Bersaing Sehat Dong, Gak Perlu Ngancem-ngancem Pake Cara-cara Preman, Gak Elit

Agak BT juga pagi ini. Ada tukang sayur yang beberapa minggu ini saya lebih suka beli padanya ngomong ke saya, “Bu Maaf, kemarin saya dipanggil diomongin supaya tidak menawari sayur Ibu lagi sama “tiiiiiiitt” “, lha suka-suka saya dong saya mau beli sayur dimana. Tadinya memang saya suka titip sama yang tiiiiiiitttttt itu soalnya belum ada tukang sayur yang masuk perumahan. Nah sekarang kalo saya mau nitip ya nitip, kalau saya mau beli sendiri di tukang sayur ya suka-suka saya dong. Kenapa sih banyak orang pake cara-cara preman. CPNS pake KKN, Taksi baru mau masuk pake diintimidasi, Tukang sayur diancem-ancem, Mau bawa tukang sendiri juga diancem-ancem dipaksa pake tukang kampung situ. Kenapa gak bersaing sehat aja, toh kalo rejeki gak kemana asal berusaha. Atau pada gak percaya kalau Tuhan itu tidak tidur, kenapa sampai harus nutup rejeki orang lain. Rejeki yang awalnya dah gak berkah untuk medapatkannya maka ke belakangnya juga akan gak berkah. Kenapa harus mengejar rejeki tidak berkah?

Iklan

Gue Kagak Percaya Ustad-ustad yang Ada di TV, Gue Kagak Percaya ama Badan-badan Amal yang Suka Ngiklan

Fenomena ustad di TV saat ini dah banyak banget supaya bisa sering masuk TV. Tapi saya sampai sekarang kurang percaya dengan ustad-ustad itu, sebagai contoh seorang Umar Bin Khatab saja pernah mengunjungi warganya tanpa dikenali oleh warga itu sendiri kalau yang mengunjunginya adalah pemimpinnya saat itu, tapi lihat untuk ustad-ustad sekarang. Mereka tampil jauh lebih mewah dari orang-orang yang bekerja padanya padahal banyak orang-orang yang bekerja padanya didoktrin harus ikhlas dengan rejeki yang diterima, tanpa memperhatikan kelangsungan kesejahteraan mereka. Ini sudah pernah saya tanyakan pada beberapa pegawai yang bekerja di salah satu ustad yang pernah nongol di TV. Gaji mereka dibawah UMR dengan dalih bekerja harus ikhlas, tapi saya melihat ustadnya jauh lebih bermewah-mewahan. Bahkan ada beberapa bisnis yang berbasis menolong orang malah dihentikan karena ada bisnis yang lebih menggiurkan. Ada juga yang karyawannya kena PHK sepihak. Buntutnya bagi saya adalah UUD (ujung-ujungnya duit). Belum lagi ada kasus yang dengan waktu yang sama seorang ustad diundang ke panti asuhan dan acara di sebuah kabupaten, yang di panti asuhan gratis dan dah booking duluan, yang di kabupaten dibayar jutaan. Buntutnya lebih milih yang di Kabupaten. Fiuh…….. Saya tahu ustad artinya adalah Guru tapi jika yang diajarkan itu adalah agama seharusnya jangalah hanya UUD pada akhirnya. Bahkan ada ustad yang tampil di acara TV berbasis budaya barat seperti “Take Me Out” atau “Take Him Out” dimana di dalamnya juga ada peramalnya segala.

Lalu ada lagi pertanyaan saya dengan badan-badan amal yang sekarang banyak bermunculan. Jika untuk membayar karyawan badan amal, okelah bisa jadi itu dianggap sebagai bagian amil. Tapi yang saya tanyakan biaya untuk ngiklan dimana-mana setahu saya tidak ada bagian dana untuk itu, dan siapa yang mau menanggungnya, mau tidak mau kan ngambil uang amal itu. Nah… sekarang pertanyaannya mau amal atau UUD lagi.

