Membedakan Niat Memberi dan Niat Meminta…

Bismillah…

Kepikiran nulis karena beberapa hari ini adalah beberapa orang yang nanya lewat media sosial Facebook tentang beberapa permasalahan. Jadinya ingin membahas inti dari niat kita di dalam tulisan ini :D.

Ini dapat dijadikan dasar mengapa lebih dianjurkan untuk memberi dibanding meminta. Niat memberi adalah niat untuk memberikan sesuatu, mulai dari yang terlihat, sampai yang dirasakan… dan dalam niat memberi ya kita memberi saja, tanpa meminta balasan, tanpa target, dan tanpa beban… sesuatu yang sudah kita berikan tidak akan kita minta kembali bukan maka kita lupakan saja karena sesuatu yang sudah diberikan ya diberikan saja….

Niat meminta adalah ada beberapa hal yang terlibat, meminta berarti kita sedang butuh, kita sedang ada beban, atau kita sedang ada target untuk didapat….

Nah bagaimana cara mendeteksinya, misalnya

– kita memberikan maaf kita pada manusia lain namun kita masih berpikiran balasan agar orang yang dimaafkan berubah sesuai keingginan kita… maka sebenarnya kita sedang meminta… bukan memberi… kita meminta orang lain berubah untuk kita tukar dengan maaf kita :)… maka jika apa yang kita minta tidak kita dapat, kita akan kecewa…
– kita memberikan pengertian kita kepada orang lain, namun berharap orang lain juga mengerti kita, ini berarti kita tidak benar-benar dalam kondisi memberi 😀
– kita memberikan sesuatu ke orang lain berharap orang lain balik memberi, atau berterima kasih sebagai penghargaan… berarti disini ada niat meminta penghargaan :).

Dalam meminta… jika beban tidak dibantu diringankan atau apa yang diminta tidak didapat atau target tidak tercapai… maka kita akan menjadi kecewa atau sedih…

Berbeda dengan memberi… ketika kita memberi… maka apa yang sudah kita berikan tidak akan kita minta kembali… jadi ya diberikan saja, dilepaskan saja, tidak ada beban, tidak ada target… apapun hasil atau tanggapan dari apa yang kita beri… karena apa yang sudah kita berikan bukan lagi milik kita 🙂

Maka jika kita merasa memberikan sesuatu namun ada rasa kecewa atau sedih karena tanggapan atau hasil yang didapat… mungkin sebenarnya kita sedang tidak memberi… namun meminta… mulai dari meminta dihargai… meminta dianggap baik… meminta bla bla bla :D…

Niat memberi akan membawa kebahagiaan dan ketenangan jiwa…. sedangkan meminta dapat menimbulkan kekecewaan ataupun kesedihan jika yang diminta tidak didapat…

Maka dari itu dianjurkan untuk memberi dibandingkan meminta… karena memberi jauh lebih bermanfaat untuk jiwa kita :). Itulah kenapa orang yang suka memberi lebih bahagia dibanding orang yang suka meminta :).

Apakah tidak boleh meminta…. tentu saja boleh :D… namun kita sudah tahu bukan konsekuensi dari meminta :D… ya mesti ditanggung :D.. hehe

Banyak hal awalnya tidak mudah, namun sesuatu menjadi mudah karena terbiasa, maka biasakanlah 🙂 agar menjadi mudah.

Mari banyak memberi… mulai banyak memberi doa baik, banyak memberi prasangka baik, banyak memberi kasih… dan lain sebagainya :).

Semoga bermanfaat… jika ada benarnya itu dari Allah, jika ada salahnya itu dari saya karena keterbatasan ilmu saya.

Iklan

Berbuat Salah…

Bismillah…
Ingin berbagi tentang pengalaman saya dulu dan sekarang dari berbagai kesalahan yang saya lakukan :).

Manusia berbuat kesalahan biasanya karena:
1. sombong dimana sombong adalah ada sedikit saja rasa merendahkan orang lain, maka ilmu sebaik apapun tidak akan dapat diserap.. ya biasanya akhirnya jadi sotoy 😀 (sok tahu)
2. tidak memahami ilmunya namun sudah dihadapkan pada permasalahan yang akhirnya berbuat kesalahan untuk dijadikan pelajaran kedepan

Sebenarnya kesalahan itu dapat disyukuri sahabat. Karena berbuat kesalahan adalah sebuah fase dari bertobat. Tanpa berbuat kesalahan kita mungkin tidak akan masuk dalam fase tobat :). Fase dalam bertobat adalah:
1. Berbuat kesalahan
2. Sadar bahwa yang diperbuat adalah kesalahan
3. Tobat yang berarti tidak akan melakukannya lagi

ms6

Dari setiap proses di atas biasanya ada jeda waktu prosesnya… tidak langsung bim salabim :D. Waktu setiap orang tidak sama, ada yang sebentar, ada yang lama. Biasanya kalau sudah pada tahap fase 3 maka kita akan menjadi tertawa pada kesalahan kita karena sadar betapa tidak pahamnya kita, atau bahkan menangis karena penyesalan yang dalam, ini biasanya kalau kita melakukan dosa besar dan bertobat nasuhan (sungguh-sungguh). Kedua hal itu adalah indikasi awal kita sudah tahu itu salah…

Memang hal yang terbaik adalah belajar memahami ilmunya dan belajar dari pengalaman orang lain sehingga mencegah dari berbuat kesalahan. Namun terkadang ada manusia-manusia yang baru mengerti ketika sudah terjadi risikonya. Allah menciptakan kita semua berbeda untuk saling belajar bukan :). Dan terkadang manusia sedang tidak dalam kondisi terbaiknya :).

ms3

Ketika ada orang yang terjatuh dalam kesalahan datang kepada kita, maka hal yang baik adalah membersihkan niat kita untuk menuntunnya ke jalan yang lebih baik. Jika terbesit saja kita merendahkan dia atau bahkan memarahinya, maka yang terjadi… dia tidak dapat memasuki fase selanjutnya dalam pertobatan, kecuali Allah berkenan membolak-balikkan hatinya secara ekstrim… wallahu A’lam. Dari pengalaman saya dulu karena ketidakpahaman saya… yang terjadi biasanya adalah marah atau menyalahkan… jadi orang sudah merasa salah malah dimarahi atau disalahkan… keduanya benar-benar bukan tuntunan Islam sahabat :). Islam itu lembut namun tegas. Marah dan menyalahkan bukan hal lembut bukan? :). Tegas disini jika kita tahu aturan mainnya dan diajak melanggar aturan main Islam… maka harus dengan tegas menolak. Tegas bukan berarti keras, bahkan menolak pun tuntunannya baik-baik :). Allah menegur orang-orang kafir di dalam Al Qur’an pun bahasanya santun. Jadi jika bahasa kita tidak santun… tuntunan manakah yang kita acu? :D.

