Domba Kami Melahirkan

Telah lahir 2 anak laki-laki kembar pada hari Sabtu, 20 Maret 2010 sekitar pukul 16:00 dengan selamat. Semoga kelak ketika besar kedua anak tersebut dapat menjadi domba yang sehat dan kuat. Dan semoga ibunya juga diberi kekuatan untuk membesarkan anak-anak tersebut dengan baik. Amin 😀

Setelah hampir 4 bulan kami memelihara domba, akhirnya salah satu domba kami melahirkan. Ini pertama kalinya kami melihat domba yang umurnya masih kurang dari satu jam. Mereka pada awalnya belajar berdiri dengan susah payah. Ibunya juga ikut membantu agar anaknya dapat berdiri dan juga membersihkan anaknya dari air ketuban. Ibu domba emang keren, belum sampe satu jam dia melahirkan dia sudah dapat makan untuk memulihkan energinya pasca melahirkan. Anak domba juga lebih keren lagi, belum satu jam lahir sudah bisa berdiri dan sudah bisa minum ASID (Air Susu Ibu Domba) 😀

Anak domba yang lahir duluan, masih belum dikasih nama

Anak yang lahir kedua, masih belum bisa berdiri…

Berebut mimik susu biar cepet gede 😀

Iklan

Kenapa Harus Hobi Menyerobot?

Melihat berita di TV sering ada penggusuran rumah-rumah penduduk yang berdiri di tanah hak orang lain atau instansi. Lalu media dengan gencarnya membuat berita seakan-akan yang tidak manusiawi adalah pihak yang melakukan penggusuran. Sedang pihak yang digusur berkilah kalau mereka sudah menghuni tanah itu bertahun-tahun.
Sekarang bagaimana jika dibalik, bagaimana jika kita memiliki tanah berhektar-hektar lalu karena kasihan kita membiarkan orang-orang miskin menempatinya dengan harapan ketika tanah kita butuhkan maka mereka dengan sukarela akan pergi dari tanah kita. Nah bagaimana jika waktu kita butuh itu ternyata mereka tidak mau pergi dengan alasan sudah bertahun-tahun tinggal di tanah kita. Apa yang kita lakukan? Saya yakin kita akan melakukan penggusuran.
So sebaiknya ditelusuri mana yang sebenarnya bersalah disini? Orang-orang yang menempati ini jelas-jelas tahu pada awalnya bahwa itu bukan barang mereka, lalu apakah sebuah barang yang dipinjam (jika bilang ke pemiliknya berarti pinjam, jika tidak bilang berarti mencuri, (silakan di kroscek secara agama)) dapat dengan sepihak dianggap hak milik? Kewajiban seorang peminjam adalah mengembalikan, jika tidak mengembalikan berarti mencuri. Pinjam itu halal, mencuri itu haram, jadi hukumnya sangat jauh beda.
Mungkin ini yang sering terjadi di masyarakat, algoritma dari meminjam adalah:

1. ijin ke pemiliknya (ijab-gobul),
2. lalu meminjam,
3. lalu wajib untuk dikembalikan

jika nomor satu dilewatkan, lalu Anda langsung meminjam, maka itu hukumnya bukan meminjam, tapi mencuri. Jika nomor 3 dilewatkan, maka Anda akan terus berhutang pada yang meminjami sampai barang yang dipinjam di kembalikan (kecuali jika peminjam mengikhlaskan). Hutang akan dipertanyakan saat Anda mempertanggungjawabkan perbuatan Anda di dunia. Jadi, sudahkah Anda mengembalikan pensil atau bolpoin yang Anda pinjam? atau barang-barang kecil yang tidak Anda anggap untuk dikembalikan. Sesuatu yang besar dari sesuatu yang kecil.

Kenapa Merokok Dianggap Makruh atau Haram? (Versi Gue)

Saya pernah mengalami “losing faith” terhadap Tuhan pada saat saya duduk di bangku SMU (saat itu sholat saya acak kadut), hal ini dipacu karena saya merasa Tuhan tidak adil telah mengambil Bapak saya, satu-satunya orang di rumah yang sepaham dengan saya. Tapi entah pada suatu saat (akhir kelas 2) saya tiba-tiba merasa ingin tahu mengenai agama setelah membaca sebuah buku kecil untuk berjilbab (padahal saya merasa hamba tidak tahu diri, ternyata masih diurusin sama Allah, Allah benar-benar baik), setelah itu saya berjuang untuk memakai jilbab. Disitulah saya mulai sering membaca buku-buku mengenai agama dan banyak mencari tahu jawaban kenapa agama menyuruh begini dan kenapa agama menyuruh begitu (dari tafsir, hadist, dan fikih). Saat itu karena tidak memiliki fondasi yang baik, saya malah merasa tertekan karena merasa agama melarang ini dan itu. Sampai suatu hari saya belajar bagaimana melogikakan sebuah larangan dalam agama dan apa sebabnya dengan melogikakan. Sebenarnya di dunia ini Allah sudah sering mengajarkan filosofi dari banyak hal, misal sebuah pohon yang besar jika tumbang maka akan merugikan apa yang dibawahnya, disini bisa dipikirkan bahwa sebuah usaha yang menaungi banyak orang, harus diusahakan amanah, karena jika tumbang, maka orang-orang yang dinaungi akan dirugikan.

