Tantangan Mengajar Algoritma dan Pemrograman

Saat ini saya sedang mengajar algoritma dan pemrograman di UPI Bandung (I’m not paid for this (ternyata pas tanggal 10 Des 09, dikasih uang lelah, alhamdulillah, lumayanlah πŸ˜€ buat tambah-tambah), ajang aktulisasi diri, karena aku terlalu idealis :D). Pertama, mengapa saya memilih mata kuliah algoritma dan pemrograman, karena menurut saya, saya dulu kesulitan memahami Algoritma dan pemrograman, sehingga saya penasaran, bisakan saya mengajar Alpro?

Saya sering membayangkan kalau saya adalah seorang panglima perang yang harus menaikkan moral pasukan agar dapat diajak perang (kayak game aja :D), jadi saya merasa memiliki kewajiban untuk membuat pasukan saya berhasil.

Minggu-minggu pertama mengajar alpro diwarnai dengan shok di diri saya, karena ternyata pasukan saya tidak mempunyai moral, senjata, dan kemampuan perang yang cukupΒ  alias kacau (padahal saya sudah mengajar Alpro II, the last Alpro). Sebagai panglima perang saya sering bingung memikirkan strategi perang bagaimana caranya pasukan saya bisa memiliki kemampuan logika membuat kode program.

Diberikan tugas – gagal, karena malah menjadi beban buat mereka, hasilnya malah banyak yang tidak kerja sendiri
Diberikan praktikum – gagal, karena komputer lab. tidak mencukupi untuk per mahasiswa sehingga ketika praktikum kelompokan, kadang hanya satu yang kerja
Diberikan materi di kelas – gagal, pasukan sering bengong dengan pikiran di kepala mereka kalau Algoritma dan pemrograman itu susah, kadang yang merasa jelas diterangkan hanya beberapa orang saja (kelas saya cukup besar karena 2 kelas digabungΒ 46 orang) (Ketidak PD-an awal dari ketidaksuksesan)

Akhirnya cara yang menurut saya paling ampuh adalah Quis setiap di kelas, dan pembahasan di saat praktikum dengan mencoba mengajari “menyetir” kode program satu-satu bagi yang ketinggalan. Dan setelah itu baru dijelaskan secara umum ke yang lain. Jadi saya tawarkan “siapa yang mau menyetir di depan” (“menyetir” maksudnya mereka mengerjakan kode program dengan saya pandu secara privat di depan). (Saat praktikum kelas dibagi 2, jadi tidak terlalu banyak pasukan yang harus ditangani)

Progresnya lumayan, yang diajarin “menyetir” dapat sedikit mengasah logikanya dan mencoba sendiri bagaimana caranya membuat kode program. (Tidak ada cara untuk bisa menyetir dengan benar selain belajar menyetir sendiri)

Saya jadi mengerti, bagaimana rasanya jadi dosen Alpro. Ternyata susah :D. Butuh kesabaran ekstra tinggi :D. (Jadi keinget dosen Alpro-ku dulu :D, maaf Bu saya lemot πŸ˜€ dan kurang sabar, karena saya baru tahu kalau kunci belajar algoritma dan pemrograman adalah sabar)

Iklan

19 comments on “Tantangan Mengajar Algoritma dan Pemrograman

  1. Sekedar usulan bu, berdasarkan pengalaman pribadi juga πŸ™‚

    – perlu ditekankan untuk apa mereka belajar alpro. Rata-rata berpendapat tanpa kuliah alpro toh bisa mrogram juga. Perlu dikontraskan antara yang belajar otodidak dengan yang mendapat kuliah alpro.

    – praktikum dibantu asisten, ibu bisa merekrut asisten untuk kuliah alpro. Kelebihan asisten adalah mereka memiliki jarak yg lebih dekat dengan mahasiswa. Dari hasil ujian, seringkali pengaruh asisten terlihat lebih kuat dari saya. Tim asisten saya mencapai 8 orang, untuk mengcover 2 kelas. Biasanya asisten mengadakan quiz, uts dan memberikan tugas juga πŸ™‚

    – tugas besar. Perlu diberi tugas besar yang walaupun speknya sama, sulit untuk dua kelompok bisa sama persis. Tentunya perlu diberi sanksi berat bagi yang berani copy paste antar kelompok.

