Sakit Seminggu untuk Kesekian Kalinya, Sekarang Malah Kompakan Bertiga

Saya sering bingung, apa bedanya bekerja keras dengan tidak tahu diri yang artinya bekerja terlalu keras sampai baru berhenti ketika indikator tubuh sudah tanpa tenaga dan harus bed rest? Saya sering sekali ijin tidak masuk karena sakit kecapekan. Dan saya sering tidak berhenti bekerja kalau belum sakit. Saat ini kami malah kompak, saya, suami, dan anak saya sakit semua, pada demam. Saya dan suami orang yang perfeksionis, saat ini kesibukan kami adalah:

pagi bangun jam 3 masak bebek untuk dijual di warung (kalau bukan amanah memegang karyawan, atau kami udah bisa jadi orang jahat, mungkin kami memilih berhenti)

jam 7 an suami saya berangkat ke kantor saya ke kampus (sebenarnya kalau saya bisa jahat, kasih saja itu mahasiswa tugas tanpa saya mengajar seperti yang dilakukan beberapa dosen, tapi saya tidak bisa jahat :(, atau usir saja mahasiswa yang curhat kalau saya sedang sibuk ngerjain proyek, tapi masak orang susah tidak dibantu :().

Suami juga, bisa aja kan jadi brengsek dengan pulang cepat atau sering tidak masuk (tapi kami bukan orang jahat)

Lalu pulang sore sekitar jam 5an dan meluangkan waktu untuk bercanda atau mendengar cerita anak, lalu jam 8an mempersiapkan bumbu untuk memasak bebek besoknya, suami biasanya ambil bebek ke supplier lalu memotong-motong bebek. Biasanya pekerjaan ini selesai sekitar jam 10.

Setelah itu kadang saya masih ngurusin proyek kalau masih bisa sadar.

Sabtu minggu lebih untuk mengerjakan proyek dan waktu untuk keluarga. Kadang kami menyempatkan diri untuk jalan-jalan barang 1 sampai 2 jam. Memasak bebek tetep, ditambah beli bahan jualan ke pasar.

Hasilnya kali ini kami kompakan untuk sakit.

Iklan

Kami Memang Diajari Sombong dan Percaya Diri

Informatika berjiwa satria
Tidak pernah mengenal keluh kesah
Tugas yang berlimpah bukanlah rintangan
Lautan ujian sudahlah biasa

Hidup hidup hidup Informatika
……….

itu adalah sebagian penggalan dari mars informatika Himpunan Mahasiswa Informatika ITB

atau

Salam Ganesha
Bakti kami untuk Tuhan
Bangsa, dan Almamater
Merdeka

itu adalah salam ganesha yang sering didengungkan saat kami ospek

atau lagu Mentari

Mentari menyala disini
Disini di dalam hatiku uuuuuu
………

Jadi ingat semua itu pas kuliah S1 dulu, gara-gara melihat mahasiswa baru UPI yang sedang ospek.

Saya dulu waktu pertama masuk ITB pas OSKM pernah kami dibawa ¬†jalan di depan Unpad Dipati Ukur lalu disuruh bikin gelombang manusia sambil berteriak “ITB”. Mmmmmmm dari sini kami emang udah diajari narsis :D.

Lalu masuk TPB (Tahap Persiapan Bersama, atau plesetannya Tahap Persiapan Bayi-bayi :D). Beberapa dosen (waktu itu kami masih FTI (Fakultas Teknologi Industri, belum STEI)) sering mengatakan bahwa kami adalah putra putri terbaik Indonesia (2000 besar minimal peringkat nasional), gimana gak jadi sombong sering dibilang gitu :D. Jadinya kami sangat PD :D.

Lalu masuk jurusan setelah TPB ada dosen yang mengatakan kami bukanlah “cecunguk-cecunguk” yang sekolah gak jelas :D. Gimana gak tambah sombong :D.

Tanpa sadar doktrin-doktrin itu menguasai, dan ketika keluar, anak-anak Informatika menjadi keras dan mungkin arogan ūüėÄ (seorang rekan dosen bilang “my way or no way” :D). Dan satu lagi, kami sangat PD dan narsis juga kayaknya :D.

Tapi kami dulu memang diajari punya harga diri (gak lulus ya ngulang ūüėÄ gak perlu memohon-mohon gak jelas, mau di-black list :D). Menyontek itu haram dilakukan demi harga diri itu. Mending tidak lulus dibanding menyontek (take the risk for what you have done). Dan kami diajari keras dengan prinsip dan idealis. Gak suka dengan gaji ya keluar bukan cuman berkeluh kesah gaji gak naik-naik (makanya kami juga dikenal kutu loncat).

