Mencari Tuhan…….

Benar-benar manusia itu sangat kecil. Namun kesombongannya bisa merusak banyak hal. Saya juga menulis sebuah proses sebelumnya disini https://hariiniadalahhadiah.wordpress.com/2014/01/12/berdamai-dengan-rasa-sakit/.

Dalam permasalahan yang saya hadapi, pada awalnya yang terjadi adalah marah. Lalu dalam berjalannya waktu saya mencoba terus mendekat pada Allah. Mendekat pada Allah setelah sekian lama jauh bukanlah hal yang mudah. Tapi harus tetap diingat, bahwa Allah sedang mengajarkan kepada kita arti kesungguhan. Sempat di tengah pendekatan itu merasa… dimana Allah… benarkah Allah itu ada… sempat terbesit hal hal seperti itu. Sebenarnya Allah sedang mengajarkan kepada kita arti bersabar.

Dalam waktu yang panjang…. melalui banyak hal…. terkadang tidak mengerti mendapat kekuatan darimana untuk berjuang…. semua dijalani saja…. Terasa lelah…. tentu saja… manusia pasti punya rasa lelah…. Terkadang juga terasa banyak bertemu orang-orang baik yang membantu….

Pada suatu waktu ashar setelah sholat (Sabtu, 25 Januari 2014), dalam sujud… tiba tiba terasa terlihat semua dosa-dosa yang pernah saya lakukan, diputar seperti sebuah film. Saya membuat dosa pada siapa saja… kesombongan saya… perbuatan saya…. semua seperti saya lihat kembali. Saya menangis sejadi-jadinya, tidak kuat terus bersujud dan terduduk bersandar pada pintu dekat saya sholat dengan gemetar. Masya Allah…. penyesalan yang sangat dalam…. merasa sangat kecil sebagai manusia, merasa sangat tidak layak sebagai manusia…. Beberapa saat saya hanya terduduk dan menangis…. lalu pergi ke kamar belakang meminta maaf pada ibu saya sambil menangis sejadi-jadinya… lalu meminta maaf pada banyak orang lewat apapun yang bisa saya lakukan. Entahlah, saya ingat semua kesombongan saya… Masya Allah… Allahu Akbar…

Jadi teringat, dulu saya tidak terlalu percaya cerita tentang Umar Bin Khatab yang menangis karena mendengar adiknya membaca Al Qur’an dan teringat dosa-dosanya. Sekarang saya percaya. Rasanya sangat takut jika diri ini meninggalkan Allah lagi, ya Allah jangan biarkan hamba meninggalkanMu lagi. Karena Allah tidak pernah meninggalkan manusia, tapi manusialah yang meninggalkan Allah.

Untuk semua yang membaca tulisan ini, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kata-kata, perbuatan saya, dan kesombongan saya selama ini. Mohon maafnya untuk saya. Semoga Allah membalas kebaikan hati-hati yang pemaaf dengan kebaikan yang lebih lebih lagi. Aamiin. Mohon saya terus diingatkan jika saya berbuat salah.

Jika menghadapi permasalahan, jangan malu untuk terus mendekat pada Allah. Kepada Allah lah kita kembali. Allah lah yang memberi kita banyak nikmat. Allah itu ada.

Allah tidak menghitung-hitung apa yang kita lakukan untuk masuk surga atau mendekat padaNya.  Semua bisa terjadi asal Allah ridho.  Tugas kita hanya mencari ridho Allah. Karena Allah Maha Segalanya, bisa memberi segalanya…. tanpa hitung-hitungan manusia. Tidak ada waktu terlambat selagi masih ada umur.

Iklan

Jika Merasa Lelah…. Beristirahatlah….

Sering kukatakan pada mahasiswa “kalau kita masih punya masalah, berarti kita masih hidup”. Aku tahu bahwa setiap manusia pasti memiliki rasa lelah. Rasa lelah adalah hal manusiawi yang bisa dirasakan manusia…. namanya juga manusiawi, ya dirasakan manusia lah :D.

Nah lalu bagaimana kalau kita lelah… Sebenarnya jawabannya mudah… kalau lelah  ya istirahat begitu bukan jawaban dari kata lelah. Nah kalau menyerah… menyerah adalah jawaban dari rasa putus asa. Jadi menyerah itu bukan jawaban dari rasa lelah :).

Putus asa terjadi karena tidak memiliki cukup keberanian untuk terus berjuang. Putus asa terjadi karena rasa takut. Jawaban dari rasa takut itu mudah saja…. yaitu menjadi berani :).

