Al Qur’an Itu Tidak Saklek, Ada Telaah-Telaahnya

Bismillah…

Sebagai umat Islam, tentu kita tahu bahwa pegangan atau saya lebih suka menyebutnya manual hidup kita adalah Al Qur’an. Akhir-akhir ini saya banyak belajar tentang hidup dan banyak hal ilmu yang terkandung di dalamnya. Ternyata semakin banyak belajar memang benar-benar merasa semakin bodoh karena banyak sekali ilmu yang tidak kita ketahui… Subhanallah.

Dalam Al Qur’an kalimat-kalimatnya seringkali sangat singkat untuk menjelaskan pemahaman. Maka dari itu harus dipahami peristiwa yang mendasari turunnya setiap ayat dan hadist Nabi, dan sejarah bagaimana Nabi menjalankan Al Qur’an. Semua itu butuh ilmu sejarah kehidupan Nabi Muhammad, sahabat Nabi, dan para Ulama yang terkenal cerdas dalam menelaah Al Qur’an dan menjalankannya dalam kehidupan.

Maka dari itu semua… kita sangat sangat tidak dapat menelaah Al Qur’an hanya dari satu ayat, satu hadist, atau bahkan hanya potongan ayat Al Qur’an atau hanya potongan hadist. Bahkan hadist pun perlu ditelaah apakah soheh atau tidaknya. Jadi ilmu ini bukanlah ilmu yang mudah. Maka diperlukan orang-orang yang benar-benar belajar menelaah bertahun-tahun dan cukup cerdas untuk memahami filosofinya. It’s hard I think :D…

Maka sangatlah tidak berhak kita yang kurang berilmu di bidang itu tiba-tiba saja merasa sangat benar, lalu berdasarkan satu atau dua ayat lalu mengklaim orang lain salah dan kita benar, apalagi jika itu bukan hal yang mudah ditelaah.

Rasulullah SAW bersabda:

اَمَرَنِى رَبِّى اَنْ اَحْكُمَ بِالظَّوَاهِرِ,وَاللهُ يَتَوَلىَّ الَّسر ائِرَ. (رواه البخارى ومسلم)

Aku diperintahkan Tuhanku memutuskan perkara menurut bukti-bukti (alasan-alasan) yang nyata, sedang hakikat urusan itu terserah kepada Allah sendiri”.

Maka tugas manusia adalah mencari kebenaran itu sendiri tanpa merasa benar sendiri…. karena kebenaran hanya milik Allah.

Di dalam Al Qur’an disebutkan bahwa manusia yang dianggap berakal adalah manusia-manusia yang mendapat petunjuk Allah. Jadi yang dimaksud berakal disini bukan hanya dalam definisi “tidak gila”, namun adalah orang-orang yang bertakwa dan dapat melihat kekuasaan Allah dengan benar-benar. Seperti disebutkan dalam ayat-ayat berikut:

3:190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,

13:19. Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran,

14:52. (Al Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.

20:54. Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal.

29:35. Dan sesungguhnya Kami tinggalkan daripadanya satu tanda yang nyata bagi orang-orang yang berakal.

89:5. Pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal.

45:5. dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.

Az Zumar: 18

yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. 

Maka segala aturan Allah itu berlaku untuk orang-orang yang bertakwa. Misalkan aturan bahwa seorang istri mesti menurut pada suami… adalah dengan syarat bahwa suaminya adalah orang yang berakal, dan orang berakal itu adalah orang yang bertakwa.

Surat Asy-Syura ayat 38

Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.

Maka sebenarnya segala hal di dunia dapat diputuskan dengan musyawarah dengan mengacu pada hukum-hukum Islam. Sehingga sebenarnya Al Qur’an itu tidak saklek.

