Kapan Siap Menjadi Ibu yang Baik?

Aku sering bertanya-tanya kapan seorang wanita sudah siap menjadi Ibu yang baik, dimana prioritas utama dalam hidupnya adalah anak dan keluarga. Aku sering melihat, seorang wanita berumur 40 tahunan sekalipun sering terlihat belum siap menjadi Ibu yang baik. Karena lebih mementingkan pekerjaan, arisan, atau belanja-belanja.
Saat ini, aku sering sekali merasa lebih enjoy dengan pekerjaanku dibanding menemani anak bermain dengan anak tetangga atau jalan-jalan dengan anak. Kalau menemaninya bermain dengan anak tetangga yang sebaya atau jalan-jalan selalu saja di otakku terpikir, kerjaan ini belum selesai, yang ini belum, yang itu juga belum. Alhasil jadi tidak nyaman menemani anak bermain. Tapi jika mengurusi pekerjaanku sering sangat tidak nyaman jika ketika tiba-tiba sedang bekerja serius tiba-tiba anak yang tadinya main sendiri bilang minta ini atau minta itu. Kalau dah gitu rasanya pusing, kepala jadi berat.
Nah pertanyaannya apakah akan jadi Ibu yang baik jika finansial terpenuhi? Sepertinya tidak juga, banyak wanita yang menikahi suaminya demi harta, anaknya jadi anak pembantu padahal dia tidak bekerja, yang artinya dia juga belum siap menjadi Ibu yang baik.
Atau akan siap jadi Ibu yang baik jika memang sudah tidak butuh bekerja yang dikejar waktu sehingga lebih tenang menemani anak bermain dengan anak tetangga atau sekedar jalan-jalan. Atau ada jawaban lain?

(sedang merasa tidak menjadi ibu yang baik bagi anak 😦 )

Iklan

Ternyata Begitu Besar, Kemampuan itu Datang dan Pergi

Sekarang bisa dibilang kemampuan membuat kode program perangkat lunak komputerku (coding) sudah lumayan mampu. Dengan berbagai pekerjaan yang pernah kuambil, semua mengasah kemampuan coding-ku. Tapi apa yang kukorbankan untuk semua pekerjaan yang penuh dengan deadline itu.
1. Kemampuan musikku hampir hilang, main gitar sudah tidak sepeka dulu kalau mencari kunci chord, main melodi gitar sudah tidak secekatan dulu.
2. Kemampuan bahasa Inggrisku menurun drastis (dibuktikan dengan turunnya nilai tes TOEFL) karena hanya sering membaca dokumen bahasa Inggris secara acak kadut tanpa pendalaman dan praktik seperti waktu S1 dulu.
3. Kemampuan menggambarku yang semakin buruk, seiring dengan merosotnya selera seniku.
Begitu juga dengan suamiku yang kemampuan analisis aplikasi komputernya menurun drastis karena lebih sering membaca ke arah manajemennya. Ternyata ketika kita besar, kemampuan datang dan pergi. Seperti halnya jual beli barang, apa yang dijual dan apa yang dibeli, semuanya 50%-50%.

Mmmmmm………..

Mmmmm, dah pengen nulis dari kemarin tapi baru kesampaian sekarang. Melihat kecelakaan Hercules kemarin, begitu banyak anak-anak yang harus kehilangan ayahnya, atau bahkan ada yang kehilangan ibunya, atau ada juga yang kedua-duanya. Langsung hati ini bergetar dan tak tega melihat tangis di layar TV. Langsung keingat betapa beratnya hidup anak dan istri yang kehilangan ayahnya padahal ayahnya itulah tulang punggung keluarga. Berat sekali saat itu kurasakan. Sampai sekarang aku masih trauma, dan masih banyak lagi yang kuingat dan mempengaruhi diriku. Perjuangan hidup yang saat itu harus kulalui atas kehendak Tuhan.
Dan seperti biasa kebiasaan orang Indonesia, saling menyalahkan karena merasa tidak ikut bertanggung jawab mengenai tragedi ini.
Mmmmmm, miris. Seakan nyawa seorang ayah dan ibu tidak berharga, dan hidup keluarganya juga tidak berharga.

Seorang Anak Tidak Hanya Butuh Disekolahkan di Sekolah Elit…….

Aku pernah mendengar seorang anak SD “Aku gak mau pulang kalau gak dijemput pake mobil”, karena dia dijemput pake sepeda motor. Itu terjadi di sebuah sekolah elit di Bandung. Lalu banyak lagi anak-anak SD yang saling bagus-bagusan HP, atau menghina temannya yang tidak punya PS3. Fiuh…..Ternyata ada orang tua siswa yang cerita kalau uang muka sekolah itu 13 juta, tiap bulan 300 rebu, dan kalo rekreasi itu sampe umroh. Anak SD diajari seperti itu, sebaik apapun agama yang diajarkan di sekolah itu tapi kalo anak-anak tidak diajari peka sosial, semuanya percuma. Anak-anak usia 7-14 tahun adalah saat-saat dimana harus diisi dengan fondasi yang kuat yaitu agama, peka sosial, kepandaian, kedisiplinan, harga diri. Dan semua akan didapat lebih banyak jika anak banyak berinteraksi dengan keluarga yang peduli tidak hanya sekolah elit yang kadang hanya demi prestige orang tua, ck ck ck ck ck…….
Kecenderungan orang tua sekarang semuanya kerja, dengan alasan mencari uang untuk anak. Tapi seorang anak tidak hanya butuh uang dan kasih sayang pembantu, itu yang sering dilupakan.

