya lakukan sebelumnya adalah:
      • Belajar otodidak saja dari buku, internet, dan latihan yang saya tahu.
      • Banyak mendengar radio streaming seperti ABC Radio Australia, PRI (Public Radio International), BBC.
      • Banyak mendengar Film.
      • Banyak mendengar contoh-contoh IELTS listening.
      • Belajar menulis.
      • Banyak membaca yang berbahasa Inggris minimal 3-5 artikel sehari.
    • Hal yang saya rasakah di tes kelima ini adalah:
      • Listening
        • Saya merasa bisa mendengar rekaman 80-100%.
      • Reading
        • Saya merasa bisa memahami tulisan 70-90%.
      • Writing
        • Di task 1 saya mulai bisa menuliskan hal yang perlu diangkat dari angka-angka.
        • Di task 2 saya belum bisa menyusun ide dan menulis dengan terorganisasi, serta merasa kehabisan waktu.
      • Speaking
        • Grammar saya lebih baik namun saya hanya bicara pendek-pendek dan tidak berusaha menjelaskan.
        • Terus aja ngomong walau entah kemana, dan kata yang saya tidak tahu, saya jabarkan dengan kalimat.
    • Hasil dari tes kelima saya ini adalah:

      Hasil IELTS 5

      Hasil ini belum memenuhi syarat, sehingga saya mencoba melakukan tes lagi di bulan berikutnya.

  • Tes VI: Sabtu, 3 Maret 2018 (IDP Bandung)

    • Persiapan yang saya lakukan sebelumnya adalah:
      • Belajar otodidak saja dari buku, internet, dan latihan yang saya tahu dan langsung ke contoh yang ada di IELTS.
      • Banyak mendengar contoh-contoh IELTS listening.
      • Belajar menulis langsung soal-soal contoh yang ada di IELTS.
    • Hal yang saya rasakah di tes keenam ini adalah:
      • Listening
        • Saya merasa bisa mendengar rekaman 80-100%.
      • Reading
        • Saya merasa bisa memahami tulisan 70-90%.
      • Writing
        • Di task 1 saya bisa menuliskan hal yang perlu diangkat dari angka-angka.
        • Di task 2 saya mulai bisa menyusun ide dan menulis dengan terorganisasi.
      • Speaking
        • Grammar saya lebih baik dan saya berusaha menjelaskan jawaban saya.
        • Terus aja ngomong walau entah kemana, dan kata yang saya tidak tahu, saya jabarkan dengan kalimat.
      • Hasil dari tes keenam saya ini adalah:

Hasil IELTS 6

Hasil ini belum memenuhi syarat juga

  • Tes VII: Sabtu, 14 April 2018 (IDP Bandung)

    • Persiapan yang saya lakukan sebelumnya adalah:
      • Belajar otodidak saja dari buku, internet, dan latihan yang saya tahu dan langsung ke contoh yang ada di IELTS.
      • Banyak mendengar contoh-contoh IELTS listening.
      • Belajar menulis langsung soal-soal contoh yang ada di IELTS.
      • Les privat ke Chemistry English Course dengan guru Pak Tashid dan minta koreksi Pak Abi IDP.
      • Les online melalui feedback hasil latihan menulis pada Pak Eddy Suaib dari Kampung Inggris Studio Pare Kediri, Jawa Timur sebanyak 3 kali dimana yang pertama gratis.
    • Hal yang saya rasakah di tes ketujuh ini adalah:
      • Listening
        • Saya merasa bisa mendengar rekaman 70-80% tapi karena badan agak kurang sehat jadi beberapa miss listening.
      • Reading
        • Saya merasa bisa memahami tulisan 70-90%.
      • Writing
        • Di task 1 saya bisa menuliskan hal yang perlu diangkat dari angka-angka dan sebisa mungkin membahas semua angka terutama mengenai trendnya. Dan yang paling penting adalah membuat perbandingan dalam menceritakan, jadi dalam satu kalimat itu isinya membandingkan antara angka dari subjek yang satu dengan angka dari subjek yang lain.
        • Di task 2 saya mulai bisa menyusun ide dan menulis dengan terorganisasi dengan grammar yang lebih baik dan keterkaitan antar kalimat serta antar paragraf lebih baik, tapi jumlah kata yang saya tuliskan kurang 😦 . Jadi disini kunci menulis adalah antar paragraf ada hubungan, ada yang menghubungkan, dan antar kalimat juga ada hubungan dan ada yang menghubungkan, bisa menggunakan kata ganti, atau konjungsi.
      • Speaking
        • Grammar saya lebih baik dan saya berusaha menjelaskan jawaban saya.
        • Terus aja ngomong walau entah kemana, dan kata yang saya tidak tahu, saya jabarkan dengan kalimat.
    • Hasil dari tes ketujuh saya ini adalah:

Hasil IELTS ke-7

Masih kurang… hahaha…. benar-benar diuji kemauan… mau berjuang lagi atau menyerah πŸ˜€ .