ms4

Memang ada orang yang akan menyalahkan atau bahkan menghina kita yang berbuat salah, namun semua perbuatan akan kembali pada yang melakukan (banyak ayat di Al Qur’an yang membahas ini). Orang yang menghina sedang membuat “hutang” perbuatannya sendiri, tidak perlu kita ikut membuat “hutang” bersamanya dengan menjadi marah :). Kasihanilah orang-orang yang sedang membuat “hutang”, karena hutang harus dibayar suatu hari nanti, entah di akhirat ataupun di dunia, dan diskonnya hanya satu yaitu ampunan Allah. Maka jangan patah semangat mencari diskon :D. Yuk yuk mari berburu diskon :D.

ms5

Kita bukan ahli penghitung dosa atau pahala orang lain bukan, kita juga bukan ahli untuk mengazab orang lain, sudah ada Allah, maka tidak perlu kita sotoy menjustifikasi orang lain ini itu. Dalam menciptakan manusia, pasti ada kelebihan yang diberikan Allah… kalau tidak percaya itu biasanya karena 2 hal, kita tidak mampu melihat kelebihan orang lain, atau kita tidak menghargai Allah yang menciptakan manusia.. (berani? saya tidak berani hehe :D..).. maka jika ada dari kita menghina secara fisik orang lain sebenarnya kita sedang menghina Zat yang menciptakannya 😀 (berani? saya tidak berani hehe :D…segera istigfar jika keceplosan). Dalam sebuah ayat di dalam Al Qur’an disebutkan bahwa kita tidak diijinkan mengolok-olok orang lain karena bisa jadi orang yang kita olok-olok itu lebih baik dari kita.

ms9

Di dalam Islam tidak ada satu orangpun yang diberi hak mutlak dan benar untuk menjustifikasi, karena kebenaran hanya milik Allah. Yang ada adalah berusaha menjadi benar… maka Islam adalah agama yang mengajak umatnya berpikir. Misalkan jika doa semua orang terzalimi itu dikabulkan semua… maka doa yang jelek-jelek akan dikabulkan juga :D… tentu saja ada pertimbangan Allah untuk mengabulkan dan tidak… kita tidak berhak sotoy bukan hehe :D. Atau misalnya jika doa semua orang tua dikabulkan, maka Nabi Ibrahim bisa jadi anak durhaka :D, tentu ada pertimbangan Allah bukan :D.

ms7

Bahkan seorang suami pun haknya tidak mutlak, ada pertimbangan Allah. Maka sebenarnya tidak ada satu manusiapun yang berhak sombong atas manusia yang lain, atau berhak menghina atas manusia yang lain… karena bahkan kita tidak memiliki hak mutlak :). Jika memahami Al Qur’an maka kita tidak akan menjadi sombong, menghina, atau memaksa. Tidak ada hak mutlak satu manusiapun di dunia ini untuk membuat sebuah justifikasi. Yang ada bukan memaksa tapi hidayah atau petunjuk. Maka jika kita menasihati orang lain, niatnya bukanlah memaksakan, namun mendoakan agar mendapatkan hidayah. Tidak perlu marah jika orang lain menolak nasihat kita, cukup doakanlah dia mendapat hidayah, kasihanilah dia.

Tidak mengapa kita berbuat dosa di depan, atau kita berbuat dosa di tengah, yang terpenting adalah akhirnya baik (khusnul khotimah). Namun tetap harus diingat bahwa kita tidak tahu usia kita sampai dimana :).

Masak Allah yang kita yakini sebagai Tuhan bohong? maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak percaya terhadap janji-janji Allah di dalam Al Qur’an…

Berikut adalah kisah-kisah Rasul dan Wanita-wanita terbaik di dalam Al Qur’an yang sebenarnya tidak sempurna di mata kita, namun Allah menganggapnya baik (Allah menceritakan kisah-kisah di dalam Al Qur’an agar manusia belajar, bahwa manusia itu tidak sempurna, namun berusaha untuk baik. Dan Allah tidak menuntut kesempurnaan manusia):

1. Nabi Nuh
Nabi Nuh ini adalah Nabi yang sangat sabar, selama 950 tahun, Beliau hanya mendapat pengikut yang sangat sedikit (hanya sebanyak kurang dari muatan 1 kapal). Kenapa Allah tidak bim salabim aja semua hati dijadikan baik, kan Allah mampu… karena Allah ingin mengajari kita makna bersabar untuk surgaNya… Nabi Nuh kurang berhasil mendidik anaknya yang mengikuti kaum kafir… Beliau tidak sempurna bukan :).

2. Nabi Ibrahim
Nabi Ibrahim adalah sosok anak yang baik. Ayahnya seorang penyembah berhala. Namun Nabi Ibrahim tetap berkata lembut pada ayahnya dan mendoakannya untuk mendapat hidayah, walau Allah sudah mengatakan kepada Ibrahim bahwa doanya mungkin akan sia-sia. Kita dapat melihat disini, sama sekali tidak ada pemaksaan dalam nasihat, dan nasihat bisa berasal dari siapa saja, termasuk anak kita sendiri. Nabi Ibrahim juga pernah berbohong 3 kali dalam hidupnya. Beliau tidak sempurna bukan :).

3. Nabi Luth
Nabi Luth dikisahkan dihadapkan pada umat yang memiliki kelainan orientasi seks. Bahkan Beliau dihadapkan dengan istri yang juga memiliki kelainan orientasi itu. Beliau kurang berhasil mendidik istrinya bahkan sampai Allah mengazab umat Nabi Luth. Beliau tidak sempurna bukan :).

4. Nabi Sulaiman
Tahukan sahabat, bahwa Nabi Sulaiman pernah ditegur Allah dengan sakit karena melupakan ibadah dan terlalu asik dengan kudanya yang sangat Beliau sukai. Karena teguran itu, Nabi Sulaiman meminta Allah untuk mengambil saja kudanya, karena kuda itu membuatnya lupa. Beliau tidak sempurna bukan :).

