Tips Agar ART (Asisten Rumah Tangga) Betah hingga Bertahun-tahun

Bismillahirrahmanirrahim…….

Saya termasuk yang beruntung mendapatkah ART (asisten rumah tangga) untuk pertama kali mencari langsung dapat yang baik 🙂 , sebuah syukur nikmat. Sering mendengar teman atau tetangga berkali-kali tidak mendapatkan ART yang baik. Kami saat itu memutuskan mencari yang membantu mencuci pakaian karena masuk sekolah S2 dan Ibu yang mempunyai kotrakan paviliun yang kami kontrak menawarkan untuk sharing ART dengan pembagian pembayaran, kami Rp. 150.000 (3 kali mencuci dan setrika dalam seminggu) dan Ibu pemilik kontrakan Rp. 250.000 (karena dari senin sampai sabtu Mbaknya datang ke Ibu pemilik kontrakan) sehingga ART akan menerima Rp. 400.000 sebulan, kami disini hanya mencuci saja, sabun cuci juga dari kami. Kami mengenal Mbaknya (namanya Mbak Ade) sekitar tahun 2007 (11 tahun yang lalu). Namun ada kejadian yang akhirnya kami jadi tahu bahwa Mbaknya hanya diberi uang Rp. 200.000 sebulan dan makanan harian yang dijanjikan adalah makanan sisa. Disinilah kami tidak terima, dan berujung pada kami pindah kontrakan dan Mbaknya ikut kami. Pada awalnya kami tidak langsung percaya, kamar suka kami kunci, namun setelah setahun, Mbaknya selalu mengembalikan uang yang tertinggal di cucian, HP yang tertinggal tidak diambil, dan tidak ada barang hilang. Akhirnya mulai kami percayakan mengasuh anak kami yang tadinya kami titipkan di daycare. Mbaknya pulang ketika kami sudah pulang.

Mbak Ade ketika masih di kontrakan kedua

Pak Usep (yang memegang domba) dan Almarhun Yana anak pertama Mbak Ade dan Pak Usep yang meninggal karena sakit pada usia 18 tahun (di kontrakan kedua)

Candra anak kedua Mbak Ade dan Pak Usep dengan sahabat saya Andik (di kontrakan kedua), sekarang Candra sudah mau SMA

Ketika kami pindah dari kontrakan dengan lokasi agak jauh dari tempat tinggal Mbaknya, awalnya Mbaknya berpikir agak berat karena agak jauh, namun suaminya (namanya Pak Usep) menyemangati dan bersedia mengantar jemput, sampai saat bisa beli motor lagi dan dipakai Mbaknya naik motor sendiri. Mbak Ade dan Pak Usep sudah seperti saudara sendiri, saat pernah harus masuk rumah sakit, merekalah yang membantu kami, karena kami tidak punya saudara di Bandung. Jadi merekalah saudara kami. Saya ingin berbagi tips agar ART yang baik kerasan dan menjadi saudara bagi kita, diantaranya adalah:

  • niat baik bahwa bukan tentang ART dan majikan, namun hubungan saling membutuhkan, jadi tidak ada yang merasa lebih tinggi, simbiosis mutualisme,
  • memberikan gaji yang lebih dari standar ART sebagai tanda terima kasih, terkadang jika ada rejeki juga bisa ditambahkan bonus,
  • sering berbagi apa yang kita makan, dan tidak lupa oleh-oleh jika dari berpergian,
  • tidak banyak mengomentari pekerjaan, misalnya kurang bersih, kurang ini itu, intinya menghargai kerja keras ART dan melepas perfeksionis… karena di dunia ini bukan tentang kesempurnaan, jika ingin yang sempurna, kita dapat mencari Tuhan, datang pada Tuhan,
  • jika mulai terganggu dengan kekurangan, sampaikan dengan santai, haha hihi, komunikasi yang enak, sehingga kita ridho, ART juga ridho,
  • jika ada kesalahan ART, misalnya memecahkan piring, merusakkan keran, merusakkan barang elektronik, coba untuk berpikir bahwa harga barang-barang atau perbaikan barang-barang itu lebih murah dibandingkan harga perasaan yang tersakiti. (atau dasarnya saya tidak suka barang dengan harga mahal 😀 …. saya lebih mengutamakan fungsi dan worth it atau tidak),
  • jika ada pekerjaan, tanyakan ke ART mungkin ada keluarganya yang bisa, kalau pengalaman saya, suami Mbaknya adalah tukang bangunan, jadi apa-apa mengenai renovasi rumah pasti dikasih ke suami Mbaknya, tentu saja honornya juga honor saudara, jadi kita beri lebih dengan ridho, dan suami Mbaknya niat kerjanya dengan ridho,
  • saling membantu dalam kebutuhan insidental, jadi kadang kita yang minta tolong, kadang ART yang minta tolong, saling membantu, tidak perlu terlalu hitung-hitungan, karena jika kita tidak hitung-hitungan, maka ART akan membantu kita dengan tidak hitung-hitungan pula,
  • jika ada barang yang masih bagus namun tidak terpakai, pada awalnya tawarkan ke ART, mungkin ada  keluarganya yang perlu, atau mungkin ART-nya perlu,
  • jika minta tolong pekerjaan lebih, maka tambahkan konpensasi, entah berupa barang, bahan, atau uang, bukan tentang hitung-hitungan, namun tentang simbiosis mutualisme,
  • saling memahami dan memberi toleransi ketidaksempurnaan (uzur) sebagai sesama manusia,
  • saling mendoakan kebaikan.

Jangan takut akan kurangnya rejeki, karena jika kita amanah, maka Tuhan akan menitipkan rejeki orang lain melalui kita. Sudah banyak kejadian tertawa dan menangis kami lalui… perjalanan kehidupan… Terima kasih Mbak Ade dan Pak Usep yang sudah berkenan menjadi saudara kami yang imigran ini 🙂 . Semoga bermanfaat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s