Panduan Melakonesia jadi Mahasiswa (Setelah Lulus SMA/SMK)

Bismillahirrahmanirrahim.
Tiba-tiba saja terpikir untuk menulis panduan melakonesia (halah ini kata-kata tidak baku 😀 di KBBI tidak ada) jadi mahasiswa S1. Satu hal yang perlu diingat bagi pembaca yang akan menjadi atau sedang menjadi mahasiswa S1, bahwa yang menulis ini sudah pernah di usia mahasiswa S1 namun jika Anda Bapak Ibuk Pembaca yang Budiman (bukan Pak Diman, karena yang diakui dalam KBBI adalah Budiman) akan menjadi mahasiswa S1 atau sedang menjadi mahasiswa S1… maka Anda belum pernah berada di usia saya 😀 … jadi saya lebih dulu dari Anda. Ini menyingkapi banyak mahasiswa yang merasa unyu-unyu yang sebenarnya tidak unyu sama sekali 😀

Pasal Melakonesia 1 – Mengenai Budaya/Kultur Belajar
-Menjadi mahasiswa sudah bukan lagi seperti SMA, dimana kemana-mana bergandengan tangan, lulus bareng bergadengan tangan….. di dunia mahasiswa S1, lulus itu berbanding lurus dengan kemampuan dalam bertanggung jawab dalam menghadapi “indahnya” dunia yang artinya dewasa…. kenapa ada kata maha bukan hanya siswa… karena maha itu diberikan kehormatan untuk berlatih bertanggung jawab pada dirinya sendiri. Move on gan move on dari jaman SMA…

– Menjadi mahasiswa dimanapun, perlu adaptasi, terutama yang kebiasaan melakukan ritual semedi (menyendiri) ini biasanya akan kurang sesuai…. menjadi mahasiswa itu mesti jadi SKSD mulia (sok kenal sok dekat untuk jadi mulia 😀 ) yang gak jelas nanya-nanya ke siapapun yang bisa bantu nerangin materi yang tidak dimengerti…. jadi ya… kayak di pilm-pilm gitu… heloooo anybody homeanybody can help me…. i’m lost… (tersesat karena tidak paham materi kuliah 😀 )… tanya siapa aja…ditolak mah biasa, bisa jadi dari 10 orang yang kita SKSD-in baru orang kesepuluh yang masuk manusia mulia 😀 …. jadi mesti “agresif” gan aktip aktip…. bukan nungguin orang orang merhatiin mahasiswa mellow yang pengen dianggap unyu dan kerjaannya mojok 😀

– Menjadi mahasiswa itu perlu berpikir mana yang manfaat dan mana yang tidak… kalau kita baca kitab-kitab agama, apapun perbuatan kita akan kembali pada diri kita sendiri, jadi kalau kita melarikan diri… ya nanti juga ngadepin gitu lagi, lari lagi, ya gitu lagi, lari lagi, ya gitu lagi… muter poreper (kalau di orang IT namanya looping forever 😀 ). Silakan coba baca kitab-kitab agama… mana ada mekanisme melarikan diri dari kenyataan secara syar’i 😀 …. jadi daripada ngulang lagi ngulang lagi… ya hadapi dengan jantan dan betina 😀 … kalau mau coba ya silakan… toh yang ngasih panduan kitab-kitab agama itu yang dianggap Tuhan… jadi silakan we dilawan Tuhannya… (sebaiknya sih kagak 😀 ).. biasanya tipe melarikan diri yang paling banyak dianut mahasiswa mah sejenis… sibuk pacaran, sibuk organisasi pelarian, sibuk demo, sibuk main game, sibuk main, sibuk menyalahkan orang lain, … ya semoga lekas siuman buat yang lagi begini… lari kemanapun tetap buminya Tuhan gan… trus dipikirin juga nanti bakal punya anak… nanti kalau anaknya gitu trus punya senjata… “Bapak sama Ibuk dulu gitu boleh.. kenapa aku gak boleh” mau jawab apa gan…
– Ketemu teman yang ngajak curang, ngajak nyontek, wajah melas semelas-melasnya supaya dikasih contekan… ah sudahlah… tegakkan kebenaran sajah… coba cari di kitab-kitab agama.. mana ada kemuliaan itu didapat dari menyontek dan curang… ga percaya… silakan cari we di kitab-kitab agama… pasti bayar sob di depan.. di masa depan.. entah nanti skripsi ga kelar-kelar.. entah nanti kerja ga bener-bener.. pasti ada sob… Tuhan dah bilang di kitab-kitab agama kalau semua perbuatan itu akan kembali pada yang berbuat… jadi kalau berbuat tidak taat sama Tuhan… ya bayar belakang sob… ga percaya… berani anggap Tuhan loe bohong… kalau dosen belum nyuruh kayak gambar-gambar ini, maka dosen loe masih berhati lembut dengan harapan ada saat mahasiswanya siuman (alias tobat dari penyontekan berkala dan masiv gan)… gak pake marah-marah sama DPR lah atau sapa lah.. kalau diri sendiri saja masih belum bisa jujur gan… nanti ayam aja ketawa gan.