Ternyata lingkungan waktu S1 itu adalah sebuah titik balik akan jadi apa kita selanjutnya. Kangen juga jadi mahasiswa S1 :D.

Menyalahartikan Rasa Sayang

 

Ada sebuah perkataan, bahwa orang yang paling kita sayangi terkadang adalah orang yang paling sering kita marahi. Saya pernah berbicara dengan teman jurusan psikologi unpad waktu saya mahasiswa dulu, saya bercerita beberapa hal mengenai Ibu saya yang saat SMA sering saya membatahnya :(. Saat itu saya bilang saya benci ibu saya, tapi teman saya itu berkata “Ros, kamu tahu tidak, dari semua ceritamu sebenarnya orang yang paling kamu sayangi di dunia ini adalah ibumu”. Saya merenung saat itu dan mulai menangis, iya saya sangat menyayangi ibu saya, bahkan saat itu saya berjuang keras di ITB dengan semua keterbatasan biaya karena saya tahu Ibu saya sudah berjuang keras demi saya. Masya Allah………(Makanya saya ingin jadi dosen yang benar, karena saya tahu orang tua setiap mahasiswa berusaha keras menyekolahkan anaknya :)).

Lalu saya kemarin cerita dengan suami saya, Pak mahasiswa itu banyak yang menganggap saya “tega” dengan standar saya (padahal tidak ada 50% standar saat saya mahasiswa dulu). Padahal saya ingin yang terbaik buat mereka biar mereka jadi orang yang mampu hidup dengan baik dan berguna bagi orang lain. Lalu suami saya berkata, “itu sudah biasa, orang sering menyalahartikan rasa sayang, misalnya saya marah ke kamu, pasti kamu menganggap saya menyebalkan, padahal saya marah ke kamu karena saya perduli dan sayang”. Saya merenung………

Iya, karena Allah sayang pada Nabi Muhammad, Nabi diajari banyak hal (Hidup Nabi sangat susah, bukannya enak ongkang-ongkang). Ternyata menyampaikan rasa sayang itu terkadang tidak dimengerti orang yang disayangi……

Saya harus mencoba mengerti ini dan bersabar karena saya yakin dengan yang saya rasakan, saya sayang mahasiswa saya, dan menghormati perjuangan orang tua mereka menyekolahkan mereka. Jadi harusnya saya tidak meminta dimengerti, tapi harusnya saya bersabar. Amin.

Jadi ingat sama Bu Inge, ternyata Bu Inge sayang sama saya :D. Dulu saya juga tidak suka Bu Inge, tapi sekarang Bu Inge menjadi dosen yang paling saya ingat. Maaf dan Terima kasih Bu. (Bu Inge adalah dosen Algoritma dan Pemrograman saya waktu saya tidak lulus mata kuliah ini, rasanya saat itu hidup saya hanya berisi Algoritma, di jalan, di kamar, bahkan di WC :D).

Ngapain Loe Masuk UPI Ros?????

Beberapa teman bertanya hal ini ke saya, saya hanya tersenyum dan bilang “gak tahu” :D. Saya memang awalnya pernah bekerja sebagai programmer di sebuah anak perusahaan korea selama setahun,¬† habis itu freelance proyekan IT sambil ngajar. Mungkin kalau dilihat dari segi gaji menjadi dosen UPI, memang jauh jika dibandingkan dengan proyekan, walau proyekan memang tidak selalu ada :D. Dari menulis buku¬†juga¬†“lumayan” untuk makan :D. Nah pertanyaannya, kenapa saya masuk¬†menjadi dosen UPI?

Di Ilmu Komputer UPI hanya ada 2 alumni¬†S1 Informatika ITB. Yang pertama adalah Pak Yudi Wibisono (IF ’94) dan baru saya (IF ’01) (selisihnya 7 angkatan). Tentu saja¬†menjadi dosen UPI tidak terlalu diminati alumni¬†Teknik Informatika ITB. Makanya banyak yang¬†bertanya kenapa saya masuk menjadi dosen UPI. Biasanya kalaupun menjadi dosen kebanyakan alumni ITB pengennya menjadi dosen ITB.