Rasa lelah adalah indikasi bahwa manusia butuh istirahat. Rasa lelah secara fisik  maupun mental. Istirahat itu untuk apa, agar dapat menyusun atau mengembalikan kekuatan untuk kemudian berjuang lagi. Rasa lelah yang berkepanjangan tanpa istirahat akan menyebabkan sakit dan jika sakit akan lebih banyak waktu yang diperlukan untuk mengumpulkan kekuatan kembali, itupun jika masih diberi waktu 🙂 untuk memiliki kekuatan berjuang kembali. Jadi jika merasa lelah, beristirahatlah… mengumpulkan kekuatan…. untuk kemudian berjuang kembali :).

Hanya ingin berbagi sekelumit pemikiran dalam menjalani permasalahan dalam hidup :).

Pendidikan yang Utama adalah Moral

Nemu lagi artikel bagus di kompasiana, jadi ingin berbagi :). Sumbernya dari sini http://m.kompasiana.com/post/read/377536/2/moral-di-sd-jepang

isinya sebagai berikut:

 

13096481251293645692

Sumber: Rak Sepatu di SD Jepang / photo: Junanto

Anak saya bersekolah di salah satu Sekolah Dasar Negeri (SDN) kota Tokyo, Jepang. Pekan lalu, saya diundang untuk menghadiri acara “open school” di sekolah tersebut. Kalau di Indonesia, sekolah ini mungkin seperti SD Negeri yang banyak tersebar di pelosok nusantara. Biaya sekolahnya gratis dan lokasinya di sekitar perumahan.

Pada kesempatan itu, orang tua diajak melihat bagaimana anak-anak di Jepang belajar. Kami diperbolehkan masuk ke dalam kelas, dan melihat proses belajar mengajar mereka. Saya bersemangat untuk hadir, karena saya meyakini bahwa kemajuan suatu bangsa tidak bisa dilepaskan dari bagaimana bangsa tersebut mendidik anak-anaknya.

Melihat bagaimana ketangguhan masyarakat Jepang saat gempa bumi lalu, bagaimana mereka tetap memerhatikan kepentingan orang lain di saat kritis, dan bagaimana mereka memelihara keteraturan dalam berbagai aspek kehidupan, tidaklah mungkin terjadi tanpa ada kesengajaan. Fenomena itu bukan sesuatu yang terjadi “by default”, namun pastilah “by design”. Ada satu proses pembelajaran dan pembentukan karakter yang dilakukan terus menerus di masyarakat.

Dan saat saya melihat bagaimana anak-anak SD di Jepang, proses pembelajaran itu terlihat nyata. Fokus pendidikan dasar di sekolah Jepang lebih menitikberatkan pada pentingnya “Moral”. Moral menjadi fondasi yang ditanamkan “secara sengaja” pada anak-anak di Jepang. Ada satu mata pelajaran khusus yang mengajarkan anak tentang moral. Namun nilai moral diserap pada seluruh mata pelajaran dan kehidupan.

Sejak masa lampau, tiga agama utama di Jepang, Shinto, Buddha, dan Confusianisme, serta spirit samurai dan bushido, memberi landasan bagi pembentukan moral bangsa Jepang. Filosofi yang diajarkan adalah bagaimana menaklukan diri sendiri demi kepentingan yang lebih luas. Dan filosofi ini sangat memengaruhi serta menjadi inti dari sistem nilai di Jepang.

Anak-anak diajarkan untuk memiliki harga diri, rasa malu, dan jujur. Mereka juga dididik untuk menghargai sistem nilai, bukan materi atau harta.
1309648271735473826

Sumber: Suasana kelas dan orang tua / photo: Junanto

Di sekolah dasar, anak-anak diajarkan sistem nilai moral melalui empat aspek, yaitu Menghargai Diri Sendiri (Regarding Self), Menghargai Orang Lain (Relation to Others), Menghargai Lingkungan dan Keindahan (Relation to Nature & the Sublime), serta menghargai kelompok dan komunitas (Relation to Group & Society). Keempatnya diajarkan dan ditanamkan pada setiap anak sehingga membentuk perilaku mereka.

Pendidikan di SD Jepang selalu menanamkan pada anak-anak bahwa hidup tidak bisa semaunya sendiri, terutama dalam bermasyarakat. Mereka perlu memerhatikan orang lain, lingkungan, dan kelompok sosial. Tak heran kalau kita melihat dalam realitanya, masyarakat di Jepang saling menghargai. Di kendaraan umum, jalan raya, maupun bermasyarakat, mereka saling memperhatikan kepentingan orang lain. Rupanya hal ini telah ditanamkan sejak mereka berada di tingkat pendidikan dasar.

Empat kali dalam seminggu, anak saya kebagian melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Ia harus membersihkan dan menyikat WC, menyapu dapur, dan mengepel lantai. Setiap anak di Jepang, tanpa kecuali, harus melakukan pekerjaan-pekerjaan itu. Akibatnya mereka bisa lebih mandiri dan menghormati orang lain.

