Inikah Rasanya Jadi Imigran

Bisa dikatakan kami ini imigran dari Jawa ke tanah Sunda mulai dari tahun 2001. Waktu kecil sering sekali aku mendengar doktrin mengenai orang cina yang inilah yang itulah. Tapi ketika saat ini aku menjadi imigran (pendatang) aku mengerti mengapa banyak orang cina begitu. Saat ini aku merasa seperti menjadi orang cina yang disebutkan pada saat aku kecil. Orang cina imigran.

Secara psikologi memang orang-orang pribumi akan mencoba tetap menegakkan teritorinya dengan cara mereka. Dan seorang imigran mau tidak mau harus mengikuti aturan teritori atau terpaksa harus pergi jika tidak mengikuti. Misal sebuah pengalaman dimana membeli sebuah tanah perumahan di pinggiran yang masih tergolong agak desa. Ketika membangun rumah, warga mewajibkan memakai tukang dari desa itu. Hukumnya “wajib” kalau tidak mereka tidak menjamin jika ada apa-apa dengan rumah yang akan dibangun. Mungkin inilah cara yang mereka tahu, “mengancam”.

Mbak Ade, yang bantuin nyuci

Mbak Ade, yang bantuin nyuci

Sebagai pendatang yang sudah beberapa tahun, kami belajar mengenal lingkungan. Dan kami sebenarnya lebih suka memakai tukang yang kami percayai. Suami mbak yang membantu kami mencuci memiliki keahlian sebagai tukang. Mbak tersebut biasa membantu kami mencuci tiga kali seminggu. Selesai mencuci dia pulang. Kenapa kami percaya kepadanya, mbak tersebut sudah membantu kami sejak dua tahun yang lalu (sejak kami mengambil S2). Kami memberikan kepercayaan kunci rumah, karena kami sering berangkat pagi sementara mbaknya datang sekitar 07.30 pagi. Kami sering meninggalkan HP atau laptop sembarangan tapi semuanya tetap ada. Kami percaya mbak ini orang jujur (satu-satunya orang daerah sekitar yang sangat kami percaya).

Kami sangat ingin memberikan kontribusi kepada kehidupan mbak tersebut dengan rejeki yang diberikan Tuhan kepada kami. Sampai akhirnya suami mbak tersebut berusaha ngobrol yang enak ke warga desa tempat tanah yang dibeli. Tapi warga tetap kekeh, atau ………..Fiuh, akhirnya diputuskan memakai tukang desa itu dengan mandor tetap suami mbak yang bantuin nyuci. Sekarang kami mengerti banyak hal menjadi imigran, seperti orang cina imigran yang akhirnya sedikit membuat “barrier to entry” untuk mempertahankan diri.

Semua manusia hidup dengan masa lalu, dan semua akibat karena adanya sebab.

4 comments on “Inikah Rasanya Jadi Imigran

  1. Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Memang kita harus pandai mengambil hati masyarakat di lingkungan kita, Rosa/Udin. Tukang itu memang salah satunya, tetapi masih banyak cara lain, misalnya membuatkan sesuatu untuk mereka, misalnya menambal jalan yang berlubang dengan sisa adonan semen bangunan ruman kita, membuat sumur untuk warga (jika disana kesulitan air bersih), mengantarkan makanan ke tetangga sebagai bentuk syukur mengawali pembangunan rumah, dsb

  2. saya juga merasakan hal kayak gitu kok… kenapa ya kalo ada pendatang kesannya dimusuhin terus… takut tersaingi, takut ini takut itu padahal kan harusnya biasa aja wong sama-sama orang kan…

  3. Yup, susahnya kalau pola pikir masyarakat kadang masih primitif. Butuh disekolahkan lebih tinggi biar wawasan mereka bertambah. Kapan semua masyarakat bisa sekolah ya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s