Untuk Apa Manusia Hidup

Bismillahirrahmanirrahim……

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang…

Image source:

Untuk apa manusia hidup?

Pertanyaan ini sering ditanyakan dalam diri, atau bertanya pada orang lain. Termasuk saya dulu juga bertanya dengan pertanyaan ini. Kemudian terbersit di dalam diri pemikiran waktu kecil dulu… kenapa harus lahir… kenapa harus hidup… mungkin akan lebih menyenangkan jika tidak pernah lahir 🙂 .

Baiklah… saya ingin berbagi mengenai konsep untuk apa manusia hidup yang terdiri dari:

  • Konsep yang disebut dengan Tuhan
  • Konsep lauh mahfuz… kitab Allah yang menyimpan segala kejadian kemungkinan kejadian
  • Fitrah (kemampuan dasar) manusia
  • Hak Allah sebagai Tuhan
  • Untuk apa manusia hidup….

Konsep yang disebut dengan Tuhan

Tuhan adalah satu zat yang menjadi alasan pertama kita sebagai manusia dalam melakukan aktifitas.

Maka apa yang disebut Tuhan itu bisa jadi adalah Tuhan sejati, atau Tuhan-tuhan palsu yang sering disebut dengan berhala. Tuhan sejati dalam agama Islam adalah Allah. Namun banyak sekali Tuhan-tuhan palsu seperti:

  • Uang
  • Rumah
  • Mobil
  • Gelar
  • Kehormatan
  • Keluarga
  • Kesenangan
  • dll

Sebagai contoh, jika kita bekerja dengan niat untuk mendapatkan uang… maka sesuangguhnya Tuhan kita adalah uang, atau kita pergi ke sekolah untuk mendapatkan gelar, maka sesungguhnya Tuhan kita adalah gelar. Jika misalnya kita tidur, dengan niat untuk taat pada Allah untuk menjaga kesehatan tubuh kita, untuk mendapatkan ridhoNya, sebagai alat penyokong dalam beribadah di dunia… maka tidur ini dapat bernilai ibadah. Disinilah apa yang disebutkan dengan segala amalan/perbuatan bergantung pada niatnya dalam hal penilaian Allah kepada amalan itu. Maka ketika Tuhan kita adalah Allah… maka semua perbuatan akan kita niatkan untuk taat padaNya, untuk mendapat ridhoNya… sehingga Allah akan berkenan kepada kita sebagai hambaNya. Maka semua amalan yang diniatkan untuk taat kepada Allah dan untuk ridho Allah… inilah yang disebut bernilai ibadah.

Di dalam Al Qur’an disebutkan mengenai manusia-manusia yang berakal, dan ada pula disebutkan bahwa manusia yang tidak berakal maka akan seperti hewan ternak atau binatang buas, atau disebutkan pula… bahwa iman adalah hanya untuk orang-orang yang menggunakan akalnya untuk berpikir. Sebenarnya maknanya tidak hanya tentang manusia bisa berpikir…. jika hanya berpikir mengenai mencari makan, tidur, menyayangi anak, dan lain sebagainya yang bersifat insting maka sebenarnya hewan pun memilikinya. Lalu apa yang dimaksud akal untuk berpikir ini… adalah akal yang mengenal Tuhan sejatinya yaitu Allah. Maka manusia yang mengenal Allah di dalam qolbunya akan dipenuhi iman sehingga perilakunya pun akan berikhtiar taat kepada Allah… tidak aneh-aneh seperti hewan.

 

Konsep Lauh Mahfuzh

Di dalam Al Qur’an disebutkan ada sebuah kita Allah yang disebut sebagai lauh mahfuz. Lauh mahfuzh adalah sebuah kitab yang dipegang Allah tentang pengaturan hidup manusia dan alam semesta. Saat Allah membuat ciptaanNya, maka semua kemungkinan kejadian dari setiap makhluk atau apapun ciptaan Allah tertulis dalam lauh mahfuzh. Seperti apakah lauh mahfuzh, kurang lebih seperti gambar berikut:

lauhword

Misalkan akhir dari dunia adalah kiamat, maka sebenarnya ada banyak waktu kiamat itu sendiri di dalam lauh mahfuzh, hanya saja yang terjadi adalah berdasarkan kondisi dari kejadian yang dipilih oleh manusia yang ada di bumi. Setiap makhluk atau ciptaan Allah memiliki jalur lauh mahfuzhnya sendiri seperti pada gambar berikut:

lauhword2

Setiap lauh mahfuzh manusia adalah bagian dari lauh mahfuzh bumi ini. Contoh lauh mahfuzh manusia adalah seperti gambar berikut:

