Bos di Rumah

Gadiza Mutia Shalahuddin (Bos jika sedang berada di rumah)

Bos-nya Udin dan Rosa jika sedang berada di rumah adalah: anak usia 3 tahun :D.

Iklan

Sudahkah Berterima Kasih pada Ibu?

Mmmmmm, tidak gampang menjadi ibu. Ternyata sangat berat dan penuh perjuangan. Sehingga pada hari ibu aku jadi ingin mengucapkan pada ibu-ibuku (ibuku dan ibu mertua). Terima kasih ibu atas semua perjuanganmu membesarkan kami. Semoga Allah membalasnya dengan yang terbaik. Amin. Sudahkah Anda berterima kasih pada ibu? Jangan sampai Anda menyesal suatu hari nanti karena sudah tidak memiliki kesempatan untuk berterima kasih pada ibu. Katakanlah “terima kasih” pada ibu, dan pada suatu hari Anda akan sadar bahwa berterima kasih pada ibu adalah sebuah anugrah karena Anda sempat melakukannya. 🙂

Dengan Memakai Software Bajakan, Berarti Anda Sudah Mencabut Hak Anda untuk Marah Kalau Software Anda Dibajak

Dulu pas mahasiswa enak aja ngebajak software tanpa rasa bersalah (notabene emang gak punya duit, lulus kuliah aja dah Alhamdulillah). Tapi sekarang saya baru bisa merasakan dan menganggap itu hal berdosa. Bayangkan saja, pembuatan software kan bukan hal yang gampang, kadang harus kurang tidur, atau dua hari tidak tidur, jadi sakit dkk. Tapi dengan seenaknya orang lain tanpa rasa berdosa membajak software kita. Membeli software bajakan sama dengan membeli barang curian (benar bukan jika dilogika, karena kita tidak ijin pemiliknya, yang membuat software). Dengan semua pengorbanan pembuatan software tentu saja orang yang membuat berharap reward (hasil dari penjualan software-nya).

Pembajakan software di Indonesia kalau tidak salah sampai 80-an persen, jadi kalau seandainya keuntungan penjualan software seharusnya 100 juta, maka pembuat software hanya menerima 20-an persennya atau bahkan kurang. Bagaimana jika itu menimpa Anda (untuk orang-orang IT).

Saya bukan orang suci, sampai sekarang saya masih memakai software bajakan beberapa, dan kadang masih beli film bajakan, atau download dari torrent. Tapi jika selama masih bisa memakai freeware dan tidak dituntut pekerjaan, saya berusaha memakai freeware. Sebagai usaha saya untuk mengurangi pembajakan. Suatu hari nanti saya bercita-cita untuk membeli software yang memang saya butuhkan. Sekarang  masih belum nyampe dananya/prioritasnya.

Mungkin sebaiknya orang-orang IT membuat software freeware dan mengumpulkan uang dengan sistem donasi. (get money without doing evil) untuk mengurangi pembajakan. Dan mulai mengurangi memakai software bajakan. Kalau bukan kita yang menghargai profesi IT. Siapa lagi?

Dengan memakai software bajakan secara sadar, maka Anda sudah mencabut hak Anda untuk marah jika software buatan Anda dibajak orang, karena Anda melakukan hal yang sama dengan orang lain. Tuhan itu adil dan tidak tidur. Saat ini jika saya tahu karya saya dibajak, saya biarkan saja, karena saya sadar, sampai saat ini saya juga masih seorang pemakai bajakan. Sebagai dosen saya sering menganjurkan mahasiswa saya memakai yang freeware karena saya tidak mau bertanggung jawab pada Tuhan karena menyuruh mahasiswa saya memakai barang curian,tapi jika mereka memutuskan memakai software bajakan, maka itu pilihan hidup mereka.

Sering dibilang, “kalau beli gak punya duit, kalau gak pake software yang itu, nanti gak dapat kemudahan pemakaian”. Kalau tidak punya duit tidak ada satu agama pun yang membolehkan memakai barang curian dengan alasan itu.

Tantangan Mengajar Algoritma dan Pemrograman

Saat ini saya sedang mengajar algoritma dan pemrograman di UPI Bandung (I’m not paid for this (ternyata pas tanggal 10 Des 09, dikasih uang lelah, alhamdulillah, lumayanlah 😀 buat tambah-tambah), ajang aktulisasi diri, karena aku terlalu idealis :D). Pertama, mengapa saya memilih mata kuliah algoritma dan pemrograman, karena menurut saya, saya dulu kesulitan memahami Algoritma dan pemrograman, sehingga saya penasaran, bisakan saya mengajar Alpro?

Saya sering membayangkan kalau saya adalah seorang panglima perang yang harus menaikkan moral pasukan agar dapat diajak perang (kayak game aja :D), jadi saya merasa memiliki kewajiban untuk membuat pasukan saya berhasil.

Minggu-minggu pertama mengajar alpro diwarnai dengan shok di diri saya, karena ternyata pasukan saya tidak mempunyai moral, senjata, dan kemampuan perang yang cukup  alias kacau (padahal saya sudah mengajar Alpro II, the last Alpro). Sebagai panglima perang saya sering bingung memikirkan strategi perang bagaimana caranya pasukan saya bisa memiliki kemampuan logika membuat kode program.

Diberikan tugas – gagal, karena malah menjadi beban buat mereka, hasilnya malah banyak yang tidak kerja sendiri
Diberikan praktikum – gagal, karena komputer lab. tidak mencukupi untuk per mahasiswa sehingga ketika praktikum kelompokan, kadang hanya satu yang kerja
Diberikan materi di kelas – gagal, pasukan sering bengong dengan pikiran di kepala mereka kalau Algoritma dan pemrograman itu susah, kadang yang merasa jelas diterangkan hanya beberapa orang saja (kelas saya cukup besar karena 2 kelas digabung 46 orang) (Ketidak PD-an awal dari ketidaksuksesan)

Akhirnya cara yang menurut saya paling ampuh adalah Quis setiap di kelas, dan pembahasan di saat praktikum dengan mencoba mengajari “menyetir” kode program satu-satu bagi yang ketinggalan. Dan setelah itu baru dijelaskan secara umum ke yang lain. Jadi saya tawarkan “siapa yang mau menyetir di depan” (“menyetir” maksudnya mereka mengerjakan kode program dengan saya pandu secara privat di depan). (Saat praktikum kelas dibagi 2, jadi tidak terlalu banyak pasukan yang harus ditangani)

Progresnya lumayan, yang diajarin “menyetir” dapat sedikit mengasah logikanya dan mencoba sendiri bagaimana caranya membuat kode program. (Tidak ada cara untuk bisa menyetir dengan benar selain belajar menyetir sendiri)

Saya jadi mengerti, bagaimana rasanya jadi dosen Alpro. Ternyata susah :D. Butuh kesabaran ekstra tinggi :D. (Jadi keinget dosen Alpro-ku dulu :D, maaf Bu saya lemot 😀 dan kurang sabar, karena saya baru tahu kalau kunci belajar algoritma dan pemrograman adalah sabar)