 

  • Tes VIII: Sabtu, 7 Juli 2018 (British Council Bandung)

    • Persiapan yang saya lakukan sebelumnya adalah:
      • Belajar otodidak saja dari buku, internet, dan latihan yang saya tahu dan langsung ke contoh yang ada di IELTS.
      • Banyak mendengar contoh-contoh IELTS listening.
      • Belajar menulis langsung soal-soal contoh yang ada di IELTS.
    • Hal yang saya rasakah di tes kedelapan ini adalah:
      • Listening
        • Saya merasa bisa mendengar rekaman 80-100%.
      • Reading
        • Saya merasa bisa memahami tulisan 70-90%.
      • Writing
        • Di task 1 saya bisa menuliskan hal yang perlu diangkat dari angka-angka dan sebisa mungkin membahas semua angka terutama mengenai trendnya. Dan yang paling penting adalah membuat perbandingan dalam menceritakan, jadi dalam satu kalimat itu isinya membandingkan antara angka dari subjek yang satu dengan angka dari subjek yang lain.
        • Di task 2 saya mulai bisa menyusun ide dan menulis dengan terorganisasi dengan grammar yang lebih baik dan keterkaitan antar kalimat serta antar paragraf lebih baik. Jadi disini kunci menulis adalah antar paragraf ada hubungan, ada yang menghubungkan, dan antar kalimat juga ada hubungan dan ada yang menghubungkan, bisa menggunakan kata ganti, atau konjungsi.
      • Speaking
        • Grammar saya lebih baik dan saya berusaha menjelaskan jawaban saya.
        • Terus aja ngomong walau entah kemana, dan kata yang saya tidak tahu, saya jabarkan dengan kalimat.
      • Di hari tes saya masih merasa kurang sehat karena kena flu dan batuk 2 bulan lamanya dan belum benar-benar sembuh, ditambah telinga beberapa kali jadi bindeng.
      • Hasil dari tes kedelapan saya ini adalah:

Hasil IELTS ke-8

Overall Band sudah memenuhi, tapi writing-nya belum lagi 😦 … kemudian saya berusaha meminta LoA conditional untuk mengurus beasiswa, namun ternyata pihak Monash University sedang ada perombakan besar-besaran sehingga email saya 2 bulan tidak direspon… calon supervisor saya mengundurkan diri dan tidak bersedia menjadi supervisor saya lagi. Ya sudah…. yang penting saya sudah berusaha πŸ™‚ …. Sekarang skill bahasa Inggrisnya dipakai buat ngajar mata kuliah bahasa Inggris, biar manfaat πŸ˜€ .

 

Tips dan Strategi

  • Keseluruhan
    • Mengikuti workshop atau pelatihan yang gratis maupun berbayar sangat baik untuk memberikan pengetahuan awal dan trik atau tips atau strategi, namun hanya sebatas itu. IELTS adalah mengenai skill/keterampilan bukan hanya sebatas pengetahuan maka pelatihan hanya akan mengisi di bagian pengetahuan. Jadi jika pengetahuan-pengetahuan ini sudah diketahui, ya tidak perlu ikut pelatihan. Latihan saja yang banyak.
    • Membeli buku untuk belajar. Buku dapat membantu untuk memahami namun tetap hal terpenting adalah berlatih. Buku yang menurut saya paling enak untuk belajar adalah “Succeed in IELTS” yang berisi 9 tes dan pembahasan yang memberikan penjelasan mengapa jawaban harus seperti itu. Buku ini berbahasa Inggris, jadi enak sambil melatih juga.