lauhself

Saat manusia lahir, maka semua pilihan kejadian yang dialami sudah tertulis di lauh mahfuzh. Banyak pilihan jalan, bahkan bisa banyak pilihan bagaimana kematian kita akan terjadi. Semuanya sudah digariskan. Tugas manusia adalah memilih jalan yang terbaik. Pemilihan jalan yang terbaik bisa dilakukan dengan hikmah, yaitu ilmu dan kebijaksaanaan (kombinasi keduanya). Setiap manusia selalu memiliki jalan yang terbaik untuk dipilih, namun jalan yang buruk juga banyak. Ketika manusia mampu berserah diri pada Allah, percaya akan segala pilihan Allah, taat pada Allah, maka Allah akan menunjukkan jalan terbaik yang bisa dilalui manusia. Namun jika manusia terlalu yakin pada kekuatannya sendiri maka bisa jadi manusia memilih jalan yang buruk dan memilih akhir yang buruk. (Tentu saja lauh mahfuzh yang asli lebih banyak dan kompleks cabangnya… gambar di atas hanya ilustrasi, bayangkan betapa besar penyimpanan lauh mahfuzh Allah ini….Allahu Akbar)

mari merenungkan makna “Tidak ada daya upaya selain Allah saja (laa haula walla quwwata illa billah)”

Allah sayang pada manusia, dalam Al Qur’an hampir semua surat diawali dengan bismillahirrahmanrrahim (dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang) kecuali surat At Taubah. Maka Allah ingin manusia mengenal Allah sebagai Maha Pengasih dan Maha Penyayang dibandingkan dengan yang lainnya. Maka dengan kasih sayang Allah, manusia diberi Al Qur’an sebagai petunjuk, diminta untuk sabar, untuk syukur, untuk ikhtiar yang tidak melampaui batas, untuk memahami posisinya sebagai hamba… agar tidak tersesat, sehat fisik dan jiwa, dan berakhir dengan baik (khusnul khotimah) sehingga memiliki kans sebagai penghuni surga karena penghuni surga adalah orang-orang yang taat dan tidak merusak. Maka uji cobanya adalah bumi, maka perusak hal di bumi kemungkinan besar tidak akan menjadi ahli surga.

Allah tidak pernah ingin manusia sakit, Allah tidak pernah ingin manusia buruk, Allah tidak pernah ingin manusia rusak, dan Allah tidak pernah ingin manusia berakhir buruk sedari awal. Hal-hal buruk bisa jadi adalah hasil dari pilihan jalan oleh manusia sendiri yang tidak taat pada Allah. Sehingga membuat badannya menjadi rusak dan sakit. Di Al Qur’an disebutkan berkali-kali, bahwa apa yang dilakukan manusia akan kembali kepada dirinya sendiri… yaitu kejadian buruk karena pilihan yang kurang baik. Karena ketidaktaatan. Dalam Al Qur’an disebutkan, bahwa ujian diberikan pada orang yang beriman, dimana beriman adalah yakin Allah sebagai Tuhannya dengan menjadikan ridho Allah adalah alasan pertama dari setiap perilaku. Sedangkan bagi orang-orang yang kurang iman maka hal buruk adalah akibat dari pilihan manusia di kejadian sebelumnya… bayaran dari setiap perbuatan. Bayaran dari setiap perbuatan dalam proses tobat, akan mampu menghapuskan daftar hukuman dosa yang pernah kita lakukan jika Allah berkenan. Maka jangan pernah menyalahkan ini adalah takdir Allah… padahal itu adalah akibat dari pilihan kita sebelumnya…. takdir Allah berlaku ketika kita sudah benar-benar berusaha yang terbaik untuk ridho Allah.

Maka dari itu, manusia tidak dapat membuat kejadian, tugas manusia hanya memilih jalan yang baik. Allah membuat lauh mahfuzh sudah disesuaikan dengan kemampuan manusia, maka hal ini sesuai dengan janji Allah bahwa semuanya tak mungkin diluar kemampuan manusia. Maka jika di dalam lauh mahfuzh tidak ada tertera menjadi pengusaha, maka tidak akan pernah bisa jadi pengusaha. Makna Allah mengubah nasib suatu kaum jika kaum itu mau berusaha adalah dengan cara menunjukkan jalan yang baik di mata Allah dari lauh mahfuzh. Maka semua yang terjadi ada dibawah kendali Allah, semua kemungkinan kejadian.

 

Fitrah (kemampuan dasar) Manusia

Manusia dilahirkan secara fitrah adalah mengenal Tuhannya, oleh karena itu bayi lahir dalam kondisi berserah diri, tanpa kemampuan apapun. Fitrah manusia adalah baik, namun banyak hal pendidikan di masa kecil akan membuatnya tetap lurus atau menyimpang dari fitrah itu. Ini adalah makna dari salah satu hadist yang menyebutkan bahwa:

Setiap anak terlahir fitrah, orang tuanyalah yang membuatnya menjadi beragama nasrani, yahudi, dan majusi.