5. Kisah Nabi Yunus
Setelah membaca Al Qur’an saya jadi tahu bahwa seorang Nabi Yunus adalah Nabi yang melarikan diri dari tanggung jawab pada awalnya :). Allah sudah mengatakan kepada Nabi Yunus bahwa dirinya adalah rasul dan wajib berdakwah kepada kaumnya. Namun di tengah dakwahnya itu, banyak sekali hinaan dan hujatan, bahkan ancaman. Hal ini membuat Nabi Yunus memutuskan untuk melarikan diri. Maka pergilah Beliau dari kaumnya dengan menggunakan kapal. Allah memasukkan kapal dalam badai itu hingga Nabi Yunus akhirnya masuk ke laut dan ditelan oleh ikan besar dan berada di dalam perut ikan. Di dalam perut ikan inilah Nabi Yunus sakit, dan akhirnya sakitnya menjadi bertambah parah. Akhirnya hal ini menjadikan Nabi Yunus sadar dan bertobat benar-benar kepada Allah untuk kembali berdakwah kepada kaumnya. Ketika Allah tahu bahwa Nabi Yunus bertobat dengan benar-benar. Maka Allah mengeluarkan Nabi Yunus dari perut ikan dan mengembalikannya ke kaumnya. Hal ini sesuai dengan salah satu ayat Al Qur’an (saya lupa tepatnya :D, maaf) namun maknanya adalah sesungguhnya kesenangan dari melarikan diri dari tanggung jawab itu hanya sesaat saja. Maka tidak ada alasan sebenarnya bagi kita untuk melarikan diri dari tanggung jawab. Nabi Yunus bukan orang yang sempurna bukan :).

6. Kisah Nabi Musa
Nabi Musa ini adalah seorang Nabi yang sangat cerdas. Karena kecerdasannya Beliau mencari Tuhannya karena begitu banyak pertanyaan di kepalanya untuk mencari siapa sebenarnya pencipta alam semesta 😀 (jadi kalau banyak pertanyaan tentang ketuhanan, biasanya kita adalah orang yang cerdas, teruslah mencari Allah). Dalam perjalanan hidup Nabi Musa dalam mencari Allah, Nabi Musa pernah membunuh orang, Beliau marah dan memukul orang, sehingga orang itu meninggal. Banyak hal menjadikan Nabi Musa dituntun Allah untuk belajar kesabaran bersama Nabi Khaidir. Di dalam pembelajaran Nabi Musa pada Nabi Khaidir, Nabi Musa diajarkan untuk tidak bertanya terlebih dahulu dengan apa yang dilakukan Nabi Khaidir sampai Nabi Khaidir sendiri menjelaskan hikmahnya. Namun Nabi Musa yang sangat cerdas memang hobi bertanya :D, sampai ada ayat dalam Al Qur’an, kalau tidak salah surat Al Kahf ayat 68, yang menyatakan bahwa kita tidak akan bisa sabar pada sesuatu jika kita tidak mengetahui maksudnya. Benar bukan maksud ayat ini :D…Manusia cenderung susah bersabar… padahal Allah sering memberikan hikmah dari apapun itu di belakang :D. Coba jika penasaran bisa dicari di situs lain kisah Nabi Musa ini, kalau saya ceritakan disini khawatir pembaca bosan membaca tulisan saya :D. Nabi Musa juga pernah ingin melihat Allah karena lelahnya dirinya diprotes umatnya setelah menyeberang laut merah. Namun langsung pingsan begitu diperlihatkan salah satu kebesaran Allah. Beliau tidak sempurna bukan :).

7. Kisah Nabi Yusuf
Nabi Yusuf pernah punya niat berzina dengan Zulaikha yang menggodanya, namun segera ditegur oleh Allah. Sebenarnya Allah sering menegur hamba-hambaNya yang disayangiNya, cuman seringnya kita tidak ngerti juga teguranNya :D, kalau Nabi Yusuf ditegur dikit langsung ngerti :D. Makanya peristiwa itu bisa dihindari Nabi Yusuf. Beliau tidak sempurna bukan :).

8. Kisah Nabi Muhammad
Nabi Muhammad beberapa kali ditegur Allah dengan turunnya ayat Al Qur’an karena salah mengambil keputusan. Beliau tidak sempurna bukan :).

9. Kisah Khadijah
Bunda Khadijah itu menikah 3 kali. Bercerai dengan suami pertamanya karena suaminya meninggal dunia, bercerai dengan suami keduanya, dan baru menikah dengan Nabi Muhammad. Beliau tidak sempurna bukan :).

10. Kisah Maryam
Dalam surat Maryam ayat 23 dikisahkan keputusasaan Maryam yang sedang mengandung Nabi Isa yang akan melahirkan di bawah pohon kurma….Maryam mengatakan bahwa dirinya lebih baik mati saja dan dilupakan, karena beban berat dirinya yang hamil tanpa suami. Bahkan seorang Maryam pun dapat berputus asa. Beliau tidak sempurna bukan :).

Satu lagi kisah pertobatan yang luar biasa dari sahabat Nabi Muhammad, yaitu Umar bin Khatab dimana Umar pernah beberapa kali ingin membunuh Nabi Muhammad, dan Umar juga pernah membunuh anak perempuannya yang masih bayi dengan menguburnya hidup-hidup. Namun Umar bisa menjadi salah satu sahabat terbaik Nabi Muhammad karena hidayah Allah (bukan paksaan). Allah saja menerima ketidaksempurnaan manusia, lalu kenapa kita tidak mampu menerima ketidaksempurnaan. Karena Allah tahu manusia tidak sempurna. Dan manusia dapat berubah dengan hidayah Allah. Namun hidayah ini bisa jadi turun karena kehendak Allah atau kita sebagai manusia harus menjemput hidayahNya dengan usaha.

ms8

Banyak ayat di Al Qur’an yang membahas tentang kelapangan Allah menerima tobat manusia, dimana tobat artinya sadar dan tidak melakukan perbuatan salah yang sama. Jika masih dilakukan maka sebenarnya kita belum benar-benar sadar bahwa itu salah (jadi sebenarnya kalau kita masih bilang “aku tahu itu salah, tapi…” itu berarti belum sadar :D, karena kalau sudah sadar tidak pake “tapi”). Harus terus berusaha untuk mencari hidayah (petunjuk) Allah. Allah mengampuni semua dosa kecuali syirik 🙂 (kalau tidak salah ini ada di surat An Nisa).

Untuk semua orang yang pernah saya berbuat salah karena kesombongan dan ketidakpahaman saya, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Terutama untuk orang yang saat ini kutitipkan kepada Allah untuk dijaga dan dilindungi. Aamiin.