 

  • Buku Succeed in IELTS

     

    • Membaca keras artikel berbahasa Inggris (membaca dengan diucapkan). Ini adalah tips dari Pak Guru saya (tapi beliau ga mau disebut guru, maunya disebut teman chat :D, namanya Pak Agung Toto Wibowo seorang dosen Universitas Telkom yang dikenalkan teman angkatan saya S1 yaitu Ade pada Oktober 2017 lalu, Ade ini juga dosen Universitas Telkom juga, Pak Agung sedang mengambil S3 di Aberdeen Skotlandia.), kata beliau ini adalah tips dari gurunya dulu waktu ikut les di IEDUC (International Education Centre) Bandung. Pak Agung bercerita, untuk mendapatkan skor IELTS 6.5 beliau berlatih sekitar 1-3 jam setiap hari selama 1.5 tahun πŸ˜€ ….. weleh… kalah saya semangatnya. Ada satu hal yang paling saya ingat dari beliau, “jangan tanya mengapa orang lain mau membantu dengan sukarela” πŸ™‚ terima kasih Pak. Jadi mekanisme dari membaca keras adalah:
      • setiap hari cari artikel berbahasa Inggris yang disukai (bisa juga pakai artikel yang ada pada latihan Reading pada IELTS di internet atau di buku yang ada), siapkan minimal 3-5 artikel.
      • baca keras setiap artikel, kalau ada kata yang tidak dimengerti bisa berhenti untuk ke Google translate, atau ke Google search untuk mencari artinya, tidak perlu diingat, karena membuat stres saja kalau diingat, kalau kata itu penting, maka akan sering kita temui di artikel, sehingga kita mengingat karena sering dibaca.
        • Pada awalnya terasa berat memang, rasanya stres, rasa enggan untuk membaca berbahasa Inggris itu tinggi sekali, namun harus terus punya motivasi untuk berusaha.
        • Pada awalnya juga mulut suka pegal, karena kita tidak terbiasa melafalkan kata-kata berbahasa Inggris.
        • Keuntungan dari melakukan metode ini adalah:
          • lama-kelamaan mulut kita terbiasa tidak lagi pegal saat membaca keras.
          • terbentuk di bawah sadar bahwa kita seperti bisa ganti mode ke bahasa Inggris dan bahasa Indonesia saat diperlukan.
          • menambah kekayaan vocabulary atau pengenalan kata dalam bahasa Inggris.
          • terbiasa dengan tatanan kalimat yang sering digunakan dalam artikel.
        • Tetaplah yakin bahwa Tuhan memberi melihat dari usaha yang telah kita lakukan untuk perkenananNya, jadi kalau Tuhan sudah berkenan, ya kita tiba-tiba jadi bisa saja, kalau belum, itu rasanya kayak kita tidak akan pernah bisa…… tetaplah ingat bahwa Tuhan itu Maha Pengasih dan Penyayang, masak sudah tiap hari “ngesot” mengemis cinta πŸ˜€ (ya usaha, doa, tetap berbuat baik, tidak sibuk ngurusin jeleknya orang lain, rendah hati, sibuk memperbaiki diri dan introspeksi) …. tidak juga dikasih. Ilmu kan hakikatnya dari Dia πŸ˜€ … tugas manusia mah “ngesot” saja “mengemis cinta” padaNya.
    • Syarat agar Tuhan berkenan memberi adalah sabar… jadi mohon maaf, sebenarnya ga ada cara instan πŸ™‚ . Tuhan ga bisa dipaksa-paksa buat ngasih bukan πŸ™‚ … mana yang Tuhan mana yang hamba. Ini bisa dibuktikan dari pengalaman saya ketika setiap bulan mengambil tes IELTS di tahun 2017, nilai tidak dapat bertambah secara instan, jadi sebisa mungkin tidak mengikuti jejak pengalaman saya di bagian itu. Waktu itu sih saya berusaha ngejar jadwal pendaftaran beasiswa, dan ternyata belum diberi sama Tuhan. Tuhan tahu yang terbaik πŸ™‚ .

 