Saat ini sedang diributkan mengenai merokok haram. Begini jika logika saya. Merokok pada dasarnya memiliki hukum makruh, kenapa perbuatan ini bisa menjadi haram, semua perbuatan akan menjadi haram jika merugikan orang lain karena tidak ada agama yang membolehkan merugikan orang lain. Lalu bagaimana itu merugikan orang lain, misal karena merokok, seorang suami tidak menafkai istrinya dan anaknya dengan benar, merokok dan membagikan asap ke orang lain yang tidak menyukai asap rokok, atau merokok membuat orang lain menjadi sakit. Nah inilah yang menurut saya menjadi haram. Jadi jika ketika para perokok merokok dengan tidak merugikan orang lain maka hukumnya masih makruh menurut logika saya.
Hal ini sama halnya dengan beberapa orang yang mengharamkan bermain gitar, jika dilogika saya kenapa diharamkan, itu karena ada orang-orang yang bermain gitar meninggalkan sholat, berbuat maksiat dengan bermain gitar. Jadi sebenarnya semuanya jangan langsung ditolak atau diterima, tapi harus dicoba dicari kenapanya. Termasuk jangan cepat menolak atau menerima pendapat saya :D.

Nambah Bicara (NB):

Baru-baru ini saya coba berpikir lagi mengenai logika. Ketika orang sakit maka itu adalah mekanisme untuk menggugurkan dosa jika dijalani dengan ikhlas. Nah berarti ada dosa yang digugurkan yang sebelumnya terjadi. Lalu secara logika sakit adalah mekanisme alarm bahwa tubuh sudah tidak mampu menanggung beban yang diberikan oleh pemilik tubuh, bisa jadi kurang istirahat atau beban makanan yang dibebankan ke tubuh. Jika kita tidak berlebihan membebankan beban ke tubuh maka tubuh kita akan baik-baik saja. Tapi jika kita serakah dan berlebihan memberi beban tubuh maka tubuh menjadi sakit. Nah jika sakit adalah mekanisme penggugur dosa sebelumnya yang menyebabkan sakit maka serakah dalam membebani tubuh itu adalah dosa (karena tubuh manusia adalah amanah, dan dengan membebani tubuh berlebihan itu kita tidak amanah). Nah merokok adalah bagian dari membebani tubuh dengan hal yang tidak amanah untuk tubuh…….. berarti dengan logika ini bisa jadi merokok memang mutlak haram dan merupakan sebuah dosa. Tuhan memberikan amanah untuk kita menjaga tubuh, dan manusia yang dibuatNya yang tidak menjaga amanah itu akan membuatNya kecewa. Logikanya jika kita membuat sesuatu dan sesuatu itu tidak digunakan dengan benar…. apakah kita kecewa? kita memberi amanah pada pemimpin yang tidak amanah saja kita kecewa :).

Sedihnya Jadi Dosen

Pernah saya menulis indahnya jadi dosen, sekarang gilirannya saya menulis sedihnya jadi dosen :D. Hal tersedih yang harus dilakukan seorang dosen adalah tidak meluluskan mahasiswanya karena nilai mahasiswa tidak mencukupi untuk lulus.

Banyak sekali masalah yang dialami mahasiswa sehingga beberapa dari mereka memilih menyerah terhadap mata kuliah dan memilih mengulang. Sebagai dosen saya merasa punya tanggung jawab besar terhadap Tuhan, orang tua mahasiswa, dan mahasiswa itu sendiri. Saya tidak akan meluluskan seorang mahasiswa yang memang tidak mampu atau belum mampu atau layak untuk lulus pada mata kuliah yang saya ajar. Karena jika saya meluluskan yang belum layak, maka bagaimana tanggung jawab saya, saya tidak berani mempertanggungjawabkan itu. Maka kalau memang mahasiswa belum layak lulus, saya tidak akan meluluskannya.

Paradigma beratnya menjadi dosen yang sering tidak dipahami banyak dosen yang merasa mengajar adalah profesi adalah dosa jariyah seorang dosen. Jika seorang dosen salah mengajarkan sesuatu ke mahasiswa atau meluluskan mahasiswa yang belum mampu, lalu misal saja 5 orang mahasiswa kita itu jadi dosen lagi, lalu dia mengajarkan yang salah lagi ke mahasiswanya dan seterusnya, maka alhasil akan jadi dosa jariyah kan?

