Outsourcing Anak Demi Materi dan Ambisi

Aku sering bertanya, apa yang kucari?
Aku sering bertanya, bolehkah aku memilih?

Sering miris dihati karena merasa jadi budak yang terus dituntut untuk mencari materi, tapi aku tak tahu siapa yang menuntut, apakah diriku sendiri? Ambisiku? Keinginanku? atau Kebutuhan anakku dan keluarga?

Sering dalam dilema dimana aku ingin jadi ibu yang baik, menemani anakku walau hanya sekedar bermain, tapi terbentur dengan tingginya persaingan saat ini, aku tidak ikhlas jika anakku kalah bersaing hanya karena materi (like me before). Saya ingin anakku mendapatkan support atas hobi dan kemampuannya.

Idealis kalau menikah adalah karena cinta bukan materi, dan aku sangat menyayangi suamiku, dan aku benci melihat pria hanya dari materi, karena materi bisa dicari.

Jadi apa yang harus kulakukan? Apa yang sebenarnya kucari? Bolehkah aku memilih untuk menemani Anakku, menjadi ibu dan istri yang baik, dan berhenti mencari materi yang tiada henti?

Sakit hati ini meng-outsourcing-kan anak demi materi, demi mengajari anak orang lain, tapi anakku?

Apakah ada sebuah penyelesaian? Aku hanya butuh satu, karena aku terlalu lelah untuk berpikir banyak.

Ampuni ibumu ini nduk? Aku hanya berdoa, semoga aku tak seburuk yang kupikirkan. Amin.

6 comments on “Outsourcing Anak Demi Materi dan Ambisi

  1. Sabar ya Sa…
    Aku juga ga bisa bantu cari penyelesaiannya, hehe…
    Ga kepikiran juga klo ada di posisimu sekarang.
    Klo misalnya jadi dosennya pas siang aja gimana?
    Pas anak lagi di sekolah, ibunya jadi dosen.
    Pas anak uda pulang sekolah, ibunya bisa nemenin anaknya maen.
    Mungkin bisa disambi ngelesin pelajaran apa gitu, itung2 sambil ngajarin anak sendiri.

    Hehe, sekedar pendapat.

  2. Itu kalau anaknya sudah besar Bob, anak yang sudah besar lebih harus diperhatikan karena perkembangan emosinya sudah bisa dirasakannya. Anakku masih 2,5 tahun. Jadi masih di rumah. Tiap pagi jika aku siap-siap kerja selalu bertanya “Ibuk mau kemana”, berharap ibunya tidak kerja dan menemaninya. Tapi pada masa dia belum sadar emosinya ini, mungkin kita bisa lebih fokus mempersiapkan masa depannya, tapi ya itu tadi, gak tega, masih kecil. Dilema.

  3. Wah udah 2,5 tahun ya, Sa…
    *serasa diriku makin tua aja*
    Bener juga sih, kalo masi balita agak repot ya kalo mau ditinggal.
    Tapi kalo ga ditinggal ya mau dapet duit darimana ya?
    Dilema memang…

  4. soal cari materi biasanya karena keduanya, ya tuntutan hidup, ya ambisi.. asal ambisi masih dalam batas wajar sih gpp..

    untuk dilema soal anak.. dipasrahkan aja semoga apa keputusan yg kita jalankan selalu disempurnakan oleh KasihNya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s