Mungkin saya adalah korban dari¬†prinsip hidup saya yaitu “saya lawan dunia” (seperti lagunya simple plan “Me Againts The World” yang waktu saya jadi mahasiswa saya suka sekali lagunya :D). Saya ingin menjadi orang yang tidak biasa, saya ingin menjadi orang yang beda. Saya ingin memberikan¬†kisah perjuangan hidup pada¬†calon-calon pendidik yang¬†nantinya disebut guru, sehingga guru tidak¬†hanya pintar mengambil jalan pintas seperti yang banyak terjadi saat ini. Sehingga murid yang diajar para guru ini menjadi orang benar, sehingga bangsa ini menjadi bangsa yang benar. Saya¬†tahu ini tidak mudah, tapi bukan saya kalau tidak mencoba “melawan dunia” sekuat tenaga¬†he he he he….:D.

Jadi menjadi dosen UPI adalah salah satu cara aktualisasi diri saya untuk “melawan dunia” seperti halnya saya membuktikan bahwa orang yang beberapa kali ngulang juga bisa lulus tepat (sampai ada adik kelas yang komentar “Mbak itu lulus” karena saya menjadi salah satu dari 13 orang pertama yang lulus di angkatan 2001), atau orang yang pernah punya IP satu koma juga bisa punya IP empat, atau orang yang pernah tidak lulus Algoritma dan Pemrograman juga bisa jadi programmer yang baik dan dosen Algoritma dan Pemrograman yang baik, Amin :D.

—————————————————————————————————————————–

Karena banyak yang searching berapa gaji dosen di UPI, berikut gaji dosen di UPI tanpa jabatan fungsional dan struktural golongan 3B (Pendidikan S2):

Gaji Dosen Tanpa Jabatan Fungsional dan Jabatan Struktural Golongan 3B di UPI

Gaji Dosen Tanpa Jabatan Fungsional dan Jabatan Struktural Golongan 3B di UPI

Semoga bermanfaat :).

By hariiniadalahhadiah Posted in UPI

Algoritma dan Pemrograman atau Sintaks dan Pemrograman?

Representasi Array dalam logika manusia

Mengajar algoritma dan pemrograman bukan perkara mudah. Butuh kesabaran tingkat tinggi, karena inti dari mata kuliah ini adalah algoritma (logika solusi dari permasalahan yang diberikan), makanya nama kuliahnya “Algoritma dan Pemrograman”. Mata kuliah ini memang menjadi “momok’ buat mahasiswa yang mengambil jurusan komputer (saya dulu aja pertama tidak lulus, dapat E :D). Bahkan awalnya saya tidak paham “makanan” apa ini, komputer aja waktu itu baru belajar. Untungnya pas ambil yang kedua akhirnya saya bisa “ngeh” juga :D.

Nah karena butuh kesabaran ini, banyak dosen-dosen yang mengajar mata kuliah ini menjadi turun idealisnya karena kurang sabar dan mungkin semakin sedikit waktu untuk konsentrasi mengajar mata kuliah ini. Atau mungkin karena mata kuliah “momok” sebenarnya banyak dosen yang memang tidak paham konsepnya waktu mereka kuliah (pake sistem trial and error). Akhirnya kejadiannya banyak terjadi adalah membungkus kuliah “sintaks dan pemrograman” dalam nama “algoritma dan pemrograman” karena tentu saja tidak ada mata kuliah “sintaks dan pemrograman”.¬†Berikut bedanya soal pada¬†“sintaks dan pemrograman” dengan “algoritma dan pemrograman”

pada¬†“sintaks dan pemrograman”

Apakah program di bawah ini benar? Mana yang salah? Jelaskan!

……….

for(a=0;a >= 12; a++{

……………………….

}

pada “Algoritma dan Pemrograman”

Buatlah program yang mencari banyaknya suku kata “ka” di dalam array of string yang diisi dengan masukan dari user!

Jika dapat mengerjakan soal pertama tapi yang kedua tidak, berarti mata kuliahnya harusnya “Sintaks dan Pemrograman”, jika bisa mengerjakan soal kedua berarti sudah benar mata kuliahnya “Algoritma dan Pemrograman”

Dengan mengikuti mata kuliah “Sintaks dan Pemrograman” maka kemampuan hanya terbatas pada membaca kode program orang lalu memodifikasi (modifier), mencari kode program sesuai kebutuhan di mbah google (searcher), atau memakai program buatan orang lain (user), atau menggabung-gabungkan program orang lain menjadi satu program (mixer).

Dengan mengikuti mata kuliah “Algoritma dan Pemrograman” maka kemampuanmya adalah membuat program dengan logika algoritma (programmer). Jadi silakan ingin menjadi apa sebenarnya? :D.

(Informatika ITB lebih menitik beratkan pada logika pembuatan algoritma ini, bukan hanya pada sintaks)