  • Listening
    • Tidak ada rahasia dari menguasai Listening adalah jam terbang dengan banyak latihan dan berlatih. Bahkan saya pernah membaca bahwa durasi minimal untuk bisa memahami Listening adalah latihan mendengarkan selama 1000 jam… iya.. 1000 πŸ˜€ .
    • Listening bisa belajar dengan mendengarkan radio streaming seperti ABC Radio Australia, PRI (Public Radio International), atau BBC. Ini untuk melatih apakah kita sudah mampu mendengarkan percakapan berbahasa Inggris secara real time atau saat itu juga, bukan ulangan.
    • Mendengarkan film/podcast berbahasa Inggris sambil membaca subtitle berbahasa Inggris dari film itu, banyak subtitle gratis di internet yang bisa diunduh gratis. Film kok didengarkan bukan dilihat…. iya… didengarkan πŸ˜€ . Saran saya, pertama coba dengarkan film kartun, karena lebih jelas biasanya bahasanya, tidak nyeret kayak kalau sudah film orang, kalau kartun sudah dikuasai, baru coba film orang. Dan satu hal agar ilmunya berkah, jangan pakai film bajakan πŸ™‚ … kalau minta ke Tuhan masak pakai alat curian, yakin bakal dikasih yang baik πŸ™‚ . Atau kalau tidak ada uang untuk beli film yang halal, bisa mengunduh podcast gratis di internet, misalnya dari website-nya BBC, ada teks-nya juga untuk dibaca setiap mendengarkan. Kalau sudah merasa bisa paham dari mendengar dan membaca teks maka coba dengarkan tanpa membaca teks, kalau sudah oke maka ganti ke film atau podcast yang lain. Dari latihan ini kita belajar memahami bagaimana orang penutur asli bahasa Inggris mengucapkan kata-kata dalam bahasa Inggris… misalnya headache itu dulu saya mikirnya membacanya hed-ek ternyata membacanya hedeg, atau misalnya medicine, saya pikir dulu membacanya medisin ternyata medsin. Hal ini sangat perlu mengingat nanti rekaman Listening yang kita dengarkan adalah percakapan dari penutur asli bahasa Inggris (native speaker).
    • Latihan membaca keras campuran angka dan huruf dalam bahasa Inggris, misalnya XF4567HEI. Saya dapat excel untuk dipakai latihan dari Pak Agung bisa diunduh disiniΒ https://goo.gl/7Tm6F1 (buka sheet2 dan gunakan untuk latihan). Ini untuk melatih kita terbiasa dengan penyebutan angka dan huruf dalam bahasa Inggris. Hal ini sangat penting untuk menjawab pertanyaan Listening pada tes IELTS. Atau bisa juga dengan membuat tulisan besar satu huruf/angka yang kita sulit reflek mengingat sambil dilihat dan mendengarkan suara penutur asli diulang-ulang (saya biasanya pakai suara di google translate), ini digunakan untuk mendoktrin ingatan kita.
    • Jika merasa sudah latihan banyak tapi tetap saja tidak bisa mendengar 80-100% dari rekaman… jawabannya …. itu artinya jam terbangnya masih kurang πŸ˜€ …. jangan khawatir, saya menulis karena pengalaman haha πŸ˜€ … ada saat saya berpikir apakah saya tidak mungkin bisa mendengar… mengapa tidak bisa memahami…. ternyata masalahnya di jam terbang saudara-saudara πŸ™‚ . Tetap jaga motivasi untuk terus berusaha berlatih mendengar πŸ™‚ .
    • Jika waktu mepet menjelang ujian dan merasa belum baik mendengarkan bahasa Inggris sebaiknya latihan mendengarnya langsung membidik tujuan, latihan menggunakan rekaman-rekaman dari soal-soal IELTS yang ada di internet atau dari CD buku. Asah jam terbang langsung disini.
    • Usahakan saat mengambil tes, kita sudah bisa mendengarkan beberapa contoh rekaman Listening IELTS hingga 80-100%, karena jika masih dibawah itu, bisa jadi hasilnya hanya sampai di band 5-5.5.
    • Saat tes kuncinya adalah konsentrasi (saya biasanya mendengar sambil menunduk dan melihat kertas, fokus), pahami pertanyaan, garis bawahi yang sekiranya penting dari pertanyaan dan syarat pertanyaan, misalnya batasan jumlah kata. Jadi saat mendengar kita sudah punya kata-kata kunci sebagai tonggak jawaban dari suara yang diperdengarkan.