Kebersahajaan juga diajarkan dan ditanamkan pada anak-anak sejak dini. Nilai moral jauh lebih penting dari nilai materi. Mereka hampir tidak pernah menunjukkan atau bicara tentang materi. Anak-anak di SD Jepang tidak ada yang membawa handphone, ataupun barang berharga. Berbicara tentang materi adalah hal yang memalukan dan dianggap rendah di Jepang.

Keselarasan antara pendidikan di sekolah dengan nilai-nilai yang ditanamkan di rumah dan masyarakat juga penting. Apabila anak di sekolah membersihkan WC, maka otomatis itu juga dikerjakan di rumah. Apabila anak di sekolah bersahaja, maka orang tua di rumah juga mencontohkan kebersahajaan. Hal ini menjadikan moral lebih mudah tertanam dan terpateri di anak.

Dengan kata lain, orang tua tidak “membongkar” apa yang diajarkan di sekolah oleh guru. Mereka justru mempertajam nilai-nilai itu dalam keseharian sang anak.
1309648412741772454

Sumber: Menyiapkan Makan Siang utk teman2nya / foto: Junanto

Saat makan siang tiba, anak-anak merapikan meja untuk digunakan makan siang bersama di kelas. Yang mengagetkan saya adalah, makan siang itu dilayani oleh mereka sendiri secara bergiliran. Beberapa anak pergi ke dapur umum sekolah untuk mengambil trolley makanan dan minuman. Kemudian mereka melayani teman-temannya dengan mengambilkan makanan dan menyajikan minuman.

Hal seperti ini menanamkan nilai pada anak tentang pentingnya melayani orang lain. Saya yakin, apabila anak-anak terbiasa melayani, sekiranya nanti menjadi pejabat publik, pasti nalurinya melayani masyarakat, bukan malah minta dilayani.

Saya sendiri bukan seorang ahli pendidikan ataupun seorang pendidik. Namun sebagai orang tua yang kemarin kebetulan melihat sistem pendidikan dasar di SD Negeri Jepang, saya tercenung. Mata pelajaran yang menurut saya “berat” dan kerap di-“paksa” harus hafal di SD kita, tidak terlihat di sini. Satu-satunya hafalan yang saya pikir cukup berat hanyalah huruf Kanji. Sementara, selebihnya adalah penanaman nilai.
1309648442372945940

Sumber: Mengantar minuman untuk teman / foto: Junanto

Besarnya kekuatan industri Jepang, majunya perekonomian, teknologi canggih, hanyalah ujung yang terlihat dari negeri Jepang. Di balik itu semua ada sebuah perjuangan panjang dalam membentuk budaya dan karakter. Ibarat pohon besar yang dahan dan rantingnya banyak, asalnya tetap dari satu petak akar. Dan akar itu, saya pikir adalah pendidikan dasar.

Sistem pendidikan Jepang seperti di atas tadi, berlaku seragam di seluruh sekolah. Apa yang ditanamkan, apa yang diajarkan, merata di semua sekolah hingga pelosok negeri. Mungkin di negeri kita banyak juga sekolah yang mengajarkan pembentukan karakter. Ada sekolah mahal yang bagus. Namun selama dilakukan terpisah-terpisah, bukan sebagai sistem nasional, anak akan mengalami kebingungan dalam kehidupan nyata. Apalagi kalau sekolah mahal sudah menjadi bagian dari mencari gengsi, maka satu nilai moral sudah berkurang di sana.

Di Jepang, masalah pendidikan ditangani oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olah Raga, dan Ilmu Pengetahuan Jepang (MEXT) atau disebut dengan Monkasho. Pemerintah Jepang mensentralisir pendidikan dan mengatur proses didik anak-anak di Jepang. MEXT menyadari bahwa pendidikan tak dapat dipisahkan dari kebudayaan, karena dalam proses pendidikan, anak diajarkan budaya dan nilai-nilai moral.

Mudah-mudahan dikeluarkannya kata “Budaya” dari Departemen “Pendidikan dan Kebudayaan” sehingga “hanya” menjadi Departemen “Pendidikan Nasional” di negeri kita, bukan berarti bahwa pendidikan kita mulai melupakan “Budaya”, yang di dalamnya mencakup moral dan budi pekerti.

Hakikat pendidikan dasar adalah juga membentuk budaya, moral, dan budi pekerti, bukan sekedar menjadikan anak-anak kita pintar dan otaknya menguasai ilmu teknologi. Apabila halnya demikian, kita tak perlu heran kalau masih melihat banyak orang pintar dan otaknya cerdas, namun miskin moral dan budi pekerti. Mungkin kita terlewat untuk menginternalisasi nilai-nilai moral saat SD dulu. Mungkin waktu kita saat itu tersita untuk menghafal ilmu-ilmu “penting” lainnya.

Demikian sekedar catatan saya dari menghadiri pertemuan orang tua di SD Jepang.