Atau beberapa masjid berlomba-lomba mengadakan sholat hari raya padahal berdekatan. Ternyata seringnya UUD juga. Kan uang shodaqohnya bisa buat bikin seragam pengurus masjid, bisa bikin seragam anak-anak TPA, dkk keperluan yang diada-adakan.

Mutu S1 dan S2 Informatika di ITB

Menurut saya mutu S1 dan S2 Informatika ITB sangat jauh berbeda. Selain itu ada kontroversi pada beberapa tahun belakangan ini mengenai ijazah dari jurusan S2-nya karena di Informatika saat saya kuliah S2 ada tiga jurusan yaitu Rekayasa Perangkat Lunak (RPL), Sistem Informasi (SI), dan Informatika (IF). Tapi ternyata ketika lulus, sama sekali tidak ada perbedaan di ijazah antara yang RPL, SI, atau IF. Semuanya sebagai magister Informatika. Pada akhirnya ada beberapa pengalaman ada lulusan S2 Informatika ITB yang diharapkan sudah ahli membuat program komputer ternyata tidak ahli karena ternyata mengambil jurusan SI. Sebenarnya semua jurusan itu memiliki kelebihan masing-masing jika ditempatkan pada ladangnya. Tapi terkadang orang-orang yang lulus dari SI atau RPL ketika ditanya mengatakan dia magister Informatika ITB yang notabene anggapan orang luar pasti bisa membuat program, dan tidak menyebutkan jurusannya. Akhirnya ada beberapa kekecewaan setelah masuk karena tidak sesuai dengan harapan sebelumnya.

Hal yang paling merugikan menurut saya adalah, banyak diantara orang-orang yang tidak dalam ladangnya ini mengajarkan ilmu yang bukan ladangnya ke mahasiswanya, dan hasilnya mahasiswa tidak mendapatkan yang seharusnya mereka dapatkan karena dosennnya tidak paham konsep dasar ilmu yang diajarkannya. Fiuh…….kasihan juga mereka bayar sekolah, kasihan orang tuanya yang berjuang mencari uang untuk menyekolahkan anaknya. Menurut saya menjadi dosen itu mempunya tanggung jawab besar ke mahasiswa, orang tua mahasiswa, dan Tuhan. Karena jika yang kita ajarkan salah, maka jika mahasiswa kita menjadi dosen, dia akan mengajarkan yang salah pula pada mahasiswanya dan seterusnya (berapa besar dosa yang harus ditanggung jika begitu). Bagi saya dosen bukan hanya sekedar profesi.

Sebagai perbandingan mutu S1 dan S2 Informatika ITB adalah sebagai berikut:

Ketika saya S1, hanya sesekali saja memiliki sampingan sambil bekerja ketika kuliah, itu saja saya terseok-seok sampai pernah punya IP 1 koma (tapi saya juga pernah punya IP 4.00 he he he he) dan alhamdulillah akhirnya bisa lulus dengan IPK 3 koma.

Ketika saya S2, saya mengajar belasan SKS sebagai dosen, saya memegang beberapa proyek IT yang saya kerjakan sendiri, saya masih mengurus anak (anak saya titipkan di daycare saat saya keluar rumah, dan saya jemput begitu pulang ke rumah), saya masih masak sendiri untuk keluarga, suami saya juga kuliah dan bekerja dan masih membantu saya mengurus keluarga, IPK saya masih bisa hampir cumlaude (kurang 0,03 😦 ) dengan beban kerja yang sangat tinggi.

So menurut saya, beban dan kualitas S2 Informatika ITB tidak sebanding dengan S1-nya. Masih kalah jauh.

Ada sumber juga untuk referensi dari blog dosen saya (Perbedaan S1 S2 S3): http://rinaldimunir.wordpress.com/2013/04/24/perbedaan-s1-s2-dan-s3/

By hariiniadalahhadiah Posted in ITB