Like A Zombie

Minggu kemarin HP-ku ilang dicopet di Angkot (Angkutan Kota). HP-nya sih “jebot” udah HP yang kubeli 5 tahun lalu, tombolnya udah sering gak fungsi, batre harus “dicas” di luar HP, jadi harus dikeluarin biar bisa “dicas” dengan universal charger. Dompetku ternyata juga ikut diambil. Tapi sebenarnya dari semua itu mungkin kehilangan yang kuderita tidak terlalu besar (HP paling dah gak bisa dijual, uang di dompet juga skitar 50.000-an, receh buat naik Angkot), hanya saja yang berharga bagiku adalah phonebook yang kusimpan selama 5 tahun. Setelah itu aku berpikir, apa ya yang aku salah, kok sampai “digetok” sama Tuhan. Ternyata kami lupa memberikan zakat mal bulan januari ini yang 2,5% nya ya sekitar seharga HP dan uang yang hilang.

Waktu itu aku naik angkot yang agak penuh dengan Ibu-ibu dan ada beberapa yang menggendong anak. Lalu tiba-tiba semuanya pada turun (kukira setelah mereka berhasil mengambil HP dan dompet dari tasku yang kugendong di punggung). Lalu ada 1 wanita yang membayar ke sopir, sopir angkot marah-marah karena uangnya ternyata kurang. Tapi si ibu yang membayar ini nyelonong aja. Aku ingat wajahnya.

Seperti misal ada tetangga yang maksud hati mengasihani tukang jual bunga keliling. Ibu ini meminta bantuan tukang bunga untuk sekaligus menanam bunga-bunga yang dibeli di tamannya tanpa menanyakan harga (dia pikir, lebih-lebih dikit gak papalah, amal). Tapi betapa kagetnya dia ketika selesai menanam tukang bunganya menarik bayaran sebesar 900 ribu. Karena bunga sudah terlanjur ditanam, akhirnya ibu itu membayar juga.

Banyak orang-orang sekarang yang tidak bisa membedakan dikasihani atau tidak, dari raut mukanya banyak yang sudah menjadi seperti zombie. Seperti tidak punya hati. Seperti sudah tidak menganggap hal-hal seperti itu dosa. Tekanan hidup membuat mereka menjadi zombie. Termasuk para koruptor di negeri ini. Kadang aku sering bingung siapa yang harus dikasihani dan dipercaya karena susah sekali mempercayai orang-orang sekarang.