Hidup ada Kalanya di Atas dan ada Kalanya di Bawah

Kemarin saya dan keluarga jajan makanan ayam bakar yang dulu sering saya dan suami datangi waktu masih kuliah (di daerah sekitar jalan Riau/R.E. Martadinata). Itu hanya sebuah warung kaki lima biasa saja. Tempatnya sekarang sudah digeser dari tempat yang dulu awal berdirinya warung itu. Saya masih ingat dulu warung itu rame sekali. Sampai pernah waktu kami makan disana ada artis Ferry Maryadi juga lagi makan disitu.

Waktu berselang. Kemarin saya kesana dan menjadi sedih. Gerobak yang dulu terisi penuh dengan barang dagangan (tahu, tempe, sate kulit, sate usus, ayam, pepes jamur, pepes usus) sekarang hanya terisi seperempat gerobak saya dengan menu tidak sekomplit dulu (hanya tinggal ayam, tempe, sate kulit, sate usus, dan pepes jamur). Pengunjungnya pun jauh, sudah tidak seramai dulu yang selalu penuh sampe malam pun. Apa yang terjadi dengan warung ini????? Sedih saya melihatnya.

(Kemarin kesana lagi, ternyata sekarang udah lumayan ramai lagi setelah mereka pindah agak maju ke jalan, Alhamdulillah, saya ikut senang)

Iklan

Dalam ilmu psikologi, narsis dan eksibisionis adalah bentuk penyimpangan kejiwaan

Bisa dibaca disini.

Pamer itu mungkin boleh kita sebut narsis, memuji diri sendiri secara berlebihan. Atau bahkan mungkin sudah masuk dalam taraf gangguan kejiwaan yang disebut eksibisionis. Narsis adalah rasa bangga diri yang berlebihan adapun eksibisionis adalah nafsu pamer kehebatan diri yang berlebihan. Dalam ilmu psikologi, narsis dan eksibisionis adalah bentuk penyimpangan kejiwaan.

Apakah pamer diri tidak diperbolehkan? Boleh. Dalam sebuah artikel Majalah Ayahbunda disebutkan, pamer adalah kebiasaan wajar anak-anak.

Ketika Manusia Tidak Banyak Bersyukur

Laptop saya yang sudah terlakban karena rontok dan pecah, males ganti, masih sayang

Saya sering bilang pada mahasiswa saya, bahwa kita bisa BAB itu sudah sebuah nikmat yang harus kita syukuri. Orang sering melupakan hal-hal kecil yang diberikan Allah kepada manusia. Orang juga sering silau dengan sesuatu yang semu di dunia. Kenapa bagi saya bisa BAB itu harus disyukuri, saya pernah tahu seorang yang harus dilubangi perutnya karena sudah tidak bisa BAB secara normal. Lalu kotorannya dimasukkan ke dalam kantong yang harus sering dibersihkan. Bisa dibayangkan…….Sejak itu setiap bisa BAB saya bersyukur kepada Allah betapa nikmat yang diberikan.

Manusia sering silau atau bahkan terjebak dengan kehidupan yang semu, misalnya demi uang dan jabatan orang mengabdikan waktunya disitu, tanpa menyadari nikmatnya keluarga yang berhasil. Keluarga yang berhasil bagi saya adalah seorang suami yang dapat menjadi amanah sebagai seorang pemimpin dan anak-anak yang soleh dan solehah. Bagi saya ketika seseorang mendapatkan semua uang dan jabatan tapi anaknya gagal, maka kalahlah seluruh hidup di dunia. Sering beralasan mencari uang demi anak tanpa menanyakan kepada anaknya apa yang diperlukan anaknya. Sering orang lupa bahwa tidak semua di dunia ini dapat dibeli dengan uang.

Arti uang bagi saya adalah power (kekuatan), kekuatan untuk membantu orang lain. Cobalah merasakan bahwa dalam kondisi kepepet pun kita masih dapat membantu orang dengan ikhlas, karena yakin Allah akan memberikan balasan akan keikhlasan kita. Tidak usah terlalu dipikirkan apa kita akan makan besok, ketika kita ikhlas maka Allah akan memberikan hitung-hitungannya asal kita tetap berusaha yang terbaik. Hitung-hitungan itu tidak sesuai dengan teori ekonomi manusia. Kenapa manusia terjebak untuk terus mencari uang tanpa peduli hal-hal yang lebih penting yaitu hakiki hidup, karena kebanyakan manusia tidak percaya bahwa Allah akan mencukupkan rejekinya jika kita ikhlas.

Bagi saya, saya hidup dengan doa orang lain. Jika saya zalim maka doa orang yang saya zalimi bisa jadi dikabulkan, jika saya baik, maka doa dari orang yang saya baiki bisa jadi dikabulkan.  Allah adalah guru yang paling baik, apa yang diberikan kepada kita adalah pembelajaran untuk menjadi manusia yang lebih baik asal kita menyadarinya dan mempercayaiNya.

Ternyata Memang Perlu Ada Bapak dan Ibuk

Diza pake topi jerapah

Kemarin sharing dengan beberapa mahasiswa dan rekan dosen ternyata cara pengajaran dari sudut pandang seorang Bapak dan seorang Ibuk itu berbeda. Seorang Bapak lebih cenderung mengajarkan mahasiswa untuk mandiri dengan kedisiplinan dan mengajari mahasiswa untuk tahu apakah mahasiswa butuh atau tidak, selebihnya ya silakan mahasiswa memilih.
Nah dari sudut pandang saya sebagai seorang ibuk lebih pada dukungan terhadap kondisi psikologi mahasiswa seperti halnya mengajari seorang anak belajar berjalan (saya yakin seorang Bapak seringnya langsung tahu “Eh anakku udah bisa berjalan”), kalau seorang ibuk akan membimbing secara telaten agar anaknya bisa berjalan, tahu secara detail apa yang sudah dicapai anaknya. Atau sekedar bertanya, tadi di sekolah belajar apa, senang tidak sama temanmu. Kalaupun seorang ibuk ngambek, dia tidak akan tega benar-benar membiarkan anaknya (kenapa dibilang kasih ibu sepanjang jalan, tapi tidak ada kasih Bapak sepanjang jalan :D). Ibuk memang tidak bisa tegas. Ibuk lebih cenderung ke dukungan dan pengajaran supaya anak bisa berdiri sedangkan seorang Bapak mengajarkan kemandirian berjalan. Nah saya baru paham secara logika kenapa figur seorang Ibuk dan Bapak itu penting bagi anak. Karena tanpa salah satunya anak akan kehilangan sebagian komponen pengajaran.