Saya seorang dosen yang lebih banyak mengajar pemrograman yang notabene dianggap momok bagi mahasiswa-mahasiswa di bidang komputer. Dan bagi saya memang tidak mudah mengajar pemrograman, sering juga putus asa karena susah sekali memberi pengertian kepada mahasiswa bahwa mereka harus rajin latihan untuk bisa menguasai pemrograman. Tapi tetap saja sering mereka malas latihan, bahkan tidak jarang saya mengajak mereka “ayo ke lab saya, belajar privat dengan saya”, tapi tetap saja.

Sssst, mereka lagi serius coding

Saya menempatkan diri sebagai dosen yang berusaha menjadi teman mahasiswa. Tapi ternyata hal ini sering juga membuat saya susah gara-gara mereka mungkin terlalu menganggap saya teman, misalnya sms lebih dari jam 9 malam, atau bahkan memohon-mohon untuk diluluskan padahal dirinya tidak ikut UAS, atau ada yang nyuruh-nyuruh saya untuk mengirimkan soal perbaikan ujian gara-gara ketua kelasnya masih di luar kota (soal perbaikan saya kirim ke ketua kelas). Kadang sebagai dosen saya juga jengkel dengan tingkah laku yang seringnya kurang beretika. Tapi mau bagaimana lagi itulah mahasiswa. Kadang saya juga menegur jika saya sudah sangat terganggu. Belum lagi budaya mencontek tugas (sudah diberi kesempatan tugas perbaikan, mengumpulkan pekerjaan yang sama dengan beda nama), saya sangat tidak menolelir mencontek dengan alasan apapun. Sudah banyak koruptor di negara ini, saya tidak mau menambah lagi orang yang menghalalkan segala cara.

Saya selalu mengatakan pada mahasiswa saya, “Hidup adalah pilihan”, jika memilih untuk tidak menjadi lulus dengan kurang latihan dan belajar maka jangan memohon-mohon pada saya untuk diluluskan dengan alasan apapun, karena saya tidak akan meluluskan.

Jadi mahasiswaku jika kalian merasa saya sakiti, saya meminta maaf, karena saya tidak pernah dengan sengaja melakukannya, semua demi kebaikan dan tanggung jawab saya terhadap Tuhan. Semoga kalian mengerti. Amin.

Lihatlah Anakmu, Monster Itu Diciptakan Bukan Dilahirkan

Orang sering tidak menyadari bahwa anak adalah cerminan dari orang tuanya. Ketika anak menjadi seorang “monster” itu lebih dipengaruhi oleh pendidikan orang tuanya. Sering dibilang “Bapak cari uang susah-susah buat kamu, ini balasan kamu”. Ada hal yang dilupakan, bahwa anak tidak hanya butuh uang, tapi anak juga butuh perhatian dan kasih sayang.
Sekarang jika kita ingat, seorang anak yang lahir tidak tahu apa-apa, lalu tiba-tiba ketika menjadi besar dia menjadi sesuatu yang telah membentuknya bertahun-tahun dan bukan hanya dari hari kemarin saja. Seperti halnya yang saya alami, anak saya mulai merasa tidak aman jika hanya berada di rumah bersama saya tanpa ada Bapaknya. Saya jadi berpikir kenapa ya? Akhirnya saya mengambil kesimpulan, saya mendidik anak saya dengan sering mengatakan “jangan ini”, “jangan itu”, “jangan begitu” dengan nada yang agak keras. Akhirnya anak saya merasa tidak aman melakukan apa yang dia inginkan, disini saya merasa cara saya salah. Akhirnya sekarang saya mengubah cara mendidik pada anak saya dengan mengajaknya berbicara bila memang tidak boleh. Setidaknya dia berusaha mengerti dengan pengertian anak usia 3 tahun :D.

Diza Lagi Nyanyi

Kita mungkin bisa melihat bagaimana perilaku orang tuanya jika menemukan seorang anak yang menjadi monster, misalnya seorang anak yang suka menyebut “Bapak gue pejabat, tahu gak loe”, atau ada anak yang ketrima bekerja karena babenya pejabat. Anak-anak seperti ini dididik dengan tidak memiliki jati diri, sehingga dia perlu bertameng pada orang lain untuk dihargai yaitu Bapaknya, bagi saya hal ini menyedihkan. Jika kita melihat anak yang soleh atau solehah kebanyakan dia dibesarkan oleh orang tua yang soleh dan solehah (dari segi cara mendapatkan uang dan pendidikan keluarga), jika kita melihat anak yang salah asuhan, maka kebanyakan mereka dibesarkan oleh orang tua yang salah asuhan (menghalalkan segala cara mendapatkan uang dan jabatan, tidak menganggap kasih sayang keluarga penting).
Lihatlah anakmu, itulah hasil cerminan bagaimana cara kita hidup di dunia, jangan sampai kita baru menyesal ketika anak kita telah menjadi monster.