Sama Allah itu bebas saja, bisa curhat, bisa minta banyak, bisa nangis gak jelas, bisa titip salam :D, bisa titip kangen dan rindu, karena Allah pemilik hati semua manusia, pasti bisa menyampaikan ke orang yang kita kasihi. Namun yang tidak boleh kita lakukan adalah… sesuatu yang tidak sopan dan dosa, seperti marah pada Allah, berprasangka buruk pada Allah… namun tetap ingatlah :D… jika sudah terlanjur, Allah itu maha pengampun semua dosa kecuali syirik :D… syirik pun kalau misalnya Allah mau mengampuni ya diampuni :D. Kan suka-suka Allah.

Mungkin ada yang tertarik membaca tulisan saya sebelumnya tentang memaafkan => https://hariiniadalahhadiah.wordpress.com/2014/07/13/forgiving-is-the-cure-for-our-soul/ bisa jadi pengobat juga untuk kesalahan yang kita lakukan ataupun kesalahan yang dilakukan orang lain.

Bahkan misalnya kita di tipu dengan barang yang kita beli… berusahalah untuk ikhlas, karena siapa tahu dengan keikhlasan uang yang dimakan penipu itu mengandung kehalalan dan mengalir di dalam darahnya untuk mendorongnya ke arah kebaikan Insya Allah. Jika penipu itu bertobat maka akan semakin banyak manfaat dari sisa hidup penipu itu.

Inilah sharing sekelumit pemikiran dan pengalaman saya yang terus mencari Allah. Jika ada salahnya itu dari saya, jika ada benarnya dan manfaatnya itu dari Allah.

Ketenangan Jiwa

Bismillah…

Saya pernah dalam fase kebingungan apa itu kebahagiaan. Dan akhirnya sebagai manusia yang belum memahami kita akan mencoba beberapa hal. Biasanya kebahagiaan akan diidentifikasikan dengan memiliki uang, sehingga jika kita jenuh kita bisa mencari hiburan. Hiburan berupa makan di restoran atau berekreasi. Semakin kita sibuk dengan pekerjaan untuk mencari uang, maka akan semakin sering kita makan di restoran ataupun berekreasi, bahkan tidak sayang untuk berekreasi di tempat mahal sekalipun. Namun dari pengalaman itu, akhirnya saya bosan, dan ternyata dengan “wasting money” ke tempat makan atau rekreasi sering tidak memberikan ketenangan jiwa. Itu karena saya tidak memahami apa itu ketenangan jiwa :).

ms2

Lalu ada beberapa hal yang sering membuat manusia merasa kurang bersyukur di dalam hidupnya, diantaranya:

1. Ketakutan
Sering manusia sebenarnya ketakutan dengan pikirannya sendiri. Ini terjadi biasanya karena ada trauma. Dan sebenarnya sering pula pikiran-pikiran itu terjadi karena tanpa sadar, pikiran itulah yang membawa kita berperilaku seperti pikiran kita. Atau sering pula pikiran itu tidak terjadi. Misalnya pikiran yang terjadi adalah kita berpikir melakukan sesuatu sangat sulit dan tidak akan bisa kita lakukan…. maka kita menjadi enggan melakukannya… maka pikiran itu membawa kita ke arah yang membuatnya terjadi. Pikiran yang sering tidak terjadi adalah “kemampuan meramal” kita untuk apa yang terjadi di masa depan. Padahal kita tahu bahwa Allah lah yang mengijinkan segala hal terjadi di dunia ini untuk kebaikan kita. Yang perlu kita lakukan adalah melakukan hal yang terbaik dan berpikir positif. Sabar… sholat… biarkan Allah memberikan hasilnya untuk kita… satu lagi disini manfaat dari penerimaan :).

silent

2. Berpikir negatif
Bersyukur adalah perbuatan positif, dan logikanya kita tidak dapat melakukan perbuatan positif jika pikiran kita negatif :). Maka mari belajar untuk melihat sisi baik sedikit demi sedikit akan membuat kita belajar bersyukur sedikit demi sedikit :). Allah menyukai perbuatan baik yang sedikit namun berkelanjutan dan dilakukan terus menerus dibandingkan perbuatan besar namun hanya sekali. Semua akan menjadi mudah jika kita terbiasa :).

ibnu

3. Ketidakterimaan akan hasil yang diberikan dan diijinkan Allah
Manusia sering membuat targetnya sendiri. Dan ketika target ini tidak tercapai, maka sering ada ketidakterimaan di dalam jiwanya akan hasil yang didapat. Inilah yang disebut stres atau jika berkepanjangan menyebabkan depresi… stres dan depresi adalah hal negatif… merusak jiwa kita, dan jika jiwa kita kurang baik maka juga akan merusak fisik kita. Hal ini karena kurangnya keyakinan bahwa Allah mengijinkan semuanya terjadi, dan itu pasti untuk kebaikan kita. Ilmu Allah sangat luas… walau jelek di mata manusia, bisa jadi kita baru tahu hikmahnya di masa mendatang. Jika sedih dan merasa tidak terima, sebaiknya tidak marah, karena marah membuat perilaku dan lisan kita tidak terkendali dan bisa jadi dosa. Lebih baik menangis dan mengadu kepada Allah :). Allah tidak akan marah walau ingus kita mengalir di sajadah :D.

a

4. Berpikir tentang kepentingan diri sendiri
Mungkin kita sering berpikir, kenapa orang lain begini, kenapa orang lain begitu. Tanpa sadar kita berpikir bahwa kenapa orang lain tidak memberiku ini dan itu…. maka sebenarnya kita sedang meminta-minta :). Bagaimana jika kita yang memberi terlebih dahulu… jangan lupa niatnya dibersihkan benar-benar, agar apa yang kita berikan memang baik. Jika niat kita kurang bersih maka buntutnya akan terjadi hal nomor 3 di atas dan nomor 4 dibawah :D.