 

– Ketemu teman yang gak baik, kalau bisa ya dibimbing… kalau ga bisa ya berkumpullah dengan orang-orang soleh… biar kena hawa hawa kedamaian di dalam jiwa 😀 …

-Sebaiknya tidak membenci mata kuliah, karena kalau dibaca di kitab-kitab agama, ilmu itu pemberian dari Tuhan gan, syaratnya cuman satu yaitu tawadhu, merendahkan diri kepada ilmu, yang artinya merasa butuh ilmu, menghormati guru, sehingga Tuhan berkenan gan memberi ilmu. Kalau ga percaya cobain gan, benci semua mata kuliah, benci semua dosen, yakin gan… nilainya gak akan ada yang baik 😀 …. ya itu yang ngasih petunjuk Tuhan gan. Kalau saya sebut saya seneng gan jadi feel stupid forever, karena orang yang mau belajar hanya orang yang merasa dirinya bodoh… kalau orang yang udah ngerasa pinter gak mau gan belajar…. (tawadhu, tetaplah merasa bodoh dan lapar, karena hanya merasa bodoh akan terus mencari ilmu, dan hanya dengan merasa lapar dapat mensyukuri sesuap nasi – sumber: http://www.salingsapa.com)

 

Pasal Melakonesia 2 – Dosenku Tercinta Dosenku Sayang
– Kenali tipe dosen, tanya pada kakak kelas. Perhatikan kakak kelasnya… cari kakak kelas yang soleh dan solehah untuk meminta pendapat agar yang keluar dari mulut terasa indah untuk mendamaikan jiwa raga 😀 … jangan tanya kakak kelas yang belum move on, nanti keterangan jadi tidak valid, bisa jadi baginya semua dosen gak ada yang bener, karena yang bener bisa jadi hanya dirinya 😀 … kan bahaya…
– Ketika masuk kelas dan dosen akan segera memberikan materi, maka kuatkan jiwa raga untuk sejenak tidak bersuara, lha kalau dosen menerangkan dan mahasiswa ngobrol sendiri.. pertanyaannya siapakah yang akan mendengarkan…lalu untuk apa semua pengorbanan yang telah dilakukan.. #halah

– Ketika diberikan waktu bersuara untuk diskusi, presentasi atau bertanya ya silakan bersuara (jangan dibalik atau kebalik-balik ya… bayangin aja pakai baju kebalik-balik 😀 )… dan hentikan kebohongan publik… dimana ketika ditanya.. diam atau tidak ada pertanyaan… namun sesungguhnya dalam hati yang terdalam…. terdapat banyak bank pertanyaan yang hanya mampu ditanyakan pada rumput yang bergoyang.. (mellow gan)

 

– Menghubungi dosen untuk janjian juga perlu diperhatikan, kenali dosennya lebih suka dihubungi lewat perangkat apa (asal jangan surat menyurat pakai merpati pos… ) dan lakukan dengan sopan beretika sesuai adab yang berlaku di lingkungan… ini beberapa poin yang baik untuk menghubungi dosen:

