Al Qur’an Itu Tidak Saklek, Ada Telaah-Telaahnya

Bismillah…

Sebagai umat Islam, tentu kita tahu bahwa pegangan atau saya lebih suka menyebutnya manual hidup kita adalah Al Qur’an. Akhir-akhir ini saya banyak belajar tentang hidup dan banyak hal ilmu yang terkandung di dalamnya. Ternyata semakin banyak belajar memang benar-benar merasa semakin bodoh karena banyak sekali ilmu yang tidak kita ketahui… Subhanallah.

Dalam Al Qur’an kalimat-kalimatnya seringkali sangat singkat untuk menjelaskan pemahaman. Maka dari itu harus dipahami peristiwa yang mendasari turunnya setiap ayat dan hadist Nabi, dan sejarah bagaimana Nabi menjalankan Al Qur’an. Semua itu butuh ilmu sejarah kehidupan Nabi Muhammad, sahabat Nabi, dan para Ulama yang terkenal cerdas dalam menelaah Al Qur’an dan menjalankannya dalam kehidupan.

Maka dari itu semua… kita sangat sangat tidak dapat menelaah Al Qur’an hanya dari satu ayat, satu hadist, atau bahkan hanya potongan ayat Al Qur’an atau hanya potongan hadist. Bahkan hadist pun perlu ditelaah apakah soheh atau tidaknya. Jadi ilmu ini bukanlah ilmu yang mudah. Maka diperlukan orang-orang yang benar-benar belajar menelaah bertahun-tahun dan cukup cerdas untuk memahami filosofinya. It’s hard I think :D…

Maka sangatlah tidak berhak kita yang kurang berilmu di bidang itu tiba-tiba saja merasa sangat benar, lalu berdasarkan satu atau dua ayat lalu mengklaim orang lain salah dan kita benar, apalagi jika itu bukan hal yang mudah ditelaah.

Rasulullah SAW bersabda:

اَمَرَنِى رَبِّى اَنْ اَحْكُمَ بِالظَّوَاهِرِ,وَاللهُ يَتَوَلىَّ الَّسر ائِرَ. (رواه البخارى ومسلم)

Aku diperintahkan Tuhanku memutuskan perkara menurut bukti-bukti (alasan-alasan) yang nyata, sedang hakikat urusan itu terserah kepada Allah sendiri”.

Maka tugas manusia adalah mencari kebenaran itu sendiri tanpa merasa benar sendiri…. karena kebenaran hanya milik Allah.

Di dalam Al Qur’an disebutkan bahwa manusia yang dianggap berakal adalah manusia-manusia yang mendapat petunjuk Allah. Jadi yang dimaksud berakal disini bukan hanya dalam definisi “tidak gila”, namun adalah orang-orang yang bertakwa dan dapat melihat kekuasaan Allah dengan benar-benar. Seperti disebutkan dalam ayat-ayat berikut:

3:190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,

13:19. Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran,

14:52. (Al Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.

20:54. Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal.

29:35. Dan sesungguhnya Kami tinggalkan daripadanya satu tanda yang nyata bagi orang-orang yang berakal.

89:5. Pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal.

45:5. dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.

Az Zumar: 18

yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. 

Maka segala aturan Allah itu berlaku untuk orang-orang yang bertakwa. Misalkan aturan bahwa seorang istri mesti menurut pada suami… adalah dengan syarat bahwa suaminya adalah orang yang berakal, dan orang berakal itu adalah orang yang bertakwa.

Surat Asy-Syura ayat 38

Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.

Maka sebenarnya segala hal di dunia dapat diputuskan dengan musyawarah dengan mengacu pada hukum-hukum Islam. Sehingga sebenarnya Al Qur’an itu tidak saklek.