5. Menyalahkan orang lain atas semua yang terjadi
Semua yang terjadi di dunia ini adalah atas ijin Allah, tidak ada satupun yang terjadi tanpa ijin Allah. Dan semuanya adalah demi kebaikan kita. Jika tidak terima silakan protes pada Allah sebagai atasan yang bertanggung jawab memberi ijin :)… berani? (saya tidak berani hehe :D)… maka menyalahkan orang lain adalah ketidakmampuan diri untuk introspeksi dan ketidakberanian diri menyalahkan Allah :)… berani? (saya tidak berani hehe :D)

c

Di dalam ayat-ayat Al Qur’an banyak sekali ayat yang membahas bahwa semua yang kita lakukan akan kembali kepada diri kita sendiri (salah satunya adalah “kalau kamu berbuat baik, sebetulnya kamu berbuat baik untuk dirimu. Dan jika kamu berbuat buruk, berarti kamu telah berbuat buruk atas dirimu pula.”(surat Al Isra’:7)). Maka selalu ada risiko dari setiap perbuatan. Maka apa yang terjadi adalah untuk kebaikan kita, karena Allah sayang pada kita dan Allah ingin kita belajar untuk lebih baik.

ms1
Ketenangan jiwa kita bisa kita dapatkan dengan mengingat Allah. Tidak apa-apa jika merasa belum dapat feel-nya. Pelan-pelan, sedikit demi sedikit. Jika terus kita lakukan kita akan mengerti :). Kemudian suatu hari kita akan menemukan bahwa membuat diri berbahagia bukan dari “wasting money” untuk kesenangan dunia (ya sekali-sekali boleh, namun tidak sering-sering :)…bedanya ada pada fokus dan prioritasnya, yang tidak diperbolehkan itu adalah kikir, dimana sebenarnya kita memiliki namun kita tidak mau karena alasan takut akan miskin, padahal kita dalam kondisi lapang), kebahagiaan akan lebih banyak kita dapat dari sedekah yang ikhlas :). Sedekah tidak hanya dalam bentuk harta, bahkan urutan dari sedekah sebenarnya adalah:
1. Ilmu
2. Waktu
3. Harta

Sedekah yang lebih utama pun sebenarnya bukan pada jumlahnya, tapi berapa persen dari kelapangan kita. Ada sebuah hadist yang menyatakan bahwa sedekah 1 dirham lebih utama dibanding sedekah 1 juta dirham karena yang menyedekahkan 1 dirham itu memiliki harta 2 dirham… sedangkan yang bersedekah 1 juta dirham memiliki harta yang jauh lebih lapang. Maka keutamaan sedekah bukan pada jumlahnya, namun pada keikhlasan dan keyakinan kita terhadap janji-janji Allah terhadap sedekah itu sendiri. Allah yang kita sembah maha kaya bukan, karena Allah lah pemberi rejeki :).

s

Berikut keutamaan sedekah berdasarkan janji-janji Allah (Allah gak mungkin memberi harapan palsu bukan :)..):

(Sumber: Dari Status Pak Teddy Lesmana (Salah satu penggerak GSB (Gerakan Sedekah Bebarengan)))
1. SEDEKAH DAPAT MENGHAPUSKAN KESALAHAN DAN MEREDAKAN MURKA ALLAH.
Rasulullah Saw bersabda: “Sedekah meredakan kemarahan Allah dan menangkal (mengurangi) kepedihan sakaratul maut.” (dalam buku Fiqh Sunnah karangan Sayyid Sabiq).

2. SEDEKAH MEMBUKA PINTU REZEKI.
Rasulullah Saw bersabda ”Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sedekah.” (HR Al-Baihaqi). Dalam salah satu hadits Qudsi, Allah berfirman: ”Hai anak Adam, infaklah (nafkahkanlah hartamu), niscaya Aku memberikan nafkah kepadamu. “(HR Muslim).

3. SEDEKAH MELIPATGANDAKAN REZEKI.
Sedekah tidak saja membuka pintu rezeki/ tetapi juga melipatgandakan rezeki yang ada pada kita. “Perumpamaan nafkah yang dikeluarkan oleh orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir, seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah 2:261).

4. SEDEKAH MENJAUHKAN DIRI DARI API NERAKA
Rasulullah Saw bersabda: “Jauhkan dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan (sedekah) sebutir
kurma.” ( Mutafaq’alaih).

5. PELAKU SEDEKAH BERADA DALAM NAUNGAN SEDEKAHNYA PADA HARI KIAMAT.
Rasulullah bersabda: “Naungan bagi seorang mukmin pada hari kiamat adalah sedekahnya” (HR Ahmad).

6. AMALAN SEDEKAH ADALAH PENAWAR UNTUK BERBAGAI JENIS PENYAKIT JASMANI
Sebagaimana sabda Nabi: ”Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bersedekah dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana.” (HR Ath-Thabrani).

7. AMALAN SEDEKAH ADALAH PENAWAR BERBAGAI JENIS PENYAKIT HATI
Sebagaimana sabda Nabi kepada orang yang mengeluhkan kekerasaan hatinya kepada beliau: ”Jika kamu hendak melembutkan hatimu, maka berilah makan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim.”(HR Ahmad).
Rasulullah Saw juga pernah bersabda bahwa sedekah dari seorang Muslim meningkatkan (hartanya) di masa kehidupannya, meringankan kepedihan saat mautnya, dan Allah hilangkan perasaan sombong dan egois dari dirinya. (Fiqhus-Sunnah vol. 3, hal 97).

8. ALLAH MENOLAK BERBAGAI MACAM MUSIBAH DENGAN SEDEKAH.
Sedekah menolak berbagai bentuk musibah bagi siapapun, sekalipun mereka dari golongan orang zhalim, bahkan kafir sekalipun. Rasulullah Saw bersabda, “Sedekah dapat menyelamatkan manusia dari kematian yang buruk.” (Al-Wasail 6: 267, hadis ke 4).

9. SEORANG HAMBA BARU BISA SAMPAI PADA HAKIKAT KEBAJIKAN SEJATI MELALUI AMALAN SEDEKAH ,
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. 3:92).

l0. SEORANG YANG BERSEDEKAH DIDOAKAN OLEH MALAIKAT SETIAP HARI.
Nabi Saw bersabda: “Tidak ada hari yang disambut oleh para hamba melainkan di sana ada dua malaikat yang turun, salah satunya berkata, “Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang-orang yang berinfaq” sedangkan (malaikat) yang lainnya berkata, “Ya Allah, berikanlah kehancuran kepada orang-orang yang menahan (hartanya),”(HR Bukhari-Muslim).

11. PELAKU SEDEKAH DIKARUNIAKAN KEBERKAHAN BAGINYA DAN HARTANYA.
Allah melapangkan dan menyempitkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya (QS Saba 34: 39). Dan jika disedekahkan, maka tidak berkurang karena Allah akan menggantinya.

