Apa Jadinya Jika Negara Dipimpin dengan Penuh Kebencian

Melihat orasi capres-cawapres, selalu ada hujat menghujat mulai dari tingkat sindiran sampai hampir semua orasi isinya hujatan yang ini itu. Dan sering sekali lupa borok mereka sendiri, padahal seharusnya borok kan sakit, kok bisa gak inget ya? Apa jadinya jika negara dipimpin dengan penuh kebencian? No one perfect. Open mind-lah jangan katro, dah gak jaman.

Iklan

Kenapa King Bukan Cina

Ada sebuah pertanyaan, kan katanya film King itu terinspirasi dari kisah Liem Swie King (kalo gak salah tulis nama, maaf jika salah). Kenapa pemain film-nya bukan Cina? Apakah susah mengakui keunggulan orang lain (bangsa Cina) yang juga bisa benar-benar jadi orang Indonesia yang hakiki (ambil contoh Su Hok Gie dan Kwik Kian Gie (maaf jika salah tulis nama)). Tipikal masyarakat kita yang tidak suka dikritik, tidak open mind, tidak mau kalah, dan takut bersaing dengan imigran. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mengakui keunggulan bangsa lain. Open Mind-lah jangan katro, dah gak jaman.

Pola Pikir Duit…duit…duit yang Tidak Akan Pernah Maju

Aku sering melihat orang ribut tidak bisa berusaha karena tidak ada duit lalu pas dikasih duit alasannya beda lagi, lha duitnya kurang mana bisa buat usaha. Pola pikir inilah yang sering aku lihat dari orang Indonesia. Makanya banyak orang mengagungkan uang tanpa peduli cari dimana yang penting ada.

Setahu saya ada dua hal dalam hidup dalam usaha (kuamati dari cerita sukses orang-orang yang sudah kaya):
jika kamu anak orang kaya dimana sudah punya duit, ya bisnislah dengan duit tapi jika kamu dilahirkan bukan anak orang kaya maka jangan cuman bingung cari duit tapi sabar, mau belajar, dan berusaha keras sehingga jadi orang pertama di keluarga yang membangun kesejahteraan. Banyak kok orang jadi kaya dan berkah dari yang tadinya tidak punya duit.

Misal ada orang yang bilang cuman lulus SD mana bisa kaya, lha itu ada Cak Man yang punya bakso kota, dia cuman lulus SD, atau yang punya Rumah makan sunda Ampera. Atau ada yang bilang lagi gak punya modal, sudah menikah, pendidikan masih S1, lha itu ada yang punya bakmi langgara, awalnya juga kondisinya begitu sekarang juga sukses. Jadi ubahlah pola pikir kalau sukses hanya karena duit tapi karena kerja keras, sabar, dan open mind (buka wawasan, jangan hanya jadi katak dalam tempurung, dan berpikir dirinya sudah hebat tidak butuh ilmu yang lain (sering nih orang IT begini yang kurang memahami pentingnya ilmu marketing)). Kalo pola pikir cuman duit mah yang ada utang tambah banyak gak jadi apa-apa. Kapan Indonesia bisa maju kalo pola pikir mayoritas masyarakatnya duit duit duit dan duit.

Jacko…..

Michael Jackson, setelah membaca kisah-kisahnya saya terpikir bahwa Jacko adalah orang yang hanya memiliki dunia yang sempit yaitu panggung karena dia sebenarnya hanya menguasai panggung sedangkan hidupnya tidak bahagia menurutku. Aku ingat dulu waktu kecil kalo menulis testi di buku teman-teman SD-ku artis favoritku adalah Michael Jackson yang waktu itu booming dengan “Black or White”-nya.

Kebahagiaan hidup bagiku adalah memiliki kepercayaan pada kebesaran Tuhan dan bahwa Tuhan adalah zat yang amat baik, memiliki cinta sejati (Insya Allah), memiliki teman sejati, memiliki keluarga yang mendukung dan menenangkan hati walau pasti ada riak riak kecil, dan memiliki cita-cita besar dalam hidup untuk diperjuangkan sehingga merasa bahwa hidup ini indah. Uang bukan segalanya, karena sering karena uang banyak orang mengerumuni dan menawarkan banyak hal yang menguntungkan mereka sendiri tanpa memikirkan kebaikan untuk kita, dan jika kita terjatuh maka …………

Mengapa Bangsa Ini Bisa Dijajah Sampai 350 Tahun

Waktu kecil pas SD gitu sering didoktrin di sekolah kalau penjajah itu jahat, dan yang kutangkap saat itu sepenuhnya penjajahan di Indonesia adalah salah penjajah.