Penulis : Junanto Herdiawan

—————————————————————

Pendidikan yang utama adalah moral :)……

Masihkah Melakukan Pembajakan Software Tanpa Rasa Bersalah…..

Sounding Miision :)

Sounding Miision 🙂

Hari ini baca artikel bagus dari status mahasiswa saya di facebook :D…. tulisan itu diambil dari http://ridjam.wordpress.com/2013/12/20/ketika-membajak-software-sudah-tidak-merasa-berdosa/

isinya sebagai berikut:

Apakah anda pernah membayangkan seorang programmer yang berkarya dengan semua daya pikir, tenaga dan waktu yang ia punya bahkan dengan berbagai pengorbanan bergadang hampir setiap hari untuk membuat sebuah software yang mutakhir dan dapat bermanfaat, kemudian setelah dipasarkan atau dijual, di belahan dunia lain seseorang dengan santai dan anggunnya membajak software hasil karya programmer tadi tanpa rasa berdosa sedikit pun, kemudian menjualnya kembali dengan harga sangat murah dan kita membelinya?, setelah itu kita gunakan software tersebut sebagai alat untuk mencari rezeki, sungguh betapa dzalim siklus ini.

Berbicara mengenai penggunaan software bajakan di Indonesia khususnya di lingkungan yang pernah saya tempati adalah sesuatu yang sensitif dan pasti banyak yang tersinggung, karena memang menurut penelitian BSA (Business Software Alliance) pun Indonesia termasuk negara yang besar tingkat penggunaan software bajakannya yakni sebesar 86% termasuk di lingkungan saya, dan memang skripsi saya sedikit menyinggung tentang penggunaan software bajakan, sehingga saya mengetahui tentang hal ini.

Kita ketahui bersama bahwa istilah software bajakan adalah sebuah kejahatan menggunakan / menyebarkan / mengubah karya orang lain yang dalam hal ini software tanpa seizin si pemilik software alias ilegal, mungkin dari sudut pandang agama pun sudah jelas dari penjelasan singkat tersebut “tanpa seizin” yakni bagaimana ketika kita menggunakan barang tanpa seizin pemilik barang apakah itu perbuatan baik atau tidak dan pastinya selalu menarik membahas permasalahan kontemporer ke dalam hukum Islam :D. Analogi sederhananya coba bayangkan ketika rumah kita dimasuki oleh orang lain tanpa seizin kita, kemudian ia pakai seenaknya, apa reaksi kita? atau ketika foto diri kita, tanpa seizin si pemilik foto dan kemudian digunakan untuk kepentingan advertising / iklan orang lain, seperti spanduk di salah satu rumah makan misalnya, apa reaksi kita? silakan jawab sendiri analogi dari pertanyaan sederhana itu.

Terlepas dalam hal ini bukan hanya software saja yang dibajak tetapi juga ada buku, musik dan karya lainnya yang mempunyai hak cipta, dalam hal ini saya berfokus hanya pada software karena memang selama ini saya berkecimpung didalamnya. Walaubagaimanapun sesuatu yang ilegal adalah tidak baik dan sesuatu yang legal adalah sebaliknya, nah sekarang kasusnya bagaimana jika kita bekerja untuk mencari nafkah menggunakan software bajakan / ilegal? Pastinya pertanyaan ini sangat sensitif dipertanyakan di negara berkembang seperti Indonesia, kenapa ini harus dibahas? Iya karena ini sangat penting!!!, mengingat saat ini era informasi dimana kebutuhan akan penggunaan komputer terutama software sangat menunjang untuk aktivitas sehari-hari dan kita pun wajib mau tidak mau harus masuk dan tentu saja mematuhi aturan atau etika dalam rangka berperan serta didalamnya.

Seorang petani yang sedang menggarap sawah, ia menggarap sawah dengan cangkul hasil mencuri tentu hasil panennya tidak akan seBerkah petani yang menggarap sawahnya dengan menggunakan cangkul dengan membeli sendiri secara legal walaupun dengan berhutang misalnya. Seorang desainer grafis / programmer yang mencari nafkah dengan menggunakan software bajakan / hasil mencuri tentu akan berbeda keBerkahannya dengan seorang desainer grafis / programmer yang menggunakan software asli / original yang ia beli dengan jerih payahnya sendiri, hal ini tentu tidak terpaku hanya pada desainer grafis atau programmer saja tapi seluruh bidang pekerjaan yang menggunaan software sebagai penunjang pekerjaanya.