    • Saya sering memberikan motivasi dan “betapa kerennya bisa Alpro” :D, bisa ditanya ke mahasiswa saya (kuliahnya sering motivasi kayak mario teguh :D). Karena menaikkan moral pasukan itu bagi saya sangat penting.

      Saya tidak terlalu membutuhkan asisten saat ini, karena saya berusaha se-flat mungkin dengan mahasiswa saya. Mereka juga sudah sering tidak sungkan lagi dengan saya, sampai ada yang protes ke saya dengan bercanda “Ibuk telat”, padahal saya hanya telat 5 menit saat itu, tapi dia bilang “tapi Ibuk tetap telat he..he…he”. Selain itu, sekarang mereka butuh dinaikkan skill-nya dengan cepat karena kemampuan codingnya masih kacau. Malah saya pernah tanya ke asisten lab, beberapa dari mereka mengaku tidak bisa coding secara esensinya. Jadi sebagai panglima pasukan sekarang saya masih harus turun tangan.

      Kemarin saya sudah memberi sanksi moral ke mahasiswa saya, karena hampir 100% mahasiswa saya bertanya ke temannya ketika quis. Sanksi saya tidak keras Pak, hanya mereset nilai-nilai mereka (jadi biar mereka mengerti rasanya kerja keras mereka tidak dihargai, agar mereka lebih menghargai kerja keras orang lain) dan mengeluarkan mahasiswa yang ketahuan tanya temannya jika quis, itu sudah kami sepakati bersama. Doktrin baik tidak harus keras dan memberatkan Pak. Cukup masuk ke pasukan lebih dekat lalu tarik ke arah yang lebih baik :D. (Semua berbasis game dan cerita sejarah strategi perang yang pernah saya tonton :D).

      • Saya punya masalah di angkatan urgent ini Pak, saya rasa agak percuma kalo praktikum, tapi logikanya aja mereka tidak menguasai, lalu apa yang dipraktikumkan (pusing juga). Akhirnya karena angkatan urgent yang harus diselamatkan logika codingnya (karena ternyata 3 minggu sudah hilang sebelum saya yang masuk (baru tahu minggu kemarin), saya salah menghitung jadwal, sehingga strategi saya kacau jadinya). Akhirnya saya memaksa mereka belajar di rumah karena UAS-nya saya buat ujian praktikum. Mau tidak mau mereka harus belajar atau mengulang tahun depan. (Ternyata tidak mudah memperbaiki sesuatu). Semoga angkatan berikutnya akan lebih baik dengan strategi yang lebih matang.

  2. saya juga mahasiswa ilmu komputer UPI (nondik) semester akhir. pernah belajar alpro, tapi pas belajar dikuliah ga ngerti-ngerti. baru mau mengerti setalah ditimpuk sana-sini (adanya tubes, quiz,dll). Melihat profil publikasi di blog ibu, saya langsung kagum, ternyata penulis buku-buku yang saya beli ternyata Ibu. saya salut bu. melihat ilkom upi saat ini memang wajar menurut saya, tapi sudah saatnya bermetamorfosis. coba pas awal-awal ibu sudah hadir di ilkom UPI, bakal pada pinter tuh mahasiswanya, dengan strategi “perang” yang ibu jalankan.keep spirits…

    • Tapi standar saya tinggi :D. Jadi kalau mahasiswa saya rasa logikanya belum jalan saya tidak berani meluluskan, karena saya ingin menjaga mutu Ilkom UPI, supaya Ilkom UPI menjadi salah satu yang diperhitungkan karena kualitas lulusannya. Usia Ilkom UPI kan masih sangat muda, jadi wajar kalau masih banyak yang harus dibenahi :D. Kenapa saya baru masuk UPI, karena saya baru lulus S2 tahun 2009 :D. Trims. Keep fight.

  3. Praktikum itu membantu mahasiswa memahami konsep, jadi pada akhirnya membantu penguasaan teori juga. Itu mengapa di FIsika, Kimia walaupun teorinya lengkap tetapi ada praktikum juga. Untuk beberapa matakuliah, termasuk Alpro, praktikum *diwajibkan* prodi bu, jadi tetap harus diadakan. Kalau ibu tidak bersedia, praktikum akan dihandle oleh asisten atau dosen lain, termasuk saya kalau perlu πŸ™‚

    Untuk sekarang memang masih belum tertib, tergantung pada dosen mau mengadakan atau tidak. Tapi sejalan dengan usaha kita meningkatkan mutu, standarisasi kuliah mulai diberlakukan.