Jika kita marah dengan apa yang terjadi, maka sebaiknya kembali menelaah ke dalam Al Qur’an dimana segala perbuatan itu akan dibalas, baik perbuatan baik maupun tidak. Banyak sekali ayat di Al Qur’an menerangkan berkali-kali bahwa segala yang kita alami adalah atas ijin Allah dan karena perbuatan kita sendiri.  Dan jika kita manusia yang berakal, maka kita akan belajar.  Belajar bersabar dan tidak beputus asa dari rahmat Allah.

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah (biji atom), niscaya dia akan menerima (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah (biji atom) pun, niscaya dia akan menerima (balasan)nya.” (QS. Al-Zalzalah [99]:7-8)

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampunan terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? – Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”. (QS. Ali Imran: 135)

QS.30.Ar-Ruum : 41
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

QS.4.An-Nisaa’ : 79, Allah SWT berfirman : “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja yang menimpamu maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.”

QS.42.Asy-Syuuraa : 30, Allah SWT berfirman : “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).”

Dan sesungguhnya manusia itu akan diuji seperti firman Allah berikut:

Apakah orang-orang mengira bahwa mereka akan dibiarkan saja seenaknya berkata: “Kami telah beriman”, padahal keimanan mereka itu belum diuji? Al-Ankabut: 2-3

Tugas kita hanya bersabar dan tidak berputus asa seperti ayat berikut:

“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya”. (QS. az-Zumar: 53)

Dan sebenarnya lebih banyak lagi yang pernah saya baca yang saya tidak ingat dengan pasti suratnya.

Allah sebenarnya menciptakan hati manusia itu luas… maka sebenarnya kita bisa bersabar tanpa batas, karena batas kesabaran itu biasanya kita buat sendiri, seperti firman Allah:

Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka,, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
QS. at-Taubah (9) : 118

Maka sesungguhnya jika jiwa manusia terasa sempit, itu karena manusia itu sendiri.

Di Indonesia ada kumpulan para ulama diantaranya adalah MUI dan Majelis Tajrih Muhammadiyah. Tentu saja mereka bukan orang-orang tidak jelas yang kumpul kongkow-kongkow untuk membuat fatwa. Mereka orang-orang yang bertahun-tahun belajar agama, dan mendalami filosofi dan wisdom-nya. Jika ada yang tidak baik, itu adalah oknum, seperti yang saya kenal adalah Prof. KH. Miftah Faridl (sekarang sedang sakit di Singapura, mohon doanya) adalah seorang Profesor, tentu saja beliau orang yang pandai. Dan saat ini beliau adalah ketua MUI Bandung. Kenapa saya membahas ini, karena saya pernah berada di posisi sombong, dimana saya bahkan tidak percaya pada para ulama yang sudah belajar agama bertahun-tahun…. dan sombong adalah syarat utama agar ilmu dan rahmat Allah tidak sampai pada kita… Naudzubillahimindzalik.

Seperti halnya banyak isu di masyarakat kita tentang menikah siri. Dari yang saya pelajari, menikah siri itu tidak sah walau secara agama, karena lebih banya mudlaratnya di dalam masyarakat mengenai statusnya dan akibatnya. Menikah yang sah adalah di KUA jika di Indonesia. Karena menikah itu membutuhkan syarat berakal sehat. Tentu saja berakal sehat tidak hanya berarti tidak gila. Namun berakal adalah seperti yang saya bahas di atas. Untuk itu dibutuhkan orang yang mengerti agama untuk menjadi hakam dalam pernikahan dan menyaksikan bahwa yang menikah dan prosesnya benar-benar memenuhi syarat yang sah.