Ketika kelas satu Sekolah Menengah Atas saya sudah diberi komputer oleh orang tua saya dan tentu saja langsung lengkap dengan software mutakhir didalamnya yang diinstal oleh sang penjual komputer, dan pastinya bajakan semua ya,… :P karena sejak kecil ketertarikan saya dalam bidang seni, maka software pengolah grafis sudah barang tentu wajib diinstal di komputer saya, pada saat itu CorelDraw 12 adalah teman setia setiap saya pulang sekolah, karena setiap hari ketemu sama si CorelDraw maka kemampuan bervektor ria pun semakin terasah sehingga saya manfaatkan untuk dikomersilkan, sehingga saya sering mengerjakan desain dan tugas teman-teman di sekolah, lumayan buat tambah-tambah uang jajan (sebenernya saya orangya lebih suka menabung daripada jajan sih :D). Dalam jangka waktu 4 tahun sampai kira-kira kuliah semester 3 saya masih menggunakan CorelDraw, sebetulnya di kuliah semester 2 saya sudah dikenalkan dengan yang namanya Linux Ubuntu 8 Karmic Koala oleh teman saya, tetapi saya tidak ngeh / belum tertarik (maklum udah nyaman banget pake CorelDraw under Windows XP :P), seiring berjalannya waktu saya pun mempelajari tentang lisensi dan hak cipta penggunaan software termasuk tentang etika penggunaanya, sehingga pada akhirnya saya bertekad penuh pada saat itu mengganti OS Windows XP desktop saya dengan Linux Ubuntu sepenuhnya.

Saya pun secara bertahap mengganti software-software bajakan saya dengan alternatif lain seperti CorelDraw dengan Inkscape, Microsoft Office dengan OpenOffice dll., saya sangat berharap semoga Allah mengampuni dosa saya karena menggunakan software bajakan untuk dikomersilkan, malah mungkin duitnya udah banyak yang masuk ke perut -_-, memang karena saat itu saya belum tahu tentang hukum menggunakan software bajakan. Itulah masa-masa dimana saya mulai beradaptasi dengan software-software open source atau lebih spesifiknya mulai menghargai karya orang lain dengan menggunakan software yang legal dan betul! ternyata dengan dibiasakan menggunakan software legal, otomatis dalam hal lain pun saya lebih menghargai karya orang lain. Alhamdulillah pada kuliah semester 4, saya membeli laptop plus Windows 7 OEM original! Sejak saat itu software-software di Linux Ubuntu mulai saya instal di Windows 7 saya, seperti Inkscape, GIMP, Blender, Audacity, OpenOffice dll. Akhirnya bisa temu kangen lagi sama produk Microsoft,… :P dengan demikian saya berkesimpulan bahwa alternatif penggunaan software proprietary / berbayar telah terjawab dengan hadirnya software-software free dan open source.

Kita ketahui bersama bahwa sudah banyak pakar, ulama dan ahli yang menyetujui bahwa penggunaan software bajakan itu adalah Haram termasuk dalam hal ini fatwa MUI. Saya analogikan seperti ini: Mungkin anda tidak asing dengan dalil bahwa ketika kita berada di hutan pun agama Islam memperbolehkan memakan daging babi dengan syarat memang tidak ada lagi makanan yang dapat kita makan dengan tujuan bertahan hidup, tentu itu semua karena tidak ada alternatif lain ya kan?. Nah perbedaanya apabila dihubungkan dalam hal penggunaan software, justru sama dengan ketika kita tidak mampu membeli software berbayar maka kita disuguhkan alternatif lain yakni menggunakan software free dan open source, dengan demikian tidak ada lagi alasan bagi kita untuk menggunakan software bajakan atau daging babi seperti analogi tadi karena alasan tidak ada pilihan lain. :D

Apapun software yang anda gunakan pastikan legal!, ya betul! tidak ada larangan menggunakan software proprietary seperti produk Microsoft, Adobe, Corel, dll. asalkan legal!. Saya disini bukan memaksa anda supaya memakai software free atau open source, tapi marilah kita gunakan software yang legal, kita hormati karya orang lain, ingat! Segala sesuatu yang ilegal adalah tidak baik, apalagi jika software tersebut digunakan untuk mencari nafkah, dimana semua itu untuk memenuhi kebutuhan kita, keluarga kita, sandang, pangan, papan yang kemudian menjadi kehidupan dan darah daging pada tubuh kita, istri kita, anak kita, juga keluarga yang kita cintai, jangan cemari tubuh kita dengan sesuatu yang tidak baik. Saya menyadari bahwa keilmuan yang saya pelajari selama ini tidak secara khusus membidangi Ilmu Komputer, tetapi saya memahami bagaimana sulitnya membuat program.