12. TIDAK ADA HARTA YANG TERSISA BAGI PEMILIK HARTA MELAINKAN APA YANG TELAH DISEDEKAHKANNYA.
Sebagaimana dalam firman-Nya: “…Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. (QS.3 :92).

13. ALLAH MELIPATGANDAKAN GANJARAN BAGI ORANG YANG BERSEDEKAH,
sebagaimana firman-Nya: Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipatgandakan (pembayarannya) kepada mereka: dan bagi mereka pahala yang banyak. (QS 57:18).

14. PENGAMAL SEDEKAH AKAN DIPANGGIL DARI ARAH PINTU KHUSUS DARI PINTU-PINTU SURGA,
“Wahai hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan”. Jika ia berasal dari golongan orang-orang yang suka mendirikan shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat, yang berasal dari kalangan mujahid, maka akan dipanggil dari pintu jihad, jika ia berasal dari golongan yang gemar bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.” (HR Bukhari).

15. PADA AMALAN SEDEKAH TERDAPAT DI DALAMNYA KELAPANGAN DADA, KENYAMANAN DAN KETENANGAN HATI.
Setiap kali bersedekah, makin menguat kebahagiaan dan makin besar kesenangan. Allah Ta’ala berfirman: ”Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung (QS. 59: 9).

16. SEDEKAH DAPAT MENGHAPUS DOSA.
Pernyataan ini diperkuat dengan dalil hadist Rasulullah saw, “Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR Tirmidzi, dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi, 614).

17. KAYA YANG DISERTAI SEDEKAH BERADA DI TINGKATAN YANG SAMA DENGAN AL-QUR’AN YG DISERTAI PENGAMALANNYA.
Rasulullah bersabda: “Tidak boleh hasad (iri hati) kecuali (kepada) dua orang. (Yaitu) seorang yang diberikan Al-Qur’an oleh Allah, lalu ia mengamalkannya siang dan malam. Dan seorang yang dikaruniakan (kekayaan) harta oleh Allah, lalu ia menginfakkannya di (jalan) kebenaran siang & malam.”

18. SEORANG HAMBA DIANGGAP TELAH MENEPATI PERJANJIAN DENGAN ALLAH, PADA SAAT IA MENGORBANKAN JIWA DAN HARTANVA DI JALAN ALLAH.
Allah berfirman: Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang-mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surqa untuk mereka. Mereka berperanq pada ialan Alah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, lnjil dan Al Qur’an. Dan siapakah vanq lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jualbeli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangah yang besar.(QS 9:111).

19. SEDEKAH ADALAH PENSUCI BAGI HARTA DAN JIWA, MELEPASKAN DARI SIKAP SIKAP BURUK (AD-DAKHAN).
Nabi berwasiat kepada para pedagang: “Wahai para pedagang, sesungguhnya (pada) perdagangan ini terjadi kealphaan dan sumpah, maka campurilah dengan sedekah.”(HR. Ahmad). Allah berflrman: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka…” (QS At-Taubah:103).

20. SEDEKAH UNTUK JANDA DAN ORANG MISKIN DIIBARATKAN SEPERTI ORANG YG BERPUASA TERUS MENERUS.
Rasulullah bersabda, ”Orang yg mengusahakan bantuan (pertolongan) bagi janda dan orang miskin ibarat berjihad di jalan Allah dan ibarat orang shalat malam. Ia tidak merasa lelah & ia juga ibarat orang berpuasa yg tidak pernah berbuka.” (HR Bukhari)

Semua yang saya tulis ini berdasarkan pengalaman pribadi saya yang terus berusaha mencari Allah. Semoga pengalaman ini bermanfaat. Jika ada kesalahan itu berasal dari saya, jika ada kebenaran itu dari Allah.

Mengasihi karena Allah…

Bismillah…

Kemarin ada wejangan dari salah satu guru kehidupanku, yaitu neneknya anakku :D. Bahwa mengasihi manusia itu tidak berarti harus berinteraksi secara fisik, namun dapat dengan mempercayakan orang yang kita kasihi kepada Allah dengan kita selalu mendoakannya yang baik baik dan meminta kepada Allah untuk menjaganya… subhanallah… indah sekali bukan :).

Hal ini semakin mencerahkan sedikit ilmu yang saya ketahui sebelumnya tentang mengasihi sesama manusia karena Allah. Dimana mengasihi karena Allah itu tidak sebatas hanya secara fisik, namun mempercayakan perlindungan dan pejagaan orang yang kita kasih kepada Allah. Bagaimana caranya?… dengan selalu menyebutkan nama orang yang kita kasihi dalam doa-doa kita kepada Allah. Mempercayakan kepada Allah, bahwa Allah akan selalu memberikan yang terbaik untuk kita dan orang-orang yang kita kasihi.

Hal ini saya telusuri juga dengan bentuk kasih sayang yang kurang dipahami kaum remaja, termasuk saya waktu remaja dulu. Mengenai pacaran, jika kita pahami secara jiwa, maka sebenarnya pacaran dengan gaya anak sekarang itu lebih banyak mudaratnya dibanding manfaatnya. Kenapa saya tahu, karena saya juga pelaku pacaran :). Untungnya saya bukan pelaku pacaran yang banyak berganti-ganti. Maka saya mencoba memahami dari pengalaman dan apa yang saya pelajari bahwa apa yang disebut dengan mengasihi karena Allah adalah mempercayakan kepada Allah mengenai jodoh atau perlindungan atau penjagaan orang yang kita kasihi kepada Allah. Karena hak Allah akan takdirNya adalah 4 hal yaitu hidup, mati, rejeki, dan jodoh. Jika sudah menjadi takdirNya bahwa berjodoh maka kemanapun pergi… ya akan tetap berjodoh, tidak akan kemana-mana… namun jika bukan jodoh, sedekat apapun maka tidak akan berjodoh. Apakah bisa yakin kepada Allah seyakin itu… memang yakin kepada Allah bukanlah hal mudah, maka perlu adanya usaha berkelanjutan untuk membangun keyakinan itu. Percaya dan menerima keputusan Allah sebagai hal terbaik berdasar ilmu Allah hanya dapat dilakukan orang yang memiliki keyakinan kepada Allah. Jika masih ada ketakutan akan hasil dari Allah, maka disitulah sebenarnya keyakinan kita sedang tidak yakin dengan benar-benar. Tenang saja, keyakinan seperti halnya iman :D, naik turun… maka dari itu mesti secara berkelanjutan dijaga. Mari bersabar, membersihkan niat, dan tetap istiqomah :).