Begitu pula dengan perceraian, dari yang saya pelajari perceraian yang sah dan jatuh talaknya adalah jika dilakukan melalui pengadilan agama. Maka talak yang sah berdasarkan agama adalah melalui pengadilan agama. Jadi tidak ada talak secara agama hanya dengan mengucap kata “saya talak kamu”…. “saya talak kamu”… atau apapun…. Logikanya adalah, menikah yang disukai Allah saja ribet, apalagai cerai yang dibenci Allah bukan. Bercerai dalam telaahnya memiliki kondisi-kondisi yang harus dipenuhi. Dan itu mesti diperiksa syaratnya oleh orang orang yang memiliki ilmu agama sebagai hakam. Kita juga coba menilik apa yang terjadi di jaman Rasul dan para sahabat, dimana setiap terjadi talak, ditanyakan kepada Rasul atau para sahabat apakah talaknya sah atau tidak. Dan di negara-negara Islam itu juga ada pengadilan agama dan KUA-nya. Seperti pada telaah majelis tajrih di file berikut:

Fatwa_Cerai_Di Luar_Sidang_Pengadilan dari web http://tarjih.muhammadiyah.or.id/download-fatwa-216.html

atau pada jawaban Prof. KH. Miftah Faridl pada artikel berikut:

http://alhikmah.co/index.php/konsultasi/sakinah/788/suara-hati-seorang-istri-simpanan

Jika tidak percaya bahwa hukum Islam itu berubah berdasarkan jaman, maka seharusnya tidak menggunakan jasa bank, biro umroh, asuransi, yang pada jaman Nabi dan sahabat belum ada. Dalam implementasi hukum Islam itu ada telaah-telaahnya. Dan untuk memahami Al Qur’an secara utuh kita mesti memahami kejadian apa yang melatarbelakangi turunnya sebuah ayat, bagaimana implementasinya di jaman Rasulullah dan sahabat, Hadist Rasulullah, dan filosofi yang ada di dalamnya. Dalam memahami Islam juga ada mekanisme yang disebut dengan ijtihad dimana merupakan pemikiran para ulama dengan ilmunya. Dan banyak sekali para ulama cerdas yang melakukan ijtihad. Seperti pada artikel berikut:

http://www.rumahfiqih.com/mazahib/x.php?id=12&=selain-madzhab-empat

Pada jaman Rasulullah, ada hukum piagam medinah yang wajib dipatuhi oleh umat muslim. Dan umat muslim yang melanggar akan dihukum. Maka hukum muamalah itu juga diterapkan melengkapi dan menelaah Al Qur’an sehingga menjadi hukum agama. Maka sebenarnya tidak ada pemisahan antara ibadah kepada Allah (hablum minallah) dan hubungan antar manusia (hablum minanas), karena orang yang memiliki hablum minallah baik, maka hablum minanas-nya juga akan baik :). Dan Allah juga berfirman seperti ayat yang saya tulis di atas, bahwa urusan duniawi hendaknya diselesaikan dengan musyawarah….. maka hukum secara ijtihad itu ada mekanismenya di dalam Islam, namun hanya boleh dilakukan oleh orang-orang yang cerdas memiliki ilmunya. Wallahua’lam.

Ulama secara bahasa adalah jama’ (bentuk plural) dari kata alim. Artinya, orang yang memiliki ilmu yang membawanya takut hanya kepada Allah (lihat QS. Al-Fathir : 28) (Sumber: http://www3.eramuslim.com/oase-iman/ketika-ulama-tidak-berdaya.htm#.U2BTBKK1eyF), “Ulama adalah pewaris para nabi.” (HR At-Tirmidzi dari Abu Ad-Darda radhiallahu ‘anhu)

Disini saya hanya ingin berbagi yang saya pelajari dengan ilmu yang masih sangat kurang ini. Kurangnya dari saya, dan jika ada lebihnya semoga menjadi kebaikan. Aamiin (ngarep.com :D), karena kebenaran hanya milik Allah.  Mari belajar lebih baik lagi :).

 

NB: Update 11 Agustus 2014, ada sumber yang dapat menjelaskan bahwa Islam bukan agama yang saklek :). Menarik untuk dibaca 🙂 http://www.rumahfiqih.com/x.php?id=1407580417&title=benarkah-hadits-shahih-belum-tentu-bisa-dipakai.htm

Iklan

Keinginan…

Bismillah (masih sering saja lupa mengucap Bismillah di tiap tulisan, semoga kedepan lebih baik :). Aamiin)

Ada sebuah ayat dalam surat Al An’aam ayat 162, Allah ber-Firman:

 

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya Shalatku, Ibadahku, Hidupku dan Matiku hanya untuk Allah semata”.