Mungkin sebagian orang tidak peduli kalau software yang ia gunakan bajakan atau tidak, menghalalkan segala cara, yang penting duit, duit dan duit,…. alias pabeulit keneh jeung eusi beteung (istilah bahasa sunda) yang penting dapet duit dan perut kenyang. Tahukah anda ketika seseorang mencari nafkah dengan tidak memperdulikan cara yang ia gunakan baik atau tidak, alat yang ia gunakan halal atau haram, maka sesungguhnya ia lebih mementingkan duniawinya saja tanpa memperdulikan kehidupan akhirat (orientasinya hanya dunia). Kita harus sensitif terhadap hal ini, kenapa? karena orang yang tidak sensitif terhadap dosa adalah orang yang qolbu / hatinya sakit dan sebaliknya orang yang qolbu / hatinya sehat itu ia sensitif terhadap kesalahan dan berusaha memperbaiki diri. Saya berkata demikian karena memang banyak teman-teman saya yang tidak memperdulikan tentang hal ini.

Saya pun sampai saat ini masih berjuang untuk tidak menggunakan software bajakan, mungkin dalam hal software penunjang pekerjaan saya sudah sepenuhnya legal, tetapi bagaimana dengan software lainnya? Seperti lagu, video dll. sungguh banyak godaaan ya…-_- , sebenarnya sebagian besar sound sudah saya ganti dengan yang berlisensi CC (Creative Common) dan Indie, seperti sound fx dan backsound, banyak sound yang didapat gratis di situs last.fm dan ccmixter.org atau bisa juga mendengarkan lewat radio walau kadang lagunya tidak sesuai dengan suasana hati hehe… mau gimana lagi itu memang resiko kalo pengen yang gratis terus :P, atau bisa juga lagu lewat radio tersebut direkam untuk konsumsi pribadi. Untuk murotal Al-Quran jangan khawatir! karena murotal Al-Quran kebanyakan free to download kok alias legal, mending banyak-banyak ngapalin Al-Qur’an aja dah,… :D kemudian untuk solusi video yang legal anda bisa berlangganan VCD atau DVD original di tempal rental atau nonton langsung di bioskop aja,… :D

Membeli software bajakan itu berarti kita telah mendukung terus berlangsungnya pembajakan software, para penjual software bajakan akan selalu exist bila kita selalu mendukung dengan membeli barangnya, berkurangnya penjualan software bajakan berdampak juga pada distribusi software bajakan, sehingga penggunaan software bajakan dapat diminimalisir, oleh karena itu mulai saat ini jangan beli lagi software bajakan!, ok :D

Selama saya berjuang menggunakan software legal, mengisi workshop, pelatihan, diskusi ataupun muhasabah diri, saya mendapat pertanyaan-pertanyaan seperti ini:

Ahh yang punya software kan orang non Islam dan sudah kaya pula?

Saya sangat tidak menginginkan akhlak seorang muslim seperti ini, justru sesungguhnya didalam perdagangan kita diharuskan untuk saling menghormati, menghargai dan berlaku jujur, saya kira Islam pun mengajarkan demikian. Apakah ketika kita berdagang di pasar dan bersaing dengan orang non muslim kita lantas boleh tidak jujur? Tentu tidak kan? Justru tunjukkanlah akhlak seorang muslim yang baik, promosikan akhlakul karimah kita. Bagaimana jika di perusahaan software tersebut banyak pekerja muslimnya? Berarti kita telah dzalim kepada mereka.

Ciri mudah bahwa software itu bajakan?

Hindari yang namanya keygen, yups keygen! software bajakan biasanya menyertakan keygen didalam pendistribusiannya. Keygen berbeda dengan product key, ketika kita mendapatkan software yang menyertakan keygen didalamnya sudah dipastikan itu adalah software bajakan alias ilegal, sepertinya keygen adalah musuh kita bersama ya?,… hahaha,… :D berbeda halnya dengan product key yang kita dapatkan secara legal dengan harus membeli software tertentu alias original.

Bagaimana dukungan penggunaan Linux / software open source?

Jangan khawatir bagi teman-teman yang berniat ingin menggunakan software-software open source, di dunia nyata ataupun di dunia maya sudah banyak sekaliiii komunitas-komunitas yang akan membantu ketika kita mempunyai kesulitan tentang penggunaan software open source baik itu dalam maupun luar negeri, tinggal cari di search engine pun biasanya dapet banyak referensi dan banyak pertanyaan yang sudah di bahas. Di Indonesia sendiri dukungan terhadap penggunaan software open source sebenarnya sudah disahkan pada tahun 2004 dengan didirikannya IGOS (Indonesia Go Open Source), dan di dunia internasional pun menyepakati bahwa negara berkembang disarankan menggunakan software open source yang memang dapat menghemat anggaran negara dalam hal pembelian software.

Bagaimana kalau menggunakan software bajakan untuk tujuan pendidikan?