Perbuatan tidak baik yang tergolong dosa adalah sebuah hutang yang harus kita bayar. Pasti akan kita bayar, entah itu di dunia atau di akhirat. Diskonnya hanya satu, yaitu ampunan Allah. Diskon inilah yang membuat saya bersemangat untuk terus memperbaiki diri. Karena segala yang kita lakukan akan kembali kepada diri kita sendiri (banyak ayat Al Qur’an yang menerangkan ini). Jika kita benar-benar mengasihi orang lain karena Allah maka kita akan berusaha untuk tidak berbuat sesuatu yang membuat orang yang kita kasihi terdorong untuk berbuat dosa inilah bagian dari memberi :).

Semoga ada manfaat dari sekelumit pemikiran ini. Jika ada kesalahan itu dari saya dengan keterbatasan ilmu saya, dan jika ada manfaat dan kebenaran maka itu semua dari Allah.

Ketika Tidak Sesuai Harapan…

Bismillah….

Ada hal menarik tentang ilmu membersihkan niat yang akhir-akhir ini concern saya mencoba sedikit demi sedikit mempelajari dan menjalankan. Dari beberapa pengamatan saya ternyata hal yang kita terima sebenarnya akan sesuai sekali dengan niat kita yang sebenarnya dalam menjalani sesuatu. Hanya saja kita sering tidak sadar dengan niat kita itu. Maka ketika yang kita terima dari melakukan sesuatu tidak sesuai dengan niat yang kita pikirkan, maka sebaiknya kembali mengintrospeksi diri apa sebenarnya niat kita sebelumnya.

Misalkan, kita ingin menasehati orang lain, namun yang kita terima adalah “kesombongan” orang lain, maka coba kita periksa lagi, jangan-jangan yang kita lakukan adalah memaksa orang lain, bukan menasehati, karena menasehati itu kita hanya menyampaikan dengan hikmah, bukan memaksakan kehendak kita. Ketika terbesit saja niat kita memaksakan kehendak, maka bisa jadi orang lain juga akan melakukan hal yang sama. Karena Allah sangat tahu niat kita yang sebenarnya. Itulah kenapa segala perbuatan bergantung pada niatnya.

Ternyata Imam Al Gozali mencari ilmu dan mendalami ilmu membersihkan niat selama 11 tahun dengan mengasingkan diri dalam perenungan yang dalam (Sumber acara Khalifah Trans 7 hari Sabtu 16 Agustus 2014). Maka ilmu membersihkan niat ini memang sebenarnya adalah pencarian jati diri manusia dengan tujuan penciptaannya. Imam Al Gozali berusaha membersihkan niatnya selama itu untuk menemukan jati dirinya sebagai manusia dan memperbarui niatnya dalam menjalankan kehidupan. Imam Al Gozali adalah salah satu tokoh besar dalam ilmu tasawuf, ilmu yang mempelajari hakikat ibadah sebagai manusia. Bisa dilihat pada gambar berikut:

Ada 3 tahapan dalam mempelajari hakikat hidup:
1. Syari’ah
tahapan dimana kita menjalankan ibadah sesuai perintah namun belum memahami dalam jiwa kita maknanya, esensi, dan manfaat hakiki untuk diri kita, istilahnya ya asal sholat, ya gerakannya begitu dilakukan… tanpa memaknai secara jiwa makna dari sholat itu sendiri…
3. Haqiqah
dimana kita sudah sangat mengerti dan paham makna, esensi, dan manfaat dari segala ibadah kepada Allah di dalam jiwa kita
2. Thariqah
jembatan menimba ilmu dari syari’ah ke haqiqah (hakikatnya ibadah)

(nomor 2 dan 3 sengaja saya balik :), namun tingkatannya sesuai dengan nomornya) semakin tinggi tingkatan, semakin sedikit orang yang memahaminya, maka tidak perlu mencemooh… karena bisa jadi orang lain yang kita cemooh tingkatannya lebih tinggi pemahamannya dibanding kita…. dan orang yang semakin tinggi ilmu agamanya semakin tidak suka mencemooh :).

Maka jika banyak hal tidak sesuai dengan harapan kita… mungkin itu adalah cara Allah untuk menyadarkan kita agar kita membersihkan niat kita menuju hal yang baik dan memperbarui niat kita untuk hal yang baik.Wallahu A’lam… yang saya tahu, Allah sangat baik kepada hambaNya, semua akan baik-baik saja dengan kita mampu belajar bersabar, karena sebenarnya sabar itu tiada batas… jika sabar berbatas, maka sebenarnya kita sedang keluar dari sabar :).

Inti dari kehidupan manusia adalah penerimaan… penerimaan pada apa yang diberikan Rabnya dengan tetap berusaha hal yang terbaik ke arah kebaikan. Yang membuat manusia stres, depresi, atau berbuat tidak baik biasanya adalah karena ketidakterimaan dan ketidakpahaman… (dari pengalaman saya 😀 dan yang saya pelajari)

Semoga bermanfaat tulisan pemikiran ini. Jika ada kesalahan maka itu dari saya, jika ada kebenaran maka itu dari Allah.

Ilmu Kehidupan…

Ada beberapa hal yang saya pelajari dan cukup menarik bagi saya untuk mendamaikan jiwa saya. Bahwa sesungguhnya agama Islam adalah sebuah agama untuk mendamaikan jiwa kita. Islam adalah ajaran untuk jiwa kita sendiri. Untuk memahami agama itu sendiri diperlukan ilmu pengendalian jiwa kita sendiri yang bisa dipelajari sedikit demi sedikit secara kontinyu. Dan selalu saja akan butuh proses. Islam adalah agama yang mengajak kita berpikir tentang kebaikan. Ilmu yang harus dipelajari untuk mengendalikan jiwa kita agar menemukan kedamaian adalah:

1. Niat Baik
Apa itu niat baik, saya sudah pernah membahas disini https://hariiniadalahhadiah.wordpress.com/2014/06/05/niat-baik/. Dimana niat yang bersih dan baik akan tetap bersih dan baik walau hasil atau apapun yang diterima tidak sesuai dengan keinginan… disini ada peran penerimaan diri dimana hasil yang berhak ditentukan oleh Allah dan kewajiban kita adalah berusaha yang terbaik dengan niat baik. Niat yang bersih tidak akan menghasilkan apapun yang tidak baik seperti penyakit hati :).