Ingin sekali bisa mengucap itu dengan setulus-tulusnya kepada Allah. Semoga Allah memberikan waktu dimana kita semua dapat mengucapkan hal di atas kepada Allah dengan seikhlas-ikhlasnya. Aamiin.

Saya pernah jadi orang yang sangat sombong (sekarang? terkadang masih :(, ampuni hamba ya Allah) (sombong itu adalah ketika ada rasa merendahkan orang lain (walau sedikit) dan menganggap diri lebih baik), dari kesombongan itu banyak sekali kesalahan yang saya buat. Terutama mengenai hubungan dengan sesama manusia. Sampai ada hal panjang yang saya alami…. dan saya lelah… lelah sekali dan hanya mendekat kepada Allah kita mendapatkan kesejukan dalam hidup kita. Jika kita berada dalam jalan yang kurang lurus, apalagi bengkok… biasanya kita akan merasa lelah…. karena ketenangan yang kita cari tidak ada disitu. Namun Allah maha pengampun kepada hambanya yang bertobat. Banyak sekali Allah menyebutkan hal itu di dalam Al Qur’an. Jadi tidak mengapa kita berdosa asal bertobat nasuhah. Yakinlah itu :).

Seperti lagu taubat dari Opick berikut (sangat benar adanya buat saya lagu ini):

Inti dari Berbagi Ilmu

Hari ini tadi pagi-pagi, dengerin acara Khalifah di Trans 7. Membahas tentang Nabi Muhammad. Ada beberapa penjelasan yang fokus saya dengarkan. Diantaranya adalah:

1. Sebelum memiliki ilmu hendaknya memiliki jiwa yang bersih sehingga ilmu yang didapat nanti dapat bermanfaat bukan untuk melawan Allah

Disini tadi juga dijelaskan bahwa saat akan berbagi ilmu maka proses yang dibutuhkan terlebih dahulu bagi yang ingin berbagi adalah jiwa yang bersih dan ketulusan untuk berbagi ilmu, sehingga ilmu yang tersampaikan pun baik. Disini saya memang pernah punya pengalaman dalam mendidik mahasiswa.  Saya pernah merasa menjadi orang yang sombong, merasa paling memiliki ilmu dibanding beberapa orang lainnya… tentu saja sedikit saja kesombongan akan keluar pada yang kita ajarkan pada orang lain… tanpa saya sadari… saya mengajarkan kesombongan itu pada mahasiswa saya… astagfirullah (Ampuni hamba ya Allah). Maka saat kita akan mengajarkan sebuah ilmu kepada orang lain, hal terpenting yang perlu kita lakukan adalah membersihkan jiwa kita, agar ilmu yang kita ajarkan benar-benar bermanfaat.

Ini juga saya rasakan saat ini, saat ini ketika untuk membuat soal ujian saja, saya sering Bismillah dan berdoa, agar soal yang saya buat tidak mendzalimi mahasiswa. Sesuai dengan kemampuan mereka. Maka saya mesti punya waktu yang tenang untuk membersihkan jiwa dan membuat soal yang tidak mendzalimi mahasiswa. Maka sekedar membuat soal itu bukan hal yang mudah buat saya.

Begitu pula dengan mengajar, ketika saya ingin mahasiswa saya belajar bersabar mengerjakan soal-soal latihan, maka saya harus mencontohkan bahwa saya harus lebih sabar dari mereka, agar mereka juga belajar bersabar. Alhamdulillah setiap tahun mahasiswa yang memiliki kemampuan pemrograman semakin bertambah….. saya yakin mereka bisa jadi orang-orang hebat jauh lebih hebat dari saya. Aamiin.

