Keinginan…

Bismillah (masih sering saja lupa mengucap Bismillah di tiap tulisan, semoga kedepan lebih baik :). Aamiin)

Ada sebuah ayat dalam surat Al An’aam ayat 162, Allah ber-Firman:

 

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya Shalatku, Ibadahku, Hidupku dan Matiku hanya untuk Allah semata”.

Ingin sekali bisa mengucap itu dengan setulus-tulusnya kepada Allah. Semoga Allah memberikan waktu dimana kita semua dapat mengucapkan hal di atas kepada Allah dengan seikhlas-ikhlasnya. Aamiin.

Saya pernah jadi orang yang sangat sombong (sekarang? terkadang masih :(, ampuni hamba ya Allah) (sombong itu adalah ketika ada rasa merendahkan orang lain (walau sedikit) dan menganggap diri lebih baik), dari kesombongan itu banyak sekali kesalahan yang saya buat. Terutama mengenai hubungan dengan sesama manusia. Sampai ada hal panjang yang saya alami…. dan saya lelah… lelah sekali dan hanya mendekat kepada Allah kita mendapatkan kesejukan dalam hidup kita. Jika kita berada dalam jalan yang kurang lurus, apalagi bengkok… biasanya kita akan merasa lelah…. karena ketenangan yang kita cari tidak ada disitu. Namun Allah maha pengampun kepada hambanya yang bertobat. Banyak sekali Allah menyebutkan hal itu di dalam Al Qur’an. Jadi tidak mengapa kita berdosa asal bertobat nasuhah. Yakinlah itu :).

Seperti lagu taubat dari Opick berikut (sangat benar adanya buat saya lagu ini):

Inti dari Berbagi Ilmu

Hari ini tadi pagi-pagi, dengerin acara Khalifah di Trans 7. Membahas tentang Nabi Muhammad. Ada beberapa penjelasan yang fokus saya dengarkan. Diantaranya adalah:

1. Sebelum memiliki ilmu hendaknya memiliki jiwa yang bersih sehingga ilmu yang didapat nanti dapat bermanfaat bukan untuk melawan Allah

Disini tadi juga dijelaskan bahwa saat akan berbagi ilmu maka proses yang dibutuhkan terlebih dahulu bagi yang ingin berbagi adalah jiwa yang bersih dan ketulusan untuk berbagi ilmu, sehingga ilmu yang tersampaikan pun baik. Disini saya memang pernah punya pengalaman dalam mendidik mahasiswa.  Saya pernah merasa menjadi orang yang sombong, merasa paling memiliki ilmu dibanding beberapa orang lainnya… tentu saja sedikit saja kesombongan akan keluar pada yang kita ajarkan pada orang lain… tanpa saya sadari… saya mengajarkan kesombongan itu pada mahasiswa saya… astagfirullah (Ampuni hamba ya Allah). Maka saat kita akan mengajarkan sebuah ilmu kepada orang lain, hal terpenting yang perlu kita lakukan adalah membersihkan jiwa kita, agar ilmu yang kita ajarkan benar-benar bermanfaat.

Ini juga saya rasakan saat ini, saat ini ketika untuk membuat soal ujian saja, saya sering Bismillah dan berdoa, agar soal yang saya buat tidak mendzalimi mahasiswa. Sesuai dengan kemampuan mereka. Maka saya mesti punya waktu yang tenang untuk membersihkan jiwa dan membuat soal yang tidak mendzalimi mahasiswa. Maka sekedar membuat soal itu bukan hal yang mudah buat saya.

Begitu pula dengan mengajar, ketika saya ingin mahasiswa saya belajar bersabar mengerjakan soal-soal latihan, maka saya harus mencontohkan bahwa saya harus lebih sabar dari mereka, agar mereka juga belajar bersabar. Alhamdulillah setiap tahun mahasiswa yang memiliki kemampuan pemrograman semakin bertambah….. saya yakin mereka bisa jadi orang-orang hebat jauh lebih hebat dari saya. Aamiin.