 

  • Reading
    • Untuk dapat menaklukan Reading adalah dengan banyak berlatih membaca artikel berbahasa Inggris, tidak ada cara lain. Jika beberapa buku menyebutkan teknik skimming atau scanning atau apapun lah yang menyebutkan tidak harus membaca semua tulisan, maka saya bisa mengatakan teknik ini hanya berlaku pada orang yang sudah terbiasa memahami artikel berbahasa Inggris πŸ˜€ …. kalau masih belum bisa membaca cepat mah… tidak akan bisa pakai teknik-teknik ini πŸ™‚ . Jika kita tidak memahami bacaan maka yang terjadi kita hanya bolak-balik lembar pertanyaan dan bacaan sambil bingung jawabannya dicari dimana. Pengalaman saya terutama jika pertanyaan yang menjodohkan topik paragraf, itu jika tidak paham bacaan maka bingung dalam menjawab. Jadi saran saya disini adalah… banyak berlatih membaca… sudah πŸ˜€ .
    • Untuk yang misalnya waktunya mepet, berarti langsung bidik sasaran saja, perbanyak latihan membaca artikel contoh-contoh soal IELTS yang bisa didapat di internet dan dari buku.
    • Usahakan saat memutuskan mengambil tes, kita sudah bisa memahami beberapa artikel di soal-soal Reading sekitar 80-100% dalam sekali baca. Jika belum lebih baik berlatih lagi, kecuali memang memilih untuk mendapatkan hasil kurang maksimal atau gambling saja.
    • Biasakan membaca dahulu pertanyaan, pahami pertanyaan, baru cari di bacaan sambil dibaca, garis bawah yang penting dari pertanyaan dan bacaan.

 

  • Speaking
    • Speaking ini wajib cara menaklukannya adalah berlatih πŸ˜€ … harus sering mencoba membaca contoh-contoh pertanyaan dan jawaban dari soal-soal tes Speaking yang banyak ada di internet, jadi kita bisa tahu cara menjawabnya. Juga bisa mencoba mencari dan melihat video-video Speaking di youtube sehingga bisa memahami seberapa ukuran dari band yang kita butuhkan.
    • Belajar untuk tidak ragu berbicara walau salah, terus mencoba dan mencoba… intinya memang harus berlatih…. tidak ada cara instan dan kelancaran bicara itu menjadi nilai plus.
    • Dari pengalaman saya, saat tes, kita sudah tidak sempat untuk berpikir ini bahasa Inggrisnya kata apa atau idenya mau ngomong apa, atau grammar-nya apa… tidak sempat…. jadi sebaiknya selesaikan masalah-masalah ini sebelum melaju daftar tes, kecuali jika ingin mendapatkan nilai band kurang maksimal πŸ˜€ .
    • Banyak berlatih Speaking sambil tersenyum walau “perih” πŸ˜€ … (apasih).
    • Usahakan selalu mampu menjelaskan setiap jawaban kita, hindari jawaban-jawaban pendek, misalnya waktu ditanya “Do you work?” kemudian kita hanya jawab “Yes”… ini kurang oke… jawaban yang lebih oke adalah “Yes, I work. Actually I am a lecturer, especially computer science lecturer, and I enjoy much to be a lecturer”. Ya agak gimana gitu, tapi ini menunjukkan bahwa kita tidak ketakutan dalam berbicara lebih panjang πŸ˜€ .
    • Usahakan saat memutuskan untuk mengambil tes, saat kita berbicara sudah tidak banyak jedah untuk berpikir kata bahasa Inggrisnya apa, atau berpikir grammar-nya apa, atau berpikir idenya apa. Jadi jika tidak tahu bahasa Inggrisnya, usahakan sudah bisa menjelaskan dengan kalimat lain yang kita tahu. Misalnya ingin mengatakan perahu tapi kita tidak tahu bahasa Inggris-nya maka kita bisa berpikir untuk mengatakan “a little water vehicle”.. terkadang examiner-nya akan mengatakan “you mean boat”… trus kita bisa sambil tersenyum bilang “yes, that’s right” πŸ˜€ …. biasakan kalaupun grammar salah, teruskan saja ngobrol πŸ™‚ . Dari pengalaman saya, kelancaran bicara sangat memegang peranan penting untuk mendapatkan nilai Speaking (dari pengalaman awal Speaking dapat band 5.5 sampai di band 6.5).
    • Perhatikan grammar, karena terlalu sering grammar salah atau pengulangan kesalahan akan mengurangi nilai.