Begitu pula dengan mendidik anak. Memang harus banyak yang dijelaskan maksudnya, bukan hanya pokoknya ini tidak boleh. Alhamdulillah saya memiliki anak perempuan yang kritis, sehingga sering sekali bertanya “kenapa ibuk?” maka saya mau tidak mau harus menjelaskan dengan sabar (ya kadang ada kalanya tidak sabar, manusiawi :D), sebagai orang tua atau guru maka kita wajib memiliki alasan untuk setiap tindakan yang mampu dijelaskan kebaikannya, agar anak kita atau anak didik mengerti maksud kita dengan baik. Tentu saja niatnya dahulu yang perlu dibersihkan agar penjelasan yang disampaikan pun baik, bukan ngeles :).

Gadiza Mutia S. Amanahku dari Allah. Ibu ingin kau sehebat Khadijah maka kuberi nama Gadiza :)

Gadiza Mutia S. Amanahku dari Allah. Ibu ingin kau sehebat Khadijah maka kuberi nama Gadiza 🙂

Untuk kita yang sedang belajar tidak dalam posisi sang guru, maka ikhlaskanlah untuk mendengar dan meyakini ilmu baiknya. Karena saat kita tidak yakin, maka ilmu baik seperti apapun tidak akan masuk sebagai berkah dalam diri kita, sehingga kita akan susah menguasainya (pengalaman pribadi waktu mahasiswa tidak suka dengan dosennya :D, jadinya ilmunya pun tidak bisa kutrima :D).

Skor Ujian Mahasiswa, Banyak yang Ijo :)

Skor Ujian Mahasiswa, Banyak yang Ijo 🙂

Skor Ujian Mahasiswa, Banyak yang Ijo :)

Skor Ujian Mahasiswa, Banyak yang Ijo 🙂

2. Masa persiapan Nabi Muhammad adalah 0-40 tahun usianya, sedangkan saat berjuangnya adalah 40-63 tahun, maka usia 40 tahun adalah usia yang matang untuk berjuang. Ternyata ini saya juga pernah membaca ada di Al Qur’an Surat Al Ahqaf ayat 15:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. 

Jadi sebenarnya kutipan dari barat sono yang mengatakan “life begin 40” itu udah ada di Al Qur’an, dimana seseorang usia 40 dengan persiapan dari 0-40 tahun dengan usia yang berkah akan mampu mulai bijaksana dan berjuang. Sehingga memiliki kekuatan untuk berjuang tanpa henti tanpa harus kehabisan bahan bakar (semangat dan motivasi).  Maka sebelum usia berjuang itu adalah usia persiapan… dimana usia persiapan Nabi Muhammad pun lebih panjang dibanding usia berjuangnya. Maka sangat diperlukan bagi kita untuk bersabar dan belajar mencari keberkahan Allah untuk perjuangan nantinya…. Subhanallah.

Maka dalam umur yang penting bukan panjangnya atau banyaknya, tapi keberkahan di dalamnya….. subhanallah.

 Maka mari kita terus berbagi ilmu, membersihkan jiwa kita, dan terus belajar…

Oh iya, pengen berbagi juga pengalaman bertemu supir taksi sepulang saya opname dari rumah sakit beberapa minggu kemarin. Awalnya saya tidak perhatian, sampai sang supir menyapa. Lalu saya dengan kondisi saya yang lemah, mulai berkomunikasi, setelah melihat wajah supir taksi itu sekilas, saya langsung menebak:

Saya: Bapak ustad ya?

Supir: bukan bu.

Saya: Tapi wajah bapak seperti wajah orang sering sholat dan suka ke masjid.

Supir: Kalau itu memang benar bu.

Ternyata wajah orang yang suka beribadah itu berbeda (saya mulai pelajari akhir-akhir ini), wajahnya lebih tenang, bercahaya, dan bersih. Lalu ada perkataan supir itu yang saya ingat:

Supir: Bu, dalam hadist disebutkan bu, bahwa tidak ada cobaan manusia yang melebihi cobaan para Nabi.