  • salam (selamat pagi, selamat siang, selamat malam, assalamualaikum (pastikan dosennya penganut ajaran Islam), atau salam lainnya… jangan ditulis semua ya gan, nanti kuota teksnya habis 😀 )
  • sebutkan nama, angkatan, jurusan, … dosen itu mahasiswanya ribuan gan jadi perlu disebutkan, jangan main tebak-tebakan… sambil nulis.. hayo Pak/Bu tebak siapa saya, saya mahasiswa berkaos kaki ungu… #plak#tes
  • sebutkan keperluan dengan memberi opsi pada dosen terlebih dahulu, baru kemudian nanti dinegokan, atau memberi opsi, namun ada beberapa opsi… jangan nulis “Halooo Pak Bu saya mahasiswa bersepatu biru membutuhkan kepastian jawaban dengan segera secepatnya dan sesingkat-singkatnya” … siap siap saja kalau nulis gitu gan… 😀
  • di akhir pesan bisa mengucapkan “pemanis” seperti “maaf sebelumnya” atau “terima kasih”. Ya biar tulisan kita tetap terbaca manis sob 😀

(Jangan seperti ini)

– Berusaha kalau nyari dosen tidak jadi “screen saver” gan, ngiderin dosennya sudah ada belom… jadi hindari dengan membuat janji sebelumnya. Kecuali dosen yang memang suka mahasiswanya jadi screen saver… kalau ketemu yang seperti ini, berdoa yang baik-baik untuk dosennya gan 😀 doakan urusan Bapak Ibuk Dosen dimudahkan jadi biar lekas selesai….
– Jangan pernah sewot kalau ada dosen yang sibuk mroyek atau meneliti Gan (proyekannya seringnya ya penelitian), penelitian itu kewajiban dosen juga disamping ngajar (saya nulis juga ini kesibukan dosen bisa dibaca disini https://hariiniadalahhadiah.wordpress.com/2013/05/24/mekanisme-dan-gaji-menjadi-dosen-pns/ ).. penelitian itu sama kayak ngerjain skripsi… jadi itu kakak kelas coba diperhatikan banyak gan korban kegalauan skripsi…. nah itu dosen mesti ngerjain itu minimal satu biji setahun … jadi jangan disewotin gan … ingat ada hadist:

“tidak akan meninggal seorang mukmin sebelum diujikan dengan apa yang pernah dia olokkan dari saudara sesama mukmin”

maksud dari hadist ini ya karena tidak ada gan mekanisme mencela, berprasangka buruk, atau mengolok yang syar’i… 😀 … bisa jadi kalau diuji hal yang sama kita tidak lebih baik …. jadi kalau kita mengolok dosen yang sibuk proyek penelitian… lihat saja ketika diuji saat proses skripsi nanti 😀 ….

Jadi buat yang status medsos-nya statusnya banyak olokan, sotoy tanpa data (judging), nyalahin orang lain semua, semoga segera siuman, agar bayar “hutang” di belakang kelak tidak banyak… bayarnya biasanya lebih mahal… dan itu semua tidak akan membuat mulia… gak percaya …. coba “dikunyah” kitab-kitab agama… tidak ada cara mengolok-olok, sotoy tanpa data (judging), nyalahin orang lain yang syar’i 😀 …. bahkan dalam buku tarbiyatul aulad (pendidikan secara Islam) yang setebal 5 tumpuk laptop… ga ada gan 😀 ….

Belum lagi dosen yang lagi ngejar mau sekolah lagi ke luar negeri, itu butuh ngejar skor IELTS sampai skala 7 dari 9 gan (kalau TOEFL ITP skala 600 lebih (bukan PTESOL ya gan, itu mah masih tahap percobaan 😀 )), belum nyari duit talangan asuransi kesehatan keluarga kalau mau bawa keluarga keluar negeri, itu kalau ke eropa butuh 80-100 juta rupiah, ke australia butuh 60 an juta dan ini diluar tanggungan beasiswa… cari sendiri gan, beda-beda tiap negara.
– Sebaiknya tidak banyak membenci dosen gan, nanti kena kutuk jadi dosen 😀 … sapa yang tahu masa depan gan. Jangan juga benci mata kuliah gak, nanti kena kutuk jadi dosen dengan mata kuliah yang tidak disukai itu 😀 (sudah ada buktinya gan, banyak).
– Mayoritas dosen itu ingin mahasiswanya baik gan, punya masa depan baik, makanya dicari berbagai cara agar mahasiswa siuman untuk ke jalan yang benar 😀 …. (kalau ada yang gak baik, itu sebagian kecil sajah, namun ya tetap saja ada, janganlah yang sedikit menutup mata hatimu untuk melihat kebaikan yang lebih banyak #cieCieCie