Sekarang ketika aku dewasa aku jadi mengerti kalau sebenarnya Bangsa ini bisa dijajah bukan hanya salah dari penjajah yang “jahat”. Tapi lebih ke arah mental bagian dari bangsa ini (part, not all). Sampai sekarang saja sudah bisa dirasakan dimana orang-orang yang berpengaruh di bangsa ini lebih memilih mengeruk uang negara demi fasilitas mereka (pengen laptop yang bagus lah padahal cuman dipake notepad-nya doang, pengen mobil bagus lah biar bisa dipamerin istri di arisan, pengen rumah bagus lah biar keliatan orang kaya, dkk). Gak peduli siapa yang akan bayar semua itu. Berusaha bikin atasan senang agar jadi naik jabatan.

Kita flashback ke jaman dulu, selalu saja ada oknum pejabat, demang, bupati atau apalah jabatan jaman dulu yang orang Indonesia asli yang “ngatok” alias memposisikan diri sebagai peliharaan/mata-mata penjajah. Nah sering sekali perlawanan bangsa ini gagal gara-gara segelintir orang ini (jika dibandingkan dengan jumlah semua penduduk). Oleh karena itu walau segelintir tapi jika punya kekuasaan maka akan cukup untuk merusak sebuah negara.

Kenapa kita sampai dijajah 350 tahun, karena memang ada orang-orang yang tidak ingin bangsa ini merdeka saat itu, merdeka berarti mereka kehilangan pendapatan.

Kenapa bangsa ini terpuruk saat ini, karena ada orang-orang yang senang aturan tidak ditegakkan, senang rakyat jadi bodoh karena itulah lahan hidup mereka.

Banyak orang ingin aturan ditegakkan dan itu berarti tidak ada pengurus SIM siluman, tidak ada fasilitas besar-besaran, tidak ada kongkalikong dengan polisi jika ditilang, harus bayar peron tanpa harus bilang “anggota”,tidak ada uang tambahan ini itu dari uang negara yang dipaksa jadi legal, UN dijalankan dengan jujur, Pemilu jujur dan banyak hal lainnya.

Permasalahannya, siapkah bangsa ini yang kecenderungan masyarakatnya ingin diprioritaskan tapi tidak suka memprioritaskan. Saya tidak yakin bangsa ini siap.

Seperti kalimat pada salah satu kampanye Capres, “Apa yang tidak dipunyai Indonesia untuk menjadi bangsa yang besar”, jawabnya hanya satu dan krusial, mental untuk menjadi bangsa besar.

Tidak lulus UN (jika saat ini), Tapi Bisa Masuk ITB

Jika saya ikut UN saat ini, sudah dapat dipastikan saya tidak lulus. Nilai batas UN adalah 5,5 sedangkan saat itu nilai Fisika saya hanya 4,6. Jadi saya pasti tidak lulus UN. Tapi saya bisa masuk ITB jurusan teknik informatika dengan modal otak.

Pertanyaannya apakah UN memang filter yang baik? Saya setuju dengan adanya filter. Tapi bikinlah batasan yang masuk akal dengan kondisi yang ada dengan pendidikan yang masih tidak merata, 4.0 mungkin masih masuk akal lah. Jadi kalau dihitung saat itu saya masih bisa lulus UN.

Inikah Rasanya Jadi Imigran

Bisa dikatakan kami ini imigran dari Jawa ke tanah Sunda mulai dari tahun 2001. Waktu kecil sering sekali aku mendengar doktrin mengenai orang cina yang inilah yang itulah. Tapi ketika saat ini aku menjadi imigran (pendatang) aku mengerti mengapa banyak orang cina begitu. Saat ini aku merasa seperti menjadi orang cina yang disebutkan pada saat aku kecil. Orang cina imigran.

Secara psikologi memang orang-orang pribumi akan mencoba tetap menegakkan teritorinya dengan cara mereka. Dan seorang imigran mau tidak mau harus mengikuti aturan teritori atau terpaksa harus pergi jika tidak mengikuti. Misal sebuah pengalaman dimana membeli sebuah tanah perumahan di pinggiran yang masih tergolong agak desa. Ketika membangun rumah, warga mewajibkan memakai tukang dari desa itu. Hukumnya “wajib” kalau tidak mereka tidak menjamin jika ada apa-apa dengan rumah yang akan dibangun. Mungkin inilah cara yang mereka tahu, “mengancam”.

Mbak Ade, yang bantuin nyuci

Mbak Ade, yang bantuin nyuci

Sebagai pendatang yang sudah beberapa tahun, kami belajar mengenal lingkungan. Dan kami sebenarnya lebih suka memakai tukang yang kami percayai. Suami mbak yang membantu kami mencuci memiliki keahlian sebagai tukang. Mbak tersebut biasa membantu kami mencuci tiga kali seminggu. Selesai mencuci dia pulang. Kenapa kami percaya kepadanya, mbak tersebut sudah membantu kami sejak dua tahun yang lalu (sejak kami mengambil S2). Kami memberikan kepercayaan kunci rumah, karena kami sering berangkat pagi sementara mbaknya datang sekitar 07.30 pagi. Kami sering meninggalkan HP atau laptop sembarangan tapi semuanya tetap ada. Kami percaya mbak ini orang jujur (satu-satunya orang daerah sekitar yang sangat kami percaya).