    • Bukannya saya tidak mau Pak, pada awalnya saya mengadakan praktikum. Tapi saya melihat source code-nya acak kadut. Dari situ sangat bisa dilihat kalau konsepnya mereka tidak menguasai (bahkan mereka tidak tahu kapan harus looping atau tidak :(, apalagi tahu kapan menggunakan for kapan menggunakan while). Awal saya memberikan soal quis, banyak yang mendapat 5 (hanya ongkos nulis). Rata-rata masih tidak 5 karena ada 2-3 anak yang mendapat hampir 100. Dari situ saya shok, dan berpikir harus menyelamatkan angkatan urgent ini. Akhirnya saya memakai metode yang sekarang. Saya pikir harus memproritaskan mengajari mereka bagaimana coding jadi target untuk angkatan ini adalah mereka bisa mengerti bagaimana membuat kode program yang benar. Tidak bisa lebih dari itu saya rasa. Sudah terlalu urgent.

      • OK, bu saya paham πŸ™‚ KIta perbaiki bareng-bareng. Alpro dari dulu memang salah satu titik lemah prodi kita. Dan kalau mereka memang tidak layak lulus jangan diluluskan bu. Kalau perlu 50% tidak lulus juga tidak apa-apa, kita perbaiki tahun depan πŸ™‚

        Semester depan Ibu mengajar Alpro 1 dan Struk Dat, jadi mudah-mudahan dari awal kita sudah bisa memberikan pondasi yg bagus untuk alpro 2. Nanti kita diskusi bareng ya bu.

        Kurikulumnya sendiri masih ada masalah, tahun depan kesempatan kita untuk memperbaikinya.

  4. Ok, Pak. Saya memang sudah bikin ketentuan ke mereka kalo saya mengambil resiko banyak yang tidak lulus demi standar mutu. Nilai C saya saat ini ada di angka 50 untuk nilai akhir, dari pekerjaan mereka nilai 50 masih menggambarkan kalau sebenarnya logikanya agak jalan, masih bisa lah kalau kedepannya dilatih terus (rata-rata quis terakhir masih 40-an), yang dibawahnya biasanya masih mengumpulkan ongkos nulis atau nebak-nebak. Siap Pak, saya siap diajak diskusi :D.

    • saya juga mahasiswa pendilkom UPI..

      alpro susah, saya pikir hanya saya yang merasakan itu…

      sayang saya sudah mengontrak alpro, jadinya tidak bisa merasakan strategi perang yang ibu buat..

  5. Strategi yang sekarang masih acak kadut, karena masih taraf pembelajaran “banget”. Kalau “Mau” bisa sit in aja. Tapi kayaknya kamu tingkat 4 ya. Buruan lulus aja :p He…he…he.

  6. Nah, Rosa, kalau senior (Yudi W) sudah bilang begitu, ya harus ditindaklanjuti, he..h. Btw, kamu ini sekarang statusnya dosen UPI atau dosen PolTek Pos sih? Atau sudah pindah ke UPI jadi PNS? Atau “nyambi” ngajar di UPI?

    Buat Yudi, mata kuliah Alpro itu di PT manapun selalu menjadi titik lemah, termasuk di ITB sendiri. Jadi, harus terus berusaha untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa kita yach…

  7. He…he…he saya memang multistatus Pak :D. Sekarang saya dosen UPI Pak. Jadi baru kemarin 2009 ini saya ikutan CPNS trus ketrima. Jadi sekarang statusnya sedang menunggu SK CPNS :D, kemarin di UPI statusnya magang sebelum masuk CPNS. Kalau di poltekpos saya dosen honorer Pak. Dulu juga pernah ngajar di ITHB. Kayaknya sekarang dah agak bosen jadi freelancer :D. Sering gak dipercaya bank, masak sampai ngurus kartu kredit untuk sewa hosting aja ditolak-tolak ama bank, padahal kalo bayar mah masih bisa. Ngurus KPR juga ditolak-tolak, akhirnya cari jalan lain. Hidup memang penuh perjuangan :D.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s