Sesuatu yang baik harus diawali dengan yang baik, jangan meracuni sesuatu yang baik dengan diawali dengan yang tidak baik, maka kedepannya pun akan tidak baik. Tidak ada istilah seperti di film Robin Hood dimana ia mencuri atas nama kebaikan, ia mencuri untuk membantu rakyat miskin, sang koruptor yang melakukan korupsi untuk membantu rakyat miskin pun tidak diperbolehkan apalagi korupsi untuk naik haji iya kan? :D. Justru di dunia pendidikan lah merupakan sarana penting untuk menumbuh kembangkan tentang etika bagaimana murid / mahasiswa diharuskan untuk menghormati hasil karya orang lain, toh tingkat sarjana strata satu (S1) pun membuat karya Skripsi / Tugas Akhir yang menuntut keaslian / keoriginalitasan.

Menurut saya justru disinilah kita bisa melihat sisi baik dari software-software open source, karena didalam software open source itu ada nilai edukasinya, open source yang berarti sumber terbuka memungkinkan kita dapat mengetahui bagaimana software berjalan (mempunyai akses ke source code) sehingga dapat menyesuaikan software tersebut dengan kebutuhan kita, walaupun dalam hal ini kata open source merujuk terhadap hal yang lebih advance mengenai programming, tetapi setidaknya kita dapat mengambil nilai positif dari semangat yang dikandungnya, bahwa software dapat digunakan secara bebas.

Software proprietary / berbayar versi Trial itu Legal?

Yups, benar sekali software trial itu legal, karena sebenarnya itu merupakan salah satu tujuan dari perusahaan software untuk mempromosikan softwarenya. Suatu waktu pada salah satu mata kuliah di Universitas saya ditugaskan membuat sebuah pembelajaran interaktif menggunakan salah satu produk Adobe yakni Adobe Flash, karena pada saat itu memang belum diberi kemampuan untuk membeli softwarenya maka salah satu alternatifnya adalah menggunakan software trial, alhasil dengan waktu kurang dari waktu trial yakni 30 hari, saya dapat menyelesaikan tugas dengan baik dan alhamdulillah dengan nilai memuaskan. Nah, justru yang dilarang adalah menggunakan software trial yang dibuat menggunakan trik menjadi Trial selamanya,… :P

Jika keduanya ridho tidak masalah, pihak perusahaan membiarkan berarti kan ridho?

Pertanyaan ini muncul ketika saya lampirkan Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 29 pada salah satu sharing ilmu tentang penggunaan software, kita ketahui bersama bahwa menggunakan software bajakan adalah sama dengan mencuri dan menggunakan karya orang lain tanpa izin, ketika si pemilik software meRidhokan tetap saja status barang yang kita pakai tetap hasil mencuri walaupun perusahaan pemilik software Ridho, tetap saja judulnya Software Bajakan. Sama dengan analogi petani yang mencuri cangkul untuk menggarap sawahnya dan sang penjual toko cangkul Ridho cangkul dagangannya dicuri.

Tapi kok selama ini pihak perusahaan software diam saja terhadap pengguna software bajakan?

Memang iya sih, selama ini saya juga belum pernah mendengar pihak perusahaan software turun tangan melakukan sidak ke perusahaan-perusahaan, karena mungkin yang memang berhak memenjarakan adalah pihak berwajib dan atas keputusan hakim, pihak perusahaan tidak punya hak. Ada juga kemungkinan agar kita menjadi ketergantungan terhadap software tersebut sehingga terbelenggu oleh software ilegal, sehingga ketika kita membisniskan / membuatnya menjadi komersil dan kita / karyawan kita hanya punya pengetahuan / keterampilan menggunakan software itu, maka kita tidak punya kuasa ketika perusahaan kita disidak oleh pihak berwajib.

Untuk membeli makan saja susah apalagi membeli software?

Ya kalau begitu untuk beli makan aja susah jangan membajak hak cipta orang lain, kan masih ada alternatif lain? Yakni menggunakan software free atau open source. :D

Mungkin itu sebagian kecil pertanyaan yang sering muncul kepada saya dan ternyata di dunia ini selalu ada padanan / pasangannya ya? Tua – Muda, Tinggi – Pendek, Wanita – Pria, Mahal – Murah, Berbayar – Gratis, Open Source – Closed Source,… :D

Mari kita mulai biasakan!, ya memang untuk bisa menggunakan software legal secara menyeluruh itu butuh proses dan tidak bisa langsung atau ujug-ujug (istilah bahasa sunda) pure atau bersih sepenuhnya menggunakan software legal, perlu dibiasakan tahap demi tahap karena memang untuk menjadi “biasa” salah satu solusinya adalah dengan “dibiasakan”, seperti halnya watak yang dapat terbentuk dari kebiasaan yang konsisten. Jangan khawatir! jika niat kita baik insya Allah akan dimudahkan. Life is process, walau bagaimanapun untuk menjadi baik itu berproses. Mari kita senantiasa berbenah diri karena kegiatan yang paling elegan di dunia ini adalah senantiasa memperbaiki diri. Pada akhirnya itu adalah keputusan anda, selanjutnya hati nurani anda yang menentukan untuk menerima atau berontak dengan ajakan ini, karena itu perut, perut anda juga ya kan? dan itu diluar jangkauan dan kemampuan saya untuk merubah, tetapi seiring berjalannya waktu saya yakin nanti pun anda dapat mengetahui mana yang berada dikoridor yang benar dan mana yang salah, yang penting tugas saya sebagai seorang muslim yakni menyampaikan yang saya pahami sudah selesai, ini adalah kerangka berpikir saya, pembahasan berdasarkan hukum yang saya pahami,… :D