2. Melihat Sisi Baik
Mungkin istilah kerennya adalah husnudzon atau berprasangka baik. Pengalaman saya menjadi manusia 😀 sering awalnya mikirnya gak baiknya dulu, atau terperangkap dengan apa yang namanya sombong… sombong adalah dikala kita sedikit saja merendahkan orang lain itu sudah masuk dalam kategori sombong… apalagi jika di atas itu. Beberapa contoh sombong adalah:
– merasa diri lebih pintar dibanding orang lain padahal setiap orang pasti memiliki kelebihan,  apakah Allah menciptakan sesuatu tanpa kelebihan satupun… tidak bukan 🙂
– merasa diri lebih benar dibanding orang lain sehingga merasa berhak marah dan menghina orang lain… padahal tugas manusia hanya berusaha yang terbaik dan kebenaran itu hanya milik Allah

Ketika terperangkap dalam kesombongan maka ilmu baik sebaik apapun tidak akan mampu kita terima.. dan merugilah kita (naudzubillah). Begitu besarnya kerugian yang diakibatkan kesombongan manusia… mulai dari marah, sakit hati, dendam, perbuatan jahat, dll… penyakit hati terjadi karena kita merasa berhak menjustifikasi orang lain lebih salah dibanding kita… padahal semua yang terjadi di dunia diijinkan Allah untuk kebaikan kita dengan ilmu Allah…  lagi lagi penerimaan diri sebagai manusia ciptaan Allah :D. Allah pasti menciptakan melebihkan orang yang satu dari yang lain, maka akan selalu ada kebaikan dari seorang manusia… jika kita merasa ingin marah dan tersakiti… maka cobalah melihat sisi baik dari orang lain itu… carilah, pasti ada… Dengan selalu melihat sisi baik maka kita akan selalu mampu benar-benar menghargai orang lain dan tidak melupakan banyak kebaikan hanya karena sebuah atau sedikit kesalahan… dan bisa jadi kita terperangkap pada kesombongan dimana Allah saja tidak menuntut kesempurnaan manusia, namun kita sebagai manusia menuntut orang lain sempurna, naudzubillah. Saya tahu awalnya mempelajari ini tidak akan mudah… saya sangat tahu itu 😀 perlu terus diniatkan karena akan selalu naik turun… namun itu bisa dipelajari :).

 

Dengan kedua ilmu itu cobalah membaca makna dan tafsir Al Qur’an ayat demi ayat… maka kita akan dapat memahami bahwa Islam adalah agama untuk kedamaian jiwa kita benar-benar agama yang penuh dengan rahmat Allah. Karena begitu besar kasih Allah kepada manusia. Kita akan banyak menemukan bahwa dalam Islam banyak kelembutan, bahkan Allah tidak menggunakan kalimat kasar untuk orang-orang kafir… maka sungguh tidak ada ajaran untuk menghina di dalam Islam. Bahkan kita akan banyak tahu bahwa banyak sekali kelapangan dalam Islam… kita boleh berdosa… dan hal terpenting adalah akhirnya baik… Subhanallah… begitu besar kasih Allah kepada manusia. Bahkan dalam turunnya ayat Al Qur’an pun bertahap… maka kita memperbaiki diri pun bertahap,  butuh waktu. Bayangkan jika Nabi Muhammad langsung disuruh belajar 30 jus dalam waktu seminggu… bisa jadi gemetar tubuhnya akan lebih dasyat dibanding setelah pulang dari mendapat wahyu yang pertama :D…. semua itu bertahap namun terus diniatkan secara kontinyu. Ilmu Allah begitu luas… sama luasnya dengan kasihnya kepada manusia…

Ada sebuah filosofi yang saya pelajari dari Al Qur’an. Dimana surat-surat di juz-juz awal Al Qur’an itu banyak berisi tentang aturan-aturan main dalam beribadah dan bermuamalah… surat-surat di juz-juz tengah itu banyak berisi bagaimana mengimplementasikan aturan-aturan itu dalam kehidupan dan lebih banyak aturan muamalah yang insidental… kemudian surat-surat di juz-juz akhir banyak berisi tentang pemantapan keyakinan kepada Allah dan kesimpulan dari isi Al Qur’an (terutama juz 30 yang banyak berisi surat-surat pendek). Dari sini yang dapat kita ambil adalah:

1. Tahap satu dari proses belajar adalah mengerti aturan mainnya, teorinya, ilmunya
2. Tahap kedua dari proses belajar adalah memahami bagaimana mengimplementasikannya, tahu teori atau ilmu tapi tidak dapat mengimplementasikannya berarti sebenarnya belum mengerti
3. Tahap ketiga dari proses belajar adalah dari ilmu dan implementasi tadi barulah kita dapat memahami dan menyimpulkan hikmahnya

Urutan proses di atas tidak dapat dibalik-balik, misalkan kombinasi berikut:
1. Langsung implementasi tanpa ilmu… implementasinya pasti kacau karena tidak tahu aturan mainnya, bayangkan kalau pemain bola tidak tahu aturan main dalam pertandingan bola
2. Punya ilmu saja langsung menyimpulkan tanpa tahu implementasinya… maka akan ada bagian yang kita menjadi sotoy (sok tahu :D)… dan bisa masuk kategori sombong (naudzubillah)
3. Apalagi kalau tidak tahu ilmunya, tidak tahu implementasinya langsung membuat kesimpulan… ini sudah sotoy yang melampaui batas :D….

Kemarin sempat mendengar ceramah dari Prof. Komaruddin Hidayat bahwa fitrah manusia yang mampu mendamaikan hatinya adalah hal-hal yang baik dan kebenaran… begitu keluar dari itu, maka jiwa kita akan menjadi kurang damai.

Allah menciptakan manusia dengan jiwa yang baik… maka jika jiwa kita mulai keluar dari kebaikan… itulah yang disebut melampaui batas… melampaui batas dari desain yang diberikan Allah. Manusia adalah makhluk dengan desain paling sempurna karena manusia memiliki kemampuan takwa hampir seperti malaikat namun dapat berbuat saleh secara mandiri… maka jika kita sebagai manusia belum berusaha ke arah desainnya itu maka kita belumlah dikatakan makhluk Allah yang paling sempurna, waallahu A’lam.

Semoga tulisan saya ini ada manfaatnya untuk mendamaikan jiwa-jiwa kita. Saya hanya ingin berbagi. Jika ada kebaikan dalam tulisan saya ini maka asalnya dari Allah, jika ada kesalahan maka itu karena keterbatasn ilmu saya :).