Outsourcing Anak Demi Materi dan Ambisi

Aku sering bertanya, apa yang kucari?
Aku sering bertanya, bolehkah aku memilih?

Sering miris dihati karena merasa jadi budak yang terus dituntut untuk mencari materi, tapi aku tak tahu siapa yang menuntut, apakah diriku sendiri? Ambisiku? Keinginanku? atau Kebutuhan anakku dan keluarga?

Sering dalam dilema dimana aku ingin jadi ibu yang baik, menemani anakku walau hanya sekedar bermain, tapi terbentur dengan tingginya persaingan saat ini, aku tidak ikhlas jika anakku kalah bersaing hanya karena materi (like me before). Saya ingin anakku mendapatkan support atas hobi dan kemampuannya.

Idealis kalau menikah adalah karena cinta bukan materi, dan aku sangat menyayangi suamiku, dan aku benci melihat pria hanya dari materi, karena materi bisa dicari.

Jadi apa yang harus kulakukan? Apa yang sebenarnya kucari? Bolehkah aku memilih untuk menemani Anakku, menjadi ibu dan istri yang baik, dan berhenti mencari materi yang tiada henti?

Sakit hati ini meng-outsourcing-kan anak demi materi, demi mengajari anak orang lain, tapi anakku?

Apakah ada sebuah penyelesaian? Aku hanya butuh satu, karena aku terlalu lelah untuk berpikir banyak.

Ampuni ibumu ini nduk? Aku hanya berdoa, semoga aku tak seburuk yang kupikirkan. Amin.