 

  • Writing
    • Ini yang dari awal saya kecantol melulu nilainya tidak berprogres πŸ˜€ …. dan baru oke di tes saya yang ke-7 (iya.. yang ketujuh πŸ˜€ ).
    • Dalam kedua task yang ada di Writing, kita harus terlebih dahulu mengenal yang namanya membuat paragraf yang baik. Paragraf yang baik berisi 1 topik utama dan beberapa kalimat pendukung topik utama, tidak boleh ngalor ngidul πŸ˜€ … kecuali mau band kecil sudah cukup.
    • Sering-sering membaca contoh-contoh Writing yang baik dan tidak baik sehingga dapat menemukan pola bagaimana menulis yang baik.
    • Sering-sering latihan menulis terutama dalam menuliskan ide. Bisa mencoba mencari soal-soal Writing dan setiap soal coba pikirkan ide yang akan ditulis dari setiap tipe soal. Karena saat tes sesungguhnya kita tidak akan punya banyak waktu untuk memikirkan ide yang akan ditulis.
    • Jangan pernah menuliskan kalimat-kalimat baper (bawa perasaan), sehingga menuliskan penghakiman kepada sekelompok orang tanpa ada fakta. Misalnya menuliskan “They usually tend to be envy to each other.” nah ini termasuk kalimat penghakiman tanpa bukti. Atau menuliskan kalimat baper misalnya “People always treat me different.” ini juga bukan fakta. Jadi pastikan menulis kalimat-kalimat yang logis atau fakta atau pengetahuan umum, misalnya “Since people found fire, they tried to cook the meat.”. Jadi perlu berlatih menulis sesuatu yang lebih logis.
    • Pilih kata-kata yang lebih akademik, misalnya menggunakan purchase dibanding menggunakan buy, gunakan receive dibanding menggunakan get, dan kata-kata akademik lainnya.
    • Tidak menggunakan kata-kata I, we, us, namun bisa diganti dengan one/every person, people, human, mankind, dll.
    • Jika bisa, ada orang yang bisa dimintai tolong untuk memeriksa tulisan yang sudah dibuat, tentu saja yang bahasa Inggrisnya bagus πŸ˜€ , dan IELTS-nya sudah lolos. Saya disini meminta tolong pada guru saya di IDP IELTS preparation (Pak Abi, beliau juga mengadakan simulasi IELTS di rumahnya di Arcamanik Bandung, biayanya waktu itu saya pernah ikut Rp. 100.000 untuk semua modul (listening, reading, writing, speaking) nomor WA beliau 0877-2666-2660)

      IELTS Workshop and simulation test (listening, reading, writing, speaking, consulting)

      dan saya juga ikut les privat via chat WA ke Chemistry English Course (kantornya di Cibiru Bandung, nomor WA-nya 0856-2809-986, alamat email: chemistryenglishcourse12@gmail.com), gurunya Pak Ahmad Muqtashid (Pak Tashid), beliau orang Semarang, enak sekali mengajarnya, sangat detail fokus pada kesalahan yang saya lakukan dalam menulis, biayanya Rp. 100.000/pertemuan, satu pertemuan bisa 1-2 jam, dan juga ada biaya registrasi Rp. 100.000 jadi jika 3 kali pertemuan maka harus menstransfer Rp, 400.000 (biaya program IELTS 950 rb/a month (private class), regular class biaya 450 rb, private panggilan 100 rb/meeting, Untuk siswa baru ada biaya pendaftran 100 rb, Office: Jln Cibiru Hilir RT 1 RW 2 (deket sama bunderan cibiru))

      Chemistry English Course

      Kesalahan terbesar saya pada grammatical, ini sangat mengurangi nilai sebagus apapun ide kita menulis. Hampir dua minggu sebelum tes ke-7, saya mendapat respon dari Pak Eddy Suaib salah satu pengajar yang cukup sibuk di Kampung Inggris Studio Pare Kediri Jawa Timur, dan les via online melalui pemberian feedback dari latihan menulis saya, dan sesi pertama gratis. Saya les sebanyak 2 sesi karena sudah mepet dengan tanggal tes terakhir yang bisa untuk mengejar beasiswa AAS 2018. Satu sesinya akan mendapatkan feedback dari 2 tulisan, 1 di task 1 dan 1 di task 2, untuk setiap feedback tarifnya Rp. 150.000. Dari les ini saya mendapat ilmu tata cara menyusun sebuah essay yang baik di task 1 dan task 2 untuk memenuhi kriteria yang dinilai.