Jika kita marah dengan apa yang terjadi, maka sebaiknya kembali menelaah ke dalam Al Qur’an dimana segala perbuatan itu akan dibalas, baik perbuatan baik maupun tidak. Banyak sekali ayat di Al Qur’an menerangkan berkali-kali bahwa segala yang kita alami adalah atas ijin Allah dan karena perbuatan kita sendiri.  Dan jika kita manusia yang berakal, maka kita akan belajar.  Belajar bersabar dan tidak beputus asa dari rahmat Allah.

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah (biji atom), niscaya dia akan menerima (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah (biji atom) pun, niscaya dia akan menerima (balasan)nya.” (QS. Al-Zalzalah [99]:7-8)

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampunan terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? – Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”. (QS. Ali Imran: 135)

QS.30.Ar-Ruum : 41
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

QS.4.An-Nisaa’ : 79, Allah SWT berfirman : “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja yang menimpamu maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.”

QS.42.Asy-Syuuraa : 30, Allah SWT berfirman : “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).”

Dan sesungguhnya manusia itu akan diuji seperti firman Allah berikut:

Apakah orang-orang mengira bahwa mereka akan dibiarkan saja seenaknya berkata: “Kami telah beriman”, padahal keimanan mereka itu belum diuji? Al-Ankabut: 2-3

Tugas kita hanya bersabar dan tidak berputus asa seperti ayat berikut:

“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya”. (QS. az-Zumar: 53)

Dan sebenarnya lebih banyak lagi yang pernah saya baca yang saya tidak ingat dengan pasti suratnya.

Allah sebenarnya menciptakan hati manusia itu luas… maka sebenarnya kita bisa bersabar tanpa batas, karena batas kesabaran itu biasanya kita buat sendiri, seperti firman Allah:

Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka,, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
QS. at-Taubah (9) : 118

Maka sesungguhnya jika jiwa manusia terasa sempit, itu karena manusia itu sendiri.

Di Indonesia ada kumpulan para ulama diantaranya adalah MUI dan Majelis Tajrih Muhammadiyah. Tentu saja mereka bukan orang-orang tidak jelas yang kumpul kongkow-kongkow untuk membuat fatwa. Mereka orang-orang yang bertahun-tahun belajar agama, dan mendalami filosofi dan wisdom-nya. Jika ada yang tidak baik, itu adalah oknum, seperti yang saya kenal adalah Prof. KH. Miftah Faridl (sekarang sedang sakit di Singapura, mohon doanya) adalah seorang Profesor, tentu saja beliau orang yang pandai. Dan saat ini beliau adalah ketua MUI Bandung. Kenapa saya membahas ini, karena saya pernah berada di posisi sombong, dimana saya bahkan tidak percaya pada para ulama yang sudah belajar agama bertahun-tahun…. dan sombong adalah syarat utama agar ilmu dan rahmat Allah tidak sampai pada kita… Naudzubillahimindzalik.

Seperti halnya banyak isu di masyarakat kita tentang menikah siri. Dari yang saya pelajari, menikah siri itu tidak sah walau secara agama, karena lebih banya mudlaratnya di dalam masyarakat mengenai statusnya dan akibatnya. Menikah yang sah adalah di KUA jika di Indonesia. Karena menikah itu membutuhkan syarat berakal sehat. Tentu saja berakal sehat tidak hanya berarti tidak gila. Namun berakal adalah seperti yang saya bahas di atas. Untuk itu dibutuhkan orang yang mengerti agama untuk menjadi hakam dalam pernikahan dan menyaksikan bahwa yang menikah dan prosesnya benar-benar memenuhi syarat yang sah.