Begitu pula dengan mendidik anak. Memang harus banyak yang dijelaskan maksudnya, bukan hanya pokoknya ini tidak boleh. Alhamdulillah saya memiliki anak perempuan yang kritis, sehingga sering sekali bertanya “kenapa ibuk?” maka saya mau tidak mau harus menjelaskan dengan sabar (ya kadang ada kalanya tidak sabar, manusiawi :D), sebagai orang tua atau guru maka kita wajib memiliki alasan untuk setiap tindakan yang mampu dijelaskan kebaikannya, agar anak kita atau anak didik mengerti maksud kita dengan baik. Tentu saja niatnya dahulu yang perlu dibersihkan agar penjelasan yang disampaikan pun baik, bukan ngeles :).

Gadiza Mutia S. Amanahku dari Allah. Ibu ingin kau sehebat Khadijah maka kuberi nama Gadiza :)

Gadiza Mutia S. Amanahku dari Allah. Ibu ingin kau sehebat Khadijah maka kuberi nama Gadiza 🙂

Untuk kita yang sedang belajar tidak dalam posisi sang guru, maka ikhlaskanlah untuk mendengar dan meyakini ilmu baiknya. Karena saat kita tidak yakin, maka ilmu baik seperti apapun tidak akan masuk sebagai berkah dalam diri kita, sehingga kita akan susah menguasainya (pengalaman pribadi waktu mahasiswa tidak suka dengan dosennya :D, jadinya ilmunya pun tidak bisa kutrima :D).

Skor Ujian Mahasiswa, Banyak yang Ijo :)

Skor Ujian Mahasiswa, Banyak yang Ijo 🙂

Skor Ujian Mahasiswa, Banyak yang Ijo :)

Skor Ujian Mahasiswa, Banyak yang Ijo 🙂

2. Masa persiapan Nabi Muhammad adalah 0-40 tahun usianya, sedangkan saat berjuangnya adalah 40-63 tahun, maka usia 40 tahun adalah usia yang matang untuk berjuang. Ternyata ini saya juga pernah membaca ada di Al Qur’an Surat Al Ahqaf ayat 15:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. 

Jadi sebenarnya kutipan dari barat sono yang mengatakan “life begin 40” itu udah ada di Al Qur’an, dimana seseorang usia 40 dengan persiapan dari 0-40 tahun dengan usia yang berkah akan mampu mulai bijaksana dan berjuang. Sehingga memiliki kekuatan untuk berjuang tanpa henti tanpa harus kehabisan bahan bakar (semangat dan motivasi).  Maka sebelum usia berjuang itu adalah usia persiapan… dimana usia persiapan Nabi Muhammad pun lebih panjang dibanding usia berjuangnya. Maka sangat diperlukan bagi kita untuk bersabar dan belajar mencari keberkahan Allah untuk perjuangan nantinya…. Subhanallah.

Maka dalam umur yang penting bukan panjangnya atau banyaknya, tapi keberkahan di dalamnya….. subhanallah.

 Maka mari kita terus berbagi ilmu, membersihkan jiwa kita, dan terus belajar…

Oh iya, pengen berbagi juga pengalaman bertemu supir taksi sepulang saya opname dari rumah sakit beberapa minggu kemarin. Awalnya saya tidak perhatian, sampai sang supir menyapa. Lalu saya dengan kondisi saya yang lemah, mulai berkomunikasi, setelah melihat wajah supir taksi itu sekilas, saya langsung menebak:

Saya: Bapak ustad ya?

Supir: bukan bu.

Saya: Tapi wajah bapak seperti wajah orang sering sholat dan suka ke masjid.

Supir: Kalau itu memang benar bu.

Ternyata wajah orang yang suka beribadah itu berbeda (saya mulai pelajari akhir-akhir ini), wajahnya lebih tenang, bercahaya, dan bersih. Lalu ada perkataan supir itu yang saya ingat:

Supir: Bu, dalam hadist disebutkan bu, bahwa tidak ada cobaan manusia yang melebihi cobaan para Nabi.

Saya langsung terhenyak…. ya benar, saya harusnya banyak besyukur. Lalu saya ngobrol lagi dengan Beliau.

Saya: saya kenapa ya Pak, iman saya suka naik turun, ingin rasanya terus dalam iman yang baik.

Supir: keimanan itu memang naik turun Bu, itu manusiawi, yang penting kita berusaha, manusia memang tidak sempurna

Jadi tidak apa-apa begitu, yang penting berusaha terus kembali padaNya. Subhanallah…

Berbagi ilmu bisa dimanapun, dari siapapun…. 🙂