Dosa dan Teguran

Dosa-dosa bangsa ini:

  1. Murid dari anak kelas 1 SD sampai kuliah, banyak yang hobi nyontek
  2. Semakin banyak seks bebas dan video 3GP porno yang tanpa malu diedarkan
  3. Korupsi dari tukang parkir, preman, pegawai rendahan, pejabat tinggi, sampai anggota DPR terhormat (mulai dari uang ceperan sampai uang yang bukan hak)
  4. Anggota DPR yang gak punya hati (rekreasi pake uang negara di tengah 31 juta rakyat yang gak bisa makan)
  5. Orang-orang yang gila uang dan prestige lalu lupa bahwa anak adalah amanah sehingga menciptakan anak-anak manja dan monster
  6. Semua pengen instan tanpa menghargai proses, buntutnya cari jalan cepat nyontek, mencuri, korupsi, ke dukun
  7. ………………………………………….stil more

Teguran Tuhan ke Bangsa ini:

  1. Tabrakan Kereta
  2. Banjir Wasior
  3. Banjir Jakarta
  4. Lumpur Lapindo
  5. Gempa Mentawai
  6. Gunung Merapi ngamuk
  7. …………………………………………..still more

Gimana? Masih gak mau tobat juga?

Iklan

Perilaku Mahasiswa Bisa Mengubah Perilaku Dosen

Dulu pas jadi mahasiswa sering ngomongin kelakuan dosen yang ini dan dosen yang itu. Sekarang saya menjadi dosen. Ternyata tanpa sadar memang seorang dosen belajar dari kelakuan mahasiswanya. Misal pas awal jadi dosen saya berpikir orang Indonesia masih baik jadi saya membolehkan diskusi di ujian asal tidak menyontek jawaban (jawaban tidak boleh sama). Hal ini saya lakukan karena mungkin dalam kondisi kepepet seseorang akan berusaha mengerti dan paham mengenai mata kuliah yang diujikan, tapi apa yang terjadi, ternyata pada menyontek. Sejak itu saya tidak pernah lagi menggunakan metode ini.

Lalu ada juga kelas yang saya beri tugas, tapi 80% mahasiswa saya menyontek (kacau benar bangsa ini). Mereka pikir dosennya orang bodoh apa.
Lalu saya juga mencoba menganggap mahasiswa saya teman, tapi hasilnya malah ngelunjak, bahkan ada yang memanggil saya “tante”. Lalu ada lagi mahasiswa yang sering saya ajak bicara mengenai masa depan, karena dia sudah beberapa kali tidak lulus mata kuliah saya. Saya dengarkan curhatnya dan coba memberi pengertian. Lalu saya ajarkan mata kuliah itu secara privat untuk mengejar ketertinggalan, tapi apa? Kadang dalam seminggu mereka hanya mengerjakan 1 soal dari 5 soal yang saya berikan untuk PR.
Mungkin saat ini saya sudah mulai lelah. Jadi biarlah mereka memikirkan hidupnya sendiri. Mungkin mahasiswa sering tidak sadar mereka bisa mengubah dosen yang baik menjadi biasa karena perilaku mereka yang tidak benar.
Misal ada juga dosen saya yang sama sekali tidak mau memberikan nomor handphone-nya karena ada mahasiswanya yang kurang beretika menelpon jam 1 malam untuk membahas skripsinya.
Tanpa sadar mahasiswa sering menyalahkan dosennya, tapi tanpa sadar pula mahasiswa juga telah mengubah dosen baik menjadi biasa saja.

Masalah Berat Bangsa Ini, Harga Diri dan Kemanusiaan

Membaca berita penyelamatan 33 pekerja tambang di Cile, dimana presidennya rela membatalkan beberapa urusan (lihat Metro hari ini) demi mengurusi penyelamatan 33 pekerja tambang ini (baca disini juga). Sampai ada seorang polisi yang gagal menyelamatkan satu orang di peristiwa lain di Cile dia memilih untuk mengundurkan diri.
Di Indonesia? Masalah bangsa ini adalah orang sudah tidak memandang harga diri, tapi orientasi hasil apapun caranya. Orang hanya dihargai dari uang, dan orang juga menghargai apapun dengan uang.

