Ternyata Memang Perlu Ada Bapak dan Ibuk

Diza pake topi jerapah

Kemarin sharing dengan beberapa mahasiswa dan rekan dosen ternyata cara pengajaran dari sudut pandang seorang Bapak dan seorang Ibuk itu berbeda. Seorang Bapak lebih cenderung mengajarkan mahasiswa untuk mandiri dengan kedisiplinan dan mengajari mahasiswa untuk tahu apakah mahasiswa butuh atau tidak, selebihnya ya silakan mahasiswa memilih.
Nah dari sudut pandang saya sebagai seorang ibuk lebih pada dukungan terhadap kondisi psikologi mahasiswa seperti halnya mengajari seorang anak belajar berjalan (saya yakin seorang Bapak seringnya langsung tahu “Eh anakku udah bisa berjalan”), kalau seorang ibuk akan membimbing secara telaten agar anaknya bisa berjalan, tahu secara detail apa yang sudah dicapai anaknya. Atau sekedar bertanya, tadi di sekolah belajar apa, senang tidak sama temanmu. Kalaupun seorang ibuk ngambek, dia tidak akan tega benar-benar membiarkan anaknya (kenapa dibilang kasih ibu sepanjang jalan, tapi tidak ada kasih Bapak sepanjang jalan :D). Ibuk memang tidak bisa tegas. Ibuk lebih cenderung ke dukungan dan pengajaran supaya anak bisa berdiri sedangkan seorang Bapak mengajarkan kemandirian berjalan. Nah saya baru paham secara logika kenapa figur seorang Ibuk dan Bapak itu penting bagi anak. Karena tanpa salah satunya anak akan kehilangan sebagian komponen pengajaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s