Maka apa yang terjadi saat masa pendidikan inilah yang membuat manusia menyimpang dari fitrahnya. Maka dari itu, sebenarnya Islam sangat mengutamakan pendidikan anak di dalam keluarga tentang Islam. Setiap manusia memiliki sifat fitrah, dan manusia dikatakan melampaui batas jika manusia melawan fitrah itu. Allah berfirman dalam banyak ayat tentang manusia-manusia yang disebut melampaui batas, batas yang dimaksud disini adalah batas fitrah. Karena jika manusia melampaui batas, maka itu akan merusak dirinya sendiri. Contoh, manusia tidak pernah diberi keahlian untuk mengendalikan hati/respon orang lain, namun manusia sering menjadi marah ketika respon orang lain tidak seperti yang diinginkan… ini salah satu contoh melampaui batas, karena tidak ada kemampuan dasar mengendalikan hati/respon orang lain, marah akan merusak jiwa dan tubuh manusia itu sendiri, terlalu banyak marah akan merusak tubuh dan membuatnya sakit. Maka fitrah manusia adalah berharap hanya pada Allah semata, muamalah (berurusan dengan manusia) dilakukan dengan baik adalah bagian dari bentuk ketaatan kita kepada Allah. Manusia akan menjadi stres dan rusak ketika melampaui batas fitrah… terutama jika mengambil hak Allah, mengambil hak Allah adalah salah satu hal yang menyatakan bahwa manusia ingin menjadi Tuhan, dan ketidaktaatan pada Allah adalah salah satu bentuk bahwa manusia merasa lebih pandai dari Allah…

 

Hak Allah sebagai Tuhan

Di dalam Al Qur’an disebutkan, bahwa hak Allah adalah:

  • Pembagian rejeki pada manusia
  • Masa depan
  • Jodoh
  • Kelahiran
  • Kematian
  • Hasil kejadian dari yang diusahakan manusia
  • Penilaian terhadap dosa dan pahala
  • Menghujamkan iman/hidayah

Tugas manusia adalah:

  • Taat pada Allah
  • Sabar (terus berikhtiar yang terbaik yang diketahui untuk ridho Allah, tanpa memikirkan hasilnya)
  • Syukur
  • Ikhtiar
  • Mencari ridho Allah
  • Berdoa untuk ridho Allah, bukan untuk mengatur Allah dengan apa yang kita inginkan, Allah sudah sangat pandai, tidak perlu kita mengaturNya.
  • Berprasangkan baik kepada Allah, bahwa semua pendidikan di dunia adalah untuk hikmah (ilmu dan kebijaksanaan)
  • Mencari setiap hikmah dari setiap kejadian

 

Status FB Darwis Tere Liye

Status FB Darwis Tere Liye

 

Maka tidak perlulah kita sebagai manusia menjadi iri akan rejeki orang lain, karena Allah yang Maha Pandai sudah mengaturnya dengan baik, tidak perlulah kita khawatir dengan masa depan, karena jika kita taat dan sabar, Allah sudah janji di dalam Al Qur’an akan selalu bersama manusia, maka akan selalu diberi yang terbaik. Tidak perlu manusia mengambil bagian pada hak Allah, karena Allah jauh lebih pandai dari manusia. Tidak perlu melampaui batas.

 

Untuk Apa Manusia Hidup

Manusia hidup, adalah untuk taat pada Allah, karena hanya dengan taat, beriman kepada Allah lah manusia menjadi jiwa yang tenang, jiwa-jiwa yang tidak melampaui batas. Inilah makna dari salah satu ayat Al Qur’an:

Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.

Taat pada Allah terdiri dari taat secara fisik dan taat secara hati. Dimana ketaatan fisik akan mengakibatkan kesehatan fisik, dan taat secara hati akan menyehatkan jiwa, jauh dari penyakit hati, sehingga menjadi jiwa-jiwa manusia yang tenang, ahli surga. Setiap manusia memiliki skenario hidupnya dalam lauh mahfuzh, dan manusia yang berhasil adalah manusia yang mampu mengambil hikmah dari setiap kejadian, sehingga memahami apa misi hidupnya yang diinginkan Allah dari hambaNya.

Istiqomah itu proses, perlu waktu, pelan-pelan, sedikit demi sedikit. Tobat adalah mekanisme dari terhujamnya iman sedikit demi sedikit yang diawali dengan hidayah, dan hidayah adalah hak Allah…. dan orang yang sudah terlalu banyak dosa maka qolbunya sebagai jendela dengan Allah telah tertutupi iblis, maka bukan dengan menghakimi, namun membimbing… dengan kebaikan, agar dapat kembali menemukan jalan masuknya iman ke dalam qolbu sehingga Allah berkenan memberinya hidayah, dan kembali ke jalanNya.

 

Sekian apa yang ingin saya bagi, semoga ada manfaatnya. Aamiin YRA.

 

Sumber:

  • Al Qur’an dan tafsirnya
  • Guru-guru saya
  • Buku-buku yang ada dikamar saya 😀
  • Pengalaman spiritual saya

P1090589

 

Iklan