    • Task 1: (minimal 150 kata)

      • Bagian ini biasanya berisi mengenai bagaimana menjelaskan sebuah diagram. Isi yang baik sebenarnya bukan hanya menyebutkan angka-angka, namun lebih ke mengangkat yang menarik dari data yang ada di diagram, misalnya membahasa bagian mana yang tergolong tinggi dan bagian mana yang tergolong rendah, kemudian bahas yang ada di tengah-tengah, jadi fokusnya adalah membahas tren atau kecenderungan dari data yang ada di diagram.
      • Paragraf biasanya terdiri dari 3 paragraf, yaitu introduction, body, dan pandangan secara umum kecenderungan yang ada di data diangram (sering juga disebut kesimpulan, namun sebenarnya bukan kesimpulan juga, namun lebih ke pandangan secara umum tentang tren/kecenderungan dari data yang ada di diagram).
        • Introduction: biasanya berisi pertanyaan yang diparafrase, jadi tidak sama persis dengan yang ada di soal, biasanya diawali dengan “The chart represents information about……”. Jangan menulis sama persis dengan soal, karena bisa jadi kata-kata di introduction tidak dihitung.
        • Body: biasanya berisi mengenai analisis tren/kecenderungan yang kita buat. seringnya ada sebuah tabel yang berisi pengelompokan data, berisi tetinggi, terendah dan tengah. Alur paragraf biasanya menyebutkan dengan menarik yang tinggi dulu, kemudian terendah, baru yang tengah. Berikut adalah contoh tabel yang biasa digunakan (tidak selalu seperti ini, sesuaikan dengan soal yang nanti dikerjakan). Disini yang paling ditekankan adalah bagaimana membandingkan data bukan menceritakan data dan bagaimana membuat antar paragraf dan kalimat itu terlihat sambung.
        • Tabel task 1

        • Summary: biasanya berisi 1-2 kalimat yang merupakan ringkasan tren/kecenderungan dari data yang ada di diagram. Dan biasanya diawali dengan “In general, ……” (ini bisa digabung dengan introduction pada paragraf pertama).
      • Sebaiknya banyak berlatih bagaimana untuk melihat tren/kecenderungan data dari diagram.
      • Pola yang baik dalam menulis task 1 ini biasanya:
        • Introduction berisi: parafrase dari soal, kecenderungan trend dari diagram yang disajikan dengan melakukan perbandingan dari tiap elemen data yang dianggap menarik (diletakkan disini yang sebenarnya adalah menjelaskan tren dari diagram).
        • Body berisi: perbandingan nilai dari tiap komponen, jika tidak ada perbandingan maka nilai tulisan akan kurang baik, biasanya body terdiri dari dua paragraf.
    • Task 2: (minimal 250 kata)
      • Bagian ini berisi karangan akademik kita terhadap topik yang diberikan, ada beberapa jenis topik, biasanya berupa dua sisi, misalnya setuju tidak setuju, diskusi, opini, masalah solusi, dan dua sisi pertanyaan.
      • Bagian menantang disini adalah bagaimana mengangkat ide yang bukan jenis baper namun fakta dan logis.
      • Paragraf yang dibuat harus paragraf yang baik secara akademik terutama untuk paragraf inti, yang terdiri dari:
        • topik utama yang merupakan inti dari paragraf akan membahas apa.
        • disertai kalimat pendukung yang dapat berisi:
          • alasan topik itu dibahas sebagai kalimat pendukung.
          • contoh dari topik yang dibahas sebagai kalimat pendukung.
          • contoh fakta atau kenyataan atau bukti dari topik utama paragraf sebagai kalimat pendukung.
          • hasilΒ  keluaran (outcome) atau penguatan dari topik utama sebagai kalimat pendukung.
        • jadi isi dari paragraf itu tidak gado-gado dan ngalor ngidul, kalau masih gado-gado dan ngalor ngidul maka tidak akan bisa menembus band 6 (pernah baca begitu) karena band 6 keatas itu syarat minimalnya bisa membuat paragraf yang baik.
      • Esai biasanya berisi empat paragraf:
        • Introduction: biasanya berisi parafrase dari soal menjadi beberapa kalimat dan ringkasan dari hal-hal yang akan kita bahas di paragraf-paragraf berikutnya (kalimat utama dari paragraf-paragraf berikutnya).
        • Pembahasan sisi pertama: biasanya berisi pembahasan sisi pertama, misalnya jika diskusi, maka bahas sisi pertama, jika masalah solusi maka bahas bagian masalah, jika setuju tidak setuju bisa berisi bagian yang setuju, dll. Pastikan ini sama dan tidak keluar topik dari yang telah diungkapkan di introduction.
        • Pembahasan sisi kedua: biasanya berisi pembahasan sisi kedua, misalnya jika diskusi, maka bahas sisi kedua, jika masalah solusi maka bahas bagian solusi, jika setuju tidak setuju bisa berisi bagian yang tidak setuju, dll. Pastikan ini sama dan tidak keluar topik dari yang telah diungkapkan di introduction.
        • Conclusion: biasanya berisi penegasan setuju atau tidak setuju, berisi opini, dll. Pastikan ini sama dan tidak keluar topik dari yang telah diungkapkan pada badan paragraf sebelumnya.