-Setiap dosen itu sudah berpengalaman gan jadi mahasiswa, sudah tahu juga trik-trik mahasiswa…. sudah banyak juga di PHP-in mahasiswa (pemberi harapan palsu, seperti janjian datang, ditunggu sampai 2 kali lebaran tak datang.. itu bang toyib hehe .. jangan ditiru 😀 ) … apalagi trik trik mahasiswa nyontek… sudah tahu gan… jangan dikira dosennya oon 😀 ….. dan dosen itu ada pertimbangan keadilan untuk semua warga kelas….. jadi adab-nya kalau minta dispesialkan, silakan bayangkan kalau ijin satu kelas bakal boleh tidak, kalau merasa tidak boleh, ya jangan dilakukan, contoh misal…. tidak pernah masuk lalu minta 1 tugas dan minta dikasih nilai lulus…. silakan tanya ke semua anggota kelas… kalau merasa mereka ga bakal setuju berarti reason rejected ya… kagak make sense 😀  …. lalu ada juga lho dosen yang mempertimbangkan kadar “sakit” pada mahasiswa…. misalnya sudah jiwanya tidak ada harapan siuman… ya diberi obat gan, dengan harapan di masa depan mahasiswa bisa siuman.

 

 

Pasal Melakonesia 3 – Skripsiku oh Skripsiku
-Mencoba menentukan minat topik skripsi, dengan mengingat-ingat dan merenungi, mata kuliah apa yang paling disukai selama belajar di jurusan (mohon dicatat… di jurusan… bukan dimana-mana 😀 )

-Mencoba menentukan kira-kira dari kuliah itu ada tidak masalah yang ingin kita selesaikan ketika kuliah (jika tidak menemukan masalah yang menarik di kuliah itu, berarti tidak benar-benar menyukai kuliahnya, namun hanya karena nilainya mudah)

-Dari masalah itu mencoba menemui dosen yang bisa diajak brainstorming (bisa dosen kesayangan, dosen PA/wali, dosen mata kuliah yang disukai, dkk). Di dalam pertemuan itu kemukakan permasalahan yang ada di pikiran, kira-kira make sense atau mungkin tidak diteruskan sebagai skripsi. Tahapan ini sangat penting, karena ibaratnya orang yang tidak tahu jalan sebaiknya bertanya kepada orang yang lebih tahu arah jalan… jika tidak ya tidak tahu jalan. Maka tidak perlu takut duluan apakah topik make sense atau bla bla bla… karena tidak tahu maka perlu tanya arah jalan.

-Menyingkapi, menelaah, merenungi, mencari kejelasan (bisa tentang data, metode, dkk) untuk kemudian jika sudah ketemu dibawa bertemu lagi dengan dosen pada poin 3. Atau jika tidak mendapatkan hasil maka bisa mencoba lagi langkah 1-3 di atas, bisa langsung ke poin 3 lagi untuk diskusi agar arah jalan bisa terbayang.

-Dalam membaca sumber, sebaiknya tidak anti pada sumber berbahasa Inggris, tidak membaca sumber membabi buta dahulu karena tidak tahu arah jalan (ini pasti lama dan belum tentu ketemu tujuan), sebaiknya membaca sumber yang sesuai topik masalah, perhatikan membaca sumber skripsi orang lain (perhatikan antara nim dan tahun lulusnya, jika masa studi 7 tahun, sebaiknya tidak dijadikan sumber, karena biasanya lulus dengan standar minimal sekali, ibaratnya membantu orang yang sudah sekarat di waktu studi).

-Sebaiknya tidak berpikir santai, sudah bosan kuliah, perlu nyantai dulu…. karena semakin lama, hati kita akan semakin berat mengerjakan, lebih baik dikerjakan, selesai, dan bebas kemanapun. Imbas dari tidak segera lulus bagi angkatan akhir adalah (bisa disebut melanggar hak orang lain tanpa alasan syar’i (zalim), kecuali memang ada alasan syar’i (masuk syarat darurat) bukan karena keinginan (ego), namun kebutuhan):

1. Mempengaruhi beberapa item penilaian akreditasi mengenai jumlah lulusan tepat waktu. Dan ini berimbas pada banyak mahasiswa.