Saya hanya berharap semoga dengan tulisan ini anda tercerahkan, termotivasi, tersadarkan dan mulai menghargai karya orang lain, karena jika dilihat dari ranah hukum pastinya sudah jelas. ^_^

Penulis:

——————————————-

Semoga mendapat pencerahan untuk memulai mengurangi pembajakan software sedikit demi sedikit sampai akhirnya bisa tidak lagi menggunakan software bajakan :). Kalau saya Insya Allah sudah tidak pakai software bajakan seperti yang pernah saya tulis di https://hariiniadalahhadiah.wordpress.com/2013/03/23/biar-laptop-jelek-tapi-gak-pake-software-bajakan/.

Berdamai dengan Rasa Sakit

Tahun 2013 merupakan sebuah tahun perjuangan untukku, di tahun itu berat badanku turun sekitar 20 kg :D. Ya ya benar…. ada permasalahan yang sangat pelik… rasanya seperti sebuah impian seumur hidup yang menjulang tinggi dihancurkan oleh  sesuatu yang membuatnya roboh dalam waktu singkat. Tentu saja ini bukan hal mudah buatku.

Tapi kita hidup, semuanya pasti berubah bukan. Tidak ada yang sama, karena setiap hari adalah waktu untuk belajar menjadi lebih baik. Sekarang aku merasa menjadi pribadi yang lebih baik, lebih belajar bersabar, menyingkapi banyak hal dengan positif, dan berusaha terus berjuang.

Yang kulakukan sekarang sering ketika bertemu orang, yang kukatakan adalah “kamu harus tetap hidup, karena kalau belum siap, sakratul itu menakutkan”…. kenapa berkata begitu :). Itu bagian dari pengalamanku. Aku adalah manusia dengan banyak sekali dosa.

Mari kita bahas tentang rasa sakit, terutama rasa sakit yang terjadi pada jiwa kita. Orang yang kurang punya Tuhan di hatinya maka akan memiliki kecenderungan untuk mengakhiri rasa sakit di jiwa ini bila sudah terlalu sakit. Sering cara yang dipilih mengakhiri rasa sakit adalah bunuh diri. Jadi kecenderungan melakukan bunuh diri itu untuk mengurangi rasa sakit. Jika ingin menyembuhkan orang seperti ini, maka obatilah rasa sakit di jiwanya.

Aku percaya, ada 4 hal yang menjadi takdir Allah itu adalah kelahiran, rejeki, jodoh, dan kematian. Maka kita tidak diperkenankan melangkahi hak Allah itu. Misalnya untuk mendapat rejeki kita korupsi, atau untuk mendapat jodoh kita ke dukun, atau untuk mengakhiri rasa sakit di jiwa kita bunuh diri, atau aborsi untuk mencegah sebuah kelahiran. Perbuatan itu semua tidak disukai Allah karena kita sebagai makhluk melangkahi hak Allah untuk memutuskan itu semua.

Tugas manusia adalah berusaha yang terbaik dan bersabar. Hasilnya serahkan kepada Allah. Sampai ada surat resmi yang legal dari Allah memanggil kita ke sisiNya.

Banyak hikmah yang kudapat dari pengalaman. Pada intinya, kita tidak bisa melawan rasa sakit yang ada di jiwa kita, karena akan semakin sakit. Yang bisa kita lakukan adalah berdamai dengan rasa sakit itu, berteman dengan rasa sakit itu, hingga rasa sakit itu tidak mampu lagi menyakiti kita, karena kita berteman dengannya :). Dengan berteman dengan rasa sakit, kita akan menjadi pribadi yang lebih baik.

Allah mengatakan di dalam Al Qur’an, bahwa Allah menciptakan bumi dan hati manusia itu luas, jika bumi dan hati manusia menjadi sempit, itu karena manusia itu sendiri. Mari berdoa kepada Allah untuk bisa merasakan hati yang luas itu. Aamiin. :). Hari ini adalah hadiah… apalagi jika kita masih diberikan kesehatan dan banyak niat baik, itu adalah nikmat tiada tara :). Dan tetaplah selalu yakin bahwa Allah itu benar benar ada :).

Hasbunallah Wa Ni’mal Wakil Ni’mal Maula Wa Ni’Manashir….. Cukuplah Allah tempat berserah diri bagi kami,  sebaik-baik pelindung kami, dan sebaik-baik penolong kami.