Pernah ada nasihat, bahwa belajar yang baik adalah belajar dari orang yang berhasil dari banyak kegagalan, karena dia tahu benar setiap fase yang harus dilalui, sehingga dapat memberikan arah fase orang-orang yang diajari πŸ™‚ . Terakhir, untuk semua mahasiswa saya yang saya mengajar pada saat-saat tes ini, semoga memahami bahwa seorang dosen itu tidak hanya mengajar πŸ˜€ hihi. Terima kasih. Semoga bermanfaat.

Ada hikmah tersendiri ketika saya berjuang untuk mengambil S3 dalam negeri dan luar negeri selama 7 tahun (2011-2018) namun selalu saja ada halangan. Mungkin memang bukan jalan saya, jadi nanti pensiun dini saja dan bertani di masa tua.

dari FB Kajian Suluk:

β€œKalau dipikir-pikir kurang apa saya hidup? Semua kebutuhan lebih dari cukup. Suami memiliki pekerjaan yang bagus, kami memiliki dua anak yang sehat dan pintar, saya pun baru menyelesaikan pendidikan Doktor bidang hukum di London. Tapi entah kenapa di balik semua kelimpahan material ini ada lubang besar di hati saya, sebuah kehampaan yang tak bisa saya pahami. Setiap minggu saat saya menghubungi kedua orang tua yang tinggal di India, selalu saya mencoba meyakinkan mereka bahwa hidup kami bahagia dan baik-baik saja. Dan setiap kali itu juga saat mengakhiri pembicaraan saya merasakan ada gumpalan besar di kerongkongan saya, sesuatu yang tidak bisa saya katakan kepada mereka. Bahwa saya sesungguhnya merasa kesepian dan kehilangan arah. Tidak tega saya mengatakan itu kepada mereka. Pun kepada suami, apalagi anak-anak saya. Hari demi hari rasa itu semakin menguat, hingga suatu hari saya menemukan sebuah celah dimana untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya bisa bernafas lega…”

Itulah kesaksian dari Mira, seorang berpendidikan Doktor di bidang hukum, jebolan salah satu universitas ternama dunia, tapi memilih banting setir dalam hidupnya menjadi Chef. Ia memulai karir masaknya di usia sekitar 40 tahunan, dengan belajar memasak di India kepada ibunya sendiri. Diawali dari membuka β€œsupper club”- semacam β€˜warung’ di rumahnya yang lambat laun mendapatkan sambutan hangat dari orang-orang yang menyebarkan informasi mengenai kelezatan makanan dan sambutan hangat tuan rumah secara mulut ke mulut.

Akhirnya Mira, membuka rumah makan yang menyajikan makanan khusus India di negeri Inggris. Restorannya mendapat resensi yang positif dari salah satu penulis kenamaan di negeri itu. Mulailah orang berbondong-bondong datang dan tidak sedikit yang menjadi pelanggan tetap di tempat dimana ia menyalurkan bakat terpendamnya dan berbahagia karenanya.

Itulah sepetik kisah seorang anak manusia yang mencari mata air kebahagiaan hidupnya. Sang mursyid berpesan bahwa selama seseorang belum menemukan mata air kebahagiaan sejatinya yang berupa misi hidup dirinya, maka selamanya sang jiwa akan merasakan dahaga yang hanya akan hilang rasa haus itu manakala ia mengerjakan pekerjaan yang memang bersumber dari benih yang tumbuh dari dalam dirinya.

Bagaimana menemukan misi hidup itu? Tiangnya adalah dengan shalat. Maka mulailah membenahi shalat kita dengan menjaga waktu-waktunya, berwudhu yang baik, memahami bacaannya, dan meresapi setiap kata yang kita panjatkan. Insya Allah dengannya satu demi satu tirai kehidupan akan disibakkan dan kita akan didekatkan kepada β€œshiraathal mustaqiim”nya masing-masing. Insya Allah.

 

By hariiniadalahhadiah Posted in Sharing