Jas seorang Ahmadinejad saja lebih jelek dari menteri di Indonesia. Banjir di Papua baru diurus setelah Hillary menyatakan bela sungkawa. Pemimpin pada pengen bermewah-mewah dengan Royal Saloon. Boro-boro ngurusi 33 orang. “Death Culture” tanpa empati. Pernah baca, bahwa orang cerdas secara psikologi adalah orang yang berempati.  Jadi orang di Indonesia sepertinya jarang yang cerdas. Misal satu contoh kecil, membuang sampah, kalau kita membuang sampah sembarangan tanpa sadar kita sudah menyusahkan petugas kebersihan, kalau kita berempati maka kita akan membuang sampah di tempatnya. Berapa banyak orang cerdas yang melakukan ini?

Bagi saya sebuah nyawa itu penting, karena saya pernah merasakan kehilangan hanya sebuah nyawa, Bapak saya tercinta pada saat yang kurang tepat. Itu sudah membuat hidup saya kacau. Kenapa nyawa tidak dihargai di Bangsa ini. Masalah berat bangsa ini adalah harga diri dan kemanusiaan dan dengan bodoh melihat penderitaan orang lain.

Anakku Sudah Besar :)

Diza udah masuk TK walau jadi anak bawang

Mungkin perasaan kebanyakan orang tua seperti saya. Tanpa sadar anaknya sudah besar dan orang tuanya semakin tua. Anakku sekarang sudah masuk TK karena anak tetangga teman bemainnya sudah masuk TK. Diza semangat sekali sekolah, pernah pas sabtu minggu tetep minta sekolah :D. Usianya memang belum masuk usia TK, tapi karena teman bermainnya yang memang usianya lebih tua masuk TK, diza juga mau masuk TK. Saya bilang sama gurunya, biar saja jadi anak bawang :D.

By hariiniadalahhadiah Posted in Family

Cita-cita di Indonesia Hanya Ada Jadi Dokter

Kalau ditanya anak-anak di Indonesia cita-citanya jadi apa, hampir semua jawabnya dokter. Seringnya karena image jadi dokter adalah duitnya banyak. Makanya banyak orang bayar ratusan juta demi jadi dokter. Habis itu banyak juga yang sebenarnya otaknya gak nyampe, tapi tetep bisa jadi dokter. Hasilnya mal praktek.

Saya dulu waktu kecil ditanya mau jadi apa, saya jawabnya malah guru (emang udah nyeleneh dari kecil :D). Pasti pada ketawa. Ketika saya bilang saya mau jualan bebek atau jadi juragan kambing banyak juga yang ngetawain. Padahal kalo nasehat Rasul kan malah enterpreneurship. Ternyata orientasi masyarakat kita kebanyakan masih duit dengan cara gampang. Belum ke arah aktualisasi diri. Makanya bertahun-tahun juga tetep aja bangsa ini seperti ini. Bahkan Indonesia sudah masuk sebagai negara terbelakang. Karena saya pernah tahu ada beasiswa untuk negara terbelakang, salah satunya adalah Indonesia.

Ternyata Aku Sangat Kecil

Senyum Ikhlas Padahal Baru Saja Kehilangan Kakinya

 

Kemarin baca blog dosen saya, Pak Rinaldi munir di http://rinaldimunir.wordpress.com/2010/10/01/30-september-2009-satu-tahun-yang-lalu-di-padang-kisah-ramlan/ dan membaca blog ini http://sbelen.wordpress.com/2009/10/10/gempa-padang-ramlan-nekad-amputasi-kakinya-sendiri/ saya jadi merasa sangat kecil. Coba dilihat gambar ini. Seorang Ramlan yang waktu itu menjadi tukang bangunan memotong kakinya yang sudah hancur tertimpa beton dengan alat-alat pertukangan. Keikhlasannya sungguh luar biasa, melihat kakinya yang sudah hancur, dia merelakan kakinya demi menyelamatkan nyawanya. Dengan keikhlasannya itu Allah memberikan hitung-hitungannya padanya yang sama sekali tidak sesuai rumus matematika ataupun ekonomi (baca di blog Pak Rin). Allah akan memberi lebih dari yang diharapkan jika kita ikhlas di saat tersulitpun. Saya benar-benar merasa sangat kecil melihat seorang Ramlan ini yang bagi saya sangat keren, keren banget, two thumb up. Saya kalah telak dengan seorang Ramlan. Benar-benar orang keren.