Begitu pula dengan perceraian, dari yang saya pelajari perceraian yang sah dan jatuh talaknya adalah jika dilakukan melalui pengadilan agama. Maka talak yang sah berdasarkan agama adalah melalui pengadilan agama. Jadi tidak ada talak secara agama hanya dengan mengucap kata “saya talak kamu”…. “saya talak kamu”… atau apapun…. Logikanya adalah, menikah yang disukai Allah saja ribet, apalagai cerai yang dibenci Allah bukan. Bercerai dalam telaahnya memiliki kondisi-kondisi yang harus dipenuhi. Dan itu mesti diperiksa syaratnya oleh orang orang yang memiliki ilmu agama sebagai hakam. Kita juga coba menilik apa yang terjadi di jaman Rasul dan para sahabat, dimana setiap terjadi talak, ditanyakan kepada Rasul atau para sahabat apakah talaknya sah atau tidak. Dan di negara-negara Islam itu juga ada pengadilan agama dan KUA-nya. Seperti pada telaah majelis tajrih di file berikut:

Fatwa_Cerai_Di Luar_Sidang_Pengadilan dari web http://tarjih.muhammadiyah.or.id/download-fatwa-216.html

atau pada jawaban Prof. KH. Miftah Faridl pada artikel berikut:

http://alhikmah.co/index.php/konsultasi/sakinah/788/suara-hati-seorang-istri-simpanan

Jika tidak percaya bahwa hukum Islam itu berubah berdasarkan jaman, maka seharusnya tidak menggunakan jasa bank, biro umroh, asuransi, yang pada jaman Nabi dan sahabat belum ada. Dalam implementasi hukum Islam itu ada telaah-telaahnya. Dan untuk memahami Al Qur’an secara utuh kita mesti memahami kejadian apa yang melatarbelakangi turunnya sebuah ayat, bagaimana implementasinya di jaman Rasulullah dan sahabat, Hadist Rasulullah, dan filosofi yang ada di dalamnya. Dalam memahami Islam juga ada mekanisme yang disebut dengan ijtihad dimana merupakan pemikiran para ulama dengan ilmunya. Dan banyak sekali para ulama cerdas yang melakukan ijtihad. Seperti pada artikel berikut:

http://www.rumahfiqih.com/mazahib/x.php?id=12&=selain-madzhab-empat

Pada jaman Rasulullah, ada hukum piagam medinah yang wajib dipatuhi oleh umat muslim. Dan umat muslim yang melanggar akan dihukum. Maka hukum muamalah itu juga diterapkan melengkapi dan menelaah Al Qur’an sehingga menjadi hukum agama. Maka sebenarnya tidak ada pemisahan antara ibadah kepada Allah (hablum minallah) dan hubungan antar manusia (hablum minanas), karena orang yang memiliki hablum minallah baik, maka hablum minanas-nya juga akan baik :). Dan Allah juga berfirman seperti ayat yang saya tulis di atas, bahwa urusan duniawi hendaknya diselesaikan dengan musyawarah….. maka hukum secara ijtihad itu ada mekanismenya di dalam Islam, namun hanya boleh dilakukan oleh orang-orang yang cerdas memiliki ilmunya. Wallahua’lam.

Ulama secara bahasa adalah jama’ (bentuk plural) dari kata alim. Artinya, orang yang memiliki ilmu yang membawanya takut hanya kepada Allah (lihat QS. Al-Fathir : 28) (Sumber: http://www3.eramuslim.com/oase-iman/ketika-ulama-tidak-berdaya.htm#.U2BTBKK1eyF), “Ulama adalah pewaris para nabi.” (HR At-Tirmidzi dari Abu Ad-Darda radhiallahu ‘anhu)

Disini saya hanya ingin berbagi yang saya pelajari dengan ilmu yang masih sangat kurang ini. Kurangnya dari saya, dan jika ada lebihnya semoga menjadi kebaikan. Aamiin (ngarep.com :D), karena kebenaran hanya milik Allah.  Mari belajar lebih baik lagi :).

 

NB: Update 11 Agustus 2014, ada sumber yang dapat menjelaskan bahwa Islam bukan agama yang saklek :). Menarik untuk dibaca 🙂 http://www.rumahfiqih.com/x.php?id=1407580417&title=benarkah-hadits-shahih-belum-tentu-bisa-dipakai.htm