Kami sangat ingin memberikan kontribusi kepada kehidupan mbak tersebut dengan rejeki yang diberikan Tuhan kepada kami. Sampai akhirnya suami mbak tersebut berusaha ngobrol yang enak ke warga desa tempat tanah yang dibeli. Tapi warga tetap kekeh, atau ………..Fiuh, akhirnya diputuskan memakai tukang desa itu dengan mandor tetap suami mbak yang bantuin nyuci. Sekarang kami mengerti banyak hal menjadi imigran, seperti orang cina imigran yang akhirnya sedikit membuat “barrier to entry” untuk mempertahankan diri.

Semua manusia hidup dengan masa lalu, dan semua akibat karena adanya sebab.

Pembunuh masal

Tahukah anda makhluk seperti apa pembunuh masal paling hebat di dunia ini?
Menurut saya dialah koruptor.
Koruptor mengambil uang orang-orang yang terpaksa jadi tidak bisa makan dan akhirnya mati.
Koruptor mengambil uang orang-orang yang sakit dan tidak bisa berobat dan akhirnya mati.
Koruptor mengambil uang orang-orang yang terpaksa tidak bisa memberi anaknya makan layak dan akhirnya mati.
Koruptor mengambil uang orang-orang yang seharusnya bisa menghidupi hidupnya dengan bersekolah tapi jadi tidak bisa hidup karena tidak bersekolah.
Koruptor mengambil uang untuk memperbaiki perangkat orang yang terpaksa mati karena tugas (kecelakaan pesawat, kapal, jalan rusak)
Apa itu makhluk koruptor?
Orang-orang yang melegalkan uang yang ditanggung negara untuk kepentingan pribadi dengan alasan yang dipaksa menjadi legal.
Sadarkah anda para koruptor, dari pejabat hingga preman.
Anda adalah makhluk pembunuh masal.
Dan anda juga berusaha membunuh anak-anak dan keluarga anda dengan memberi makan uang hasil pembunuhan masal.

Oala, salah kapra…..Menyingkapi Kasus Prita

Lha kalau semua orang curhat, cerita keluhan, atau kecewa cerita-cerita masuk penjara, maka semua yang nulis kayak gitu di internet atau media lain masuk penjara semua. Tahan aja itu jutaan orang. Atau tahan aja itu yang punya koran sama yang nulis di rubrik pembaca.
Mbok ya ndak usah katro dan sensitif. Secara psikologi, tidak bisa kita bikin orang seluruh dunia senang dengan kita.
Orang berduit atau yang punya uang sering “just playing game” dengan orang yang lebih lemah, alih alih cuman kayak ospek aja “supaya dia gak berani lagi sama kita”, ya intinya mereka merasa Tuhan kali ya. “Ingat pakne bune masih ada Tuhan sungguhan, dan itu bukan Anda”. Dah gitu malah jadi ajang kampanye lagi ck ck ck ck…….”Jan Ora Mutu kabeh”.

Malaysia Indonesia Sahabat Lama…..

Sering ketika aku kecil orang tua-tua bilang “Kalau sama Indonesia, Malaysia kalah” entah itu dalam ajang olah raga, pendidikan, atau bidang-bidang lain. Saat itu di mata dunia memang masih menang Indonesia. Tapi yang saat itu tidak pernah dipikirkan orang-orang tua itu adalah bahwa dunia bisa berbalik, nasib bisa berubah. Yang tadinya lemah bisa jadi kuat. Yang kuat bisa jadi lemah.
Menurut saya, reaksi Malaysia yang mungkin beberapa kali terkesan meremehkan Indonesia adalah sebuah akibat dari kesombongan bangsa kita dulu. Dan sekarang sebagai bangsa yang dulu seakan-akan selalu menjadi adik yang tidak pernah menang sekarang menjadi lebih unggul dari kakaknya. Janganlah marah dengan akibat itu, ingat dosa masa lalu. Sebaiknya semua diselesaikan baik-baik. Jika memang sudah terpaksa baru kita maju sebagai ksatria. Bukan termakan provokasi tidak jelas.
Kenapa kita tidak belajar menjadi bangsa yang elit, yang lebih memiliki harga diri. Jangan jadi sensitif karena tidak pernah mau mengaku kalah. Akuilah jika memang kalah, dan bangkit untuk menjadi menang dengan belajar dari kekalahan seperti Malaysia.