Diza

Diza

Fiuh, saat ini aku juga seorang ibu yang bekerja serabutan, karena aku lebih suka membawa pekerjaanku ke rumah sehingga bisa banyak berinteraksi dengan anak. Tapi tetap saja aku merasa menjadi ibu “kurang ajar” dan berharap anakku bisa mengerti dan memaafkan aku, karena seringkali aku tidak mau diajak anakku bermain karena masalah pekerjaan yang kubawah pulang itu. Benar-benar sebuah dilema….ampuni Ibumu ini ya nduk.

Pentingnya Sebuah Harga Diri……

Seringkali di TV melihat berita PKL berkejar-kejaran dengan satpol PP, atau pembagian BLT ricuh, atau penggusuran rumah-rumah ilegal yang memakai tanah antabranta yang buntutnya selalu dibilang tanah negara atau tanah yang kong kalikong sama pemda. Alasan orang-orang yang punya bangunan selalu klasik “kami sudah tinggal bertahun-tahun disini” atau bahkan sudah membayar ke oknum tertentu.
Belum permasalahan utang negara yang duitnya sering ilang entah kemana sehingga terkesan bangsa kita terkena rentenir karena mental orang-orangnya yang tidak mau tau itu uang rakyat atau utang negara.
Melihat negara-negara yang bangkit dari krisis, saya jadi mengamati, apa sih yang tidak dipunyai bangsa ini. Akhirnya saya dapat menyimpulkan kebanyakan orang-orang bangsa ini tidak punya harga diri. Tapi ini juga bukan 100% salah mereka karena semua orang hidup dengan masa lalu. Korupsi dimana-mana, rakyat kecil disalahkan karena tidak mampu mencari makan. Sudah tahu korupsi malah terus mau pegang jabatan. Yang menjadi rakyat mau dikasih uang ngalor ngidul dengan alasan ekonomi. Jika ada bangsa yang menghina sedikit selalu berpikir cara bar-bar alias digempur saja padahal senjata sangat tidak memadai. Atau masih melekatnya pikiran tuan-tuan tanah feodal yang menyembah atasan layaknya Tuhan.
Kenapa kita tidak berpikir untuk membuktikan jika dihina, kita boleh marah tapi marah dengan membuktikan bahwa kita bisa bukan dengan cara bar-bar abad jaman kegelapan, ketika bisa baru kita dapat bilang dengan bijak bahwa “hinaan anda salah”. Mencoba menghargai setiap usaha manusia, tidak hanya melihat uang yang dipunyai dengan menghalalkan segala cara, mengundurkan diri jika memang merasa tidak mampu memegang amanah. Apakah harga diri memang sudah tidak penting lagi? Menyedihkan :(.

(Seperti himbauan dalam lagunya Iwan Fals, jika saya 1 orang berpunya menyumbang 1 orang yang tidak berpunya, Insya Allah kesulitan negara ini akan sedikit demi sedikit teratasi)

Terharu……

Seorang Dosen S2 saya (Pak Dwi Hendratmo Widyantoro) mengajak saya untuk menulis sebuah paper mengenai “Penguraian Probabilistik untuk Bahasa Indonesia” dan dikirim ke sebuah workshop Third International Workshop on Malay and Indonesian Language Engineering (MALINDO) 2009 yang akan diselenggarakan tanggal 2 Agustus 2009 di Singapura. Yang membuat saya terharu, tadinya saya menulis nama Pak Dwi di pembuat pertama paper, saya juga menulis paper saya dengan bahasa Indonesia karena bahasa Inggris saya tidak terlalu bagus, Beliau yang melakukan translasi bahasa dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris, ternyata Beliau menulis nama saya di tempat pertama author paper……hiks….hiks…hiks (biasanya kan kalo Dosen seringnya inginnya menulis namanya di tempat pertama). Terima kasih Pak, saya sangat terharu…..

Cara Pencegahan dan Langkah Prinsip Mengatasi Virus Komputer

Gara-gara kemarin kena terjangan virus jadi banyak belajar proteksi dari virus dan ngilangin virus (seperti RECYCLER, autorun.inf, dan icon word berekstensi .exe). Semoga bisa bermanfaat, tinggal download di http://komputer.gangsir.com menu paper & artikel disitu ada:

Pencegahan Terhadap Virus Komputer Sejak Dini
Langkah-langkah Prinsip Jika Sudah Terlanjur Terkena Virus

Semoga bermanfaat.

By hariiniadalahhadiah Posted in IT