2. Mempengaruhi quota mahasiswa baru yang masuk, karena perbandingan dosen dan mahasiswa hanya boleh 1 dosen banding 20-30 mahasiswa untuk teknik. Misalnya tahun 2015 mahasiswa baru yang masuk hanya bisa 50 orang karena banyak kakak kelas tingkat akhir yang tidak berkenan hati untuk lulus. Tahun 2014 mahasiswa baru nondik 70-80 an orang (2 kelas). Kesempatan masuk perguruan tinggi negeri jadi berkurang untuk orang lain.

3. Ada subsidi negara pada setiap mahasiswa sedikit maupun banyak dan itu dari negara. Maka negara mensubsidi ego dan keinginan mahasiswa untuk tidak segera lulus. Dan itu bisa jadi lebih baik diberikan untuk orang lain yang juga ingin sekolah (bisa masuk korupsi juga sebenarnya gan).

4. Menyurutkan harapan orang tua untuk menyelesaikan tanggung jawabnya pada pendidikan anak, yakinlah orang tua tidak ingin uang kita karena sudah bekerja sebelum lulus (kecuali untuk alasan syar’i), namun orang tua lebih ingin untuk istirahat dari bekerja keras sepanjang hidup dalam menyelesaikan tanggung jawabnya terhadap anaknya.

5. Membuka kesempatan anak di masa depan nanti untuk mengatakan “Bapak/Ibuk dulu skripsi juga molor, kenapa saya tidak boleh”.

Karena beberapa kezaliman di atas maka semakin lama tidak ingin mengerjakan skripsi, akan semakin qolbu ini down, karena segala perbuatan akan kembali pada diri kita sendiri sebesar zarahpun itu (atom) (sumber Al Qur’an, ada beberapa ayat disebutkan, yang bilang bukan saya, tapi Allah).

Hikmah (ilmu dan kebijaksanaan) dari Skripsi untuk masa depan:

Skripsi ditulis dengan beberapa urutan dan tujuan agar kita mampu menghargai proses dan tidak langsung asal bicara tanpa data, ilmu, penelitian terlebih dahulu (taqlid buta (pokoknya kata orang ini dan itu) dan asal ingin menang dalam perdebatan atau omong doang). Sehingga mengajarkan cara berpikir seorang sarjana.

Bab 1

1. Skripsi dimulai dengan latar belakang yang mengungkapkan alasan diangkatnya sudah masalah… karena masalah tanpa latar belakang hanya akan jadi “pokoknya” dan tanpa analisis mendalam mengenai sebab-sebab dari permasalahan yang terjadi, sehingga tidak akan timbul pertanyaan “jadi sebenarnya masalahnya apa” dan jawabannya “tidak tahu, pokoknya ada masalah” 😀

2. Menyusun pertanyaan yang belum terjawab sehingga perlu diadakan penelitian untuk menjawab pertanyaan itu. Inilah yang disebut rumusan masalah. Jadi bukan asal ada pertanyaan, kalau bisa yang gampang, padahal sudah tahu jawabannya.

3. Menyusun batasan-batasan, hal ini diberikan agar kita belajar realistis terhadap hidup ini. Manusia adalah makhluk terbatas. Maka batasan akan selalu ada agar masalah yang dikerjakan tidak terlalu luas, lalu stres, bagaimana mengerjakannnya dan mengerjakan yang mana dulu. Jadi pastikan masalah tidak terlalu luas dengan mendefinisikan batasan-batasan. Ini inti dari Bab 1.

