Tidak lulus UN (jika saat ini), Tapi Bisa Masuk ITB

Jika saya ikut UN saat ini, sudah dapat dipastikan saya tidak lulus. Nilai batas UN adalah 5,5 sedangkan saat itu nilai Fisika saya hanya 4,6. Jadi saya pasti tidak lulus UN. Tapi saya bisa masuk ITB jurusan teknik informatika dengan modal otak.

Pertanyaannya apakah UN memang filter yang baik? Saya setuju dengan adanya filter. Tapi bikinlah batasan yang masuk akal dengan kondisi yang ada dengan pendidikan yang masih tidak merata, 4.0 mungkin masih masuk akal lah. Jadi kalau dihitung saat itu saya masih bisa lulus UN.

5 comments on “Tidak lulus UN (jika saat ini), Tapi Bisa Masuk ITB

  1. 2001 lulus dengan 4,6, sekarang 2009 (8 tahun kemudian) mau lulus dengan 4.0? Dimana parameter peningkatan mutu dan kualitas pendidikan?

    Di masa kita.. ok-lah 4.6 bisa masuk ITB, tapi jangan lupa di masa kita juga dapat “hampir nyerempet” 10 bisa melontarkan seseorang sampai ke MIT (sampai sekarang masih institut teknologi terbaik di planet bumi).

    Sekarang aja ITB sudah disalip India Institute of Technology en 2 universitas dari Cina.

    Kapan kita bisa mimpi ITB menjadi universitas terkemuka di dunia? Bukan cuma jago kandang?

    Dimulai dari nilai yang bagus di UN =).

  2. Itu kalo kita ngelihat ke atas. Gimana kalo kita coba sedikit melihat kebawah. Saat itu aku dari sidoarjo yang notabene masih katro. Nah kebayang anak-anak di NTB, Papua, dan daerah terpencil lain. Itu yang bagi saya tidak fair. Seharusnya di fair-in dulu lah mutu pendidikannya. Barulah bikin standar.

  3. Pas muda dulu saya juga katro… dari Bengkulu.. yg ngeliat Gramedia cuma setaon sekali itupun sambil nemenin bokap belanja keperluan toko.

    Pertanyaan: Apakah semuanya harus lulus? Bahkan dengan mengorbankan harga diri sebagai seorang pelajar?

    Kebayang ngga kalo kita lulus dari ITB, trus pas wisuda, ketua prodinya ngomong: “Kardy, kamu dilihat dari standar ITB mustinya ngga lulus, tapi karena ITB ngga mau ada mahasiswanya yg ngga lulus.. makanya kamu diluluskan aja deh”.
    Jder.. jadi kutukan seumur hidup tuh. Lebih baik gw pilih NGULANG! Rosa pun mau lulus ITB dengan begini? Kenapa nda sekalian tuh sertifikat dijual di Kokesma Pak?

    Dengan dinaikkannya threshold ke 5.5 seharusnya yang lulus bisa lebih berbangga, dan yang tidak lulus tidak usah berkecil hati.
    Kalo kita perhatikan 5.5 itu berarti penguasaan materi pelajaran 55%, hanya separuh lebih sedikit, masuk akal ngga sih buat lulus?

    Kultur kita yg buruk adalah tidak menerima kegagalan. Kalau ada yg gagal disoraki, ditertawai, dan buntutnya yg gagal melarikan diri (katanya malu, dll). Yuk dicoba yang tidak lulus disemangati.. diberi harapan bahwa kalau ada lho yang lulus.. ada lho yg bisa dapat nilai bagus, umur masih panjang, apalah artinya mengulang asal benar2 bisa. Tidak lulus bukan berarti kiamat… tapi berarti kesempatan untuk belajar lagi dan menjadi lebih baik.

    Daripada mempermudah.. semuanya lulus dan buntut2-nya jadi PRT karena kemampuan yang memang tidak ada.

    Apa bedanya pelajar Bengkulu, Belitong, Sidoarjo, NTT, Papua, Jakarta, Singapura, Amerika? Semuanya belajar.. dan semuanya punya harapan dengan belajar nasib bisa berubah. Semuanya tahu proses ini bukanlah sesuatu yang mudah. Ada saatnya gagal dan ada saatnya berhasil, tapi nilai terpenting adalah sikap seseorang terhadap kegagalan dan keberhasilan.

    Mau nunggu fairness dari mutu pendidikan? Bisa ditunggu.. tapi mau ditunggu sampai kapan? Dan sepertinya sampai kapanpun ga bakal fair.. penjelasan sederhana: bayarnya aja beda koq.

  4. Wah komentarnya menakjubkan. Loe ternyata peka juga ama mental orang Kar he he he he he he……. Mmmmmm ya tapi tetep Kar semua butuh proses. Sebenarnya memang permasalahannya kultur tapi sejauh saya terjun ke lapangan yang notabene orang-orang diluar ITB memang susah sekali merubah kultur, yang kamu katakan adalah untuk orang-orang berjiwa besar, tapi dari yang saya temuin di lapangan, jarang sekali orang berjiwa besar. Dan kalau menurut saya lulus bukan hanya untuk kebanggaan tapi untuk menunjang perjuangan di masa depan. Fiuh……kapan ya Indonesia punya harga diri dan berjiwa besar.

  5. Seharusnya UN jangan di jadikan filter bagi tingkat intelegensi pribadi orang, alangkah lebih baiknya sebagai indikator pengawasan mutu sekolah, apakah sudah baik atau belum, jangan digunakan sebagai alat untuk meluluskan atau tidak meluluskan anak, too cruel man…

    Buat apa lulus dapet nilai bagus tapi otak kualitas tempe…
    Banyak kok orang-orang yang gue temui dan yang gue kenal pada gak peduliin masalah nilai, yang jelas semua orang tau dan mengakui kalau dia itu pintar, tapi sayangnya kalo dah masuk ke dunia pekerjaan ujung-ujungnya yang ngomong nilai lagi, berapa IPK kamu, dsb… cape deh.. apakah kepintaran orang cuma di niali sebatas itu??? Think again…

    Banyak kok orang yang gak becus bikin skripsi eh malah nilainya lebih bagus… hal kayak gitu udah gak aneh lagi… karena banyak orang hanya melihat luarnya saja… giliran praktek NOL BESAR..!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s