Saya langsung terhenyak…. ya benar, saya harusnya banyak besyukur. Lalu saya ngobrol lagi dengan Beliau.

Saya: saya kenapa ya Pak, iman saya suka naik turun, ingin rasanya terus dalam iman yang baik.

Supir: keimanan itu memang naik turun Bu, itu manusiawi, yang penting kita berusaha, manusia memang tidak sempurna

Jadi tidak apa-apa begitu, yang penting berusaha terus kembali padaNya. Subhanallah…

Berbagi ilmu bisa dimanapun, dari siapapun…. 🙂

 

Wudhu

Wudhu yang sering kita lakukan sebelum kita sholat, dzikir, atau membaca Al Qur’an atau apapun sekedar untuk mensucikan diri. Saya ingin berbagi makna wudhu yang akhir-akhir ini saya pelajari. Hanya ingin berbagi ilmu, karena ilmu saya belum seberapa. Mari kita coba memahami makna wudhu dengan pelan-pelan melakukannya.

 

Saat kita membasuh kedua telapak tangan, niatkan dalam batin memohon kepada Allah, untuk menjaga jari-jari kita dari perbuatan yang tidak baik.

Saat kita berkumur, niatkan dalam batin untuk memohon kepada Allah menjaga perkataan kita, makanan, dan minuman yang kita makan dan minum agar yang keluar dari mulut kita adalah perkataan yang baik, dan yang masuk dalam mulut kita makanan yang baik, dan minuman yang baik.

Saat kita membasuh hidung, niatkan dalam batin untuk memohon kepada Allah agar menjaga hidung kita dari bau-bau dan zat-zat yang tidak baik bagi tubuh kita.

Saat kita membasuh muka, niatkan dalam batin untuk memohon kepada Allah agar menjaga mata kita dari melihat yang tidak baik, agar mencerahkan wajah kita, dan agar wajah kita mampu tersenyum ikhlas dalam menghadapi semuanya.

Saat kita membasuh tangan hingga siku, niatkan dalam batin untuk memohon kepada Allah agar menjaga tangan kita dari perbuatan yang tidak baik.

Saat kita membasuh ubun-ubun, niatkan dalam batin untuk memohon kepada Allah agar menjaga pikiran kita dari pikiran-pikiran yang tidak baik.

Saat kita membasuh telinga kita, maka niatkan dalam batin untuk memohon kepada Allah agar menjaga telinga kita dari mendengar hal-hal yang tidak baik.

Saat kita membasuh kaki kita, maka niatkan dalam batin untuk memohon kepada Allah agar menjaga kaki kita berjalan ke tempat yang tidak baik.

Subhanallah…. itulah maknanya, kenapa wudhu adalah mekanisme bersuci…. Subhanallah. Allahu akbar.

Esok Kan Bahagia

Perasaanku telah banyak mati… karena lebih banyak belajar algoritma… maka kupakai logika

Dengan itu tidak akan ada rasa sakit yang dapat menyakitiku

Karena aku berteman dengan rasa sakit sehingga rasa sakit sudah tidak dapat menyakitiku

 

Manusiawi jika lelah

Manusiawi jika menangis

Dan “sajadah” adalah penyeka ingus dan air mata yang terbaik

sajadahtulis

Lalu tersenyumlah…. karena Esok Kan Bahagia

Memang berat ketika mendaki, tapi percayalah bahwa di atas sana ada panorama yang indah untuk dilihat, itulah romantika kehidupan – Salah satu dosen hidupku – Pak Sri Kuncoro – Mantan Pejabat SDM di PT KAI 🙂

 

Hidup yang ku jalani, masalah yang ku hadapi
Semua yang terjadi pasti ada hikmahnya
Ku kan terus berjuang, ku kan terus bermimpi
Tuk hidup yang lebih baik, tuk hidup yang lebih indah

Aku pasti bisa……