4. Menyusun tujuan sebagai ukuran bahwa nantinya pertanyaan akan terjawab atau tidak… (gak pakai alasan bagaimana menentukan tujuan jika hidupku tanpa tujuan #halah ) …. contoh kalau rumusan masalahnya adalah “bagaimana mendapatkan semangkok bakso” maka tujuannya adalah “semangkok bakso” jadi masalah itu terjawab, jika semangkok bakso sudah didapatkan…. jadi gak pake bingung nanya nanya sendiri tanpa tujuan 😀

Bab 2

Manusia adalah makhluk yang belajar dari hasil pembelajaran orang lain, maka dari hal itulah ilmu berkembang. Di bab 2 ini tujuannya adalah kita mencari sumber-sumber yang dapat mendukung apakah pertanyaan-pertanyaan kita di rumusan masalah mungkin untuk dikerjakan. Maka karena disini kita menggunakan hasil belajar orang lain, jangan lupa menuliskan sumber-sumber yang kita acu. S1 belum berhak membuat teori sendiri, maka tidak perlu membuat teori sendiri, tawadhu lah terhadap ilmu, karena ilmu itu sesungguhnya dari Allah, dari perkenanan (rahmat) Allah kepada manusia.

Bab 3

Bab 3 adalah perencanaan langkah-langkah yang akan kita tempuh
untuk mencari bukti-bukti jawaban pertanyaan masalah dengan penelitian yang akan kita lakukan. Maka perencanaan langkah-langkah ini serius, karena tahapan inilah yang akan menyusun setiap jalan kedepannya untuk menjawab rumusan masalah dengan pembuktian. Dalam kehidupan nyata kita diajari untuk membuat perencanaan langkah-langkah sebelum eksekusi, agar langkah-langkah jelas dan tidak membabi buta. Dan jujur di tahapan ini sepertinya tidak ada langkah untuk tidak mengerjakan skripsi 😀 .

Bab 4

Ini adalah bab untuk membuktikan, mencari data, memproses data, dkk. Sehingga nantinya orang akan percaya dengan jawaban kita karena kita sudah punya buktinya.

Bab 5

Menjawab pertanyaan rumusan masalah. Maka kesimpulan itu menjawab pertanyaan dari rumusan masalah sesuai yang ditanyakan di bab 1. Maka sebaiknya sinkron tidak seperti contoh berikut:

pertanyaan:
Bagaimana cara menuju ledeng dari BIP?

Jawaban:
Iya, dari BIP ke ledeng bisa dilakukan.

Jawaban di atas tidak menjawab pertanyaan 😀 .

Saran diberikan untuk berlaku tawadhu dimana kita menyadari tidak ada yang sempurna dan membahas kelemahan-kelemahan dari bukti-bukti kita agar dapat disempurnakan oleh manusia berikutnya yang ingin menyelesaikan permasalahan dengan arah jalan yang sama.

Dengan tahapan di atas, kita diajarkan untuk menjadi manusia yang berilmu, tawadhu, dan menghadapi realitas kehidupan dengan hikmah (ilmu dan kebijaksanaan). Karena tugas manusia hidup adalah mencari hikmah dari setiap kejadian dan bermanfaat untuk orang lain dengan hikmah-hikmah yang didapat.

Hikmah diberikan Allah kepada orang-orang yang mencarinya dan tawadhu (tidak sombong) terhadap hikmah itu sendiri.

**Catatan:
– Bagi yang pernah membenci, mengghibah (mengomongkan di belakang)/menjelekkan, marah atau perbuatan kurang baik lainnya pada satu atau lebih dosen, maka segera introspeksi, istigfar, mohon ampun pada Allah, meminta maaf pada dosennya jika memungkinkan. Karena salah satu pekerjaan dosen selain mengajar dan pengabdian kepada masyarakat (seperti pelatihan, panitia, membimbing kegiatan) adalah dosen wajib memiliki penelitian minimal 1 buah penelitian dalam 1 tahun (minimal penelitian seperti skripsi).
– Bagi yang pernah merasa menghina atau merendahkan kakak kelas yang lama lulus, segera introspeksi, istigfar, minta ampun pada Allah, dan jika memungkinkan meminta maaf pada kakak kelas itu.

Jadi baik-baik sob gan jadi mahasiswa, biar berkah kedepan kebelakang dan seterusnya, jadi gak pakai bayar-bayar “hutang” karena perbuatan di depan. Gak ada yang gratis Gan. Jadi yang baik-baik biar yang kembali ke kita juga adalah kebaikan dan ridhoNya 🙂 .

Iklan
By hariiniadalahhadiah Posted in Students